Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 31


__ADS_3

"Rissa mana, Ma?" tanya Ibra pada mamanya, saat ia baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Ada di kamarnya."


Ibra bergegas naik ke kamar adiknya. Dan tanpa mengetuk pintu kamar Rissa, Ibra masuk begitu saja.


"Rissa... Rissa..."


"Apaan sih, Kak. Teriak-teriak?" sahut Rissa. Yang baru saja keluar dari kamar mandi, setelah mencuci muka dan menggosok giginya, karena akan segera tidur .


"Kakak setuju dengan rencana kamu," tutur Ibra tanpa pikir panjang.


Di sepanjang perjalanan pulang tadi, ia tidak menemukan ide apa pun atas permintaan papanya, selain ide yang satu ini tentunya.


"Rencana? Ara?" Rissa mencoba untuk menebak.


"Iya!"


"Sungguh?" tanyanya meyakinkan.


Dan saat mendapat anggukan dari pria itu, Rissa yang merasa begitu bahagia, dengan cepat memberi pelukan pria di hadapannya itu.


Ibra berdecak seraya mendorong tubuh adiknya, "kau terlalu berlebihan."


"Rissa sangat bahagia mendengarnya," ucapnya begitu riang. Akan tetapi, tidak begitu lama senyum di wajahnya menghilang, "tapi, kenapa tiba-tiba?" tanyanya, saat merasa begitu aneh dengan perubahan sikap kakaknya. Pasalnya baru siang tadi pria itu memakinya karena telah berani mendekatkannya dengan Ara.


"Sudah jangan banyak tanya. Lalu bagaimana dengan Ara? Apa kamu yakin dia akan setuju menikah dengan kakak?"


"Kakak tenang aja, masalah Ara biar Rissa yang membujuknya," ucapnya percaya diri.


"Ya sudah kakak percaya padamu. Tapi jangan lama-lama ya?" pintanya.


"Iya iya! Kakak kebelet nikah ya? Kalau kakak mau, Rissa bisa telfon Ara sekarang."


"Jangan, besok saja. Mungkin dia sudah tidur," ucap Ibra, kemudian keluar dari kamar Rissa dan masuk ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar adiknya itu.


Saat telah berada di dalam kamarnya, Ibra terus saja memikirkan tentang keputusannya. Tiba-tiba saja ia merasa ragu dengan keputusan yang ia buat, hingga membuatnya kembali keluar dari kamarnya, menuju ke kamar adiknya.


Dia berencana, akan menarik ucapannya, sebelum Rissa menyampaikannya pada Ara.


Namun saat akan membuka pintu kamar adiknya, ia kembali menghempaskan tangan yang sudah memegang gagang pintu kamar tersebut. Ibra menghela napasnya, memijat tengkuknya, merasa bimbang dengan semuanya. Hingga membuatnya kembali ke kamarnya, tanpa berbica dengan Rissa. Dan mencoba membiarkan semuanya berjalan apa adanya.


***


Keesokan harinya Rissa mengirim pesan pada Ara. Ia menyampaikan pada sahabatnya itu, kalau kakaknya mengajaknya makan malam, karena ada yang ingin dibicarakan dengan sahabatnya itu.


Ara


"Kalau boleh tau tentang apa?"


Rissa


"Aku juga gak tau, Kak Ibra hanya menyuruhku menyampaikan ini padamu. Bagaimana kamu bisa nggak?"


Ara


"Iya, Insya Allah bisa. Tapi kamu juga ikut kan?"


Rissa


"Iya. Oke kalau begitu kak Ibra akan menjemputmu pukul tujuh nanti."


Ara


"Iya, baiklah."

__ADS_1


Setelah membalas pesan terakhir dari Rissa, Ara meletakkan ponselnya di samping laptop di atas meja belajarnya.


Ara mengerutkan alisnya saat memikirkan tentang apa yang ingin dibicarakan Ibra padanya. Seingatnya ia tidak punya urusan apapun pada pria itu.


