Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 5


__ADS_3

Saat ini Ara tengah menatap kosong punggung pria yang sedang mengantri untuk melakukan pemesanan pada salah satu gerai yang ada disana. Bibirnya melengkung membentuk senyum saat pria itu berbalik dan melempar senyum ke arahnya.


Pria itu benar-benar tampan, pantas saja Miya begitu memujinya. Tapi entah mengapa ia baru menyadari itu, padahal hampir setiap hari mereka bertemu. Apa karena di kampus dia punya banyak saingan? Pikirnya.


Setelah beberapa saat Bima kembali dan mereka pun mulai menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.


“Terimakasih ya untuk hari ini,” ucap Bima membuka obrolan.


“Iya sama-sama, Pak. Saya senang bisa membantu, Bapak,” jawab Ara tersenyum.


“Kau pasti sangat lelah, saya harap kamu tidak akan kapok membantu saya.”


“Ah tidak kok, Pak, biasa aja,” ucapnya mencoba tersenyum, meski sebenarnya ia kembali kesal mengingat betapa menyebalkannya berbelanja dengan pria di depannya. Seingatnya kedua sahabatnya tidak semenyebalkan ini saat mereka berbelanja bersama.


“Oh iya, Pak, boleh saya bertanya sesuatu?” tanyanya ragu.


“Apa?”


“Apa benar kado itu untuk kekasih bapak?”


Bima terkekeh menatap gadis di depannya, “kata siapa?”


“Mmm__”


“Bukan, itu bukan untuk kekasih saya. Saya tidak punya kekasih,” jawab Bima memotong. “Lebih tepatnya belum,” imbuhnya.


“Oh begitu ya,” jawab Ara seadanya, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Entah mengapa ada rasa bahagia saat mendengar jawaban dosennya itu.


“Oh iya, saat di rumah kamu tadi saya tidak melihat ibu kamu. Padahal saya sangat penasaran dengan rupa ibu yang melahirkan gadis secantik kamu.”


Ara dibuat terkesiap dengan ucapan pria di hadapannya. “Ibu saya sudah lama meninggal, Pak,” lirihnya tersenyum getir.


“Maaf maaf, saya tidak tau,” ucap Bima menyesal.


“Tidak apa kok, Pak,” ucapnya kembali tersenyum, setidaknya agar pria di hadapannya itu tidak merasa canggung.


“Mungkin karena itu ayahmu sedikit protektif padamu, membatasimu melakukan banyak hal karena ia tidak ingin kamu kenapa-kenapa, karena semua tanggung jawabmu ada padanya,” ucapnya. Sedikit banyak ia telah tau tentang gadis di hadapannya setelah tadi berbincang-bincang saat berkeliling mencari hadiah.


Saat berkeliling tadi mereka terus saja membahas tentang ayah gadis itu yang selalu membatasi gerak putrinya, dan juga mereka membahas tentang kedua sahabat gadis itu, yang tidak lain adalah Arumi dan Miya.


Sedangkan Ara sendiri mana berani menanyakan hal yang bersifat pribadi pada dosennya itu.


“Iya,” Ara menatap kosong pada makanan di depannya, membayangkan wajah cinta pertamanya, yang tidak lain adalah ayahnya. “Dulu saya selalu marah pada ayah saya, saya merasa iri dengan teman-teman saya yang diberi kebebasan oleh kedua orang tua mereka. Tapi tidak ada gunanya saya marah, toh ayah tetap tidak akan mengizinkan saya untuk keluar bersama teman-teman saya, hingga akhirnya saya terbiasa dengan semua ini.”

__ADS_1


Sejak putrinya beranjak remaja, Hartono memang kerap kali membatasi pergaulan Ara. Tidak pernah mengizinkan putrinya keluar jika hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Untuk keluar mengerjakan tugas sekolah pun ia akan menyempatkan untuk mengantarkan sendiri putrinya itu.


“Hingga saat ini, ayah hanya percaya pada Arumi dan Miya,” imbuh Ara.


“Mereka berdua memang terlihat baik,” ucap Bima


“Bapak tidak tau saja kalau Arumi itu sangat jahil pada ayah saya.”


“Sungguh? saya pikir dia sangat kaku, mengingat dia sangat jarang tersenyum, tidak seperti Miya yang sangat mudah untuk tertawa."


“Mereka berdua sama saja,” tukasnya. “Apa bapak tau, seminggu yang lalu kami mengerjai ayah saya, sampai saya menyesal telah melakukannya, dan itu semua ide dari Arumi,” ucapnya mencebikkan bibirnya.


Lama kelamaan Ara menjadi nyaman bercerita dengan pria di hadapannya, hingga Bima memintanya untuk menceritakan tentang peristiwa yang dia maksud, Ara pun dengan senang hati menceritakannya.


Hari itu adalah akhir pekan, mereka bertiga meminta izin kepada Hartono untuk berjalan-jalan. Dan seperti biasanya, Hartono mengizinkan dengan syarat mereka harus sudah berada di rumah sebelum malam.


