Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 38


__ADS_3

Ara masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya dan dengan cepat menepis air matanya yang sudah terlanjur terjatuh.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ibra, membuat Ara terkejut mendengarnya.


"Nggak ada apa-apa. Saya baru saja mau membangunkan Kak Ibra, tapi ternyata Kakak sudah bangun." Ara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kak Ibra mandilah. Saya akan menyiapkan pakaian, Kakak," imbuhnya.


Ara yang akan berjalan ke arah lemari, menghentikan langkahnya, saat Ibra dengan sengaja menahan lengannya.


"Ada apa? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Ibra menyelidik.


Ara menggelengkan kepalanya, "nggak ada."


"Lalu kenapa kau menangis?"


"Saya hanya teringat dengan ayah saya," jawab Ara menunduk.


Ibra perlahan melepaskan genggaman tangannya, "mau ke makam ayah?" tawarnya.


"Nggak usah, saya baik-baik saja," tolak Ara.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa, katakan padaku. Sekarang kamu tanggung jawabku. Terlepas dari tujuan kita menikah, kamu tetap istriku yang sah," tutur Ibra.


"Iya, terimakasih." jawab Ara mengangguk.


"Saya akan mandi dulu. Tunggu saya, kita akan turun sama-sama." Titahnya, yang kemudian masuk ke kamar mandi.


***


Saat ini, semua anggota keluarga sudah duduk di meja makan. Menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh bi Ija.


"Ibra!"


"Iya, Pa?" sahut Ibra, menatap ke arah papanya.


"Ingat, cuti kamu hanya tiga hari, jadi besok kamu sudah mulai bekerja. Jangan malas-malasan, sekarang kamu sudah punya tanggung jawab," ucap Papa Nahar.


"Iya, Pa. Ibra mengerti." jawab Ibra singkat. Yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Mama Reta. "Oh iya, Ma. Mungkin kami hanya menginap beberapa hari disini. Kami akan tinggal dirumah Ara."


"Tapi kenapa? Kenapa tidak tinggal disini saja?" tanya mama Reta.

__ADS_1


"Kalau kami tinggal disini, maka rumah Ara akan kosong. Tidak ada yang menempatinya," jawab Ibra.


"Kalau begitu biar mama menyewa seseorang untuk menempatinya. Biar ada yang membersihkannya setiap hari. Kalian tinggal disini saja ya. Mama sangat senang Ara tinggal disini, mama jadi punya teman cerita," pinta Mama Reta.


"Mama jangan khawatir, kami akan sering-sering mengunjungi mama."


"Iya, Ma. Lagi pula mereka pasti ingin menghabiskan waktu berdua. Dan kalau Mama hanya sekedar ingin bercerita dengan Ara, Mama bisa menelfonnya kan!" sahut Rissa menimpali.


Mama Reta menatap sinis putrinya, yang saat ini duduk tepat di sampingnya. "Kamu itu tau apa! kamu itu selalu saja sibuk dengan urusan kamu, sampai tidak punya waktu untuk mama."


"Mama berlebihan." jawab Rissa acuh.


"Iya, Ma. Benar kata Rissa. Lagi pula Ara sebentar lagi juga akan masuk kuliah. Dia tidak bisa terus menemani Mama," ucap Ibra.


"Tidak masalah kok. Ara mau ya, tinggal disini sama mama?" pinta Mama Reta, memohon pada menantunya.


Ara yang sejak tadi hanya terdiam, akhirnya membuka suara, "iya, Ara nggak masalah kok, Ma. Ara, terserah kak Ibra aja." jawab Ara mengalah. Membuat Ibra menatap ke arahnya.


"Oke! Artinya kalian akan tinggal disini. Mama tidak membutuhkan pendapat Ibra," ucap Mama Reta kegirangan.


Dan papa Nahar yang melihat sikap istrinya itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak akan ikut campur dengan masalah itu. Karena kalau itu sampai terjadi, maka istrinya akan memarahinya seharian.


"Sekalian buat Rissa juga ya, Ma?" sahut Rissa yang tidak kalah cepat.


"Kamu hanya akan mengganggu bulan madu mereka, kalau kamu ikut," jawab Mama Reta ketus.


"Kan biar rame, Ma," jawab Rissa memanyunkan bibirnya.


"Nggak usah, Ma. Kami nggak akan berbulan madu," jawab Ara.


"Nggak boleh seperti itu. Kalian harus berbulan madu, biar cucu mama cepat jadi." Mama Reta tersenyum riang, membayangkan memiliki seorang cucu.


"Ma, bisa tidak kita membahas ini nanti saja. Kita makan dulu saja," ucap Ibra. Merasa tidak begitu senang dengan arah pembicaraan mamanya. Merasa takut, jika itu akan membuat Ara tidak nyaman.


"Ya sudah, baiklah," jawab Mama Reta mengalah.


Mereka lalu melanjutkan sarapan mereka tanpa obrolan apapun. Dan setelah sarapan, Ara kembali berbincang berdua dengan Mama Reta di teras belakang. Karena Papa Nahar dan Rissa yang sudah berangkat bekerja. Sedang Ibra, kembali naik ke kamarnya.


Mama Reta terus saja menceritakan tentang masa kecil putranya, sembari mengurus tanamannya yang ada disana.


Dan Ara, terus saja memandangi Mama Reta yang begitu piawai merawat bunga-bunganya yang ada di teras belakang. Dan sesekali memberikan bantuannya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian. Keduanya akhirnya memutuskan untuk menyudahi obrolannya, dan masuk ke dalam rumah.


"Kamu tidak masalah tinggal disini?" tanya Ibra, saat Ara baru saja masuk ke dalam kamar.


"Iya, nggak masalah."


"Maaf ya, kamu terpaksa harus mengalah sama Mama."


"Nggak apa kok. Itu bukan masalah besar, jadi jangan terlalu dipikirkan. Saya malah senang tinggal disini, dengan keluarga yang lengkap ada Mama, Papa, juga punya saudara seperti Rissa dan juga Kak Ibra," ucap Ara.


Ibra tersenyum kecil, sedikit merasa kecewa saat Ara menyebutnya sebagai saudara. Entah status apa yang diinginkannya dari gadis itu.


Ibra kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya pada Ara, karena sudah mau mengerti dengan sifat mamanya.


"Jalan-jalan, mau?" tawar Ibra pada Ara.


"Kemana?" tanya Ara.


"Kamu maunya kemana?" tanya Ibra kembali.


"Terserah Kak Ibra saja."


"Jadi mau?" tanya Ibra memastikan.


"Iya, boleh."


"Ke festival kuliner, mau? Kamu tidak sedang diet kan?" tawar Ibra.


"Iya, boleh. Pasti akan sangat menyenangkan berburu banyak makanan," jawab Ara antusias.


Mata Ara seketika berbinar. Belum pergi saja, ia sudah membayangkan banyaknya makanan yang ada disana.


Ibra menarik kedua sudut bibirnya, tidak menyangka kalau wanita itu akan seantusias itu. Padahal ia hanya sekedar iseng menyebut tempat itu. Karena Ara putri dari seorang chef, jadi ia pikir wanita itu akan suka dengan tempat yang terdapat banyak makanannya. Dan ternyata pikirannya tidak salah.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2