Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 13


__ADS_3

“Morning guys!” sapa Arumi yang baru saja masuk ke dalam kelas.


“Morning!” sahut Ara, kemudian mendongak pada Arumi yang sudah berdiri di hadapannya, “semalam Kak Rangga meminta nomer ponselmu. Apa dia menghubungimu?” tanyanya.


“Iya, dia hanya ingin mengirimkan hasil foto-foto kemarin.”


“Kelihatannya kalian semakin akrab saja?” tanya Ara menyelidik.


“Tidak ada salahnya kan kalau kami berteman?” jawab Arumi acuh seraya memutar sebuah bangku yang ada di hadapan Ara kemudian mendudukkan dirinya disana.


“Asal tidak memberinya harapan saja.”


“Iya aku tau!” jawab Arumi berdecak. “Ada apa dengannya?” tanyanya, melihat Miya yang membaringkan kepalanya di atas lipatan tangannya di atas meja, dengan mata terpejam.


“Entahlah, saat aku masuk dia sudah seperti itu,” jawab Ara.


“Miya?” panggil Arumi. “Miyaaaa…” teriaknya saat tidak mendapatkan sahutan dari sahabatnya itu.


“Apaan sih, Rumi, berisik!” jawab Miya lirih, tanpa mengubah posisinya.


“Kau kenapa? apa kau sakit?” tanya Arumi sedikit khawatir melihat sahabatnya itu yang sangat tidak bersemangat.


Ara menempelkan telapak tangannya di kening sahabatnya itu, guna mengecek suhu tubuhnya, “tidak panas.”


Miya mebuka kedua matanya, perlahan berdiri dari tempat duduknya, “aku balik aja ya?” ucapnya seraya meraih tasnya yang ia letakkan di lantai.


“Kenapa?” tanya Ara dan Arumi bersamaan.


“Entahlah, hari ini aku lagi malas ngapa-ngapain, rasanya pengen tidur aja.”


“Tapi kamu nggak sakit kan?” tanya Arumi.


“Iya, nggak.”


“Ya sudah terserah kau saja. Mau aku antar?” tanya Arumi, namun mendapat penolakan dari sahabatnya itu. “Nggak usah pulang aja deh, mata kuliah kita kan cuman satu, entar kalau udah selesai kita jalan-jalan, mau nggak?” tawarnya.


“Ya udah boleh deh.” Tanpa pikir Panjang Miya mengiyakan ajakan sahabatnya itu, kemudian kembali mendudukkan dirinya dan menjatuhkan kepalanya dilipatan tangannya.


“Dasar!” ucap Arumi tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


Arumi hendak menanyakan sesuatu pada Ara, namun saat mendengar suara ponsel milik Miya berbunyi, ia mengurungkan niatnya dan beralih menatap Miya yang terlihat setengah hati mengangkat panggilan telfonnya.


“Iya, Ma?” sahut Miya pada panggilan telfonnya, yang ternyata dari mamanya.


Melihat wajah Miya yang terus saja di tekuk selama menerima panggilan dari mamanya, membuat Arumi merasa tidak sabar untuk menanyakan masalah sahabatnya itu.


“Ada apa?” tanya Arumi cepat saat Miya baru saja mengakhiri panggilannya.


“Mama terus saja mengancamku, katanya kalau minggu ini aku nggak bener-bener pulang, mama gak akan mengirimiku uang bulanan lagi,” jawab Miya cemberut.


“Masih pasal perjodohan itu?” tanya Ara dan dijawab dengan anggukan oleh Miya.


“Ya udah pulang aja dulu, kalau kamu udah ketemu dengan pria itu, trus kamu nggak suka dengannya, kan kamu tinggal bilang ke orang tua kamu… setidaknya kamu sudah punya alasan untuk menolaknya,” imbuh Ara.

__ADS_1


“Kalau begitu kalian ikut aku pulang ya?”


“Nggak!” jawab Ara dan Arumi bersamaan.


“Jahat!” ucap Miya mencebikkan bibirnya.


“Bagaimana kalau aku nggak suka, lalu mama tidak memperbolehkanku menolaknya?”


“Ya tinggal kabur aja,” sahut Arumi cepat. “Kenapa juga kau tidak meminta mama kamu mengirimkan foto pria itu?” tanyanya antusias, yang sebenarnya juga ikut penasaran dengan rupa pria yang akan dijodohkan dengan sahabatnya itu.


“Udah, tapi mama nggak mau, alasannya biar aku penasaran katanya. Tapi kata mama, aku nggak bakal nyesel katanya.”


“Itu hanya akal-akalan mama kamu, biar kamu pulang…. Aku jadi curiga, jangan-jangan yang mau dijodohkan denganmu itu aki-aki yang hartanya gak bakalan habis tujuh turunan,” ucap Arumi tertawa.


“Ih apaan sih, amit-amit… amit-amit…” jawabnya bergidik seraya bergantian mengetuk-ngetuk kepalanya dan meja di hadapannya.


