Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 62


__ADS_3

Keesokan harinya, Ibra mengajak Ara ke suatu tempat. Karena libur bekerja, mereka pergi pagi-pagi sekali, setelah sarapan.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, Kak?" tanya Ara penasaran.


"Kamu akan mengetahuinya nanti!" jawab Ibra.


"Apa akan lama?" tanya Ara.


"Entahlah! Memangnya kenapa?"


"Saat pulang nanti, kita singgah di warung bubur ayam yang tadi ya? kelihatannya enak," ucap Ara membayangkan.


"Bukannya tadi kita sudah sarapan?"


"Iya, tapi aku masih lapar."


"Kenapa tidak bilang sejak tadi. Kita kan bisa singgah beli dulu tadi."


"Ya udah kita balik aja," pinta Ara.


"Serius nih?" tanya Ibra meyakinkan.


"Iya!" jawab Ara mengangguk.


"Baiklah!" Ibra menghela napas, kemudian memutar arah mobilnya, menuju warung bubur ayam yang di maksud istrinya.


Saat tiba di warung tersebut, Ara memutuskan untuk makan di warung saja. Ditemani oleh Ibra, Ara dengan cepat menghabiskan bubur ayamnya, tidak ingin membuat suaminya menunggu lama.


Ibra yang melihat Ara makan dengan begitu lahap memicingkan matanya, merasa mual. Bagaimana tidak, bahkan baru beberapa menit yang lalu mereka telah sarapan. Bagaimana bisa istrinya itu menghabiskan semangkok bubur ayam dengan porsi besar.


Setelah Ara menghabiskan buburnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Sudah kenyang?" tanya Ibra berbasa-basi.


"Iya, sangat kenyang malah." Ara tersenyum lebar, merasa puas dengan rasa bubur ayamnya.


"Jelas saja!" ucap Ibra lirih, agar tidak terdengar oleh Ara.


Setelah beberapa menit berselang, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ibra memasuki sebuah pekarangan rumah dengan konsep minimalis.


"Ini rumah siapa?" tanya Ara.


"Kita turun dulu," ucap Ibra seraya mematikan mesin mobilnya. "Ayo!" ajaknya, kemudian turun dari mobil dan diikuti oleh Ara.


Ara menautkan kedua alisnya saat melihat Ibra membuka pintu rumah tersebut dengan kunci yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah baru kita," ucap Ibra setelah membuka pintu rumah tersebut.


"Rumah kita?" tanya Ara bingung.


"Iya, rumah kita. Mulai besok kita akan tinggal disini," jawab Ibra tersenyum. "Ayo, masuklah!" Ibra merangkul Ara, dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


"Tapi kenapa?" tanya Ara.


"Apanya?" Ibra memicing, merasa bingung dengan pertanyaan istrinya.


"Kenapa harus pindah? Apa Mama sama Papa sudah tau?"


"Iya, mereka semua sudah tau. Dan mereka sangat setuju.... Meski awalnya Mama tidak begitu setuju kalau kita pindah, tapi aku sudah menjelaskannya kalau kita tidak mungkin selamanya tinggal bersama mereka. Kita juga sudah punya keluarga sendiri, jadi kita harus belajar hidup mandiri.... Kata orang, hidup mandiri itu lebih menyenangkan," jelas Ibra tersenyum.


"Mama pasti akan merasa kesepian saat kita pindah."


"Tidak usah dipikirkan. Kata Mama, nantinya dia akan sering-sering kemari. Mama malah senang, karena punya tempat yang bisa ia kunjungi kalau sedang bosan di rumah," jelas Ibra.


"Benarkah?" Ara tersenyum kemudian mengangguk kecil. "Syukurlah kalau seperti itu."


"Ya sudah, kalau begitu ayo, akan aku tunjukkan padamu isi rumah ini." Ibra merangkul Ara dan mengajaknya berkeliling rumah. Menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di rumah barunya itu.


"Bagaimana, kamu suka rumahnya?" tanya Ibra saat mereka berakhir di dalam kamar yang akan menjadi kamar pribadi mereka nantinya.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Maaf membuatnya tanpa memberi tahumu. Kakak hanya ingin memberimu kejutan," ungkap Ibra.


"Iya, terima kasih." Ara tersenyum dan memeluk sejenak suaminya.


"Kalau ada bagian yang tidak kamu sukai, katakan saja. Aku akan mengubahnya untukmu. Karena nantinya kamu yang akan terus berada di rumah, maka aku akan berusaha membuatnya terasa nyaman untukmu," tutur Ibra.


