
Malam hari, setelah Ibra menyelesaikan pekerjaannya, ia mencoba menghubungi teman-temannya.
"Kita ke klub milik Rafael, aku tunggu kalian disana," ucapnya pada sambungan telfonnya.
Setelah memutuskan sambungan telfonnya, Ibra membereskan meja kerjanya. Memasukkan beberapa dokumen yang akan ia gunakan untuk rapat besok ke dalam tasnya, sebelum akhirnya beranjak dari ruangannya.
Saat ini Ibra menjabat sebagai Direktur Personalia di perusahaan ayahnya, yang merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang elektronik.
***
Saat ini Ibra berada di salah satu klub malam yang ada di kotanya.
Ibra ke klub untuk menghilangkan kepenatannya. Dan melupakan sejenak rencana ayahnya.
Sore tadi, Ryan telah mengirimkan padanya beberapa data diri gadis yang akan dijodohkan dengannya. Dan saat melihat data gadis-gadis tersebut, tidak ada satupun yang menarik hatinya.
"Wah.wah.wah ... Putus cinta lagi?" tanya Rafael, yang tidak lain adalah pemilik klub tempat Ibra berada sekarang.
Rafael menepuk bahu Ibra dan tertawa. Setahunya, Ibra hanya akan datang ke tempatnya saat ada masalah saja. Dan terakhir kali pria itu datang, saat ia tahu kalau kekasihnya mengandung anak pria lain.
"Berisik!" teriak Ibra, saat beberapa temannya ikut meledeknya.
"Kalau tidak ingin berisik ke mesjid sana. Maka kau akan mendapatkan ketenangan disana," ucap salah satu dari mereka.
"Cehh..." Ibra berdecak, menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, mendengar penuturan temannya itu. Kemudian menyambar segelas minuman yang ada di depannya.
Baru saja beberapa gelas ia meneguk minuman itu, namun tiba-tiba ia merasa sangat malas untuk melanjutkan senang-senangnya.
"Aku akan pulang." Ibra berdiri dari duduknya saat beberapa temannya baru saja mendudukkan dirinya.
"Kau mau kemana?" tanya salah satu dari mereka.
"Pulang."
"Tapi kami baru saja datang."
__ADS_1
"Kalian lanjutkan saja, aku lelah."
"Bukankah kau yang mengajak kami kesini?" Teriakan dari salah satu temannya itu, tidak mendapat tanggapan dari Ibra yang sudah berjalan menjauh.
***
Ibra menepuk-nepuk kepalanya saat masuk ke dalam rumahnya. Merasa sedikit pusing. Dan saat melihat papanya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama mama dan adiknya, membuatnya mempercepat langkahnya untuk naik ke kamarnya.
Mama Reta yang melihat sikap putranya yang seperti menghindar, mengalihkan pandangannya pada suaminya.
"Apa Papa serius dengan rencana Papa?"
"Untuk apa Papa bercanda. Dia sudah dewasa, sudah seharusnya dia menikah." jawab papa Nahar, yang sudah mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Tapi mama sangat tidak suka dengan Viona." Mama Reta bersungut. Ia memang tidak pernah suka dengan kekasih putranya itu.
"Itu semua tergantung Ibra. Papa sudah sangat pusing dengan tawaran rekan-rekan papa yang menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengan putra kita."
Mama Reta menghela napasnya. Berharap agar Ibra tidak menikahi kekasihnya itu, dan memilih salah satu dari gadis yang disebutkan suaminya.
Rissa yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, tiba-tiba tersenyum saat memiliki ide di kepalanya.
***
Baru saja ia memejamkan kedua matanya, suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya kembali membuka kedua matanya.
"Kakak, ini Rissa." Rissa perlahan membuka pintu kamar kakaknya yang tidak terkunci.
"Ada apa?" tanya Ibra pada Rissa yang sudah duduk disampingnya.
"Jadi kakak akan menikah dengan salah satu anak teman Papa?" tanya Rissa.
Ibra menghela napasnya, kemudian mendudukkan diriya. Merasa lelah dengan pertanyaan tentang seputar pernikahan yang tidak di inginkannya.
"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya, menatap malas adiknya.
__ADS_1
"Rissa tau kalau Viona telah menikah dengan pria lain. Jadi, artinya kakak akan menikah dengan salah satu putri teman papa."
Ibra mendengus kesal. Bagaimana bisa adiknya itu, bisa mendapat informasi secepat itu. "Tidak! Kakak tidak akan menikah dengan siapa pun."
"Tapi Papa tidak akan membiarkan Kakak menolak keinginannya. Yah kecuali..." ucap Rissa menggantung.
"Apaan?" tanya Ibra, saat Rissa tidak juga melanjutkan ucapannya.
"Kecuali kalau kakak memiliki calon pilihan kakak sendiri."
"Maksud kamu?"
"Menikahlah dengan Ara." jawab Rissa cepat.
"Apa kau sudah gila?"
"Tidak. Ara gadis yang baik. Aku akan sangat bahagia kalau kakak menikah dengannya."
"Apa aku menikah hanya untuk membahagiakanmu?"
"Ceh, Kakak ini ... Aku sangat kasihan dengan Ara. Dia sudah tidak memiliki keluarga lagi. Dengan Kakak menikah dengannya, kita akan memberinya keluarga baru. Rissa juga yakin kakak bisa membahagiakannya," tutur Rissa.
"Berhentilah berbicara yang tidak-tidak. kakak lelah, kakak ingin istirahat. Keluarlah!"
"Kakak... Rissa mohon menikahlah dengan Ara. Setelah ini Rissa janji tidak akan lagi meminta yang macam-macam pada kakak."
"Keluarlah!" Ibra terus saja mendorong tubuh adiknya hingga keluar dari kamar.
"Ara gadis yang baik, tidak akan sulit bagi kakak untuk menyukainya." Teriakan Rissa tidak di hiraukan oleh Ibra yang sudah mengunci pintu kamarnya.
"Rissa tidak akan menyerah, lihat saja nanti," gumamnya, yang kemudian berjalan menuju kamarnya. Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ara.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