Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 35


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Maisyah Hartono binti Hartono dengan mas kawin tersebut tunai."


"SAH?"


"SAH! " ucap saksi.


"ALHAMDULILLAH!" ucap seluruh hadirin.


Saat ini Ibra dan Ara telah resmi menjadi sepasang suami istri. Ikatan yang begitu sakral bagi semua orang, tapi tidak dengan keduanya. Mereka hanya menganggap ini sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


Setelah melakukan ijab kabul, keduanya saling menukar cincin. Ara mencium punggung tangan Ibra cukup lama, sesuai dengan arahan dari seorang fotografer.


Lalu Ibra di arahkan untuk mencium kening istrinya. Mendengar itu, Ara mengangkat pandangannya menatap Ibra. Begitupun dengan Ibra yang juga memandang ke arah Ara meminta persetujuan wanita itu. Hingga membuat manik mata mereka saling bertemu, dan saling mengunci hingga beberapa saat. Sebelum akhirnya Ibra melayangkan sebuah kecupan yang cukup lama di kening wanita yang saat ini telah resmi menjadi istrinya.


Deg!


Ada perasaan aneh yang dirasakan Ara saat Ibra menciumnya. Ada desiran hangat yang ia rasakan. Bahkan jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.


Entah mengapa perasaannya jadi menghangat merasakan sentuhan pria itu. Padahal selama ini saat mereka bersama, tidak ada perasaan apapun yang ia rasakan pada pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.


Setelah pemasangan cincin dan sebagainya, kini mereka tiba ke proses sungkeman. Lebih dulu mereka sungkem kepada orang tua dan keluarga Ibra. Membuat mereka mendapatkan begitu banyak wejangan-wejangan dari orang tua yang ada disana.


Ara kemudian berjalan ke arah Rissa dan kedua sahabatnya, serta Bi Ratih.


"Selamat ya, Kakak Ipar. Apa aku harus memanggilmu kak Ara mulai sekarang?" ucap Rissa tertawa.


"Terserah kau saja." Ara tersenyum, lalu memeluk saudara iparnya itu.


"Selamat ya. Aku ikut bahagia untuk kalian berdua." Miya memeluk Ara dan menciumi seluruh wajah sahabatnya itu. Merasa gemas melihat tampilan Ara yang begitu cantik dengan riasan pengantin.


Arumi dengan cepat menarik tubuh Miya, "hati-hati, kau akan merusak riasannya. Lipstikmu akan menempel di wajahnya."


"Nggak bakalan. Lipstik mahal nih!" jawab Miya melebarkan senyumnya. Dan Ara hanya tersenyum melihat keduanya, kemudian beralih memeluk Arumi.


"Selamat ya! Aku sangat bahagia melihatmu menikah dengannya. Kamu akan memiliki keluarga yang begitu hangat. Aku berharap pernikahan kalian untuk selamanya, dan kalian bisa menjalin hubungan yang sesungguhnya," ucap Arumi lirih, dipelukan Ara.


"Iya, terimakasih," jawab Ara dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa ia juga mengharapkan hal yang sama dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu.

__ADS_1


Ara kemudian melepaskan pelukannya, menghapus air matanya sejenak sebelum beralih pada Bi Ratih.


"Bi Ratih!" Ara memberikan pelukan pada wanita yang selama ini telah menjaganya itu. Melihat wajah sendu wanita paruh baya itu, membuatnya tidak sanggup lagi menahan air matanya. Untuk sesaat ia terus saja terisak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Membuat siapapun yang melihatnya ikut tersentuh, dan tak ayal membuat beberapa orang ikut menitikkan air mata.


"Maafkan segala kesalahan Ara selama ini ya, Bi. Ridhoi Ara dengan pernikahan ini. Doakan agar Ara bisa menjadi istri yang baik," tuturnya sesegukan.


"Iya, Neng. Bibi selalu mendoakan yang terbaik untuk Neng Ara. Bibi selalu berdoa agar Neng Ara selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan untuk Neng Ara dan suami Neng Ara." ucap bi Ratih terbata-bata.


"Iya, Bi. Terimakasih."


