
Hartono telah dipindahkan ke ruang ICU. Berbagai macam alat bantu telah terpasang di tubuhnya.
Arumi dan Rissa masih setia menemani Ara di rumah sakit tersebut hingga malam hari. Begitupun dengan Ibra yang awalnya akan keluar bersama temannya, telah membatalkan rencananya dan lebih memilih menemani sahabat adiknya itu.
Meski awalnya Ibra sangat kesal dengan Rissa, namun setelah melihat kondisi Hartono yang separah itu, membuatnya merasa iba.
Ia sangat mengenal pria paruh baya yang saat ini sedang terbaring kaku di atas brankar tersebut. Sebab dulu ia selalu berkunjung ke rumah Ara untuk menjemput Rissa. Dan karena seringnya kesana, membuatnya menjadi akrab dengan Hartono, yang selalu mengajaknya berbincang.
Ibra terus saja menatap Ara, yang terus berdiri menatap ayahnya dari balik kaca pembatas. Menatap wajah sendu gadis itu, membuatnya merasa semakin iba pada gadis itu.
Ara yang sedari tadi melamun menatap ayahnya, menghentikan lamunannya dan berjalan menghampiri kedua sahabatnya.
Saat berjalan menghampiri kedua sahabatnya, ia tidak sengaja melihat Rissa yang tengah menguap.
"Rissa!" panggil Ara.
"Iya?" jawab Rissa cepat.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau pulanglah. Kau juga pasti sangat lelah," ucapnya mencoba tersenyum.
"Ah, tidak kok. Aku akan menemanimu disini."
"Tidak apa, ada Arumi dan Bi Ratih yang menemaniku. Kau pulanglah dulu, nanti kau bisa datang lagi .... Lagi pula, bukankah kau magang di rumah sakit ini, jadi kau bisa kesini setiap hari."
"Tapi ...." Rissa tidak tau lagi harus mengatakan apa agar bisa menemani sahabatnya itu. Meski sebenarnya ia memang sangat lelah.
"Kak Ibra juga pasti sudah sangat lelah seharian berada disini," imbuh Ara, beralih menatap Ibra dan melemparkan senyuman pada pria itu.
Deg!
Ada desiran aneh yang dirasakan Ibra saat melihat senyuman Ara. Senyum yang terlihat sangat meneduhkan, meski ada banyak kesedihan di dalamnya.
Baru saja Ibra ingin menanggapi ucapan Ara, namun sahutan dari Rissa, membuatnya membatalkan niatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang ya. Besok aku akan datang lagi." Rissa menghampiri Ara dan memeluknya. "Kamu yang sabar, jangan nangis lagi. Kau tahu, sangat sedih melihatmu seperti ini."
"Iya, aku janji akan kuat." Ara membalas pelukan sahabatnya itu, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Oke, aku pulang. Arumi, jaga Ara ya?" pinta Rissa pada Arumi, yang kemudian mengiyakan ucapannya.
__ADS_1
Setelah Rissa pamit pada keduanya, Ibra pun melakukan hal yang sama.
"Makasih ya, Kak. Maaf sudah merepotkan Kakak," ucap Ara pada Ibra.
"Iya, tidak masalah. Kamu yang sabar ya." Ibra mengelus bahu Ara, sebelum akhirnya beranjak mengikuti langkah adiknya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Ibra telah membantu Ara untuk mendapatkan sebuah ruangan yang bisa ia gunakan untuk istirahat di rumah sakit tersebut. Itu semua karena rumah sakit tempat Hartono dirawat saat ini adalah rumah sakit milik keluarga teman Ibra. Dan Ibra telah meminta bantuan temannya untuk menyediakan satu ruangan yang bisa digunakan Ara beristirahat. Setidaknya agar gadis itu tidak perlu bolak-balik ke rumahnya.
Ibra juga tidak tau, kenapa ia begitu peduli pada gadis itu.
***
Setelah kepergian Rissa dan Ibra, Ara kembali berdiri di balik kaca, memandangi tubuh ayahnya.
Air matanya jatuh begitu saja, setiap kali memandang wajah ayahnya. Tidak pernah terlintas di benaknya tentang apa yang terjadi pada ayahnya hari ini.
Rasa takut telah menyelimuti hati dan pikirannya. Melihat kondisi ayahnya yang terbaring koma, membuatnya sangat takut kehilangan pria paruh baya itu.
