Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 9


__ADS_3

Setelah sarapan, ketiga gadis itu pamit kepada Hartono sembari bergantian mencium punggung tangan pria paruh baya itu.


Tidak lupa ketiganya memberi wejangan-wejangan layaknya seorang ibu kepada anaknya, agar Hartono tidak kemana-mana, tetap istirahat di rumah seharian penuh untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dan Hartono hanya mengangguk patuh jika ingin ketiganya segera beranjak ke kampus.


Arumi dengan segera melajukan kendaraanya menuju kampus tempat mereka menimba ilmu. Setelah memarkirkan sempurna kendaraannya di area parkiran kampus, ketiganya keluar dari mobil dan berjalan menyusuri koridor menuju ke kelasnya.


Ara yang baru saja mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di kelas tersebut, segera meraih ponselnya sesaat setelah mendengar notif tanda pesan masuk.


+6281xxxxxxxx


“Assalamualaikum, Dara!”


Setelah melihat pengirim pesan dari nomor yang tidak dikenalnya, Ara mencoba mengabaikan pesan tersebut. Akan tetapi tidak lagi setelah ia kembali menerima pesan dari nomor yang sama.


+6281xxxxxxxx


“Sudah di kampus?”


Ara


“Waalaikumsalam, siapa?”


+6281xxxxxxxx


“Yang menyimpan namamu di hatinya, Bima”


Wajah Ara bersemu merah setelah membaca balasan pesan tersebut. Hingga ia harus mendapatkan beberapa pertanyaan dari kedua sahabatnya yang menyaksikan perubahan raut wajahnya.


Kedua sahabatnya itu bahkan berhasil menebak kalau ia sedang berkirim pesan dengan dosennya itu.


Namun Ara mencoba mengabaikan keduanya dan segera mengetik balasan pesan dari dosen yang mengaku menyukainya itu.


Namun belum sempat ia mengirim pesan tersebut, sebuah pesan dari Bima kembali masuk, yang meminta maaf karena dengan lancang mengambil nomornya tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Bima mengambil nomor Ara di kafe kemarin, setelah ia selesai berbicara dengan Hartono.


Ara


“Iya, tidak apa kok, Pak”


Pak Bima


“Apa ayah kamu ada di restoran?”


Ara


“Tidak, Pak, Ayah di rumah. Tadi lagi gak enak badan katanya, makanya gak ke restoran”


Pak Bima


“Baiklah.. kalau begitu kamu lanjut ya, belajar yang rajin jangan suka bolos”

__ADS_1


Ara


“Emang gak pernah bolos, kok!”


Pak Bima


“Anak pinter, makanya saya suka”


Ara tersenyum kecil membaca pesan terakhir yang di kirim Bima untuknya. Bagaimana bisa dosennya itu begitu gencar menggodanya.


Sembari memikirkan balasan yang tepat untuk ia ketik, Ara mengalihkan pandangannya pada kedua sahabatnya yang ternyata sedang menatapnya curiga. Saat menyadari hal itu, dengan cepat Ara menyimpan ponselnya, dan memutuskan untuk tidak membalas pesan yang menurutnya tidak begitu butuh balasan itu.


“Apaan?” tanyanya kepada kedua sahabatnya.


“Kalian gak lagi bahas hal-hal mesum kan?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Miya.


“Maksud kamu?” tanya Ara melotot.


“Astagaaa otakmu…” sergah Arumi seraya menoyor kepala Miya.


“Rumiiii… mau sampe kapan kau terus menoyor kepalaku?” makinya.


“Sampe posisi otakmu jadi bener,” jawab Arumi acuh.


“Kamu sih, mikirnya aneh-aneh,” imbuh Ara yang merasa kesal dengan pertanyaan yang tadi Miya lontarkan.


“Terus kalian bahas apaan sampe senyum-senyum kayak gitu?” tanya Miya.


Meski sebelumnya Arumi dan Miya tidak pernah melakukan hal itu, tapi apa salahnya mewaspadai, dari pada harus terus mendapat ejekan dari keduanya jika itu sampai terjadi.


“Orang lagi jatuh cinta emang kayak gitu, kamu gak pernah jatuh cinta sih, jadi gak tau rasanya,” ucap Arumi dengan nada mengejek.


“Iya iya, setidaknya aku gak berpeluang jadi gila kayak kamu kalo lagi mikirin Chef Dion.”


