
"Ara!” panggil Arumi berlari kecil menuju Ara yang sudah berjalan lebih dulu di hadapannya, dan diikuti oleh Miya yang juga ikut berlari di belakangnya.
“Hei, yuk kita pulang bareng,” ucap Ara mencoba tersenyum, melirik ke arah Arumi tanpa berani menatap sahabatnya itu.
“Bukannya memang setiap hari kita selalu pulang bareng?” ucap Arumi berdecak, “Aneh! Kau menghindariku kan?”
“Apaan, siapa juga yang menghindarimu. Bagaimana kalau kita ke restoran ayah?” ajaknya mencoba mengalihkan pembicaraan. Ara hanya tidak ingin Arumi kembali menanyakan tentang perasaannya pada Pak Bima, karena ia sangat tidak pandai berbohong di depan kedua sahabatnya. Terlebih pada Arumi, yang menurutnya sangat pandai menebak isi hati kedua sahabatnya.
“Ayo!” Miya dengan cepat merangkul kedua sahabatnya, sangat bersemangat mendengar ajakan Ara.
“Cehh..” jengah Arumi, merasa kesal melihat Ara yang sepertinya enggan bercerita dengannya. Tapi tetap saja Arumi sangat yakin kalau sahabatnya itu memiliki perasaan pada Pak Bima. Sebenarnya dia hanya tidak ingin kalau sampai sahabatnya itu merasakan cinta sepihak, karena itu akan sangat menyakitkannya, memikirkan sahabatnya itu belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
***
“Makan gratiissss!” teriak Arumi dan Miya secara bersamaan saat mereka telah memasuki restoran milik ayah Ara.
“Dasar orang kampung!” ucap Ara tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua sahabatnya. Dan para pelayan yang berada disana hanya menggelengkan kepalanya, dan ada sebagian yang ikut tertawa, mereka sudah terbiasa melihat tingkah keduanya, bahkan dulu putri dari bosnya itu juga seperti itu.
“Aku ke toilet dulu ya!” pamit Arumi pada kedua sahabatnya saat mereka akan berbelok ke arah ruangan Hartono.
“Ceh alasan, bilang aja kalau kamu mau ketemu dengan Chef Dion.” Jengah Miya.
“Tau aja,” jawab Arumi mengacak rambut Miya dan berlalu meninggalkan kedua sahabatnya.
“Satu…dua…tiga…”
Ara dan Miya kompak menghitung secara bersamaan. Dan saat hitungan ketiga benar saja, Arumi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dapur restoran, merapikan bajunya serta menyisir rambut panjangnya dengan jari-jarinya.
“Hahhahahaaaa.” Tawa keduanya pecah melihat kebiasaan sahabatnya itu. Dan Arumi yang mendengar tawa keduanya, berbalik dan menatap sinis kedua sahabatnya itu kemudian kembali melanjutkan niatnya masuk ke dapur tersebut.
***
“Ayaahhh!” teriak Miya saat keduanya masuk ke dalam ruangan Hartono.
Keduanya lalu menghampiri Hartono yang terlihat fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya, lalu bergantian mencium tangan pria paruh baya itu sebelum mereka mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
“Kenapa gak bilang kalau sudah pulang?”
“Gak apa, Yah! Lagi pula dua gadis genit ini lagi cari makanan gratis, jadi Ara ajak kesini aja biar sekalian ngantarin Ara.”
__ADS_1
“Enak aja gadis genit. Arumi aja tuh yang kegenitan, aku ya kalem-kalem aja.” Sewot Miya. “Lagi pula bukannya tadi kamu yang nawarin kita kesini?” imbuhnya tidak terima.
“Tapi kamu senang kan?”
“Ya jelaslah, makan enak gratis lagi,” jawab Miya cekikikan.
Hartono hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya. Ruangannya akan jadi rame saat kedatangan putri-putrinya itu.
***
Di dapur restoran
“Hai, Chef Dion," sapa Arumi tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya pada pria di hadapannya. "Masak apa?" tanyanya berbasa-basi.
“Astaga kamu lagi! Bukankah sudah saya bilang, kamu tidak bisa seenaknya masuk kesini, disini tuh kawasan steril.”
“Jadi maksud Chef saya ini kotor?” Kesal Arumi.
“Tidak.tidak!” jawabnya cepat. “Disini tuh bau asap, saya hanya tidak mau tuan putri Arumi berbau asap, atau mungkin kecipratan minyak, dan terlebih lagi saya takut rambut indah tuan putri jatuh ke makanan pelanggan,” imbuhnya menekankan pada kalimat terakhirnya.
“Apaan sih, lagian ya, saya tuh cuma mau ke toilet,” jawabnya sewot, menunjuk ke arah toilet yang ada di dapur tersebut.
