
Rasa kesal Ibra pada adiknya sudah memuncak. Ia tidak pernah menyangka bakal tertipu dengan rencana adiknya.
"Sepertinya Rissa sudah pulang." ucapnya terus terang.
"Pulang? tadi katanya ke toilet."
"Dia menipumu." ucap Ibra datar.
"Maksud kakak?" tanya Ara, tidak habis pikir. "Saya akan mengeceknya," imbuhnya yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Tidak usah. Dia sudah mengirim pesan padaku." ucapnya. Ingin rasanya Ibra menunjukkan pesan itu pada Ara untuk meyakinkan gadis itu. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan.
"Saya akan menelfonya," kekeh Ara. Yang kemudian benar-benar menghubungi Rissa.
Ara merasa sedikit malu pada Ibra, setelah mengakhiri panggilannya dengan Rissa. Yang mengatakan tiba-tiba pulang tanpa berpamitan dengannya, karena perutnya yang terasa sangat sakit. Dan Rissa telah meminta maaf untuk itu.
"Ayo. Saya akan mengantarkanmu pulang," ucap Ibra lembut, tanpa basa-basi.
"Nggak usah, Kak. Saya naik taxi aja." tolaknya.
"Rissa sudah menitipkanmu padaku, kalau saya tidak mengantarkanmu dia akan marah padaku."
"Baiklah!" Ara mengangguk, kemudian mengikuti langkah Ibra menuju parkiran.
"Rumah kamu masih sama?" tanya Ibra, saat mereka sudah berada dalam perjalanan.
"Iya, Kak."
"Saya turut berduka atas ayah kamu. Maaf, saya tidak sempat hadir saat itu."
"Iya, tidak apa, Kak. Terimakasih," ucapnya tersenyum.
Ibra melirik Ara sekilas dengan ekor matanya. Cerita Ara tentang kedua orang tuanya yang merupakan anak panti asuhan, kembali memutar di pikirkannya. Hingga menimbulkan rasa iba pada gadis itu.
Benar kata Rissa, gadis itu sangat malang, tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya gadis itu, saat kehilangan ayahnya.
Mobil Ibra telah terparkir, tepat di depan pagar rumah Ara.
"Makasih ya, Kak." Ara melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya, "Kakak nggak mampir dulu?" tawarnya.
"Iya, sama-sama. Tidak usah, saya langsung pulang saja."
"Kalau begitu kakak hati-hati." Ara kemudian turun dari mobil, dan menutup kembali pintu mobil tersebut. "Sekali lagi, makasih ya, Kak." Ara tersenyum dan melambaikan tangannya.
Ibra kembali mengemudikan mobilnya. Namun pandangannya tidak lepas dari pantulan Ara yang ada di kaca spion miliknya. Iya, gadis itu tidak bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia terus saja melihat ke pergian Ibra. Membuat sebuah senyuman tercetak jelas di bibir pria itu.
***
Rissa yang baru saja keluar dari dapur, dikejutkan dengan keberadaan Ibra di rumahnya.
"Kakak kok udah pulang?" Ara mana?" ucapnya sedikit dikeraskan, karena Ibra yang berjalan begitu cepat.
Rissa mengikuti langkah Ibra, "Kakak!" teriaknya lagi, saat tidak mendapatkan tanggapan dari pria itu.
Ibra menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat Rissa tersentak kaget saat tubuhnya hampir saja menabrak tubuh kakaknya itu. Hingga membuatnya harus sedikit memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila? Apa maksudmu melakukan semua ini?" sergahnya.
"Rissa hanya ingin Kakak lebih dekat dengan Ara." Rissa menundukkan pandangannya, sangat takut melihat kemarahan kakaknya.
"Hentikan! Apa kau pikir Ara akan suka jika dia tau ide gilamu ini?" bentak Ibra.
"Ada apa ini?" Suara Papa Nahar menghentikan perdebatan keduanya.
"Ah, tidak ada apa-apa kok, Pa. Iyakan, Kak?" Rissa menatap Ibra. Meminta dukungan pria itu. Namun pria itu hanya terdiam, masih setia dengan wajah kesalnya.
"Ya sudah!" Meski Papa Nahar tau ada masalah diantara keduanya, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Lagi pula hal itu sudah biasa terjadi.
Papa Nahar kemudian beralih menatap Ibra.
"Ibra! Malam ini, papa ada rencana makan malam dengan rekan bisnis papa. Papa harap kamu bisa menemani papa," pintanya.
"Baiklah, Pa. Kalau begitu Ibra ke kamar dulu," ucapnya, yang kemudian bergegas naik ke kamarnya, setelah mendapat anggukan dari papanya.
Rissa memandang kepergian kakaknya dengan wajah cemberut. Merasa kesal saat rencana yang dibuatnya, tidak membuahkan hasil.
"Hei, ada apa dengan wajah cantik ini?" ucap Papa Nahar, seraya menarik hidung putrinya.
"Nggak kenapa-kenapa kok, Pa." jawab Rissa menyengir.
"Berhentilah bertengkar dengan kakak kamu. Kalian sudah besar, sudah bukan anak kecil lagi."
"Iya, Pa. Lagi pula kami nggak bertengkar kok."
"Ya sudah. Kapan rencana wisudamu?" tanya Papa Nahar.
"Ya sudah. Kalau begitu papa ke kamar dulu."
"Iya, Pa," sahut Rissa, yang mendapatkan usapan lembut di kepalanya, sebelum papanya berlalu meninggalkannya.