“Astaga, kenapa harus menyebutnya sih, jadi kangen kan,” ucap Arumi sengaja dibuat memelas.


“Jangan lebay, kalo kangen ya tinggal samperin, bukannya biasanya seperti itu!” jawab Miya ketus.


“Iya sih, tapi gak ada alasan kesana soalnya Ayah kan gak ke restoran.”


“Pura-pura aja gak tau,” jawab Miya memberi ide.


“Ide bagus, temenin yah?” ucap Arumi tersenyum lebar, mencoba merayu.


“Gak!”


“Ayolah Miyakuuu…” ucap Arumi seraya memeluk tubuh sahabatnya itu, namun tetap saja Miya menolak ajakannya, masih merasa kesal atas perlakuan yang tadi diberikan Arumi padanya.


Namun Arumi tidak menyerah, ia bahkan sampai menciumi kedua pipi sahabatnya itu tanpa melepas pelukannya, tidak peduli dengan mahasiswa lain yang melihatnya. Hingga akhirnya Miya menyerah dan mengiyakan ajakannya, membuatnya kembali menciumi pipi gadis itu sebagai ungkapan terima kasihnya.

__ADS_1


***


Sepulangnya dari kampus Arumi menjalankan rencananya untuk menemui pujaan hatinya di restoran bersama kedua sahabatnya.


Kata orang tidak ada obat rindu selain pertemuan, dan itulah tujuan Arumi saat ini, untuk mengobati rasa rindunya yang menggebu-gebu pada kepala chef yang ada di restoran milik Hartono.


Ara menatap bingung Arumi yang duduk tepat di sebelahnya, saat sahabatnya itu membawa kendaraannya masuk ke pelataran restoran, “kok kita kesini? Ayah kan gak masuk?” tanyanya.


“Udah ikut aja, dan ingat jangan banyak tanya,” ucap Arumi seraya melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya.


“Kalau niat kamu kesini untuk bertemu dengan Chef Dion, kita balik aja, soalnya semalam kata Ayah, Chef Dion izin cuti selama seminggu,” ucap Ara, membuat Arumi mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.


“Serius?” tanya Arumi tidak percaya.


“Iya serius,” jawab Ara meyakinkan, membuat tawa Miya pecah seketika melihat nasib sahabatnya.


Melihat Miya yang tertawa begitu bahagia, membuat Arumi berbalik dan menatap kesal pada sahabatnya itu, “kenapa kau ketawa?”


“Kenapa? emang gak boleh? kan lucu!” Miya kembali tertawa tanpa perduli dengan perasaan sahabatnya itu.


“Sial!” umpat Arumi kesal. “Dia kemana sih?” tanyanya pada dirinya sendiri.


“Gak tau, Ayah gak bilang juga,” sahut Ara.


“Saya gak lagi bertanya," ketusnya.


“Lah, terus?”


“Hanya berbicara dengan diri sendiri,” jawab Arumi kesal.


“Ceh!”


“Ulu uluuu.. kasihan Rumiku." Miya terus saja tertawa, membuat Arumi semakin panas dibuatnya.


“Diem gak?” ancamnya.


Arumi membuang nafasnya kasar, menerima saja sindiran dari Miya, kemudian melajukan mobilnya untuk pulang. Setidaknya masih ada banyak hari untuk dia melepas rasa rindunya pada pria pemilik hatinya itu. Tapi bukankah seminggu itu waktu yang lama.


Arumi sudah lama menyukai Dion, namun ia belum pernah mengungkapkannya secara serius. Namun kerap kali melemparkan rayuan gombal pada pria itu, bukankah seharusnya pria itu bisa mengerti bahwa ia bersungguh-sungguh dengan perasaannya.


Sudah sering kali Arumi berniat untuk mengungkapkan perasaannya secara serius, setidaknya agar ia mendapatkan kepastian untuk perasaannya dan tidak terjebak dalam kegundahan yang setiap hari menyiksa dirinya.


Namun saat bertatap muka dengan pria itu, entah mengapa semua kalimat-kalimat yang sudah ia rangkai sebelumnya, hilang begitu saja dan berganti dengan candaan dan gombalan-gombalan receh dari bibirnya.


Mungkin ia memang tidak pandai dalam hal mengatakan cinta.


.


.

__ADS_1


.


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤


__ADS_2