“Terserah!” jawab Arumi mencebikkan bibirnya merasa kesal dan berlalu pergi ke toilet yang ada disana.
Chef Dion hanya terkekeh melihat tingkah Arumi. Jujur saja dia pun merasa sangat senang saat berhasil menggoda gadis itu. Melihat wajah cemberut gadis yang selalu menggodanya itu menjadi hiburan tersendiri untuknya.
“Jangan galak-galak, Chef, entar Chef jatuh cinta lagi,” ucap asisten Dion.
“Tidak akan!” jawab Dion cepat. “Sudah sana kerja, kamu taunya hanya menguping,” imbuhnya sambil memukul jidat asistennya itu dengan sendok yang kebetulan ada di tangannya.
“Kalau Chef tidak mau, ya sudah buat saya saja.”
“Ingat istri woey,” jawab Dion membuat asistennya yang sudah punya istri itu hanya terkekeh tanpa menanggapi lagi dan kembali fokus dengan masakannya.
Dion yang juga kembali sibuk dengan masakannya di buat tidak fokus dengan kehadiran Arumi. Kepergian Arumi ke toilet, membuatnya menunggu-nunggu kembalinya gadis yang entah sedang apa di dalam sana.
Selepas dari toilet, Arumi kembali berjalan melewati Dion. Dan saat hendak melewati pria itu, Arumi dengan sengaja menghentikan langkahnya, hingga ia berhasil mendapatkan lirikan dari pria itu.
“Ada apa?” ketus Dion kemudian kembali mencoba fokus pada masakannya.
__ADS_1
Arumi sejenak berdehem agar mendapatkan perhatian Dion, dan setelah berhasil, ia menggoyang-goyangkan jari telunjuknya dengan maksud agar Dion mendekat ke arahnya.
Dion yang melihat itu sedikit memicingkan matanya merasa aneh, namun ia tetap saja mengikuti arahan yang di berikan Arumi padanya. Dion melepaskan sarung tangannya kemudian maju beberapa langkah mendekati gadis di depannya dan berdiri tepat di depan Arumi sambil melipat kedua tangannya ke depan dadanya, sedikit memberi kesan cool di depan gadis itu.
Arumi hanya tersenyum melihat Dion yang mau saja mengikuti arahannya, Arumi kemudian memajukan sedikit kepalanya dan berbisik di telinga Dion.
“I love you.”
Setelah mengatakan itu Arumi dengan cepat berlari keluar dari area dapur sambil tertawa, merasa bahagia dengan ungkapan perasaannya meski tak mendapatkan tanggapan dari pria itu.
Dion pun tertawa kecil mendengar ungkapan perasaan gadis itu. Dan entah mengapa ia merasa hatinya seperti sedang berbunga-bunga.
Namun lain halnya dengan beberapa pelayan wanita yang melihat itu, beberapa dari mereka bahkan berpikir kalau sahabat dari anak bosnya itu terlihat murahan karena terus saja mengganggu Chef berusia 28 tahun itu, bahkan secara terang-terangan.
***
“Cihh senyam-senyum, kamu kayak orang kesambet tau gak,” ucap Miya saat Arumi baru saja masuk ke ruangan Hartono dengan wajah yang berseri-seri karena senyuman di bibirnya yang nampak merekah.
“Kesambet cinta Chef Dion dia,” sahut Ara sambil mengunyah makanannya.
“Apaan? Sirik!” Arumi mencebikkan bibirnya mengejek Miya. “Waahhh laparnyaaa,” mata Arumi seketika berbinar saat menyadari banyaknya makanan yang terhidang di atas meja. Arumi ikut mendudukkan dirinya di samping Miya, dan dengan cepat menyantap makanan yang terhidang disana.
“Ternyata benar kata orang, jatuh cinta itu menguras tenaga,” sindir Ara pada sahabatnya itu sambil terkekeh.
“Malah saya pikir orang yang sedang kasmaran itu tidak butuh makan, hanya butuh cinta,” sahut Miya dan kembali mendapatkan toyoran dari Arumi.
“Arumiiii….” Teriaknya kesal.
“Hehehe maaf maaf, refleks nih,” ucap Arumi menunjukkan jari telunjuknya yang ia gunakan menoyor kepala sahabatnya itu.
“Sudah.sudah cepat makan,” ucap Ara menengahi.
Mereka melanjutkan makannya diselingi dengan obrolan ringan. Arumi juga sempat menanyakan keberadaan Hartono yang tidak terlihat disana. Dan Arumi sedikit kecewa saat tau Hartono baru saja keluar, entah mengapa Arumi sangat senang membuat pria paruh baya yang mereka panggil ayah itu menjadi kesal dengan segala tingkah anehnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berbagi Like, Komen dan Vote nya ya teman-teman 🤗❤