
Dari kejauhan Arumi melihat Ara yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang di tekuk. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Ara. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu kembali down jika harus menyinggung tentang masa lalunya.
Ia menjadi salah satu saksi bagaimana sahabatnya itu berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya. Hingga ia di tangani oleh seorang psikiater.
Saat itu adalah saat terberat untuk semuanya. Kepolisian telah berusaha mencari pelakunya, namun hingga saat ini tidak ada seorang pun yang tau siapa yang telah melakukan hal sekeji itu pada sahabatnya.
Melihat putrinya yang begitu hancur membuat Hartono juga ikut hancur. Arumi dan Miya setiap hari menangis melihat tingkah sahabatnya yang setiap hari hanya menangis dan berteriak ingin mengakhiri hidupnya.
Dan setelah tiga bulan menjalani terapi, akhirnya Ara bisa kembali menjalani hidupnya secara normal. Itu adalah suatu kelegaan bagi semuanya. Mereka saling berjanji untuk tidak lagi membahas masalah itu.
Hartono sampai mendatangi kampus putrinya, memohon pada seluruh warga kampus untuk tidak menyinggung masalah putrinya. Hartono berpidato di aula kampus sambil menangis memohon pada semua yang hadir disana saat itu.
"Kau dari mana saja? Aku mencarimu kemana-mana." tanya Ara kesal.
"Aku dari toilet, tadi tiba-tiba saja perutku mules." Arumi memegang perutnya berbohong.
Ara mengernyit mendengar jawaban sahabatnya itu. Bukankah tempat mereka berdiri saat ini berlawanan arah dengan arah toilet. Tapi ia mencoba mengabaikannya. Mungkin ada sesuatu hal yang bersifat pribadi yang tidak ingin dibagikan oleh sahabatnya itu.
"Kau kebanyakan makan cabe kali... Ya udah ayo, kita masih ada kelas." Ara menggandeng tangan sahabatnya itu, kemudian berjalan menuju kelas.
"Ara?"
"Iya?"
Arumi menghentikan langkahnya, dan diikuti oleh Ara yang juga ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Ara melepas gandengannya, menatap wajah sahabatnya yang terlihat bingung. "Apa kau ada masalah?"
"Kalau aku mengatakan aku melihat Pak Bima dengan cewek lain, apa kau percaya?" tanyanya ragu.
Meski sedikit terkesiap, namun Ara mencoba untuk terlihat santai. "Kalau itu darimu, maka aku percaya."
Arumi menarik salah satu tangan Ara yang menggantung bebas dan menggenggamnya, "kalau begitu bisakah kau melupakannya? Sepertinya dia tidak serius denganmu."
Untuk sesaat Ara terdiam, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya itu, "kalau memang benar seperti itu, maka aku akan melakukannya," jawabnya setengah hati, seraya menarik perlahan tangannya dari genggaman Arumi.
Arumi dapat menangkap jelas sorot mata Ara yang terlihat berkaca-kaca, dan setetes cairan bening yang terjatuh di sudut mata sahabatnya itu, menandakan kalau ia terluka saat ini.
__ADS_1
"Ara..." lirih Arumi.
Ara menundukkan kepalanya dan menghapus bekas air matanya dengan salah satu tangannya. "Kau tau, aku sangat merindukan Miya," kilahnya.
Meski ia benar-benar merindukan sahabatnya itu, namun bukan itu yang membuatnya bersedih kali ini.
"Sejak semalam nomornya tidak aktif, apa dia tidak akan kembali?" imbuh Ara, memaksakan senyumnya.
Arumi cukup tau kalau sahabatnya itu sedang menghindari percakapan tentang dosennya itu.
"Tadi pagi dia menghubungiku, katanya ponselnya disita oleh mamanya... Jadi kau tidak usah khawatir, dia pasti kembali."
"Syukurlah, aku pikir dia akan meninggalkan kita. Setidaknya masih ada kalian yang benar-benar tulus padaku," ucapnya tersenyum, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya dengan tatapan kosong.
Arumi membuang nafasnya kasar, mengikuti langkah kaki sahabatnya itu. Sebenarnya ia sedikit menyesal telah membohongi sahabatnya itu, tapi bukankah itu lebih baik agar Ara tidak lagi berharap pada Bima yang terus bungkam dan tidak memberi kejelasan pada sahabatnya itu.
Tapi ia sedikit bersyukur dengan diamnya dosennya itu, setidaknya pria itu tidak perlu memberi tahu Ara alasan sebenarnya ia menjauhi sahabatnya itu.
***
Ara terlihat menyandarkan kepalanya di atas laptopnya yang tertutup di atas meja belajarnya.
Ia tidak habis pikir jika sampai yang dikatakan Arumi itu benar. Bagaimana bisa dosennya sejahat itu, begitu tega mempermainkannya dan ayahnya.
Lantas apa yang harus ia katakan pada ayahnya, jika nanti ayahnya menanyakan tentang dosennya itu.
Suara ketukan yang berulang-ulang membuat Ara tersadar dari lamunannya. Ia beranjak membuka pintu kamarnya yang menampakkan Bi Ratih, yang mengajaknya turun untuk makan malam.
Setelah mengiyakan ucapan Bi Ratih, Ara turun ke ruang makan bersama wanita paruh baya itu.
"Ayah belum pulang, Bi?" tanyanya saat melihat tidak ada siapa-siapa disana.
"Iya belum, Neng. Bapak juga tidak beri kabar, padahal biasanya kalau pulangnya telat pasti nelfon bibi suruh masak... tapi bibi masak aja, jadi malam ini Neng Ara makan masakan bibi lagi ya, Neng." Bi Ratih mencoba memberi pengertian pada anak majikannya itu.
"Iya tidak apa, Bi. Masakan Bibi juga enak kok. Mungkin ayah lagi banyak kerjaan." Ara mendudukkan dirinya di salah satu kursi. "Bi Ratih makan juga ya, temenin Ara," pintanya.
"Iya, baik, Neng." Bi ratih menganggukkan kepalanya, kemudian ikut duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Ara.
__ADS_1
Ara menikmati makanannya tanpa banyak bicara. Ia hanya sekedar menjawab pertanyaan yang diajukan Bi Ratih padanya.
Sebenarnya Ara sedikit khawatir mengingat ayahnya yang beberapa hari ini terlihat aneh. Ayahnya juga terlihat sering melamun dan kurang bersemangat. Tapi ia berharap tidak ada masalah besar yang terjadi pada ayahnya.
***
Pagi hari setelah bersiap-siap, Ara keluar dari kamarnya menuju kamar ayahnya. Entah mengapa ia begitu rindu dengan pria paruh baya itu.
Namun sesaat ia kembali keluar dari kamar ayahnya, saat tidak mendapati sosok ayahnya disana. Dengan langkah cepat Ara menuruni anak tangga menuju dapur. Bukankah pagi hari ayahnya memang selalu berada di dapur.
"Bi Ratih..." panggil Ara.
"Iya, Neng." Bi Ratih berjalan cepat menghampiri Ara.
"Apa semalam Ayah tidak pulang?" tanya Ara cemas.
"Sepertinya tidak, Neng." jawab Bi Ratih yang tidak kalah cemas. Ini pertama kalinya majikannya itu tidak memberi kabar saat menginap di luar rumah.
"Ayah kemana?" lirih Ara, kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam tote bag-nya.
Baru saja ia ingin menghubungi ayahnya, namun ponselnya berdering lebih dulu. Tanpa melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, Ara dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Assalamualaikum!"
"...."
"Iya, saya anaknya, Pak."
"...."
"Apa? ayah saya kecelakaan?"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