
Pukul lima pagi, Ara terbangun untuk melaksanakan sholat subuh. Ia perlahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah saklar, untuk menghidupkan lampu kamar tersebut.
Saat cahaya lampu berhasil menyinari seluruh ruangan, Ara dibuat terkejut, tatkala melihat Ibra yang tidur dengan posisi meringkuk di atas sofa panjang yang ada di kamar itu. Ia dengan segera meraih selimut yang ia gunakan semalam dan menutupi tubuh tinggi suaminya itu. Sebelum akhirnya bergegas ke kamar mandi.
***
Ibra terlihat menggeliat di bawah selimut. Hingga membuatnya hampir terjatuh dari sofa tempatnya tidur. Untung saja ia telah tersadar dan dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya.
Ia kemudian mendudukkan dirinya, dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu pegal, akibat tidur di sofa.
Ibra mengalihkan pandangannya pada ranjang yang nampak kosong dan terlihat rapi. Lalu kemudian menyelidik ke seluruh ruangan mencari keberadaan Ara.
"Apa dia di kamar mandi?"
Ibra menyibak selimut yang masih melekat di tubuhnya, yang seingatnya tidak ia gunakan semalam. Kemudian berdiri dari duduknya.
Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, namun niatnya terhenti tatkala matanya tidak sengaja menangkap sebuah catatan kecil yang ada di atas meja di depannya. Ia pun meraih catatan tersebut.
Sarapannya jangan lupa dimakan.
Maaf, saya pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Ara
"Astaga! Kenapa dia tidak membangunkanku."
Ibra meletakkan kembali catatan tersebut ke atas meja, dan beralih meraih jam tangannya yang semalam ia letakkan di meja yang sama. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Ia kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan tanpa menyentuh sarapan yang ada di atas meja, ia beranjak keluar dari kamar itu, dan pergi meninggalkan hotel tersebut.
Di perjalanan pulang, Ibra dibuat bingung akan kemana. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya saja.
***
Kepulangan Ibra di rumahnya disambut bahagia oleh Mama Reta.
"Kalian sudah pulang, Sayang?" tanya Mama Reta yang kemudian menyelidik ke belakang Ibra. "Ara mana?" tanyanya, saat tidak melihat keberadaan menantunya.
"Pulang ke rumahnya."
"Lalu, kenapa kau meninggalkannya? Kenapa tidak mengajaknya kesini juga?"
"Ibra tidak meninggalkannya, dia pulang sendiri. Justru Ibra yang ditinggalkan sendiri di kamar hotel," jawab Ibra, sedikit kesal.
"Maksud kamu? Jadi kamu tidak mengantarnya pulang?" sergah Mama Reta.
"Itu bukan salah Ibra. Dia pulang saat Ibra masih tidur. Dan dia juga tidak membangunkanku," jawabnya membela diri.
"Astaga! Ini pasti kamu yang sangat sulit untuk dibangunkan, makanya Ara pulang sendiri. Tidak ada alasan, sekarang kamu pergi jemput istri kamu dan bawa pulang kesini."
Mama Reta menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada sepasang pengantin baru yang saling memisah diri di hari pertama pernikahannya. Keduanya bahkan, bukan korban dari perjodohan.
"Tapi, Ma___"
"Tidak ada tapi-tapian." Mama Reta mendorong tubuh putranya, agar keluar dari rumah.
Ibra menghela napasnya, "iya baiklah. Tapi bisakah Ibra sarapan terlebih dahulu? Ibra sangat lapar," pintanya.
"Tidak! Kamu akan sarapan setelah membawa pulang menantu mama."
__ADS_1
"Astaga! Kenapa mama jadi sekejam ini sih!" Ibra menatap kesal mamanya, kemudian berjalan keluar dari rumahnya.
***
"Assalamualaikum, Bi. Ara ada?" ucap Ibra, saat Bi Ratih membuka pintu untuknya.
