
Sepulangnya dari berbelanja bersama Mama Reta, Ara bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar tersebut. Ia akan membersihkan diri terlebih dahulu lalu sholat asar. Sebelum turun ke dapur untuk membantu Mama Reta memasak makan malam.
Karena begitu terburu-buru, hingga Ara tidak menyadari keberadaan Ibra di balkon kamar.
Ibra yang mendengar suara pintu, kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Baru saja ia ingin menyapa istrinya, namun niatnya ia urungkan, saat melihat Ara yang keburu masuk ke dalam kamar mandi. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke balkon untuk menghubungi seseorang.
Setelah selesai membersihkan diri, Ara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handuk dengan rambut yang sengaja ia gulung ke atas.
Ibra yang baru saja akan masuk ke dalam kamar, menghentikan langkahnya tatkala melihat Ara menurunkan kimononya perlahan. Hingga membuatnya dapat melihat dengan jelas punggung putih milik istrinya itu.
Memandang kulit putih bersih wanita itu, membuat hasrat Ibra naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya ia menyentuh kulit putih itu dan menciumnya, yang dapat ia pastikan sangat wangi.
Setelah tersadar dari lamunannya, Ibra dengan segera menepis pikiran mesumnya. Dan memutuskan untuk tidak lagi meneruskan apa yang dilihatnya. Namun, ia juga tidak mau melewatkan kesempatan itu. Biar bagaimanapun ia seorang pria normal. Dan apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang halal baginya.
"Apa dia tidak menyadari keberadaanku? Sial! Lalu apa yang harus aku lakukan!"
Setelah melihat Ara selesai berpakaian, Ibra kemudian masuk ke dalam kamar.
"Kau sudah pulang?" tanyanya berbasa-basi. Sungguh saat ini ia sedang berperang dengan hawa nafsunya.
"Kak Ibra!" Ara tersentak kaget. "Sejak kapan Kakak disitu?"
"Saya pulang dari sejam yang yang lalu. Tapi saya sedang berbicara dengan seseorang di balkon." Ibra mengangkat ponsel yang ada di genggamannya, menunjukkannya pada Ara.
"Lalu... apa Kakak melihatnya?" tanyanya ragu.
"Melihat apa?"
"Sungguh? Kakak nggak bohong, kan?"
"Melihat apa? Apa saya melewatkan sesuatu?" Ibra menautkan kedua alisnya. Berharap dapat meyakinkan wanita itu.
Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak ada apa-apa. Kalau begitu, saya sholat dulu. Kakak udah sholat?"
"Iya, tadi sudah."
"Baiklah, kalau begitu Ara sholat dulu." Ara tersenyum kecil kemudian berlalu dari hadapan pria itu. Setidaknya ia dapat bernapas lega saat ini.
Setelah sholat, Ara melipat mukenahnya seraya melirik ke arah Ibra yang terus-terusan menatapnya. Membuatnya kembali merasa ragu kalau pria itu benar-benar tidak melihatnya tadi.
"Ada apa?" tanyanya pada Ibra yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Ibra berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat pada Ara. "Malam ini saya harus ke luar kota. Papa memintaku menggantikannya menghadiri pertemuannya."
"Berapa lama?"
"Hanya dua hari."
"Kakak berangkat jam berapa?"
"Penerbangan jam delapan."
"Baiklah. Kalau begitu Ara akan menyiapkan keperluan Kakak," ucapnya tidak bersemangat.
"Kamu tidak apa kan, saya tinggal?" tanyanya saat menyadari perubahan raut wajah wanita itu.
"Iya, nggak apa, kok." Ara mencoba tersenyum, lalu bergegas menyiapkan keperluan suaminya.
***
Setelah sholat maghrib berjamaah bersama Ara, Ibra kemudian bersiap-siap.
"Kakak nggak makan dulu?" tanya Ara, sembari menyiapkan sepatu yang akan digunakan suaminya.
"Baiklah. Asal nggak sampe lupa aja."
Ibra berdiri dari duduknya, tersenyum lebar pada istrinya. "Iya pasti. Makasih ya." Ibra mengelus lembut rambut Ara. Ingin rasanya ia melayangkan ciuman di kening wanita itu. Namun ia masih sangat takut, jika saja hal itu dapat membuat wanita itu marah padanya.
***
Setelah pamit pada kedua orang tuanya, Ibra kemudian pamit pada Ara yang mengantarnya hingga depan pintu.
"Saya berangkat ya. Kamu jaga diri. Kalau ada apa-apa cepat beri tahu Mama atau Bi Ija."
"Iya, Kakak hati-hati. Ara pasti merindukan, Kakak." ungkap Ara tanpa sadar.
"Sungguh?" Ibra tersenyum, tidak pecaya.
"Astaga apa yang aku katakan."
"Kak Ibra berangkatlah. Nanti Kakak terlambat." Ara mencoba mengalihkan pembicaraan. Merasa malu dengan apa yang ia ucapkan tadi.
"Kakak juga akan sangat merindukanmu." Ibra membelai pipi Ara, kemudian mencubitnya pelan. Merasa gemas dengan wanita itu.
__ADS_1
Setelahnya, ia kembali pamit pada istrinya itu, kemudian masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke bandara.
Setelah kepergian suaminya, Ara kembali naik ke kamarnya. Baru saja ia mendudukkan dirinya di sisi ranjangnya, suara deringan ponselnya membuatnya kembali beranjak dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Ara menautkan kedua alisnya dan dengan cepat mengangkat panggilan telfon yang ternyata dari suaminya. Merasa khawatir, jika saja pria itu melupakan sesuatu.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Apa Kakak melupakan sesuatu?" tanya Ara cemas.
"Tidak."
"Lalu?"
"Tunggu kakak, ya?"
"Maksud, Kakak?"
"Tunggu saya pulang. Setelah urusan saya selesai, saya akan segera pulang untukmu."
Ara sedikit terkesiap mendengar penuturan Ibra. Ia memegang wajahnya, yang ia pastikan sedang memerah saat ini.
"Istirahatlah. Jangan lupa makan malam. Assalamu'alaikum," imbuh Ibra.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah memutuskan sambungan telfonnya. Ara memegang dadanya yang terasa bergemuruh. Entah mengapa ucapan pria itu membuatnya merasa amat bahagia.
Mungkinkah ia telah menaruh hati pada pria itu.
Ia memang tidak mampu memastikan perasaannya untuk tidak berubah, saat setiap hari harus selalu bersama pria itu, yang bahkan kerap memberinya perhatian.
Dan kepergian Ibra, membuatnya sadar bahwa ia begitu bergantung pada pria itu. Ia bahkan merasa begitu merindukan pria itu yang bahkan baru beberapa menit yang lalu berpamitan padanya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥
__ADS_1