Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 78


__ADS_3

Keesokan harinya Ara benar-benar menjemput Alea. Namun baru sehari kepulangan Alea, Ibra kembali meminta izin pada Ara untuk membawa Alea ke Jakarta untuk bertemu Papa Nahar. Meski sedikit ragu, tapi Ara tetap saja mengizinkannya.


Dan hari ini adalah hari ketiga setelah kepergian Alea ke Jakarta, hari yang dijanjikan Ibra untuk membawa Alea pulang. Namun hingga malam hari Ara belum juga melihat tanda-tanda kepulangan Alea, membuat Ara semakin cemas.


Ara keluar dari kamarnya, berniat untuk menemui Miya dan ingin menceritakan segala kegelisahannya pada Miya.


"Miya dimana ya bi?" tanya Ara pada asisten rumah tangga Miya yang sedang berlalu di depannya.


"Lagi keluar sama Pak Abyan."


"Malam-malam begini? Kemana bi?" tanya Ara sedikit terkejut, pasalnya baru saja beberapa hari yang lalu Miya melahirkan, seharusnya dia berdiam diri di rumah saja.


"Bibi juga kurang tau."


"Zain ikut juga?" tanyanya cemas jika sampai Miya juga membawa putranya.


"Tidak, den Zain di kamar sama Bu Fani."


"Syukurlah, tante Fani sudah lama?"


"Tidak juga, setelah bu Fani datang, Bu Miya dan Pak Abyan keluar. Sepertinya memang sengaja memanggil Bu Fani untuk menjaga den Zain."


"Begitu ya bi, ya sudah makasih ya bi." ucap Ara pada bibi. "Kenapa juga mereka tidak memintaku menjaga Zain?" gumamnya lalu kemudian kembali masuk ke kamarnya.


Ara menghembuskan nafasnya kasar lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap kosong pada langit-langit kamar dan membiarkan lamunannya terbang mengikuti arah hatinya.


Suara deringan ponsel memaksa Ara menghentikan lamunannya dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Senyum terukir di wajah Ara saat melihat nama si penelfon.


"Assalamualaikum!"


"Ra kamu bisa ke apartemenku? Alea.. Alea.." ucap Ibra terputus meninggalkan kecemasan pada Ara.

__ADS_1


"Alea? Ada apa dengan Alea?" tanyanya pada dirinya sendiri yang kemudian dengan cepat meraih khimarnya dan berlari keluar tanpa mengganti gamis rumahannya.


Ara pergi ke apartemen Ibra diantarkan oleh sopir Miya. Dan setelah sampai dengan cepat Ara berlari menuju lift untuk segera sampai ke tempat Ibra. Ara terus saja menekan bel apartemen Ibra tanpa henti hingga pintunya terbuka dan dengan cepat Ara masuk ke dalam.


Ara dibuat heran saat melihat ke seluruh ruangan yang kurang pencahayaan, membuat Ara tidak dapat melihat jelas ke dalam rumah Ibra.


"Alea.. Kak Ibra..." teriaknya mencari keberadaan keduanya. "Alea..Alea..." teriaknya lagi yang sudah menangis.


"Cengeng." sebuah suara menghentikan langkah dan tangisan Ara.


"Kak Ibra!"


"Disini!" ucap Ibra menyalakan lilin-lilin yang ada di sekitarnya, membuat Ara dapat menemukan keberadaannya.


"Alea mana?" ucap Ara berjalan cepat ke arah Ibra namun Ibra hanya terdiam sambil terus menyalakan beberapa lilin hingga mengelilingi mereka berdua.


Ara melebarkan pandangannya, dan merasa ada yang aneh saat lilin-lilin tersebut berhasil menyinari tempat di sekitarnya, terlihat banyak taburan kelopak bunga disana.


"Apa ini?" tanyanya heran.


"Maaf, mungkin saat ini kamu sedang cemas memikirkan Alea, tapi Alea baik-baik saja."


"Lalu dimana Alea? kenapa..."


"Sstttt..." ucap Ibra memotong ucapan Ara. " Saat ini kakak hanya mau kamu mendengarkan kakak dulu." sambungnya dan berhasil membuat Ara bungkam.


"Maaf! Aku tau ini sudah sangat terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sebuah kesalahan. Aku tau aku salah dengan menyuruhmu pergi saat itu, dan itu adalah kesalahan terbesar di hidupku, membiarkan orang yang aku cintai pergi meninggalkanku."


"Kak Ibra!"


"Ssstttt.. Maaf! Maaf harus membuatmu hidup menderita selama ini, jika ada sesuatu yang kamu ingin aku lakukan untuk membuatku menebus kesalahanku dimasa lalu maka katakanlah. Tapi hanya satu yang kakak pinta," ucap Ibra menjeda, "Izinkanlah sekali lagi untuk kakak menjadi imammu."

__ADS_1


Air mata Ara tidak lagi terbendung setelah mendengar penuturan Ibra. "Kakak!" ucap Ara sambil sesekali menghapus air matanya dengan kedua telapak tangannya.


Ibra kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya, membukanya tepat di hadapan Ara.


"Dara Maisya Hartono menikahlah denganku untuk yang kedua kalinya." ucap Ibra mantap.


Melihat usaha Ibra melamarnya kembali membuat Ara semakin terisak dan tidak mampu untuk berkata-kata. Selama ini Ara terus saja melafalkan dalam doanya agar kembali dipersatukan dengan Ibra, dan hari ini doanya diijabah oleh Allah.


"Kamu maukan menerima kakak lagi?" ucap Ibra yang masih setia memegang kotak cincin di tangannya.


Perlahan Ara menganggukkan kepalanya tanda menerima lamaran suaminya. Dan tiba-tiba saja terdengar suara sorakan dan tepuk tangan dari dalam ruangan membuat Ara terkaget.


Dan saat seluruh lampu dinyalakan betapa terkejutnya Ara melihat apartemen Ibra yang disulap menjadi seperti aula pernikahan.


Alea berlari ke arah keduanya. Dan ternyata sejak tadi disana sudah ada seluruh keluarga Ibra beserta para asisten rumah tangganya yang sengaja diboyong untuk menyambut kembali kehadiran Ara. Tidak lupa kedua sahabat Ara bersama pasangannya. Namun Ara merasa aneh dengan seseorang yang nampak asing di mata Ara, tapi Ara tidak memperdulikannya.


Miya dan Arumi dengan cepat menarik Ara masuk ke dalam kamar dan membantunya mengganti pakaiannya.


"Kalian mau apa?" tanya Ara pada kedua sahabatnya.


"Kamu akan melangsungkan akad nikah malam ini. Jadi kamu duduk dan tenang saja disini." Arumi mendudukkan Ara di kursi meja rias dengan paksa. Dan meskipun Ara sedikit terkejut tapi ia menerima saja apa yang dilakukan kedua sahabatnya padanya. Dan akhirnya Ara tau orang asing yang dimaksudnya tadi adalah Pak Penghulu yang akan menikahkan mereka.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Maisya Hartono dengan mas kawin tersebut tunai."


"SAH?"


"SAH!!" teriak saksi dan yang lainnya bersamaan.


.


.

__ADS_1


Terimakasih buat yang sudah memberikan dukungannya dengan Like, Komen dan Votenya. Loveyuu 😘😘


Tetap berikan Like, Komen dan Votenya yaa teman-teman 🤗❤


__ADS_2