Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 45


__ADS_3

Setelah menumpahkan segala kegalauan hatinya pada kedua sahabatnya, sore hari Ara pulang diantar oleh Arumi.


"Turunlah, minta maaflah pada Kak Ibra dan berikan dia haknya. Jika dia mempertanyakannya, maka jawablah dengan jujur. Berkata jujur lebih baik, dari pada terus menghindar seperti ini," tutur Arumi. Saat melihat sahabatnya itu seperti enggan untuk turun dari mobilnya.


"Iya, baiklah. Kalau begitu aku turun ya!" Ara turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, setelah mobil sahabatnya itu pergi meninggalkan pekarangan rumah tempatnya tinggal.


Saat masuk ke dalam rumah, Ara tidak menjumpai siapa pun, selain Bi Ija dan dua asisten rumah tangga lainnya.


"Mama mana, Bi?" tanya Ara pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Lagi keluar, Non."


Ara mengangguk dan kembali bertanya, "Kalau Kak Ibra udah pulang belum, Bi?"


"Sepertinya belum, Non. Tapi nggak tau juga kalau bibi nggak melihatnya."


"Begitu ya, Bi. Baiklah, kalau begitu Ara ke kamar ya, Bi."


"Iya, silahkan, Non."


Ara terdiam sejenak, saat telah berada di depan pintu kamarnya. Merasa sedikit takut jika saja Ibra ada di dalam sana. Membuatnya mulai menyusun kalimat yang akan ia ucapkan pada suaminya itu. Namun ia juga sangat berharap pria itu ada disana saat ia membuka pintu.


Ia perlahan memutar gagang pintu kamarnya dan mendorong benda persegi itu hingga ia dapat melihat jelas isi kamarnya.


Ara melangkah masuk dan melebarkan pandangannya, mencari sosok suaminya. Namun, ia dibuat kecewa saat tidak mendapati siapa pun di dalam sana.


Ara kemudian meletakkan tas yang sedari tadi menggantung di pundaknya ke atas meja. Berjalan ke arah kamar mandi dan balkon, guna mengecek, barangkali pria itu ada disana.


"Sebenarnya dia kemana? Apa dia tidak akan pulang?"


Ara menghela napasnya yang terasa berat, lalu mendudukkan dirinya di sisi tempat tidurnya. Menatap kosong pada benda yang ada di hadapannya, dan kembali memikirkan kepergian suaminya yang entah kemana.


***


Malam harinya Ara tidak ikut makan malam bersama, dengan alasan sudah kenyang. Meski sebenarnya, ia hanya merasa malu pada kedua mertuanya. Serta merasa khawatir jika saja mereka kembali menanyakan keberadaan suaminya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Ibra juga kemana sih? Kesalahan apa yang dibuat Ara, sampai dia seperti itu? Keterlaluan!" Maki Mama Reta, yang merasa amat begitu kesal dengan sikap putranya.


"Sudah, jangan mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri," sahut Papa Nahar, yang terlihat fokus mengunyah makanannya.


Mama Reta meletakkan sendok yang ada di tangannya, kemudian berdiri dari duduknya. "Mama akan menanyakannya pada Ara."


"Jangan!"


"Tapi, Pa. Kalau dibiarkan___"

__ADS_1


"Jangan! Kalau papa katakan jangan, ya jangan! Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Lanjutkan saja makan, Mama."


Mama Reta kembali mendudukkan dirinya dengan wajah yang ditekuk. Menyantap makanan yang ada di hadapannya, meski sebenarnya ia benar-benar tidak berselera.


***


Hingga hampir tengah malam, Ibra tidak juga kembali. Membuat Ara semakin cemas memikirkannya. Ingin rasanya ia keluar mencari pria itu. Tapi, ia bahkan tidak tahu tempat yang biasa dikunjungi oleh suaminya itu. Ia juga tidak mengenal seorang pun teman suaminya.


Ara sedang berbaring sambil terus menangis, saat seseorang membuka pintu kamarnya dengan begitu kasar. Ara dengan cepat mendudukkan dirinya dan berbalik. Ia merasa begitu lega saat melihat punggung pria yang dirindukannya, sedang mengunci pintu kamarnya.


Ara dengan cepat menghapus air matanya, dan turun dari tempat tidurnya. Baru saja Ara ingin menghampiri suaminya itu, namun langkahnya ia urungkan tatkala melihat Ibra yang melangkah begitu cepat ke arahnya.


Ara yang sudah siap untuk meminta maaf pada pria itu, dengan terpaksa menelan kembali kata-katanya, saat Ibra menciumi bibirnya dengan begitu buas. Membuatnya terkesiap dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh pria itu.


"Kakak mabuk?" tanyanya. Saat mencium bau alkohol yang begitu menyengat di tubuh dan mulut suaminya.


Namun bukannya menjawab, Ibra justru kembali menciumi bibir Ara. Menekan tengkuk wanita itu guna memperdalam ciumannya. Ibra ******* bibir istrinya dengan begitu kasar, membuat Ara kesulitan mengatur napasnya.


Ara berkali-kali memukul-mukul lengan suaminya itu, berharap agar pria itu melepaskan ciumannya. Namun tetap saja tidak diperdulikan oleh Ibra, yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Ibra bahkan menarik kedua tangan Ara ke belakang tubuh wanita itu, dan menahannya dengan salah satu tangannya.