***


Malam hari tepat pukul tujuh, Ibra menjemput Ara di rumahnya.


Dan setelah berpamitan pada Bi Ratih, keduanya berjalan beriringan keluar dari rumah, menuju mobil Ibra.


Ibra terus saja mencuri padang pada gadis yang berjalan di sampingnya, yang entah mengapa malam ini terlihat begitu cantik di matanya. Meski penampilan Ara begitu sederhana karena hanya menggunakan button skirt berwarna putih dan blous berwarna beige dengan jilbab yang berwarna senada.


Mereka memang tidak sedang makan malam romantis. Karena itu Ara hanya berpenampilan biasa saja.


Ibra berjalan mendahului Ara, dan membuka pintu mobilnya untuk gadis itu. Membuat Ara merasa sedikit canggung menerima perlakuannya.


Ara menyelidik ke dalam mobil milik Ibra, kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang sampai saat ini masih memegangi pintu mobilnya. "Rissa mana, Kak?" tanya Ara.


"Rissa? dia tidak ikut."


"Tapi, tadi katanya dia akan ikut."


"Ah iya, dia minta maaf, katanya tidak bisa ikut karena sedang banyak tugas." Ibra terpaksa berbohong, karena tidak tahu menahu tentang rencana Rissa yang akan ikut dengan mereka. Adiknya itu memang sangat pandai berbohong.


"Begitu ya!" Ara memaksakan senyumnya, meski ia merasa begitu canggung karena harus jalan berdua dengan Ibra.


"Tidak apa kan, kalau kita hanya berdua?" tanya Ibra.


"Iya tidak apa. Kakak juga sudah terlanjur kesini," jawab Ara apa adanya.


Seandainya saja Miya ada di rumah, mungkin ia akan mengajak sahabatnya itu untuk menemaninya. Tapi, saat ini Miya sedang keluar dengan tunangannya, yang kebetulan datang mengunjunginya.


***


Saat ini Ara dan Ibra telah berada di sebuah restoran. Keduanya terlihat begitu canggung, setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka telah pergi dari sana.


Ibra menautkan kedua alisnya, "apa Rissa tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya.


"Mengatakan apa?" tanya Ara bingung. "Dia hanya mengatakan kalau kakak ingin membicarakan sesuatu denganku," jelasnya.


"Astaga! jadi anak itu belum mengatakan apapun pada Ara!" batin Ibra.


Ibra telah salah menyangka, kalau Rissa telah mengatakan pada Ara tentang rencananya untuk menikahi gadis itu. Ia bahkan telah berpikir kalau Ara sudah setuju, karena itu gadis itu bersedia makan malam dengannya.


"Lalu apa yang harus aku katakan padanya? Apakah aku harus menembaknya? Mengatakan cinta padanya? Astaga ayolah berpikir!" batin Ibra.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Ibra percaya diri.


"Pertanyaan macam apa itu? Bukankah Rissa sudah mengatakan kalau dia tidak punya kekasih? Bodoh!"


"Tidak. Kenapa kakak menanyakan itu?" Ara tersenyum canggung, saat merasa begitu aneh dengan pertanyaan pria di hadapannya.


"Maukah kamu menikah denganku?" tutur Ibra berterus terang. Sepertinya ia tidak perlu berbasa-basi lagi.


Mata Ara membulat penuh mendengar ucapan pria di hadapannya. Apa ia tidak salah dengar? Atau mungkin pria itu hanya bercanda. "Maksud kakak?"


"Saya memintamu menjadi istri saya!"


Kata-kata yang sangat tidak romantis itu, keluar begitu saja dari mulut Ibra. Tanpa cincin ataupun bunga. Bagaimana bisa ia melamar seorang gadis tanpa persiapan apapun.


"Maaf... " Satu kata dari Ara, yang cukup dapat Ibra mengerti kalau gadis itu menolaknya. "saya tidak bisa," lirih Ara.


"Kenapa? Apa kau pikir saya hanya bercanda?" tanya Ibra.


