Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 10


__ADS_3

"Assalamualaikum,” ucap Ara memberi salam saat masuk ke dalam rumahnya.


“Waalaikumsalam!” sahut Bi Ratih.


“Ayah mana, Bi?” tanyanya pada Bi Ratih yang berjalan menghampirinya.


“Bapak lagi keluar, Neng, baru saja.”


“Kok keluar, bukannya tadi lagi gak enak badan?” ucap Ara sedikit khawatir.


“Bibi udah bilangin, tapi katanya udah baikan,” jawab Bi Ratih.


“Ayah bilang tidak mau kemana?”


“Enggak neng,” jawab Bi Ratih menyayangkan, padahal biasanya ia kerap menanyakan kemana majikannya itu akan pergi. “Tapi Bapak sudah masak buat makan malam Neng Ara. Katanya Bapak jangan ditunggu karena sepertinya pulangnya agak larut.”


“Oh, ya udah, Bi, kalau begitu Ara naik ke kamar dulu ya, Bi,” ucap Ara. Dan setelah mendapatkan anggukan dari asisten rumah tangganya itu, Ara dengan segera naik ke kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat.


***


Setelah sholat isya, Ara berniat tidur lebih cepat karena merasa sangat lelah hari ini. Setelah tadi Arumi gagal bertemu dengan Dion, mereka tidak langsung pulang dan memilih berjalan-jalan terlebih dulu dengan tujuan menghibur suasana hati Arumi yang sedang buruk.


Ting!


Ting!


Ting!


Mendengar suara notif dari ponselnya yang terus berbunyi, dengan mata yang terpejam Ara meraba-raba keberadaan ponselnya yang ia simpan di atas nakas.


Setelah berhasil meraih ponsel tersebut, dengan malas Ara membuka sedikit matanya, mengintip ke layar ponselnya untuk melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.


Dan setelah melihat nama si pengirim, dengan cepat Ara mendudukkan dirinya. Mata yang semula sangat berat untuk ia buka kini menjadi terang benderang, tidak ada lagi rasa ngantuk yang tersisa.


Pak Bima


“Assalamualaikum, Dara!”


“Sudah tidur?”


“Dara??”


Baru saja Ara ingin mengetik balasan dari beberapa pesan tersebut, sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama.


Pak Bima


“Mimpi indah, Dara”


Ara


“Waalaikumsalam, belum tidur kok, Pak”

__ADS_1


Pak Bima


“Dara…”


Ara


“Iya Pak?”


Pak Bima


“Saya sudah bertemu dengan ayah kamu”


Ara


“Bapak ke rumah?”


Pak Bima


“Iya saya ke rumah kamu pagi tadi, menjenguk ayah kamu, sekalian menyampaikan rencana saya yang kemarin. Dan ternyata tidak mudah mendapatkan izin ayah kamu. Saya terlalu percaya diri”


Ara


“Maaf…”


Pak Bima


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagi pula saya setuju dengan alasan ayah kamu, pacaran itu hanya membuka jalan untuk perzinahan”


Ara


Pak Bima


“Tapi kita masih bisa berteman kan? Dan bisakah saya meminta sesuatu padamu?”


Ara


“Apa Pak?”


Pak Bima


“Bisakah kamu menjaga hatimu untuk saya? Saya berjanji akan menunggumu sampai kamu tamat kuliah, dan semoga memang kita berjodoh”


Ara


“Iya Insya Allah Pak, saya akan melakukan seperti yang Bapak minta”


Pak Bima


“Terimakasih Ara. Kalau begitu istirahatlah”


Ara

__ADS_1


“Iya Pak, Bapak juga istirahatlah, Assalamualaikum”


Pak Bima


“Waalaikumsalam, mimpi yang indah Dara"


Ara menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, kembali memulai lamunannya tentang bagaimana kehidupan cintanya di hari esok. Melihat keseriusan Bima padanya, membuat perasaannya semakin kuat pada pria itu.


Namun bersamaan dengan itu, ia juga merasa semakin takut dengan perasaannya, ia takut menyimpan harap yang berlebihan pada pria itu, apalagi bermimpi untuk memilikinya, karena biar bagaimanapun ia sudah tidak sempurna sebagai wanita.


Selama ini Ara sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membuka hatinya untuk seorang pria. Karena ia yakin semuanya hanya akan berakhir dengan kesedihan, kekecewaan dan mungkin penyesalan. Karena ia yakin tidak akan ada pria yang mau menerimanya dengan kekurangannya.


Tapi itu sebelum ia bertemu dengan Bima. Dan kali ini ia berharap lebih pada dosennya itu, semoga saja perasaannya pada pria itu tidak akan menjadi penyesalannya kedepannya.


***


Pagi hari setelah Ara bersiap-siap untuk ke kampus, Ara turun ke dapur untuk mencari keberadaan ayahnya, setelah sebelumnya ia masuk ke kamar pria kesayangannya itu, namun ia tidak menemukannya disana.


“Ayah dari mana saja semalam?” tanyanya menghampiri ayahnya.


“Ayah ada pertemuan penting dengan teman ayah.. maaf tidak menemanimu makan malam.”


“Iya tidak apa, setidaknya ayah masih menemaniku sarapan,” ucapnya tersenyum, kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.


“Ya sudah ayo cepat sarapan,” sahut Hartono, ikut mendudukkan dirinya.


Untuk beberapa saat suasana meja makan terasa hening, hanya terdengar suara denting sendok, hingga Ara kembali membuka obrolan.


“Mmm, Ayah…” ucap Ara lirih, merasa sedikit ragu dengan apa yang akan ia katakan.


“Tentang Bima?” Hartono mencoba menebak tentang apa yang akan dikatakan putrinya. Dan sebuah anggukan dari putrinya membuatnya tersenyum kecil. Ia sudah bisa menebak kalau putrinya juga menyukai pria itu.


“Kenapa?” tanya Ara.


“Kalau dia memang serius denganmu, dia akan menunggumu sampai kamu menyelesaikan kuliah kamu.” Hartono menatap wajah putrinya yang terlihat sendu, “tapi ayah percaya dengannya, dia berjanji akan menunggumu. Jadi kamu tidak perlu memikirkannya, kamu fokus saja dengan kuliah kamu. Kalau memang kalian berjodoh, kalian akan bersama nantinya meski tanpa berpacaran terlebih dahulu,” imbuhnya.


“Iya, Ayah.” Ara menatap ayahnya yang sedang tersenyum padanya, “sebenarnya Ara juga masih ragu,” lirihnya memaksa senyumannya.


“Tentang?” Hartono mengernyitkan keningnya, mencoba menebak apa yang akan di katakan putrinya selanjutnya.


“Bagaimana kalau nanti Pak Bima tau tentang___”


“Jangan dilanjutkan... Habiskan sarapanmu, setelah itu ayah antar kamu ke kampus,” ucap Hartono memotong, kembali fokus pada makanannya.


Ara hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali melahap makanannya. Ia tau ayahnya tidak pernah mau membahas tentang masa lalunya, yang menurutnya hanya akan terus menjadi sebuah luka untuk keduanya.


.


.


.

__ADS_1


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤


__ADS_2