Dan mereka memang anak yang patuh, mereka pulang sore hari sebelum Hartono pulang. Tapi Arumi memberi ide pada keduanya untuk mengerjai Hartono.


Seperti biasanya saat ketiganya keluar, sore hari Hartono akan menelfon putrinya untuk mengecek keberadaan mereka. Namun kali ini mereka kompak untuk tidak menjawab panggilan dari pria paruh baya itu.


Hartono pulang malam hari. Dan saat mendengar suara mobil Hartono memasuki pekarangan rumah, mereka bertiga bersembunyi di kamar Hartono, dan sebelumnya mereka telah merayu Bi Ratih agar mau di ajak bekerja sama.


Hartono bergegas turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah untuk mengecek keberadaan putrinya. Sejak tadi ia sudah dibuat cemas saat tidak ada satupun dari ketiga anak itu yang mengangkat panggilan telfonnya.


Melihat wajah majikannya yang terlihat sangat cemas, membuat Bi Ratih sedikit ragu untuk berbohong, tapi dia sudah berjanji pada gadis-gadis itu. Sayang juga kalau rencana mereka gagal karena dirinya.


“Sepertinya belum, Tuan,” jawabnya ragu.


“Sepertinya?” tanyanya kesal.


Dengan langkah cepat Hartono naik ke kamar putrinya untuk memastikan ucapan Bi ratih. Dan benar saja kamar putrinya kosong, mereka belum pulang.


“Kemana mereka?” Hartono menjadi gusar, memikirkan dimana keberadaan putrinya sekarang.


Hartono merogoh saku celananya, meraih ponselnya dan kembali mencoba menghubungi ketiganya, berharap kali ini ada jawaban dari mereka.


Satu panggilan tidak terjawab membuat segala pikiran buruk memenuhi kepalanya. Dimana ketiga putrinya itu? Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada ketiganya? Bagaimana kalu mereka kecelakaan? Atau mungkin seseorang melukai mereka.


“Arghhh…” teriaknya penuh amarah, kemudian kembali melakukan panggilan.


Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, Hartono berjalan dengan langkah cepat keluar dari kamar putrinya menuju ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar putrinya.


Hartono masuk ke dalam kamarnya, dan menekan saklar untuk memberi penerangn pada kamarnya yang gelap gulita, dan…

__ADS_1


“Doorrr…!”


“Astagfirullah!” pekik Hartono memegang dadanya, merasa kaget hingga ia tidak sadar menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya. ”Apa yang kalian lakukan?” makinya.


Ketiganya tidak memperdulikan kemarahan pria paruh baya itu, mereka lebih merasa lucu melihat ekspresi yang ditampakkan Hartono yang menurut mereka sangat lucu. Ketiganya tertawa terbahak-bahak seakan tidak memiliki dosa sama sekali.


“Apa yang kalian lakukan?” suara Hartono mulai melemah saat menyaksikan kebahagiaan ketiga gadis itu yang terlihat baik-baik saja.


Ara yang melihat kekhawatiran di wajah ayahnya menghentikan tawanya, kemudian menghampiri ayahnya dan memeluknya, “maaf mengerjai ayah,” ucapnya menyesal.


Hartono membalas pelukan putrinya dan mencium pucuk kepalanya dalam, menghirup wangi rambut putri semata wayangnya. Ada rasa lega melihat putrinya baik-baik saja. Mungkin sedikit berlebihan, tapi itulah yang selalu ia rasakan, ia hanya takut kehilangan harta yang paling berharga di hidupnya.


“Jangan seperti ini lagi, kau tidak tau ayah begitu khawatir dengan kalian,” lirihnya, masih belum mampu menyesuaikan detak jantungnya yang masih berdegup kencang.


“Ini semua ulah Arumi, dia yang memberi ide untuk mengerjai, Ayah,” adunya.


“Maaf, Ayah! Maaf…” ucap Arumi dan Miya bersamaan. Mereka kemudian menghampiri Hartono dan ikut memeluk pria yang mereka panggil dengan sebutan ayah itu.


“Lain kali jangan seperti ini lagi, bagaimana kalau ayah jantungan dan mati di tempat? Mau kalian masuk penjara?”


“Ya tinggal di kuburin,” jawab Arumi santai.


“Arumiii…” teriak Ara dan Miya hampir bersamaan.


“Aw..aw..aw…” ringis Arumi yang mendapat jeweran dari Hartono.


“Tega kamu sama ayah!” ucap Hartono kemudian melepas jewerannya. “Lalu dimana mobil kamu? Ayah tidak melihatnya.”


“Dititipin di tetangga sebelah,” jawab Arumi, membuat ketiganya kembali terkekeh. Dan Hartono hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat usaha ketiganya dalam mengerjainya.


Bima yang mendengar cerita Ara ikut tertawa, “kalian sangat usil, bagaimana kalau ayah kamu beneran jantungan?”


“Tidak kok, Pak, sudah kami cek, Ayah tidak punya riwayat penyakit jantung,” jawab Ara tetawa.


“Ada-ada saja kalian.”


.


.


.


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2