Ara menggeleng, "tidak. Saya hanya benar-benar tidak bisa. Kalau tidak ada lagi yang ingin kakak bicarakan, sebaiknya saya pulang ya!"

__ADS_1


Ibra menghela napasnya, saat bibirnya tidak mampu merayu gadis itu lagi. Membuatnya merasa putus asa dengan usahanya. Ia memang bukan pria yang romantis. Ia juga tidak tau, bagaimana bisa ia sekaku itu.


"Jangan pulang dulu. Kita datang bersama, jadi pulangnya harus sama-sama juga. Kita makan dulu ya. Kita sudah memesan makanan, sayang jika tidak dimakan." ucap Ibra bijak.


Meski lamarannya di tolak, tapi tidak lantas harus membuatnya marah atau membenci gadis itu.


Ara menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan Ibra. Dan setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara keduanya, hingga pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


Ara makan dengan begitu terburu-buru, sudah sangat tidak sabar untuk pulang ke rumahnya. Membuat Ibra yang melihatnya tertawa kecil, merasa lucu dengan tingkah gadis di depannya.


"Apa dia begitu takut menikah denganku?"


"Kenapa? Apa ada yang aneh denganku?" tanya Ara melihat Ibra yang terus tersenyum menatapnya.


"Tidak ada. Kamu cantik!" ucap Ibra tersenyum, membuat Ara terciut malu.


Ara kembali melanjutkan makannya dengan terus menunduk membuat Ibra semakin merasa lucu melihatnya.


***


Di dalam mobil menuju pulang, kembali tidak ada percakapan yang terjadi antara Ara dan Ibra. Hingga Ibra menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sedikit sunyi membuat Ara menjadi takut.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Ara.


"Ada yang ingin saya bicarakan." jawab Ibra.


"Tapi kenapa harus berhenti? kita bisa berbicara sambil terus berjalan."


"Jangan takut, saya tidak akan berbuat yang macam-macam denganmu. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu."


"Bicaralah!"


"Apa kamu sungguh tidak ingin menikah denganku?" tanya Ibra.


"Iya, tidak!" jawab Ara cepat.


"Bagaimana kalau saya meminta bantuanmu?"


Ara menautkan kedua alisnya, "bantuan?"


"Iya. Bepura-puralah menikah denganku," ucapnya memohon. "Jujur saja, saya melakukan ini karena ingin menghindari perjodohan yang dibuat papa saya."


"Jadi kakak tidak bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini?" Ara menggeleng, merasa tidak habis pikir dengan pemikiran pria di hadapannya.


"Saya mohon! Kita hanya sekedar menikah, saya janji tidak akan menyentuhmu, apalagi sampai melukaimu."


"Apa saya terlihat begitu bodoh? hingga kakak meminta itu padaku?"


"Tidak, bukan seperti itu. Menurutku kamu gadis yang baik. Rissa juga sangat ingin saya menikah denganmu. Dan kalau suatu saat nanti kamu ingin berpisah, maka kita akan melakukannya."


Ara semakin tidak habis pikir dengan ucapan pria itu. Hingga membuatnya merasa muak dengannya.


"Maaf, saya tidak bisa. Pemikiran kakak terlalu sederhana. Kakak memandang enteng semuanya. Kakak pikir pernikahan itu sebuah permainan? Itu adalah sebuah janji antara kakak dengan Allah. Kakak egois hanya memikirkan diri kakak sendiri."


Ara membuka pintu mobil Ibra, hendak keluar dari sana. Namun gerakannya terhenti, saat Ibra dengan cepat memajukan tubuhnya, menarik kembali pintu mobilnya, sehingga membuat tubuh keduanya sangat dekat. Bahkan wangi maskulin dari tubuh Ibra begitu menyeruak di penciuman Ara, membuatnya diam mematung karena merasa begitu gugup.


"Saya akan mengantarkanmu pulang."


Ibra mengunci pintu mobilnya dan dengan segera melajukan mobilnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤


__ADS_2