Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 43


__ADS_3

Dua hari telah berlalu. Dan pagi tadi, Ibra telah menghubungi Ara, mengatakan bahwa ia akan pulang malam ini.


Selama dua hari itu, Ibra tidak pernah lupa memberi kabar pada istrinya. Mereka juga kerap berbagi cerita tentang kegiatan mereka lewat pesan singkat. Dan hal itu, membuat keduanya semakin merindu satu sama lain.


Dan malam ini Ara dibuat tidak sabaran untuk bertemu dengan pria itu.


Ara keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah, berniat ke dapur untuk mengambil air minum. Namun langkahnya terhenti, saat melihat papa mertuanya sedang duduk sendiri di ruang keluarga.


"Pa?"


"Ara! Ayo sini duduk," tawar Papa Nahar.


"Papa kok sendiri, Mama mana?" tanya Ara, setelah benar-benar mendudukkan dirinya.


"Mungkin sudah tidur. Ibra belum pulang?"


"Tadi katanya udah di jalan. Mungkin sebentar lagi tiba. Papa kenapa belum tidur?"


"Belum ngantuk. Jadi papa baca buku dulu, biar mata papa lelah.... Maafin papa ya. Papa membuat Ibra bekerja keras, jadi dia tidak punya banyak waktu untukmu. Kamu pasti merasa kesepian."


"Nggak apa kok, Pa. Bukankah tugas lelaki memang seperti itu," tuturnya tersenyum. "Oh iya, Papa kok baca bukunya disini? kenapa nggak di kamar aja? Biar kalau udah ngantuk, tinggal tidur aja."


Papa Nahar tertawa kecil, kemudian berucap, "Mama sedang marah sama papa."


"Jadi Papa kesini karena menghindari Mama atau diusir Mama?" godanya. Yang berhasil membuat Papa Nahar terkekeh.


"Papa sengaja keluar, karena kalau papa tetap di kamar, Mama kamu juga tidak akan berhenti mengomelnya." Papa Nahar kembali tertawa, diikuti oleh Ara yang juga ikut tertawa.


"Asal tidak ditanggapi, Mama kamu marahnya hanya sebentar kok.... Kamu sama Ibra juga yang akur. Kalau sedang marahan jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang akan membuat kalian menyesal nantinya. Terlebih, di usia pernikahan kalian yang masih baru, kedepannya akan selalu ada hal kecil yang kalian ributkan hanya karena adanya perbedaan pendapat."


"Ibra anaknya keras. Sangat sulit diberi tahu. Jadi kamu yang sabar ya, menghadapinya," imbuhnya.


Ara tersenyum kecil dan mengangguk, "iya, Ara ngerti, Pa."


"Assalamu'alaikum!"


Ara tersenyum bahagia saat mendengar suara yang amat dikenalinya. "Sepertinya Kak Ibra, Pa."


"Iya, cepat kamu sambut suami kamu."

__ADS_1


Ara menganggukkan kepalanya, dan dengan cepat berlari keluar menghampiri Ibra yang sudah masuk ke dalam rumah. Membuat Papa Nahar tertawa kecil melihat tingkahnya yang begitu kegirangan.


"Wa'alaikumsalam. Kakak udah tiba?" Ara melemparkan senyumannya pada Ibra, seraya meraih tangan pria itu dan mencium punggung tangannya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ibra.


"Tadi lagi cerita-cerita sama Papa." Ara beralih menatap mertuanya yang terlihat menengok pada mereka.


Ibra kemudian menghampiri papanya dan meciumi tangan pria paruh baya itu. "Papa kok belum tidur?"


"Papa lagi menemani Ara, menunggu suaminya pulang." Papa Nahar melempar senyum menggoda pada Ara.


Ibra menoleh pada Ara, yang berdiri tepat di sampingnya. "Kamu menungguku?" tanyanya tersenyum. Dan dijawab dengan anggukan oleh Ara, yang tersipu malu.


"Tapi sayang, saya tidak membawa oleh-oleh untukmu," imbuhnya dengan nada menyesal.


"Saya tidak menunggu oleh-oleh kok," jawab Ara cepat.


"Jadi hanya menungguku?" tanya Ibra, dengan senyum menggoda.


"Astaga apa yang sedang kalian tampilkan di depan papa. Lanjutkan di kamar kalian sana." Papa Nahar menggeleng seraya mengibaskan tangannya. Membuat Ibra dan Ara ikut tertawa melihatnya.


