Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 48


__ADS_3

Keesokan harinya, Arumi mengirimkan mobil Novi ke alamat yang Novi kirimkan lewat pesan singkat. Akan tetapi saat Arumi ingin menanyakan tentang KTP miliknya, ternyata nomor ponsel Novi sudah tidak dapat dihubunginya lagi.


"Kemana dia, kenapa nomornya tidak dapat dihubungi?" Arumi mengernyitkan keningnya, saat merasa ada yang aneh.


Ia kemudian kembali menghubungi nomor Novi. Namun tetap sama saja, panggilannya masih tidak dapat terhubung. Membuat Arumi semakin kesal dibuatnya. Mereka bahkan baru saja saling berkirim pesan.


"Apa dia mem-block nomorku? Wah, spertinya dia sedang mencari masalah denganku!"


Arumi yang semula berbaring di tempat tidurnya, dengan segera beranjak dan meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja belajarnya. Berniat akan ke alamat yang dikirimkan Novi padanya, sebelumnya.


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Arumi tiba di sebuah rumah besar dengan pagar yang tinggi. Ia menghentikan mobilnya di depan pos security yang ada di depan rumah tersebut, dan segera menurunkan kaca mobilnya.


"Cari siapa, Neng?" tanya seorang security yang berada di pos penjagaan tersebut.


"Apa benar ini rumah, Mba Novi?" tanya Arumi, setelah sebelumnya mematikan mesin mobilnya.


"Iya benar, Neng. Tapi Non Novi baru aja keluar, Neng," jawab security tersebut.


"Begitu ya, Pak.... Apa bapak tau kemana? Atau mungkin pulangnya jam berapa ya?"


"Wah, kalau itu saya tidak tau, Neng. Memangnya ada apa ya, Neng? kalau ada pesan, nanti akan saya sampaikan"


"Nggak ada, Pak. Kalau begitu saya permisi. Terimakasih ya, Pak."


"Iya sama-sama, Neng."


Setelah pamit pada security tersebut, Arumi kembali melajukan kendaraannya untuk pulang. Ia berencana untuk menghubungi Novi lagi nanti.


***


"Mau kemana?" tanya Ibra yang melihat istrinya yang sudah rapi.


Ibra kemudian menyandarkan tubuhnya di meja rias tempat Ara bercermin saat ini. Dan dengan sengaja menghalangi pandangan istrinya.


"Mama ngajak jalan," jawab Ara. "Kakak minggir dulu. Ara mau liat, jilbabnya udah rapi apa belum."


"Sudah cantik, kok." Ibra terus saja mengikuti Ara yang bergeser ke kanan dan ke kiri, guna mencari celah untuk melihat pantulan wajahnya.


"Astaga Kak Ibra... cepetan, nanti Mama nunggunya lama." Ara mendorong tubuh suaminya sekuat tenaga. Namun Ibra tidak bergeming dan malah tertawa melihat wajah istrinya yang marah-marah.


Ara mencebik kesal lalu berjalan menuju cermin besar yang menempel di lemarinya. Membuat Ibra terkekeh melihatnya.


Ibra kembali mengikuti langkah istrinya, menyandarkan tubuhnya di salah satu badan lemari dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Menatap lekat wajah istrinya yang sedang membenarkan jilbabnya.

__ADS_1


Cup!


"Kak Ibra..." Ara memukul lengan Ibra yang selalu saja melayangkan ciuman padanya sesuka hati.


Ibra terkekeh dan meminta maaf. "Padahal Kakak baru saja ingin mengajakmu berkencan," ucap Ibra cemberut.


"Ya... sayang banget ya. Ara sudah terlanjur mengiyakan ajakan Mama. Jika tidak, pasti akan sangat menyenangkan berkencan dengan kak Ibra," ucap Ara menggoda.


"Kalau begitu aku ikut kalian saja," ucap Ibra memberi ide.


"Ara beritahu mama dulu ya."


"Tidak usah! kamu tunggu sebentar, kakak akan siap-siap. Hanya sebentar, ok!"


Ibra dengan segera membuka lemari pakaian miliknya dan meraih sebuah celana jeans dan kaos oblong putih. Ia bahkan berganti pakaian dengan cepat di hadapan istrinya. Membuat Ara terkekeh melihatnya.


Setelah sedikit merapikan rambutnya, ia kemudian meraih sebuah jaket jeans dan sebuah topi yang kemudian ia jatuhkan ke atas kepalanya.


