
Sepanjang malam Ara tidak tidur menunggu kepulangan Ibra. Hingga matahari telah nampak dari peraduannya, Ibra belum juga menampakkan dirinya. Membuat Ara semakin cemas dibuatnya.
Ia telah mencoba menghubungi suaminya. Namun karena Ibra tidak membawa ponselnya, membuatnya tidak tau harus bertanya pada siapa tentang keberadaan suaminya.
Ara perlahan bangkit dari duduknya yang sedari tadi terus saja bergulat dengan pikirannya. Ia kemudian berjalan ke arah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sebuah balkon, dan menyingkap tirai yang menutupi pintu yang terbuat dari kaca tersebut.
Ara menatap kosong ke arah langit yang nampak begitu cerah. Tidak ada kesedihan disana. Tidak seperti apa yang ia rasakan saat ini. Hingga setetes cairan bening terjatuh begitu saja dari sudut matanya. Membuatnya dengan cepat menepisnya. Mungkin itu air mata terakhirnya, sebab sejak semalam ia terus saja menangis.
***
Di ruang makan, Mama Reta yang sejak tadi menunggu kemunculan Ibra dan Ara untuk sarapan, akhirnya meminta Bi Ija untuk memanggil anak dan menantunya itu.
Tok..tok..tok...
"Non Ara..."
"Iya, Bi?" sahut Ara, setelah membuka pintu kamarnya.
"Waktunya sarapan."
"Ah iya, Bi. Ayo!" ajak Ara, yang kemudian ikut berjalan bersama Bi Ija.
Meski sebenarnya, ia sangat malu jika harus bertemu dengan keluarga suaminya itu. Ia bahkan tidak tau harus berkata apa, jika nanti mereka menanyakan keberadaan Ibra. Namun ia juga tidak mungkin untuk menghindar.
"Kok lama sih, Sayang?" tanya Mama Reta, menyambut kedatangan Ara.
"Iya, maaf, Ma." Ara kemudian mendudukkan dirinya.
"Dimaklumi aja, Ma. Orang lagi melepas rindu juga," sahut Rissa, menggoda.
"Ibra mana? Apa dia masih tidur?" tanya Papa Nahar.
"Nggak, Pa." Ara menggeleng.
"Lalu kemana? Bukankah hari ini dia tidak bekerja?"
"Ara juga nggak tau. Semalam Kak Ibra keluar, dan belum pulang sampai sekarang," tuturnya berterus terang.
Ara kemudian menundukkan kepalanya, merasa sangat malu pada kedua mertuanya dan juga Rissa.
"Keluar kemana? Bukankah dia baru saja pulang semalam?" tanya Mama Reta. Namun tidak mendapatkan jawab dari Ara yang terus saja terdiam.
Melihat Ara yang hanya diam saja, membuat Papa Nahar mengerti bahwa sedang ada masalah diantara keduanya
"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan saja." Papa Nahar mencoba mencairkan suasana, menghilangkan kecanggungan pada menantunya.
Mama Reta dan Rissa saling memandang. Seakan saling melempar tanya satu sama lain, tentang apa yang sedang terjadi. Mereka bahkan sangat hafal dengan sifat Ibra yang akan pergi dari rumah jika sedang ada masalah.
__ADS_1
"Ya sudah kamu makan yang banyak ya, Sayang. Biar makin semangat kuliahnya," ucap Mama Reta.
"Iya, makasih, Ma." Ara kemudian membalikkan piring di depannya dan mulai mengisinya dengan makanan yang telah terhidang di atas meja. Ia bahkan lupa untuk membantu Mama Reta membuat sarapan tadi.
Setelah menghabiskan sarapannya, Ara lebih dulu pamit pada kedua mertuanya untuk kembali ke kamarnya, untuk bersiap-siap ke kampus.
Ara berangkat ke kampus dengan diantarkan oleh sopir Mama Reta. Seperti dua hari sebelumnya saat Ibra tidak ada.
Setelah tiba di depan kampus dan mobil milik mertuanya telah pergi, Ara berjalan keluar menuju gerbang kampus dan menyetop sebuah taksi yang kebetulan mengantarkan seorang mahasiswa disana.
