Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 53


__ADS_3

Ara terlihat begitu fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Bukan karena ia begitu menikmati hidangan tersebut, melainkan mencoba menghindari percakapan wanita di hadapannya. Meski itu tidak mungkin.


Saat ini Ara dan Sarah sedang makan siang bersama di kantin kantor. Sebenarnya Ara sangat enggan untuk makan bersama wanita itu, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menghindarinya.


"Ara, bagaimana kau bisa mengenal Mas Ibra?" tanya Sarah membuka percakapan.


"Saya berteman baik dengan adik Kak Ibra, karena itu saya mengenal kak Ibra dari Rissa, adiknya," jawab Ara.


"Lalu kalian berpacaran?"


"Nggak!" jawabnya pendek. Ia benar-benar sangat malas untuk membahas tentang hubungannya dengan suaminya pada Sarah.


"Tapi bagaimana kalian bisa menikah? apa kalian dijodohkan?" tanya Sarah penasaran.


Ara memicing, merasa sedang diinterogasi oleh wanita itu. Bukankah wanita itu cukup tahu saja kalau ia adalah istri Ibra, kenapa juga Sarah harus menanyakan semuanya. Tapi meski pun kesal, ia tetap berusaha menjawab semuanya dengan tenang.


"Nggak juga. Kak Ibra tiba-tiba saja mengajakku menikah."


"Sungguh? Apa dia seputus asa itu?" Ucapan Sarah membuat Ara menautkan kedua alisnya.


"Maksud Mba Sarah?"


"Apa kau tau kalau Mas Ibra itu mantan Mba Viona, kakak saya?" tuturnya. Yang kemudian mendapatkan gelengan dari Ara.


"Iya, mereka sudah berpacaran selama 5 tahun. Tapi Mba Viona sangat bodoh, dia menghianati Mas Ibra dan menikah dengan orang lain.... Dan saya pikir, mungkin karena itu Mas Ibra menikahimu agar bisa melupakan Mba Viona. Karena semua orang juga tahu kalau Mas Ibra sangat mencintai Mba Viona," jelasnya.


Ara tersenyum kaku, "Iya mungkin saja, karena saat itu saya juga tidak mengerti mengapa Kak Ibra tiba-tiba mengajakku menikah."


"Tapi kau sangat beruntung bisa memiliki Mas Ibra. Kau tau, dulu saya selalu cemburu melihat perlakuan Mas Ibra pada Mba Viona. Saya sampai berharap kalau mereka akan putus dan saya bisa memiliki Mas Ibra."


Ara tersentak dan menatap lekat wanita di hadapannya. Apa wanita itu sedang mengungkapkan perasaannya, yang sebenarnya menyukai suaminya.


"Apa Mba Sarah juga menyukai Kak Ibra?" tanya Ara menyelidik.


"Iya, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi karena dia sudah menjadi milikmu," ucap Sarah tersenyum dengan begitu santainya. Tanpa tahu bagaimana dengan perasaan Ara.


Sepanjang jam istirahat, Sarah terus saja bercerita tentang perlakuan Ibra padanya saat masih berpacaran dengan Viona. Ibra yang begitu baik padanya, yang selalu memperhatikannya, bahkan membelikannya barang-barang yang ia inginkan.


Ara hanya mendengarnya dan menanggapi seadanya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa wanita itu menceritakan semuanya. Bukankah wanita itu wanita yang berpendidikan, bagaimana bisa ia sangat bodoh dalam memilah ucapan yang keluar dari mulutnya. Yah, terkecuali jika ia memang sengaja melakukannya. Dan saat ini Ara benar-benar cemburu karenanya.


***


Sore hari, saat akan pulang Sarah kembali menghampiri Ara.


"Apa Mas Ibra menjemputmu?" tanya Sarah.

__ADS_1


"Nggak, Mba. Mobil saya ada disini."