“Arumi apaan sih, orang tua Miya nggak semiskin itu sampai harus menyerahkan anaknya pada aki-aki,” ucap Ara, membuat Miya mengangguk membenarkan ucapannya. “Seperti pengusaha-pengusaha pada umumnya, mungkin demi melancarkan bisnis papanya, Miya hanya akan dinikahkan sama om-om yang perutnya buncit,” ucap Ara tertawa, membuat Arumi ikut terbahak membenarkan ucapan Ara.


“Araaa…” ucap Miya memelas.


“Bercanda sayang,” ucap Ara menyudahi tawanya dan berkali-kali mengucapkan kata maaf pada sahabatnya itu.


Ara menggenggam tangan Miya dan menatap serius pada sahabatnya itu, “terima saja apa yang diinginkan orang tua kamu, aku yakin orang tua kamu sudah memilih pria yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Tidak ada orang tua yang asal memilih pasangan hidup untuk anak-anak mereka. Pernikahan bukan untuk satu atau dua hari, tapi Insya Allah untuk selamanya. Jadi aku yakin pria ini adalah pria yang terbaik dari sekian pria baik yang jadi pilihan orang tua kamu,” ucap Ara bijak.


“Baiklah akan aku coba,” ucap Miya memaksakan senyumannya.


***


Tiit…tiitt…tiitt…


“Lama banget sih?” teriak Arumi dari dalam mobil.


“Makanya bantuin,” jawab Miya cemberut, menarik kopernya, kemudian memasukkannya ke dalam bagasi sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


“Kopermu besar sekali,” ucap Ara yang ikut masuk ke dalam mobil sambil menenteng tas kecil milik Miya. “Apa kau akan lama?” tanyanya.


“Tidak juga, hanya beberapa hari.”


“Oh begitu, aku pikir kau tidak akan kembali,” ucap Ara tertawa.


“Ya kembalilah! aku pasti akan sangat merindukan kalian,” ucapnya dibuat memelas.


“Jangan lebay, bukannya kau hanya pergi beberapa hari?” ucap Arumi jengah, dan mulai menjalankan kendaraannya yang akan mengantarkan Miya ke bandara.


Seperti permintaan mamanya, hari ini Miya harus pulang ke Surabaya, karena malam ini ia akan dipertemukan dengan calon tunangannya, yang masih sangat misterius baginya.


Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan bagaimana rupa calon tunangannya itu. Beberapa ide untuk menolak ataupun kabur dari perjodohannya pun sudah terpikirkan olehnya semalam.


“Bagaimana kalau orang tuamu langsung menikahkanmu? Apa kau tidak akan kembali?” tanya Ara santai.


Miya sejenak memikirkan kata-kata Ara, melihat dari sikap mamanya yang memaksanya untuk pulang, bagaimana kalau orang tuanya benar-benar akan menikahkannya, dengan membuat alasan hanya ingin mengenalkan keduanya terlebih dahulu.


“Stoooopp!” teriak Miya, membuat Arumi dengan cepat menginjak pedal rem.

__ADS_1


“Ada apa? apa kau melupakan sesuatu?” tanya Arumi sedikit panik.


“Kita balik saja, aku gak jadi pulang.”


“Kenapa?” tanya Arumi sedikit kesal.


“Benar kata Ara, bagaimana kalau aku akan dinikahkan?”


“Astaga, kamu jangan gila ya.” Arumi kembali menjalankan kendaraannya tanpa perduli dengan kekhawatiran Miya yang menurutnya terdengar lucu saat sahabatnya itu terus saja mengoceh tidak ingin dinikahkan oleh kedua orang tuanya.


“Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu takut?" ucap Ara. “lagi pula kalau itu benar terjadi, kau tenang saja kami bakalan datang kok, kami tidak mungkin melewatkan pernikahan sahabat kami. Iya kan, Mi?” ucap Ara yang mendapatkan pembenaran dari Arumi.


“Arumi balik ya...” rayu Miya pada Arumi.


“Tidak!” jawab Arumi cepat dan penuh penekanan, membuat Miya hanya bisa membuang nafasnya kasar. Bukankah ia memang tidak pernah menang melawan Arumi.


***


Charlie's Angels


Miya : Aku sudah tiba


Ara : Alhamdulillah


Arumi : Syukurlah.. Cieee yang sebentar lagi bertemu calon suami


Miya : Calon suami apaan!! Kata mama dia tiba-tiba saja ada urusan bisnis di luar kota, jadi nunggu dia pulang dulu.. Menyebalkan bukan??


Arumi : Apa mungkin dia kabur?


Ara : Iya sepertinya, mungkin dia sama seperti Miya tidak menginginkan perjodohan ini


Miya : Syukurlah, semoga saja dia tidak akan kembali


Arumi : Lalu bagaimana denganmu?


Miya : Jika dalam seminggu dia tidak muncul, aku akan balik ke Jakarta


Ara : Baiklah, kalau begitu istirahatlah, aku merindukanmu 🤗


Miya : Iya aku juga sangat merindukan kalian, good night 😘


Arumi : Sayangnya aku nggak!


Miya : Jahat 😔


Ara : Emang!! 🙄


.


.


.

__ADS_1


Bagi like and coment nya yaa pembaca yang budiman 🤗❤


__ADS_2