Ia memutuskan untuk ke kosan Miya, setelah sebelumnya mengirimkan pesan pada sahabatya itu bahwa ia akan datang. Ia telah memutuskan untuk tidak masuk kuliah hari ini.
***
"Ada apa?" tanya Miya, saat Ara sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin numpang istirahat disini. Kamu nggak kuliah?" tanya Ara.
"Bagaimana bisa, saat kamu ada disini?"
"Jangan perdulikan aku. Pergilah! Aku hanya ingin istirahat sebentar." Ara mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur Miya, seraya menjatuhkan tote bag miliknya di tempat tidur tersebut.
"Apa kau sedang ada masalah?" Miya menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu, yang tidak seperti biasanya. Namun Ara hanya terdiam.
Miya kemudian ikut mendudukkan dirinya di sisi Ara, dan menatap lekat sahabatnya itu. "Apa ini tentang Kak Ibra?" tanyanya lagi.
"Ada apa?" tanya Miya, sembari mengelus punggung sahabatnya itu.
"Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengan Kak Ibra," ucapnya sesegukan.
"Lalu? Bukankah dia suamimu? Tidak ada yang salah dengan itu."
Ara melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Tapi aku takut...."
"Perihal masalah itu lagi?" tanya Miya. Yang di jawab dengan anggukan oleh Ara.
"Tidak bisakah kamu berterus terang pada Kak Ibra? Kamu bisa menjelaskan semuanya secara perlahan."
"Aku takut dia tidak dapat menerimanya," jawab Ara.
"Kalau begitu nggak usah kamu katakan. Jalani saja semuanya tanpa memberi tahunya."
"Tapi suatu saat dia pasti akan mengetahuinya." Ucapan Ara membuat Miya ikut bingung memikirkannya.
Miya menghela napasnya dan berdiri dari duduknya. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus mengatakan apa. "Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan? Itu dapat mengurangi beban pikiranmu," ajak Miya.
"Nggak mau!" tolak Ara. Yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur Miya, dan menutupi wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
"Ayolah! Aku akan menghubungi Arumi." Miya menarik bantal yang ada di atas wajah Ara, dan menarik tangan sahabatnya itu.
"Ara mendudukkan dirinya dan berucap, "bagaimana aku bisa bersenang-senang saat suamiku pergi dari rumah?"
Miya tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya. "Pergi? Pergi kemana?"
"Entahlah, aku juga nggak tau. Dia pergi sejak semalam."
"Apa dia meminta haknya?" tanya Miya lagi, dan dijawab dengan anggukan oleh Ara.
"Astaga, kenapa nggak kamu beri saja," tutur Miya.
"Aku sudah bilang, aku takut."
"Kamu tidak akan tahu saat kamu tidak mencobanya. Kamu mau sampai kapan seperti ini terus? Sampai dia benar-benar pergi darimu?"
Ucapan Miya membuat Ara terkesiap, dan memikirkan ucapan sahabatnya itu.
"Apa kamu pikir ada, ikatan suami istri yang bertahan tanpa melakukan hubungan suami istri? Yang telah nyata melakukannya setiap hari pun, masih ada juga yang meninggalkan pasangannya hanya karena merasa tidak puas. Lalu bagaimana denganmu?" tutur Miya, menatap lekat sahabatnya, yang terlihat memikirkan ucapannya itu.
"Kamu pikir dulu lah. Aku keluar sebentar, mau beli sarapan."
Miya kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya itu. Namun ia kembali menghentikan langkahnya dan berbalik pada Ara. "Kamu udah sarapan?" tanyanya. Yang kemudian mendapat anggukan dari sahabatnya itu.
"Syukurlah!" lirihnya, yang kemudian benar-benar pergi, keluar dari kosan miliknya.
Charlie's Angels
Arumi : Kalian dimana? Kenapa belum datang?
Miya : Masih di kosan
Arumi : Kamu nggak ke kampus? Ara juga tumben telat
Miya : Ara lagi galau
Arumi : Kok kamu tau, apa dia bersamamu?
Miya : Iya, ini dia lagi nangis
Arumi : Ok, otw
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