Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 49


__ADS_3

"Ibra, Bima anaknya baik kan?" tanya Mama Reta. Saat mereka sudah dalam perjalanan pulang. Namun Ibra hanya terdiam, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan mamanya.


"Bagaimana kalau mama menjodohkannya dengan Rissa? apa kamu setuju?" tanya Mama Reta lagi.


"Tidak! Ibra tidak setuju."


"Kenapa?"


"Ma, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Mama juga tidak bisa menyimpulkan dia pria yang baik, hanya karena merasa dia asik saat di ajak berbicara," ucap Ibra sedikit kesal.


"Tapi mama yakin kok, dia anak yang baik." Mama Reta lalu beralih pada Ara. "Ara, menurutmu bagaimana dengan Bima, dia baik kan?" tanya mama Reta.


"Ya?" Ara mengernyit bingung. Lalu melirik ke arah kaca spion, guna melihat pantulan wajah suaminya, yang ternyata juga tengah menapnya sari pantulan kaca spion yang sama.


Dan entah mengapa Ara merasa ada yang berbeda dengan tatapan suaminya. Pria itu juga terus terdiam, setelah pertemuannya dengan Bima.


"Menurutmu apa mereka cocok?" tanya Mama Reta lagi.


"Ara nggak tau, Ma. Sebaiknya Mama minta pendapat Rissa dulu," jawab Ara ragu. Takut jika ia sampai salah menjawab.


"Sudah, tapi sepertinya Rissa tidak tertarik," ucap Mama Reta mendengus.


"Biarkan Rissa memilih pasangan hidupnya sendiri. Mama tidak perlu mencemaskannya. Lagi pula Rissa masih sangat muda, jadi tidak perlu terburu-buru menjodohkannya," tutur Ibra.


"Tapi setidaknya kita sudah mengenal baik dengan keluarga Jeng Marni. Mereka semua orang yang baik." Mama Reta mencebik, menyayangkan sikap putranya yang tidak mendukung idenya.


Setelah berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumahnya, Ibra turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah mendahului istri dan mamanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Mama Reta, melihat sikap putranya yang nampak acuh. Sangat berbeda ketika mereka berada di mall tadi, yang seperti enggan berjauhan dengan istrinya.


"Nggak tau juga." Ara tertawa kecil. Meski sebenarnya ia juga bingung dengan sikap pria itu.


Ia bahkan tidak merasa telah berbuat kesalahan. Dan tidak mungkin juga suaminya itu marah, hanya karena rencana Mama Reta yang ingin menjodohkan Rissa dengan Bima.


"Ma, Ara naik dulu ya," pamit Ara, saat mereka sudah berada di dalam rumah.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Istirahatlah, kamu pasti capek."


Ara naik ke lantai atas dengan terburu-buru. Sudah tidak sabar ingin mempertanyakan tentang perubahan sikap suaminya.


"Apa kamu memiliki hubungan dengan Bima?" tanya Ibra, saat Ara baru saja masuk ke dalam kamar. Membuat Ara sedikit terkejut.


"Maksud kak Ibra?" Ara menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan suaminya.


"Entah mengapa aku merasa kalian pernah memiliki hubungan yang spesial sebelumnya." ucap Ibra ketus.


"Kak Ibra..." Ara tidak tau lagi ingin memberi tanggapan apa atas pernyataan suaminya. Ia justru lebih memikirkan dari mana suaminya itu tahu tentang hubungannya dengan Bima sebelumnya.


"Sangat aneh rasanya, saat melihat kalian yang tidak saling bertegur sapa layaknya dosen dan mahasiswanya... Dan mungkin kamu tidak menyadarinya, tingkahmu saat berada di depannya itu sangat aneh. Kamu bahkan terus saja salah tingkah."


"Maksud Kakak apa sih?" Ara menautkan kedua alisnya. Merasa semakin tidak suka dengan ucapan suaminya.


"Apa aku salah jika mengatakan kalian mantan kekasih? Apa kamu masih memiliki perasaan padanya?"


"Maksud Kakak apa? Kami bahkan tidak pernah memiliki hubungan yang seperti itu," ucap Ara sedikit kesal.


"Benar kan?"


"Aku rasa itu benar."


Ibra yang melihat Ara terus terdiam, dan tidak berniat menjawab pertanyaannya, merasa amat kecewa. Diamnya wanita itu, sudah cukup membuktikan bahwa semua ucapannya itu benar. Padahal, ia amat berharap istrinya itu menyangkal semuanya. Tapi itu tidak terjadi.


Ibra lalu memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Namun baru saja ia memutar gagang pintu kamarnya, niatnya terhenti tatkala Ara memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi!" pintanya, yang kemudian semakin mengeratkan pelukannya. "Kami bahkan tidak memiliki hubungan yang seperti itu. Dia memang mengajakku bertunangan, dia bahkan sudah meminta izin ke Ayah. Tapi setelah itu dia tiba-tiba mengindariku tanpa penjelasan... Aku tidak pernah tau perasaan apa yang aku miliki untuknya saat itu. Aku hanya merasa bahagia saat ada seseorang yang ingin serius denganku... Tapi perasaan itu sudah tidak ada lagi, aku bahkan tidak pernah berniat meminta penjelasan padanya. Aku hanya merasa malu jika bertemu dengannya, karena itu aku berusaha menghindarinya," tutur Ara menjelaskan.


"Aku tidak mungkin memiliki perasaan yang lebih padanya. Saat ini aku sudah punya Kak Ibra dan itu sudah cukup bagiku. Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan Ara lagi," pintanya yang sudah menangis.


Ibra melepaskan pegangannya pada gagang pintu. Menghela napasnya, merasa bersalah dengan ucapannya.


Ia lalu melepaskan pelukan Ara dan membalikkan tubuhnya. Menatap wajah wanita itu sesaat, dan beralih mendekap tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Maaf!" ucapnya, seraya menciumi pucuk kepala istrinya. "Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku janji," imbuhnya.


Mendengar ucapan suaminya, membuat Ara membalas pelukan pria itu, dan semakin terisak di pelukan pria itu.


Ibra yang mendengar tangisan istrinya, tertawa kecil tanpa bersuara, merasa lucu dengan tingkah wanita itu.


"Hei, berhentilah menangis. Maaf sudah berpikiran yang buruk terhadapmu... Aku jadi semakin yakin, kalau dia itu bukan pria yang baik. Bagaimana bisa dia meninggalkan gadis cantik, lucu dan hobi menangis sepertimu," ucap Ibra terkekeh. Membuatnya harus mendapatkan cubitan dari istrinya.


"Aw! Aku yang hanya mengatakan kamu hobi menangis saja kamu cubit. Tapi kenapa kamu tidak memukulnya saat dia sudah jelas-jelas mempermainkan perasaanmu," tutur Ibra.


"Jangan dibahas," sahut Ara, yang kemudian semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa perlu aku melakukannya untukmu?" tawar Ibra.


Ara melepaskan pelukannya. "Jangan coba-coba!"


"Apa kau masih membelanya?"


"Dia bahkan guru seni beladiri di kampus. Aku hanya mengkhawatirkan Kakak."


"Apa kau meremehkanku?" sahut Ibra, namun tidak ditanggapi oleh Ara.


"Sudah hampir magrib, Ara mau mandi dulu." Ara kemudian meninggalkan Ibra dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandi bareng!" teriak Ibra.


"Nggak!" teriak Ara, yang dengan segera menutup pintu kamar mandi.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥

__ADS_1


__ADS_2