
Sebulan telah berlalu setelah Bima memutuskan untuk hanya menjalin pertemanan dengan Ara. Meskipun hanya saling berkirim pesan setiap harinya, namun mampu membuat keduanya semakin dekat.
Sangat menyedihkan saat kita menyukai seseorang namun hanya berakhir dengan sebuah pertemanan. Tapi mereka tidak semenyedihkan itu, sebab keduanya telah berjanji untuk saling menjaga hati masing-masing.
Semakin hari, Bima semakin menunjukkan perasaannya pada Ara dengan terus memberi perhatiannya pada wanita itu. Ia bahkan secara terang-terangan memberi larangan pada wanita itu untuk menjaga jarak dengan teman laki-lakinya, karena ia merasa cemburu dengan itu.
Ia juga kerap mengungkapkan rasa sukanya pada Ara dengan sebuah gombalan. Meski Ara tidak pernah membalasnya dengan ucapan, namun ia sangat yakin jika wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya, sebab terkadang hati dapat melihat apa yang tidak nampak oleh mata.
Pak Bima
“Dara…”
Ara
“Iya Pak?”
Pak Bima
“Sedang apa?”
Ara
“Lagi nongkrong di kafe Kak Rangga, bareng Arumi sama Miya”
Pak Bima
“Hati-hati, jangan terlalu mengumbar senyum”
Ara
“Kenapa?”
Pak Bima
“Nanti banyak yang naksir”
Ara
“Kalau kebanyakan cemberut, takutnya cepet tua”
Pak Bima
“Tidak masalah, meski tua saya tetap suka, jadi ngebayangin wajah kamu kalau sudah keriput, apa masih cantik?”
Ara
“Jahat 😞"
Pak Bima
“Kalau cemberut gitu malah makin menggemaskan, jadi kalau bisa wajah kamu didatar-datarin aja ya kalau di depan orang banyak”
Ara
__ADS_1
“Mana bisa!”
Pak Bima
“Hahaha.. hari minggu kita ke pantai ya, ajak Arumi sama Miya juga. Untuk ayah kamu biar saya yang meminta izin”
Ara
“Saya tanya mereka dulu ya, Pak”
10 menit..
Ara
“Mereka sangat antusias”
Pak Bima
“Oke bereslah, kalau begitu kalian lanjut saja, saya masih ada kelas ngajar. Habis dari situ langsung pulang, jangan keluyuran”
Ara
“Siap Pak”
Setelah menyudahi chatingan-nya dengan Bima, Ara kembali serius mendengarkan celotehan kedua sahabatnya yang sedang membahas tentang jalan-jalan ke pantai yang akan mereka lakukan. Dan semua hanya seputar penampilan, tentang apa yang akan mereka kenakan nanti saat ke pantai.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Rangga yang tidak lain adalah pemilik kafe tersebut diam-diam memperhatikan segala tingkah Arumi. Dari cara Arumi berbicara maupun tertawa, semua sangat menarik dimatanya. Tidak jarang ia juga ikut tertawa saat melihat gadis itu tertawa.
Setelah Bima memperkenalkannya dengan ketiga gadis itu saat acara pembukaan kafenya, Rangga selalu menyempatkan diri untuk menyapa ketiga murid sahabatnya itu saat sedang berkunjung ke kafenya.
Ia bahkan telah berencana untuk menanyakan pada Bima tentang status Arumi. Dan jika wanita itu belum memiliki kekasih maka ia akan melakukan pendekatan dan menyatakan perasaannya pada gadis itu.
Rangga menyudahi lamunannya dan beranjak menghampiri ketiga gadis itu.
“Lagi bahas apa? sepertinya seru,” ucapnya seraya mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping Miya, tepat di depan Arumi.
“Pak Bima ngajak kita ke pantai hari minggu nanti,” jawab Miya antusias. “Kak Rangga mau ikut nggak? Biar rame,” imbuhnya.
“Emang boleh?” tanyanya berpaling menatap Miya.
“Boleh kok, Kak,” jawab Miya.
“Iya, kakak ikut aja biar Pak Bima ada temennya,” imbuh Ara.
Rangga tersenyum dan beralih menatap Arumi, ia menaikkan sebelah alisnya seakan meminta persetujuan gadis yang duduk di hadapannya itu. Arumi yang melihatnya, menautkan kedua alisnya merasa tidak mengerti, namun ia mengangguk saja, mungkin pria itu sedang meminta persetujuannya, pikirnya.
Rangga semakin melebarkan senyumnya saat mendapat anggukan dari Arumi, “baiklah, kalau begitu saya akan ikut, saya akan memberi tahu Bima nanti.”