"Waalaikumsalam. Astaga, Den. Ayo masuk dulu." Bi Ratih dengan cepat mempersilahkan suami majikannya itu untuk masuk. "Neng Ara ada di atas. Mau saya panggilkan atau Den Ibra naik sendiri?"
"Bibi panggilkan saja ya, Ibra akan tunggu disini," ucap Ibra, kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Bi Ratih dengan cepat mengiyakan dan naik ke kamar Ara.
"Kenapa harus pergi sih?" tanya Ara pada Miya, yang sedang membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
"Nggak mungkin kan aku tinggal sendiri di rumah sebesar ini," jawab Miya.
"Rumah ini kan nggak begitu besar."
"Iya. Tapi tetap saja terasa aneh saat kamu tidak ada disini."
"Kan ada Bi Ratih. Aku juga akan meminta Kak Ibra untuk tinggal disini." Ara terus saja merayu Miya agar tidak pergi dari rumahnya.
"Aku akan merasa lebih tidak enak lagi jika harus tinggal bersama dengan kalian. Setiap hari aku akan menyaksikan kebersamaan kalian, dan itu pasti akan sangat menyesakkan." Miya memukul-mukul dadanya, seakan benar-benar merasakan sesak disana.
"Berlebihan! Lagi pula kami bukan suami istri beneran. Kami tidak akan mungkin bermesraan, seperti yang kamu bayangkan," ketus Ara.
"Aku akan tetap balik ke kosanku. Aku sudah merasa sangat nyaman disana. Lagi pula aku tinggal disini karena ingin menemanimu. Saat sudah ada yang menemanimu, maka aku akan pergi," tutur Miya berkeras.
Ara menggoyang-goyangkan tangan Miya, "Miya... Ayolah!" bujuknya. Namun Miya tetap saja berkeras untuk kembali tinggal di kosannya.
Hingga akhirnya, Ara mencoba untuk mengalah. Ia juga tidak bisa memaksakan keinginan sahabatnya itu. Mungkin sahabatnya itu memang tidak nyaman tinggal di rumahnya.
"Berhubung minggu depan kita udah mulai kuliah, mama memintaku untuk pulang ke Surabaya dulu besok. Andai saja kau belum menikah, aku pasti akan mengajakmu. Tapi, sekarang gak mungkin lagi," tutur Miya, seraya menutup koper miliknya.
Tok..tok..tok..
Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Ara dengan segera membuka pintu kamar yang sebenarnya tidak terkunci itu.
Hingga menampakkan sosok Bi Ratih, yang mengatakan kalau Ibra ada di bawah. Mendengar itu, Ara dengan segera turun ke lantai bawah untuk menghampiri suaminya itu.
"Kak Ibra!" sapa Ara, yang kemudian ikut mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
"Ara... Mama memintaku untuk menjemputmu," ucap Ibra ragu. Takut, jika saja permintaannya dapat menyusahkan wanita itu.
"Apa kita akan tinggal di rumah Kak Ibra?" tanya Ara.
"Kenapa? apa kau tidak mau?"
"Tidak bisakah kita tinggal disini saja? Kalau Ara pergi, rumah ini akan kosong."
"Baiklah, kalau itu maumu. Kita akan membicarakannya pada Mama nanti. Tapi, untuk beberapa hari ini kita menginap di rumah mama dulu ya?" pinta Ibra.
"Iya, baiklah. Saya akan siap-siap dulu," ucapnya, yang kemudian kembali ke kamarnya untuk mengemasi beberapa pakaiannya.
Setelah siap, Ara kembali turun dengan sebuah koper berukuran sedang, dan sebuah tas jinjing yang ada di tangannya. Ibra dengan sigap meraih koper milik Ara dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Keduanya lalu pamit pada Miya dan Bi Ratih, yang telah mengantarkannya hingga pintu depan.
***
__ADS_1
"Kita makan dulu ya?" ucap Ibra. Yang memang saat ini, merasa amat lapar.