"Nggak, kok. Ara sangat suka semuanya." Ara mengedarkan pandangannya melihat seisi kamarnya. Ia menyingkap tirai kamarnya, dan menatap keluar, yang menampakkan sebuah lahan kosong di sekitar sana.


Ibra melangkah mendekati istrinya, dan memeluk Ara dari arah belakang. "Semoga saja setelah hidup mandiri, kita segera punya anggota keluarga baru disini," ucapnya, seraya mengelus-elus perut Ara.


"Iya, aamiin!" Ara tersenyum dan mengusap kedua tangan suaminya yang ada diperutnya.


"Aku sudah tidak sabar menantikannya." Ibra semakin mempererat pelukannya. " Mulai saat ini, kita harus berusaha lebih keras lagi membuatnya," imbuhnya tertawa.


"Apaan sih!" Ara melayangkan sebuah cubitan di tangan suaminya. Membuat Ibra semakin terbahak dibuatnya.


Ibra membalikkan tubuh Ara menghadapnya, dan menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku ingin punya anak yang banyak nantinya, agar kamu tidak merasa kesepian lagi, dan tidak merasa tidak punya siapa-siapa lagi," ucapnya yang kemudian mengusap-usap pipi istrinya.


"Terima kasih," ungkap Ara, kemudian memeluk tubuh suaminya. "Aku nggak akan merasa kesepian selama Kakak bersamaku. Berjanjilah untuk tidak akan meninggalkanku selamanya. Ara sangat menyayangi, Kakak," ucapnya, mengeratkan pelukannya.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku berjanji dengan hidupku," jawab Ibra, menciumi kepala istrinya. "Kakak juga sangat menyayangimu, Araku," imbuhnya.

__ADS_1


***


Sudah tiga hari Ibra dan Ara menempati rumah barunya. Dan setiap hari pula Mama Reta datang berkunjung untuk sekedar mengobrol bersama Ara.


Hari ini Mama Reta telah memberi tahu Ara kalau ia akan datang dan mengajak Ara untuk memasak bersama.


Sebelum kedatangan mertuanya, pagi hari setelah Ibra berangkat kerja, Ara pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan mereka butuhkan untuk memasak nanti.


Satu persatu bahan makanan diraih Ara, hingga semua bahan yang dibutuhkannya terasa lengkap. Ara berjalan ke arah kasir, guna membayar barang belanjaanya.


Namun saat melihat gambar es krim yang tidak jauh dari tempatnya mengantri, tiba-tiba saja Ara sangat ingin makan es krim.


Dan tanpa Ara sadari, saat ini ia telah mengambil begitu banyak macam es krim yang menurutnya semuanya sangat menggiurkan.


Dengan segera Ara membawa belanjaannya ke kasir, karena sudah tidak sabar ingin menikmati es krimnya. Ia bahkan sudah memikirkan akan memakan beberapa es krimnya di mobil nanti.


"Es krimnya banyak sekali." Ucapan seseorang yang berdiri tepat di belakang Ara, membuat wanita itu berbalik.


"Rafael!" ucap Ara lirih.


"Hai! Saya pikir kamu tidak akan mengingatku lagi," ucap Rafael tersenyum. "Es krimnya buat siapa? banyak sekali." tanya Rafael memperhatikan isi keranjang belanjaan Ara.


"Buat saya," jawab Ara datar.


"Oh ya, banyak sekali. Apa kau begitu suka makan es krim?" tanya Rafael lagi, namun tidak mendapatkan jawaban dari Ara yang sibuk mengeluarkan belanjaannya di depan kasir.


"Apa kamu sedang terburu-buru?" tanya Rafael. Namun tetap tidak mendapatkan jawaban dari Ara. "Kalau kau tidak begitu sibuk, mungkin kita bisa minum kopi bersama," ajaknya.


"Maaf, tapi Mama akan ke rumah. Jadi aku harus pulang cepat," jawab Ara, tanpa menatap pria itu.


"Begitu ya! Baiklah, kalau begitu kita akan melakukannya kapan-kapan," ucap Rafael.


Ara menghela napasnya, dan berbalik menatap pria di sampingnya. "Maaf, tapi sepertinya kita tidak begitu dekat untuk melakukannya."


Setelah membayar belanjaannya, Ara segera pergi tanpa permisi, meninggalkan pria yang menurutnya sangat aneh itu.


"Kita bahkan pernah lebih dekat dari itu." Batin Rafael, tersenyum melihat kepergian Ara.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2