"Ayah... bangun... jangan seperti ini, jangan membuatku takut." ucapnya di dalam tangisnya.
Bi ratih yang berdiri di sisinya, terus saja mengusap punggung gadis itu, dan berkali-kali memintanya bersabar.
"Ara nggak lapar, Bi."
"Tapi setidaknya Neng Ara harus mengisi tenaga. Bapak akan memarahi saya saat tau saya membiarkan putrinya tidak makan seharian."
"Iya, kami akan makan, Bi," ucap Arumi menimpali. Ia juga sangat khawatir dengan kondisi tubuh Ara. Sahabatnya itu tidak sekuat dirinya saat menghadapi masalah.
"Makanlah lebih dulu, aku akan sholat dulu." Ara berucap tanpa mengalihkan pandangannya. Kemudian beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Kalau begitu, kami sholat dulu ya, Bi. Bibi nggak usah cemas, setelah sholat saya akan memaksanya untuk makan," ucap Arumi pada Bi Ratih, kemudian mengikuti langkah Ara yang sudah berjalan lebih dulu, menuju Mushollah.
Setelah melaksanakan sholat isya, tidak lantas membuat Ara beranjak dari tempatnya saat ini. Tanpa melepas mukenah yang dipakainya, ia menekuk lututnya, memeluknya seraya menjatuhkan wajahnya di kedua lututnya, dan kembali menumpahkan air matanya disana.
Hari ini hari yang begitu berat baginya. Bahkan untuk bernapas pun terasa sulit untuknya. Berkali-kali ia memukul dadanya untuk menghilangkan rasa sesak yang bersarang disana.
Arumi yang melihat Ara yang terus terisak, tidak kuasa menahan air matanya. Ia sedikit memajukan tubuhnya dan memeluk sahabatnya itu.
"Jangan seperti ini. Aku yakin Ayah akan baik-baik saja, Ayah akan kembali sehat seperti biasa. Kita harus terus berdoa untuk kesembuhan Ayah," ucap Arumi.
__ADS_1
"Apa Ayah akan meninggalkanku seperti ibu?"
Arumi menggelengkan kepalanya, "nggak! Ayah sangat kuat. Aku yakin Ayah pasti akan bertahan. Dia akan kembali pada kita." Arumi semakin mengeratkan pelukannya. Sebenarnya, ia juga sama takutnya dengan Ara, jika saja apa yang di katakan sahabatnya itu benar terjadi.
"Ayah kuat ... Ayah pasti kuat. Kamu harus percaya padaku." imbuh Arumi menegaskan.
Ara menganggukkan kepalanya, kemudian membalas pelukan sahabatnya itu.
***
"Kamu makan ya, aku akan menyuapimu," ucap Arumi, seraya mengambil makanan yang telah disiapkan Bi Ratih.
Saat ini mereka telah berada di ruangan yang telah di tunjukkan Ibra padanya, sebagai tempat mereka beristirahat.
"Gak usah, aku akan makan sendiri," tolak Ara.
"Nggak. Biar aku yang menyuapimu. Kalau kau makan sendiri, pasti sangat lama."
"Ya sudah, terserah kau saja," jawab Ara, mengalah.
Akhirnya mereka makan sepiring berdua. Dengan Arumi yang bergantian menyuapi Ara dengan dirinya sendiri. Ara terus saja meminta sahabatnya itu berhenti menyuapinya, namun Arumi tidak membiarkannya hingga makanan yang ada di piringnya tandas.
Bi Ratih yang melihat pemandangan tersebut terus saja tersenyum. Ia merasa amat bahagia, masih ada yang begitu peduli dengan anak majikannya itu.
Setelah menyelesaikan makannya, Arumi membereskan sisa makanan yang ada di atas meja dengan bantuan Bi Ratih.
"Neng, nanti sholatnya disini aja, saya ada bawa mukenah kok," ucap Bi Ratih.
"Iya, Bi. Makasih ya, Bi. Bibi udah makan?" tanya Ara.
"Iya sama-sama, Neng. Bibi masih kenyang. Bibi nggak usah dipikirin. Bibi kalau lapar, tanpa di suruh mah, pasti cari makan." Jawaban Bi Ratih membuat Ara tersenyum kecil mendengarnya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤
__ADS_1