Bi Ratih melepaskan pelukannya, kemudian menangkup wajah Ara, dan berakhir menghadiahi sebuah kecupan di kening anak majikannya itu.


***


Setelah acara akad nikah yang hanya dihadiri kerabat terdekat saja. Malam harinya, sebuah pesta mewah di sebuah hotel ternama telah menanti mereka.


Pesta yang dihadiri oleh begitu banyak tamu undangan. Mulai dari kerabat hingga rekan-rekan bisnis Papa Nahar hadir di pesta itu.


"Apa kau lelah?" tanya Ibra pada Ara yang terlihat sangat lelah berdiri berjam-jam lamanya.


"Tahan sebentar lagi ya?" pinta Ibra, dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Ara.


Sungguh, saat ini Ara merasa amat lelah. Kakinya terasa begitu pegal. Ingin rasanya ia membuka sepatu hak tinggi yang ia gunakan saat ini. Namun sebisa mungkin ia selalu menebar senyumnya pada tamu undangan yang datang.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap seseorang yang terlihat marah dan tidak terima melihat Ara dan Ibra berdiri berdampingan di atas pelaminan.


***


Akhirnya, pesta pun selesai. Satu persatu tamu undangan telah pulang. Begitu pun dengan sanak saudara, serta kerabat dari Ibra.


Karena perintah mamanya, Ibra mengantar Ara ke salah satu kamar di hotel tersebut. Mereka akan menginap semalam disana. Sedangkan orang tua dan kerabat terdekatnya akan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Saat masuk ke dalam kamar tersebut, Ara dan Ibra di buat tercengang dengan dekorasi kamar tersebut.


Kamar pengantin yang disiapkan khusus untuk pasangan baru seperti mereka.


Ibra menggaruk tengkuknya, merasa begitu malu melihat dekorasi kamar itu. Mungkin, akan berbeda rasanya jika mereka adalah pasangan sungguhan. Sebab suasana temaram yang diciptakan dari lilin-lilin aromaterapi yang ada di setiap sudut ruangan itu, membuat kamar itu terasa intim dan hangat.

__ADS_1


Ibra menyalakan lampu kamar tersebut, dan mulai meniup satu persatu lilin aromaterapi yang ada disana. Kemudian beralih, membersihkan tempat tidur yang di penuhi dengan taburan kelopak bunga mawar. Bermaksud agar Ara tidak merasa risih dengan semua itu, dan bisa beristirahat dengan nyaman.


"Istirahatlah. Saya akan keluar sebentar, menunggu Mama dan yang lainnya pulang dulu," tutur Ibra. Dan Ara hanya mengangguk memberi jawaban.


"Maaf, telah menusahkanmu hari ini," sesal Ibra.


"Iya, tidak masalah."


"Baiklah. Kalau begitu istirahatlah," ucapnya, yang kemudian beranjak keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian Ibra, Ara membersihkan diri, sholat isya dan bersiap untuk tidur. Ia sudah sangat lelah, dan tidak dapat lagi menahan kantuknya. Hingga membuatnya tertidur pulas dengan cepat, meski baru saja ia merebahkan tubuhnya.


***


Setelah kepulangan orang tuanya, Ibra kembali ke kamarnya. Ibra menarik kedua sudut bibirnya, saat mendapati Ara yang sudah tertidur pulas tanpa melepas jilbabnya.


"Apa dia tidak merasa panas, tidur dengan menggunakan kerudung, seperti itu!" Ibra tertawa kecil.


Perlahan Ibra melanglahkan kakinya, mendekat ke tempat tidur, menatap lekat wajah polos istrinya itu.


"Sangat cantik!" lirihnya.


Matanya kemudian beralih pada bibir ranum milik istrinya itu, dan entah mengapa menimbulkan hasratnya untuk mencium bibir itu.


"Sial! jadi nyiksa gini," umpatnya.


Ibra dengan cepat mematikan lampu kamar tersebut dan menyalakan lampu tidur. Setidaknya agar pandangannya tidak terus teralihkan pada tubuh istrinya.


Setelahnya, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2