Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 37


__ADS_3

Seharian Ara menghabiskan waktunya dengan berbincang bersama Mama Reta dan Rissa. Dan saat ini ia telah bersiap untuk tidur, setelah tadi membersihkan dirinya. Sedang, Ibra yang keluar sejak sore tadi, belum juga kembali hingga saat ini.


Ara yang sedang duduk di tepi ranjang sembari memikirkan dimana dirinya akan tidur, dikejutkan dengan kedatangan Ibra.


"Sudah mau tidur?" tanya Ibra.


"Iya!" Ara berdiri dari duduknya dan melangkah sedikit menjauh dari tempat tidur milik Ibra.


Rasanya ia begitu malu, kedapatan duduk di tempat tidur milik pria itu.


"Ya sudah, kalau begitu istirahatlah. Saya mau mandi dulu." Ibra bergegas masuk ke dalam kamar mandi, setelah sebelumnya mengambil baju ganti di lemari miliknya.


Setelah menyelesaikan mandinya, Ibra keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Sebuah boxer selutut dan sebuah kaos melekat di tubuhnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ibra, saat melihat Ara yang masih sibuk dengan ponselnya di atas sebuah sofa.


Tanpa ia tahu, kalau ponsel yang ada di genggaman wanita itu hanya sebuah pengalihan, dari rasa bingungnya, dimana ia akan tidur.


"Iya, ini sudah mau tidur." Ara lalu berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah tempat tidur, meraih sebuah bantal yang masih tersusun rapi disana dan membawanya ke sofa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ibra, menautkan kedua alisnya.


"Saya akan tidur disini," jawab Ara.


"Jangan. Badanmu akan sakit jika tidur disana. Kita akan berbagi tempat tidur. Dan saya janji tidak akan menyentuhmu," ucap Ibra.


"Nggak apa. Sofanya juga sangat empuk," ucapnya, seraya menekan-nekan sofa tersebut.


"Apa kau tidak mempercayaiku?" ucapnya, menatap lekat wanita itu.


Ara yang merasa segan dengan tatapan yang Ibra layangkan padanya, dengan segera menggelengkan kepalanya, "ah, nggak! Ya sudah baiklah kita akan tidur bersama."


Ara meraih kembali bantal yang tadi sempat ia letakkan di atas sofa, dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.


Ibra ikut berjalan ke arah tempat tidur. Saat ini ia sangat lelah, dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


Sebelum membaringkan tubuhnya, ia menatap Ara yang masih saja terduduk di sisi ranjang, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidurlah! Saya tidak akan berbuat yang macam-macam padamu.... Kamu juga bisa membuka jilbabmu saat berada di kamar. Bukankah saat ini saya sudah menjadi suami kamu?"


Ara sedikit tercengang mendengar penuturan pria itu. Namun, juga tetap mengiyakan segala ucapan suaminya itu.


Setelah melihat Ibra membaringkan tubuhnya, dengan posisi memunggunginya, Ara perlahan membuka jilbabnya dan ikut membaringkan tubuhnya di samping pria tersebut. Dengan posisi yang sama-sama saling memunggungi.


Ara berulang kali membalikkan tubuhnya, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman. Sangat aneh rasanya tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria. Hingga akhirnya ia berniat mencoba posisi yang sejak tadi ia hindari.

__ADS_1


Ia perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Ibra. Ia menatap lekat punggung pria itu. Memikirkan bagaimana akhirnya dirinya berada dalam sebuah ikatan pernikahan dengan pria itu. Sungguh, tidak pernah terbayang olehnya, sebelumnya.


Saat sedang asik dengan lamunannya, Ara dibuat terkesiap saat Ibra membalikkan tubuhnya menghadap padanya. Membuat jantungnya berdegup kencang. Namun ia merasa sedikit lega saat melihat mata Ibra yang tetap terpejam.


Ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar, seraya memegang dadanya, yang masih berdebar kencang.


"Kenapa belum tidur?"


Ara dibuat semakin terkejut saat melihat mata Ibra yang ternyata sudah terbuka lebar. Dan tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu, Ara dengan segera membalikkan tubuhnya, kembali memunggungi pria itu. Merasa begitu malu dengan tingkahnya. Membuat Ibra tertawa kecil melihatnya.


"Bagaimana bisa aku menahan diri, saat dia berada disampingku."


Kali ini, Ibra benar-benar menyesali keputusannya untuk tidur bersama wanita itu. Ia bangkit dari tidurnya, dan menuju ke kamar mandi.


Ara yang melihat kepergian Ibra, dengan cepat menghela napasnya. Ia perlahan mengatur napasnya, yang sejak tadi memburu, sebelum nanti Ibra keluar dari kamar mandi.


***


Sama seperti biasanya, Ara akan terbangun dengan sendirinya pada pukul lima. Ara turun dari tempat tidur dengan begitu perlahan, takut membangunkan Ibra yang masih tertidur lelap.


Ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Saat keluar dari kamar mandi, Ara sedikit terkejut, saat melihat Ibra yang sudah bangun dan menatap ke arahnya.


"Mau sholat?" tanya Ibra.


"Mau sholat berjamaah?" tawar Ibra.


Ara tersenyum, dan kembali menganggukkan kepalanya, "iya, boleh."


"Kalau begitu, tunggu ya!" Ibra dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Membuat Ara tertawa kecil melihatnya.


Setelah sholat, Ara meraih tangan Ibra dan menciumi punggung tangan pria itu. Membuat Ibra melebarkan senyumnya. Ada rasa hangat yang dirasakan Ibra saat Ara melakukannya, ingin rasanya ia mencium kening istrinya itu. Bukankah seharusnya memang seperti itu.


"Mulai saat ini kita akan terus berjamaah. Ingatkan saya, jika saya lupa untuk sholat." pinta Ibra, dan dijawab dengan anggukan oleh Ara.


"Mau tidur lagi?" tanya Ibra lagi.


"Nggak, mau tadarrusan aja," jawab Ara.


"Baiklah, kalau begitu saya tidur lagi ya. Masih ngantuk." Ibra menggaruk tengkuknya, merasa malu dengan istrinya itu.


"Iya, tidurlah," ucap Ara, tertawa kecil.


"Jam tujuh, bangunkan saya ya!" pintanya. Yang kemudian mendapat anggukan dari istrinya itu.


***

__ADS_1


Setelah tadarrusan, Ara turun ke lantai bawah. Berpikir, mungkin saja ada yang bisa ia kerjakan di rumah itu, sembari menunggu jam bangun suaminya.


Ia kemudian tersenyum lebar, saat mendapati Mama Reta yang sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan.


"Ada yang bisa Ara bantu, Ma?" tanyanya, berjalan mendekati mertuanya itu.


"Ara!" Mama Reta tersenyum lebar melihat kemunculan menantunya, "ayo sini, Sayang," ucapnya, yang kemudian beralih pada asisten rumah tangganya yang biasa membantunya menyiapkan sarapan. "Bi Ija bisa kerja yang lain. Biar Ara yang membantu saya."


"Iya, Bu," sahut Bi Ija.


Mereka lalu membuat sarapan bersama, dengan arahan Mama Reta.


"Mempunyai ayah seorang chef, pasti membuatmu terbiasa makan makanan yang enak-enak. Masakan mama tidak ada apa-apanya," ucap Mama Reta merendah.


"Nggak kok, Ma. Masakan Mama sangat enak. Nanti ajari Ara masak ya, Ma. Ayah nggak pernah ngajarin Ara masak," ucap Ara mencebik.


"Memiliki ayah seorang chef handal, mama pikir kamu akan jago masak meski tanpa belajar," ucap mama Reta tertawa.


"Emang bisa ya, Ma?" tanya Ara yang juga ikut tertawa. "Nanti Ara coba masak deh, siapa tau aja ucapan Mama benar. Nanti, Mama yang cobain ya?" imbuhnya.


"Mama jadi ragu dengan ucapan mama," ucap Mama Reta. Membuat keduanya tertawa.


"Kau tahu, Papa tidak pernah mau makan, kalau bukan mama yang masak. Sangat merepotkan. Padahal seharusnya nyonya rumah seperti mama kan duduk santai saja di kamar, tanpa mengerjakan apa pun," adu Mama Reta.


"Ara juga seperti itu, Ma. Hanya mau makan masakan Ayah. Berarti selama ini Ara sangat merepotkan Ayah." Ara tersenyum getir, mengenang kembali sosok ayahnya.


Melihat wajah menantunya yang tiba-tiba berubah sendu membuat Mama Reta menjadi tidak enak hati.


"Tapi mama hanya bercanda, kok. Mama malah sangat menikmatinya. Ada rasa puas tersendiri saat melihat orang yang kita cintai menikmati masakan kita.... Mama pikir itu adalah bentuk rasa cinta yang begitu besar, yang membuat kalian ingin diperhatikan sepenuhnya. Dan itu sangat membanggakan bagi mama, saat semuanya dipercayakan kepada mama," tutur Mama Reta. Yang kemudian mendapat anggukan dari Ara.


"Sudah selesai semuanya. Sekarang kamu bangunkan Ibra ya. Biar nanti Bi Ija yang menyiapkannya di atas meja."


"Iya, Ma." sahut Ara, yang kemudian beranjak naik ke kamarnya.


Saat berjalan ke kamarnya, Ara terus saja teringat dengan ayahnya. Ia juga teringat dengan perkataan Rudi yang mengatakan bahwa ayahnya kehilangan restorannya karena dirinya. Dan juga, kecelakaan ayahnya mungkin terjadi karena dirinya.


"Apa selama ini ayah begitu menderita memiliki Ara?" batinnya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2