"Ayo!" ajaknya, menarik tangan istrinya.


***


Saat ini mereka sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Ibra yang berjalan dibelakang kedua wanita yang saling merangkul di depannya itu merasa terabaikan.


Ara yang sedikit terkejut, kemudian tersenyum lebar melihat suaminya.


Selama berkeliling, Ibra tidak pernah sekali pun membiarkan Ara terlepas darinya. Membuat Mama Reta menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Ia bahkan tidak begitu menikmati waktunya bersama menantunya karena putranya itu.


Setelah puas berkeliling, mereka memutuskan untuk masuk ke salah satu gerai makanan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.


"Bima!" sapa mama Reta pada Bima yang terlihat duduk sendiri.


"Tante Reta!" sahut Bima. Yang kemudian berdiri dari duduknya dan membalas sapaan mama Reta.


Bima lalu menatap Ara yang juga sedang menatap ke arahnya. Saat menyadari keberadaan Bima, tanpa sadar Ara melepas genggaman tangannya pada lengan Ibra. Membuat Ibra merasa aneh lalu mengalihkan pandangannya pada istrinya dan juga Bima yang saling menatap sesaat sebelum Ara kembali menundukkan pandangannya.


"Ibra?" sapa Bima mengulurkan tangannya pada Ibra.


"Ya!" sahut Ibra yang kemudian menjabat uluran tangan Bima.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bima.


"Baik."

__ADS_1


"Apa kau masih mengingatku?" tanya Bima lagi, saat menyadari raut wajah Ibra yang tidak bersahabat. Mungkin karena ia tidak mengingatnya, pikirnya.


"Sayang dia Bima, tetangga kita dulu. Kamu pasti tidak mengenalinya karena dia semakin tampan saja," ucap mama Reta memuji.


"Ah iya. Maaf, aku tidak mengenalimu," ucap Ibra, memaksakan senyumannya.


"Kamu sendirian saja?" tanya mama Reta pada Bima.


"Tadi dengan teman, tapi dia sudah pulang," jawab Bima.


"Kalau begitu, boleh kami duduk disini?" tanya mama Reta.


"Ma! mungkin saja dia ingin sendiri," Ibra merasa tidak senang dengan ide mamanya.


"Tidak apa kok. Duduk disini saja," sahut Bima membolehkan.


"Tuh kan ttidak apa, ayo!"


Mama Reta lalu mendudukkan dirinya di samping Bima. Dan mau tidak mau, Ibra pun mengikut, dan mendudukkan dirinya tepat dihadapan Bima, dengan Ara duduk di sampingnya.


Setelah mereka mulai menyantap makanan pesanan mereka, Mama Reta mencoba berbasa-basi dengan Bima. Namun tidak dengan Ibra hanya diam saja dan sesekali melirik ke arah Ara yang terus menunduk.


"Ada apa?" tanya Ibra lembut, pada istrinya. Membuat Bima ikut menatap Ara menunggu jawabannya. Ia bahkan masih saja mau tau apapun tentang wanita itu.


"Ah, nggak ada apa-apa," jawab Ara gelagapan. Terlihat salah tingkah. Membuat Ibra semakin curiga dengan tingkah istrinya.


"Oh iya, Bima. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya mama Reta.


"Tidak punya, Tante." Bima tertawa, melirik Ara dengan ujung matanya.


"Masa sih pria setampan kamu tidak punya pacar. Malah awalnya tante mengira kamu sudah menikah. Tapi ternyata kata Ara kamu belum menikah," ucap mama Reta yang juga ikut tertawa.


"Iya, belum ada yang cocok.... Dulu saya sudah hampir bertunangan, tapi saya membatalkannya secara sepihak, dan itu penyesalan terbesar saya, menyia-nyiakan seorang gadis yang begitu baik pada saya," ucap Bima jujur.


Mungkin ini kesempatannya menunjukkan penyesalannya pada Ara. Bima hanya ingin Ara tau kalau dia tidak pernah membenci wanita itu.


Ara yang mendengar ucapan Bima, sedikit terkesiap dan menatap ke Arah Bima. Dan hal itu tidak lepas dari pandangan Ibra. Membuat Ibra semakin yakin kalau keduanya memiliki hubungan yang lebih dari sekedar dosen dan mahasiswa.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥


__ADS_2