"Kalau begitu kami ke kamar dulu, Pa. Papa juga istirahatlah." Ibra meraih jemari Ara dan menggenggamnya. "Ayo!" Ia menarik tangan istrinya, menuju kamar mereka.


"Kak Ibra pasti sangat lelah. Apa Kakak ingin minum sesuatu? akan saya buatkan," tawarnya. Mencoba mencairkan  suasana hatinya yang sudah tidak karuan.


Ibra perlahan melepas genggaman tangannya. "Tidak perlu."


"Kalau begitu mandilah. Ara akan menyiapkan pakaian Kakak."


Ara kemudian berbalik, dan berjalan menuju lemari, untuk menyiapkan pakaian suaminya. Namun langkahnya terhenti tatkala sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang, membuatnya tersentak kaget.


"Kak Ibra..." lirihnya.


Ibra menjatuhkan wajahnya di bahu Ara. "Biarkan seperti ini, sebentar saja," pintanya.


"Aku benar-benar merindukanmu," ucapnya yang semakin mengeratkan pelukannya. "Apa kau juga merindukanku?"


Ara perlahan menganggukkan kepalanya, setelah sejenak terdiam, bergulat dengan pemikirannya.

__ADS_1


Ibra menarik kedua sudut bibirnya. Merasa bahagia dengan jawaban yang diberikan Ara. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan melepaskan salah satu tangannya yang sedari tadi melingkar di perut istrinya.


Ibra perlahan melepaskan jilbab yang dikenakan Ara, dan membuangnya sembarang. Ia kemudian menyibak rambut istrinya itu yang terurai dan membawanya ke samping.


Ia kembali menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Ara, dan menghirup aroma tubuh istrinya. Dan hal itu berhasil menciptakan sensasi yang luar biasa untuknya. Membuatnya kembali mengeratkan pelukannya.


Tubuh Ara bergetar hebat mendapatkan perlakuan itu. Untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan pria itu. Dan hal itu berhasil membuat tubuhnya terasa panas dingin. Bahkan jantungnya berdegup begitu kencang dibuatnya.


Perlahan Ibra membalikkan tubuh Ara, menghadap padanya. Ia mengangkat dagu Ara yang terus menunduk, menatap lekat wajah yang nampak gugup itu. Ibra tersenyum kecil melihat wajah wanita itu. Meski hasratnya sudah begitu besar pada wanita itu, namun ia akan melakukannya dengan perlahan. Memikirkan ini untuk pertama kalinya untuk mereka.


Ibra kemudian melayangkan sebuah kecupan di bibir Ara. Membuat Ara melototkan matanya, menatapnya. Ibra kembali tersenyum, dan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara. Namun ia dibuat kecewa, saat Ara memalingkan wajahnya, menghindari ciuman yang akan ia berikan.


"Izinkan aku melakukannya," pintanya dengan nada memohon.


"Maaf!" Ara berucap tanpa berani menatap wajah pria itu.


"Kenapa?" Ibra menangkup wajah Ara, agar melihat ke arahnya.


"Maaf. Tapi saya nggak bisa." Ara perlahan melepas kedua tangan Ibra yang menempel di kedua pipinya.


"Apa kamu tidak mempunyai perasaan sedikitpun padaku?"


"Maaf!" Ara kembali menunduk, tidak sanggup melihat kekecewaan di wajah pria itu.


"Sungguh?" tanyanya meyakinkan. Yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Ara.


Ibra menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum kecewa. "Sepertinya saya telah salah menempatkan perasaanku padamu," ucapnya sarkas. Yang kemudian berjalan ke arah dinding, meraih sebuah kunci mobil miliknya dan keluar dari kamar itu.


Ara yang ingin menghentikan kepergian Ibra, mengurungkan niatnya tatkala pria itu telah menghilang dari balik pintu yang di tutup dengan begitu kasar.


Ara menjatuhkan dirinya di sisi tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sepuasnya.


Ia benar-benar menyesali perbuatannya. Merasa kecewa dengan dirinya sendiri, bahkan merutuki kebodohannya, yang telah menghindari sentuhan yang di berikan pria itu, yang bahkan ia sendiripun sangat mendambakannya.


"Maaf... Ara hanya takut Kakak kecewa dengan Ara, dan pergi meninggalkan Ara. Ara sudah terlanjur nyaman dengan semua ini."


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥


__ADS_2