
Mama Reta terus saja menatap gadis kecil yang saat ini berada di hadapannya. Membuatnya mengingat kembali pada sosok Ibra kecil yang kata orang terlihat lebih seperti anak perempuan.
"Bagaimana bisa anak ini terlihat begitu mirip dengan Ibra?!," batin mama Reta.
Melihat mama Reta yang terus saja menatapnya, membuat Alea merasa takut dan memeluk Ibra yang duduk di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Ibra merasa bingung.
"Lea takut." Alea berucap sambil mengeratkan pelukannya.
"Tidak usah takut, itu mamanya om. Mama om baim kok!" bisiknya sambil mengelus kepala Alea. "Mama kenapa tidak bilang sih kalau mau datang?" tanya Ibra pada mamanya.
"Dia benar anak teman kamu?" tanya mama Reta, membuat Ibra mengernyitkan keningnya. Tidak mungkin juga dia mengatakan kalau Alea anak Ara, belum waktunya ia menceritakan tentang Ara pada mamanya, pikirnya.
"Iya benar, memang anak siapa lagi? Sebentar lagi papanya akan datang menjemputnya," jawab Ibra. "Tadi mobil papanya mogok, karena itu dia menitipkan anaknya pada kami," sambungnya meyakinkan.
"Hei gadis cantik, datang sama oma ayo sini!" ucap mama Reta mengulurkan tangannya pada Alea.
Alea kemudian melepaskan pelukannya pada Ibra, manatap mama Reta lalu berpindah menatap pada Ibra meminta jawaban. Setelah mendapatkan anggukan dari Ibra, Alea kemudian berjalan perlahan menuju mama Reta.
"Ayo sini sayang!" ucap mama Reta meraih tubuh Alea dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Gadis cantik namanya siapa?"
"Alea Oma!"
Keduanya lalu berbincang-bincang selayaknya seorang nenek bersama cucunya. Melihat tingkah manis Alea, membuat perasaan mama Reta semakin menggebu untuk memiliki cucu.
"Ibra, kamu kapan akan memberikan mama cucu juga? Mama sudah tua loh!" tanyanya pada Ibra yang baru saja meletakkan segelas air putih untuk mamanya.
"Ibra tidak kepikiran, kenapa mama tidak menikahkan Rissa saja?" jawab Ibra menghempaskan tubuhnya di atas sofa, menyandarkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruang tengahnya, serta menyandarkan lengan tangannya di atas keningnya. Mengingat kembali tentang apa yang dilaluinya selama ini, menunggu Ara dengan setia. Setiap bangun tidur ia terus saja berharap hari ini akan bertemu dengan Ara, dan setiap hari sepulang kerja ia selalu saja menyempatkan mengunjungi rumah mereka, barharap Ara ada disana menunggunya, saat ia membuka pintu rumah. Namun semuanya sia-sia saat ini. "Aku terlalu percaya kalau kamu tidak bisa hidup tanpaku." Ibra tersenyum getir mengingat betapa bodohnya dirinya yang meyakini bahwa Ara akan pulang padanya.
"Ibra!" Panggilan mama Reta memaksa Ibra menghentikan lamunannya. "Itu ada yang datang." Ibra yang ikut mendengar suara bel dengan cepat berdiri dan berjalan menuju pintu masuk.
__ADS_1
Ceklek...
Senyum yang sedari tadi Ibra tampakkan untuk menyambut tamunya yang ia pikir adalah Abyan tiba-tiba menghilang.
"Ara!" ucapnya terkejut.
Ara tidak kalah terkejut, saat melihat Ibra tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat cepat. "Maaf, sepertinya saya salah alamat," ucap Ara cepat, yang kemudian akan pergi. Namun dengan cepat Ibra menahan tangan Ara.
"Alea ada di dalam," ucap Ibra menghentikan langkah Ara, lalu melepas genggamannya pada tangan Ara. "Masuklah dulu," sambungnya lalu masuk ke dalam mendahului Ara.
Sesaat Ara memegang dadanya untuk mengatur detak jantungnya. Dan meski merasa sedikit bingung Ara tetap saja mengikuti langkah Ibra masuk ke dalam rumahnya.