***
"Miya belum pulang, Bi?" tanya Ara pada Bi Ratih yang sedang asik menonton film keluarga kesukaannya di ruang tengah.
"Eh, Neng Ara udah pulang?" tanya Bi Ratih, yang dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Iya, Bi. Miya belum pulang, Bi?" tanyanya kembali.
"Iya, belum, Neng. Oh iya, Neng. Tadi ada teman Bapak yang kesini cari Neng Ara."
"Siapa, Bi?"
"Pak Jordan." Mata Ara membulat penuh, mendengar ucapan Bi Ratih. "Kalau Neng Ara masih ingat, dulu beliau sempat beberapa kali kesini. Tapi itu sudah sangat lama," tuturnya.
"Iya, Ara ingat, Bi. Kalau begitu Ara naik ke kamar dulu ya, Bi," sahut Ara, setelah beberapa saat terdiam karena lamunannya.
"Iya, Neng. Silahkan!"
Ara naik ke kamarnya dengan terburu-buru. Setelah menutup pintu kamarnya, Ara berjalan perlahan menuju tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya disana. Memikirkan tentang ke datangan teman ayahnya itu ke rumahnya.
Kedua tangan Ara mencengkeram kuat seprei di sampingnya. Entah mengapa ia menjadi begitu takut pada pria itu. Membuatnya sangat enggan untuk bertemu dengan pria paruh baya itu. Meski seingatnya dulu, pria itu sangat baik kepadanya.
__ADS_1
***
Malam ini Ibra dan papanya berangkat menuju ke sebuah restoran bintang lima, dengan di antarkan oleh sopir pribadi papanya.
Saat telah masuk ke dalam restoran tersebut, Ibra dapat menangkap seorang pria paruh baya yang sedang melambai ke arah mereka, dengan di dampingi oleh seorang gadis yang dapat Ibra perkirakan usianya, tidak berbeda jauh dengan adiknya.
Ibra berbalik menatap papanya, yang terlihat melempar senyuman pada pria paruh baya itu. "Ini maksudnya apa, Pa?" tanyanya curiga, seraya menghentikan langkahnya.
"Papa sudah tau kalau pacar kamu itu sudah menikah. Jadi ikuti saja rencana papa. Dan jangan membuat papa malu," ucapnya penuh penekanan. Kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan putranya.
"Shit!" umpat Ibra.
"Maaf, membuat kalian menunggu," tutur Papa Nahar.
"Tidak masalah. Kami juga baru tiba, kok." Pria itu tersenyum kemudian beralih menatap Ibra yang saat ini berdiri tepat di samping papanya.
Kedua pria paruh baya itu kemudian saling memperkenalkan anak-anak mereka. Gadis yang akan di jodohkan dengan Ibra itu terus saja tersenyum malu saat ayahnya begitu membanggakannya. Dan sesekali melirik Ibra, yang duduk tepat di hadapannya, namun terlihat begitu enggan melihatnya.
"Nak Ibra, om harap kamu menyukai putri om. Dia anak yang baik. Kamu akan sangat beruntung jika menjadi pasangannya."
Pria itu terus saja membanggakan putrinya. Mulai dari sifat putrinya, pendidikan, pekerjaan, bahkan tentang banyaknya pria yang ingin menjalin hubungan dengan putrinya itu. Hingga membuat Ibra begitu muak mendengarnya.
"Sebelumnya Ibra minta maaf, Om. Tapi Ibra sudah punya calon istri." Pernyataan Ibra membuat bibir pria paruh baya itu kelu seketika.
"Apa maksud kamu?" tanya papa Nahar sedikit emosi.
"Maaf, Pa. Sebenarnya Ibra sudah berencana memberitahu Papa tentang ini. Tapi Ibra sedang mencari waktu yang pas," ucapnya berbohong. "Ibra juga tidak tau kalau pertemuan ini di buat untuk membicarakan tentang perjodohan kami. Seandainya Ibra tau dari awal, maka Ibra akan berterus terang dengan Papa."
Ibra kemudian mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannya. "Saya minta maaf, Om. Saya sangat menyesal tentang hal ini. Putri Om sangat cantik. Dan saya juga percaya dia anak yang sangat baik. Karena itu sangat tidak sulit bagi om untuk menemukan pria yang lebih baik dari saya, untuknya," tuturnya.
Pria itu mengangguk dan tersenyum pada Ibra, "iya, tidak masalah. Lagi pula pertemuan ini kami buat hanya untuk mengenalkan kalian. Kalau kalian merasa cocok, maka akan kami lanjutkan. Tapi kalau tidak, maka kami tidak akan memaksa," tutur pria itu bijak.
"Iya, terima kasih, Om. Terima kasih atas pengertiannya." Ibra tersenyum puas. Seperti ada beban yang hilang dari pundaknya.
***
"Apa kamu serius dengan kata-kata kamu?" tanya papa Nahar saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju pulang.
"Apa kamu sedang mempermainkan papa?" tanyanya lagi, saat melihat putranya itu tidak berniat menanggapi ucapannya.
"Nggak kok, Pa. Ibra serius, sudah punya calon sendiri."
"Kalau itu memang benar, minggu ini bawa wanita itu bertemu dengan papa."
"Iya, Pa."
Ibra menghela napasnya. Masalah satu hilang, muncul masalah baru lagi. Entah apa yang akan ia lakukan.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤
__ADS_1