"Kak Ibra lapar?"
"Iya. Saya bahkan belum sempat sarapan tadi. Saat akan makan dirumah, Mama malah melarang. Katanya saya tidak boleh makan sebelum membawa pulang menantunya," ucap Ibra tertawa kecil.
"Kenapa tadi nggak bilang sih. Padahal Bi Ratih udah masak tadi," ucap Ara menyesal. Tidak tahu menahu kalau suaminya itu belum makan.
"Tidak apa. Kita singgah di warung makan dekat sini saja," ucapnya, yang kemudian membelokkan kendaraannya pada salah satu rumah makan yang dilaluinya.
Awalnya Ara menolak untuk ikut makan, dengan alasan masih kenyang setelah sarapan di rumahnya tadi. Tapi karena paksaan dari Ibra, membuatnya mau tidak mau ikut makan juga.
Dan setelah keduanya menghabiskan makanannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Ibra.
***
"Assalamualaikum, Ma." Ara menghampiri Mama Reta yang sedang berada di dapur, lalu menciumi tangan mertuanya itu.
"Waalaikumsalam, Sayang. Selamat datang di rumah kita. Semoga kamu betah ya disini," ucap Mama Reta seraya memeluk anak menantunya itu.
"Selamat datang kakak ipar," teriak Rissa yang baru saja ikut bergabung dan memeluk Ara dari belakang.
"Jangan panggil kakak, panggil Ara aja," ucap Ara, merasa geli mendengar sahabatnya itu memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Tapi, itu nggak sopan. Iyakan, Ma?" ucap Rissa.
"Iya, terserah kalian saja," jawab Mama Reta, tertawa.
"Ibra ke kamar dulu ya, Ma," pamit Ibra pada mamanya. Yang memang tadi ikut ke dapur, untuk mengantarkan Ara bertemu dengan mamanya.
"Iya. Setelah ganti baju, kamu cepat turun ya. Kita akan makan siang bersama," ucap mama Reta pada putranya.
"Tidak usah, Ma. Bukankah Mama melarang Ibra untuk makan?" jawab Ibra, mengerjai mamanya.
"Apa kau sedang marah?"
Ara yang melihat itu, menggelengkan kepalanya, "Nggak, Ma. Tadi kami udah makan di jalan," jawab Ara.
"Beneran?" tanya Mama Reta. Dan di jawab dengan anggukan oleh Ara. Membuat Mama Reta semakin kesal dengan putranya itu.
"Astagfirullah, Ibra! Kenapa kau mengajak Ara makan diluar? Padahal mama sudah masak banyak untuk menyambut menantu mama," maki mama Reta.
"Mana Ibra tahu. Salah mama, tidak memberitahu Ibra terlebih dahulu. Lagi pula Ibra sangat lapar tadi, karena mama melarang Ibra makan," jawab Ibra membela diri.
"Dasar! Lalu kau menyuruh mama dan Rissa menghabiskan makanan sebanyak ini?"
"Iya, Kakak keterlaluan!" Rissa ikut menimpali.
"Nggak apa, Ma. Lagi pula Ara masih lapar. Ara akan ikut makan bersama kalian." Ara tersenyum, seraya menggenggam tangan Mama Reta. Mencoba untuk meredakan amarah wanita itu.
"Sungguh? Kamu tidak hanya ingin menyenangkan hati mama kan?" tanya mama Reta.
"Iya, nggak, Ma. Ara tadi hanya makan sedikit, karena makanannya tidak begitu enak." jawab Ara, mencoba menyenangkan mama mertuanya.
Ibra membulatkan kedua matanya, tidak percaya mendengar ucapan Ara. Padahal saat di warung makan tadi, Ara dengan susah payah menghabiskan makanannya. Ibra kemudian tertawa kecil, seraya menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka istrinya itu rela berbohong demi menyenangkan hati mamanya.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