Saat berada di dalam, Ibra nampak menggaruk-garuk kepalanya, merasa bingung harus mengatakan apa pada mamanya.
"Siapa yang datang?" tanya mama Reta pada Ibra yang telah berdiri di sampingnya.
"Mama....!" teriak Alea berlari pada mamanya, membuat mama Reta ikut berbalik.
"Ara!" ucap mama Reta tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan cepat mama Reta berdiri menghampiri Ara.
Tanpa pikir panjang mama Reta dengan cepat menyambar tubuh Ara dan memeluknya, "Kamu kemana saja?" ucapnya yang sudah menangis, namun tidak mendapatkan jawaban dari Ara yang juga sudah ikut menangis. Sejenak mereka saling menumpahkan air mata tanpa kata, melepaskan segala kerinduan diantara mereka.
Ibra yang menyaksikan keduanya memilih untuk pergi, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis juga.
Setelah selesai melepaskan kerinduannya, keduanya duduk dan berbincang, saling menanyakan kabar masing-masing.
Ryan yang baru saja selesai berganti baju, terkejut saat melihat wanita yang mirip dengan Ara berada disana, dengan cepat ia mencari sosok Ibra yang tidak nampak disana.
"Yang di depan itu benar Ara?" tanya Ryan pada Ibra yang tengah menyaksikan pemandangan malam kota Surabaya dari balik kaca pembatas.
Ibra kemudian membenarkan pertanyaan Ryan dengan anggukan. "Lalu kenapa kau disini? Apa kau begitu malu bertemu dengannya?" ucapnya yang berhasil mendapatkan pukulan di bahunya dari Ibra.
"Bukan urusanmu!" ucap Ibra kemudian berjalan keluar menemui mamanya dan Ara.
__ADS_1
"Cehhh dasar!" ucap Ryan tertawa.
"Ehm..." Ibra berdehem sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang berada disana. Ara yang melihat kedatangan Ibra kemudian menundukkan pandangannya, menyibukkan tangannya dengan merapikan rambut Alea.
"Jadi kapan kamu akan pulang? Papa dan Rissa pasti akan sangat senang melihatmu," tanya mama Reta.
"Maaf ma!" ucap Ara ragu, membuat Ibra yang melihatnya mencoba mengerti dengan posisi Ara.
"Ma! Ara tidak mungkin pulang bersama kita," ucap Ibra mencoba membantu Ara.
"Kenapa?"
"Ara sudah menikah, dia juga sudah punya keluarganya sendiri," jawab Ibra menatap pada Alea. Meski ia tau, mungkin saat ini Ara sedang memiliki masalah dengan suaminya.
Mama Reta nampak terkejut mendengar ucapan Ibra, lalu menatap ke arah Ara untuk meminta jawaban.
Sedangkan Ara sendiri juga nampak bingung, tidak percaya, bagaimana bisa Ibra menyimpulkan hal itu. Namun Ara tidak mencoba untuk membantahnya.
"Jadi Alea bukan cucu mama?" tanya mama Reta pada Ara.
"Maaf ma!" jawab Ara tertunduk. "Saat ini Miya akan melahirkan, jadi Ara permisi pulang," sambung Ara mengalihkan pembicaraan, kemudian berdiri menghampiri mama Reta dan mencium punggung tangannya sebelum akhirnya beranjak.
"Tunggu!" ucap mama Reta menahan tangan Ara.
"Ma!" ucap Ibra berharap agar mamanya tidak lagi menahan Ara.
"Tapi dia cucu mama kan?" tanya mama Reta menatap Ara, "Iya kan Ara? Mama sangat yakin Alea cucu mama," tanyanya lagi memohon agar Ara menjawanya.
Mendengar ucapan mama Reta, Ara kemudian menatap dalam mata mama Reta sebelum akhirnya perlahan menganggukkan kepalanya.
.
.
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah memberikan dukungannya dengan Like, Komen dan Votenya. Loveyuu 😘😘
Tetap berikan Like, Komen dan Votenya yaa teman-teman 🤗❤