“Oke deh, pasti akan sangat menyenangkan, saya jadi tidak sabar,” ucap Miya.
“Sudah sore, kita balik yuk!” ajak Ara setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Iya, kalau begitu kita balik dulu ya, Kak,” pamit Arumi pada Rangga.
__ADS_1
“Oke, kalian hati-hati pulangnya,” jawabnya dan di balas anggukan oleh Arumi.
Rangga tidak berpindah dari tempatnya berpijak saat ini, ia masih setia dengan senyuman di bibirnya, menatap kepergian ketiga gadis itu, atau mungkin lebih tepatnya kepergian Arumi. Ia merasa sangat senang memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan gadis itu.
***
“Aku yakin Kak Rangga lagi teriak kegirangan mendapatkan ajakan dari kita,” ucap Miya saat mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka pulang.
“Mana ada cowok yang seperti itu hanya karena mendapatkan ajakan jalan,” jawab Arumi ketus, “yang seperti itu hanya cewek alay kayak kamu, yang dikit-dikit baper,” imbuhnya jengah.
Sebenarnya mereka sudah dapat menebak kalau Rangga memiliki rasa pada Arumi. Semuanya terlihat dari tingkah Rangga yang akhir-akhir ini selalu saja memberi perhatian lebih pada Arumi. Terlebih lagi, mereka juga kerap mendapati pria itu diam-diam memandangi Arumi.
Tanpa Rangga sadari, sebenarnya di kafe tadi, dirinyalah yang menjadi bahan perbincangan ketiganya. Ara dapat melihat dengan jelas Rangga yang terus saja tersenyum sambil memandangi Arumi, Dan hal itu membuat Miya semakin gencar menggoda Arumi.
Namun saat Rangga menghampiri ketiganya, mereka dengan cepat mengubah topik pembicaraannya.
“Kenapa tidak kamu coba saja dekat dengan Kak Rangga? Sepertinya dia orangnya baik kok,” ucap Ara.
“Iya, manis lagi,” sahut Miya menimpali.
“Tidak mungkinlah! Orang hati ini sudah ada yang punya,” jawab Arumi bangga, sambil terus fokus membawa kendaraannya.
“Tapi kan Chef Dion juga tidak pernah menanggapi perasaanmu?” sahut Miya yang duduk di kursi belakang.
“Itu karena aku belum mengungkapkannya secara serius,” jawab Arumi berdalih.
“Saat kau telah terang-terangan menunjukkan rasa sukamu pada seseorang, dan dia tidak memberikan tanggapannya, hanya ada dua kemungkinan, kalau bukan karena dia tidak peka, mungkin dia telah lebih dulu menyukai wanita lain,” ucap Ara menatap lekat sahabatnya itu, “dan aku berharap Chef Dion tidak berada pada kemungkinan kedua,” imbuhnya dengan nada khawatir, membuat Arumi terdiam merenung.
Ia sudah sering memikirkan hal itu, namun saat ia bertanya pada orang terdekat Dion di restoran, tidak ada seorang pun yang mengatakan kalau pria itu punya kekasih. Dan karena hal itulah ia semakin gencar menggoda pria itu.
“Aku hanya ingin kau dapat menyadari perasaan orang lain padamu, dari pada terus-terusan berjuang pada sesuatu yang belum pasti. Cinta itu ada karena terbiasa, kalau kamu sudah terbiasa dengan Kak Rangga aku yakin kamu akan mencintainya kelak,” ucap Ara lagi.
“Oke fix!” kata Arumi tiba-tiba.
“Fix apaan? kamu mau sama Kak Rangga?” tanya Miya.
“Sudah aku putuskan, mulai hari ini kita tidak akan ke kafe Kak Rangga lagi.”
“Kenapa?” tanya Ara dan Miya bersamaan.
“Aku yakin Chef Dion tidak berada pada kemungkinan kedua. Dan setelah aku pikir-pikir tidak akan ada yang menggantikan posisinya di hatiku,” ucapnya berbangga. “Dan seperti kata kamu, Ra, cinta ada karena terbiasa, maka dari itu aku akan menghindari Kak Rangga agar dia tidak terbiasa denganku,” imbuhnya.
“Tapi kalau kita tiba-tiba menghilang bukannya itu terlihat jahat? Kita datanglah sekali-kali,” sahut Miya.
“Tidak, tidak akan! Kalau kalian mau, kalian pergi saja berdua, aku tidak akan ikut.”
“Terserah kau saja!” jawab Miya lelah, ia tidak akan menang jika berdebat dengan sahabatnya itu.
.
.
.
__ADS_1
Bagi like dan coment nya yaa pembaca yang budiman 🤗❤