
Sebulan telah berlalu. Dan hubungan Ara dan Ibra masih sama saja, tidak ada kemajuan.
Ibra telah kembali bekerja. Begitupun dengan Ara, telah kembali berkuliah. Setiap hari, Ara ke kampus dengan diantarkan oleh Ibra. Dan pulangnya akan di jemput oleh sopir Mama Reta, dan tidak jarang diantar oleh Arumi.
Dua hari belakangan ini, Ibra selalu saja pulang larut malam. Karena banyaknya pekerjaan di kantornya yang mengharuskannya untuk lembur.
Sudah menjadi rutiniras untuk Ara, setiap malam sebelum tidur, ia akan menyiapkan sendiri air minum untuk disimpannya di atas nakas. Khawatir, jika saja diantara mereka akan kehausan saat malam hari.
Dan malam ini, Ara menuruni anak tangga dengan sedikit terburu-buru. Hingga menyebabkan kakinya terpeleset dan membuatnya terjatuh saat akan menuruni anak tangga terakhir.
"Awww!" pekik Ara.
Bi Ija yang kebetulan berlalu disana, dengan cepat menghampiri Ara. Saat mendengar teriakan anak menantu dari majikannya itu.
"Non Ara! Anda baik-baik saja?" tanya Bi Ija, seraya membantu wanita itu untuk berdiri.
"Iya, saya baik-baik aja, Bi. Makasih ya, Bi," jawab Ara berbohong. Meski sebenarnya ia sangat ingin menangis saat ini.
"Beneran, Non? Nggak ada yang sakit?" tanya Bi Ija, khawatir.
"Iya, nggak ada kok, Bi. Bibi nggak usah khawatir," tutur Ara, meyakinkan.
Bi Ija tersenyum lega. Kemudian berpamitan pada Ara untuk masuk ke kamarnya.
Setelah kepergian Bi Ija, Ara juga memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat mulai melangkahkan kakinya, ia merasakan sakit yang luar biasa di salah satu pergelangan kakinya. Sekuat tenaga ia menahan sakitnya, dan tetap meneruskan langkahnya hingga ke kamarnya.
Saat tiba di kamarnya, Ara mendudukkan dirinya di lantai kamarnya yang beralas karpet bulu, dan menyandarkan tubuhnya di sisi tempat tidurnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mencoba memijat pergelangan kakinya. Dan hal itu berhasil membuat tangisnya pecah seketika, karena tidak bisa lagi menahan sakitnya, yang semakin bertambah saat ia menekannya.
"Ayah... Ayah, sakit... kaki Ara sakit, Ayah..." panggilnya, sesegukan.
Disaat seperti ini, ia benar-benar rindu dengan sosok ayahnya. Ayahnya yang selalu merawatnya ketika sakit. Ayahnya yang selalu merasa panik, meski ia hanya terluka sedikit saja.
__ADS_1
Sekarang tidak ada lagi sosok ayahnya. Tidak ada lagi tempatnya mengadu. Meski ia telah mempunyai keluarga baru, namun rasanya tetap saja berbeda. Ia masih sangat malu untuk mengadu pada mereka.
"Ada apa?" tanya Ibra, yang saat ini telah berdiri di sisi Ara. Sedikit panik, saat mendapati istrinya itu sedang menangis.
Ara mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan pria itu.
"Sakit..." adunya, yang masih terus sesegukan.
Ibra dengan cepat duduk berjongkok, memeriksa tubuh istrinya. "Apa yang sakit?"
"Kakiku keseleo," ucapnya, menunjuk kakinya yang nampak sedikit membengkak.
"Bagaimana bisa seperti ini?" tanyanya. Namun Ara hanya menggeleng, sambil terus menghapus air matanya yang terus saja terjatuh.
Ibra menggelengkan kepalanya, menyayangkan kecerobohan istrinya. Kemudian mengangkat tubuh Ara naik ke atas tempat tidur.
Perlahan ia menekan-nekan pergelangan kaki Ara. Kemudian berjalan ke sebuah laci untuk mengambil minyak urut. Ia kemudian mengoleskan minyak tersebut pada pergelangan kaki Ara yang sakit dan mulai mengurutnya.
Berkali-kali Ara mengerang kesakitan, saat Ibra menekan tepat di sumber sakitnya. Membuatnya terus saja menahan tangan Ibra untuk menghentikan apa yang dilakukannya. Namun Ibra tidak perduli dan malah menepis tangan Ara untuk tidak menahannya.
Dan Ara yang menuruti perintah suaminya, dengan cepat mengoyang-goyangkan pergelangan kakinya. Memutarnya ke kanan dan ke kiri.
"Sudah tidak begitu sakit," tuturnya, tersenyum kecil.
"Saya akan mengompresnya, untuk menghilangkan bengkaknya." Ibra kemudian keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur.
Ibra kembali dengan sebuah mangkok berisi air hangat dan sebuah handuk kecil di tangannya.
"Kau bisa berbaring saja," ucapnya, saat akan mengompres kaki Ara.
"Nggak usah, begini aja.... Maaf merepotkan, Kakak."
"Ini sudah menjadi tugas saya." Ibra kemudian meletakkan handuk yang tadi ia bawa di pergelangan kaki Ara, setelah sebelumnya merendamnya di air hangat yang ada di dalam mangkok. "Kata Bi Ijah, kamu terjatuh di tangga?" tanyanya, menatap wajah istrinya.
__ADS_1
Ara mengangguk kemudian menundukkan pandangannya. Merasa malu saat Ibra menatapnya begitu lekat.
"Berhati-hatilah saat menuruni tangga."
Ara kembali menganggukkan kepalanya, "iya, terima kasih."
"Iya. Kalau begitu istirahatlah," ucap Ibra, seraya membelai rambut istrinya. Kemudian berdiri dari duduknya. "Saya mau membersihkan diri dulu."
"Iya, terima kasih." Ara mengangguk kecil. Merasa canggung, mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya
"Berhentilah mengucapkan terima kasih," tutur Ibra. Yang kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.
***
Saat tengah malam, Ara terbangun karena merasa sangat haus. Ia perlahan mendudukkan dirinya, kemudian menurunkan kakinya satu persatu dari atas ranjang. Berniat untuk turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum.
Namun niatnya ia urungkan saat melihat segelas air di atas nakas. Merasa tidak sempat mengambil air minum semalam, membuatnya menyimpulkan bahwa suaminyalah yang menyiapkan air itu.
Ia kemudian meraih gelas tersebut dan dengan segera meneguk isinya, hingga menyisahkan setengah.
Setelah tidak merasa haus lagi, Ara kembali membaringkan tubuhnya dan menutupi setengah tubuhnya dengan selimut. Kemudian berbalik memunggungi suaminya.
Baru saja Ara memejamkan matanya, namun sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang. Hingga membuatnya sedikit tersentak dan kembali membuka matanya.
Ini bukan pertama kalinya. Ibra sudah sangat sering memeluknya saat tertidur. Dan itu karena suaminya itu tidak menyadarinya. Mungkin.
Jika biasanya Ara selalu memindahkan tangan suaminya itu saat memeluknya, namun kali ia membiarkannya saja. Sepertinya, ia harus terbiasa dengan semua itu. Atau mungkin, karena ia juga menikmatinya.
Saat merasa bahwa Ara tidak memindahkan posisi tangannya. Membuat Ibra yang berada di balik punggung Ara, tersenyum lebar. Mungkinkah wanita itu telah menerimanya sebagai suami?!
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa bagi like dan komennya ya kakak 😙♥