Dan suara isak tangis dari bibir Ara akhirnya mampu membuat pria itu melepaskan ciumannya. Ibra perlahan melepaskan genggaman tangannya dan menatap wajah istrinya yang terus saja terisak.


"Maaf!" ucapnya, yang kemudian menjatuhkan wajahnya di ceruk leher istrinya, dan mengendus aroma tubuh wanita itu.


"Izinkan aku melakukannya. Kau tau, sangat sulit untuk menahannya saat berada di dekatmu," pintanya. Yang terus saja mengecup leher istrinya. Namun tidak mendapatkan tanggapan dari Ara yang masih saja terisak.


"Mau ya? Hm?" pintanya lagi, dengan wajah memelas.


Ara menghentikan tangisnya dan menatap lekat manik mata pria di hadapannya yang nampak penuh harap padanya. Membuatnya perlahan menganggukkan kepalanya.


Ibra menarik kedua sudut bibirnya, saat merasa telah mendapatkan persetujuan dari wanita itu. Ia menarik wajah istrinya dan menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. Ia kemudian beralih menciumi telinga Ara, lalu menurunkan ciumannya ke leher wanita itu. Membuat Ara bergidik merasakan sentuhan pria itu


Ibra mendudukkan tubuh Ara di atas tempat tidur, dan perlahan membuka satu persatu kancing piyama Ara, tanpa melepaskan ciumannya di bibir wanita itu.


Setelah berhasil melepaskan piyama yang dikenakan Ara. Ibra kemudian melepaskan ciumannya, menatap kulit putih istrinya, dan kembali melayangkan kecupan di dada wanita itu. Ibra lalu membaringkan tubuh Ara dan menindihnya. Ara yang merasa sulit mengatur napasnya, hanya pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya padanya. Ia hanya mampu meremas seprei yang ada di sisinya, hingga seluruh hasrat suaminya tersalurkan.


Setelah melepaskan hasratnya yang telah lama ia pendam, Ibra tertidur tidak sadarkan diri di atas tubuh Ara. Sekuat tenaga Ara mendorong tubuh suaminya, yang terasa amat berat untuknya.


Setelah berhasil membaringkan tubuh Ibra dan menutupnya dengan selimut, Ara kemudian memunguti pakaiannya dan berjalan cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Pukul tiga pagi, Ibra terbangun karena merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia mendudukkan dirinya dan meremas kuat rambutnya, barharap hal itu dapat mengurangi sakit yang ia rasakan.


Ibra sedikit terkejut saat menyadari ruangan yang amat dikenalinya. Ia kemudian berbalik menatap keberadaan istrinya. Hingga membuatnya semakin yakin bahwa saat ini ia benar-benar berada di kamarnya. Entah sejak kapan ia pulang, ia bahkan tidak mengingatnya.

__ADS_1


Ibra kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Dan hal itu membuatnya semakin terkejut tatkala melihat tubuhnya yang tidak menggunakan sehelai benang pun. Membuatnya kembali menarik selimut tersebut dan menutup tubuhnya.


"Apa aku telah melakukannya?" lirihnya. Yang kembali menjambak rambutnya, berharap dapat mengingat apa yang terjadi dengannya.


"Iya, aku melakukannya," ucapnya, saat berhasil mengingat beberapa kejadian,  saat dirinya terus menciumi istrinya, meski wanita itu memukulnya.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada istrinya yang tertidur lelap. "Apa dia marah padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Ibra beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Berkali-kali ia mencoba memikirkan kejadian semalam di bawah guyuran air. Namun sayang, ia tidak dapat mengingat semuanya.


Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Ibra mendudukkan dirinya di sisi Ara. Menatap lekar wajah polos istrinya yang tertidur lelap. Ia perlahan menyentuh pipi wanita itu, dan mengusapnya lembut.


Ara yang merasakan dinginnya kulit Ibra yang menempel di wajahnya, jadi terbangun dan dengan cepat mendudukkan dirinya.


"Maaf, mangganggu tidurmu," ucap Ibra menyesal.


"Iya, tidak apa."


"Maaf juga untuk yang semalam," tuturnya, yang kemudian mendapat anggukan dari Ara.


"Kau benar-benar memaafkanku?" tanyanya lagi, dan Ara kembali mengangguk.


"Sungguh?" tanyanya tidak percaya. Dan Ara lagi-lagi menjawabnya dengan anggukan.


Ibra menarik tubuh Ara dan mendekapnya. "Terima kasih... terima kasih telah menerimaku."


Ibra melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam tangan istrinya. "Mari kita memulai semuanya dari awal. Menjadi suami istri yang sesungguhya, kini dan nanti," pintanya, yang kemudian diangguki oleh Ara.


Ibra kembali memeluk tubuh Ara sesaat, sebelum kembali melepasnya.


"Mau mengulang yang semalam?" tawarnya, tersenyum menggoda.


"Maksud, Kakak?"


"Ayo melakukannya lagi. Semalam aku tidak begitu menikmatinya, karena sedang mabuk," tuturnya. "Mau ya? ya?" pintanya memohon.


Ara menghela napasnya pasrah, sebelum berucap, "baiklah!"


Ibra tersenyum senang, dan dengan cepat menindih tubuh istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥


__ADS_2