"Iya juga yah... padahal saya masih sangat rindu dengan Mas Ibra. Kapan-kapan saya kerumah kamu ya?"


Ara mengangguk kecil. "Iya, boleh!" ucapnya, yang tidak sejalan dengan hatinya.


***


Malam harinya, Ara mencoba untuk mengatakan semuanya pada Ibra. Ia tidak bisa terus-terusan menyembunyikan perasaannya.


Setelah sholat maghrib dan melipat mukenahnya, Ara menghampiri Ibra yang sedang duduk di sofa, sedang sibuk dengan ponselnya tanpa melepas baju kokonya.


"Kak Ibra?" panggilnya, setelah berhasil mendudukkan dirinya di samping suaminya.


"Hm!" sahut Ibra, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Apa Kak Ibra kenal dengan Mba Viona?" tanya Ara lirih, takut jika Ibra sampai marah. Dan hal itu berhasil membuat Ibra menatap ke arahnya.


"Apa Sarah memberi tahumu?" Ara mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Iya, kami mantan kekasih, dan itu masa lalu. Jadi sudah ya jangan di bahas lagi." Ibra lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Apa waktu itu Kakak mengajakku menikah karenanya? Agar Kak Ibra bisa melupakannya?" tanya Ara lagi.


Ibra menghembuskan napasnya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan membalikkan tubuhnya menghadap Ara.


"Tapi bukankah Kak Ibra sangat mencintainya? pasti sangat sulit untuk melupakannya."


"Iya benar... tapi setelah menikah denganmu, aku benar-benar melupakannya dengan cepat." Ibra tersenyum kecil seraya mengusap lembut wajah istrinya.


"Lalu bagaimana dengan Mba Sarah? apa Kak Ibra juga menyukainya?"


Ibra terkekeh, mengubah usapan lembutnya menjadi sebuah cubitan di pipi istrinya itu. "Apa kamu sedang bercanda? Bagaimana bisa aku menyukai adik kekasihku!"


"Tapi Mba Sarah menyukai Kak Ibra. Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Dia juga menceritakan semua kebaikan Kakak padanya," ucapnya bersungut, seraya mengusap pipinya yang mendapat cubitan.


"Astaga! Dan kamu percaya? Dia itu sedang mempermainkanmu. Kakak yakin, jika Sarah tau kamu sedang menginterogasiku saat ini, dia pasti akan tertawa karena berhasil mengerjaimu." Ibra terbahak dan menggeleng. Ia tidak menyangka Sarah benar-benar sedang mengerjai istrinya.


"Beneran?" tanya Ara meyakinkan. Sebab hingga saat ini ia masih yakin kalau Sarah serius dengan ucapannya.


"Iya... lagipula aku baik padanya karena dia adik kekasihku. Kalau saja saat ini kamu punya adik perempuan aku pasti akan melakukan hal yang sama padanya. Karena adikmu, adikku juga," ucap Ibra menangkup kedua pipi Ara.


"Tapi syukurlah kamu tidak mempunyai adik perempuan. Hampir saja kamu cemburu dengan adikmu sendiri," ucap Ibra menggoda.


"Kak Ibra..." sahut Ara kesal.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu sekarang kamu ganti baju dan dandan yang cantik." Ibra menarik tangan Ara, membantu wanita itu berdiri.


"Mau kemana?" tanya Ara.


"Kita akan makan malam berdua," bisiknya. "Kamu jangan memberi tahu Mama dan Rissa, kakak tidak mau mereka mengganggu makan malam kita."


Ara mengangguk dan mengiyakan. Sebelum akhirnya bergegas mengganti pakaiannya dan berdandan cantik seperti permintaan suaminya.


***


Setelah berhasil mendudukkan dirinya, Ara mengedarkan pandangannya mengamati suasana restoran yang terkesan romantis. Sebuah ruangan bergaya Eropa dengan langit-langit tinggi, jendela-jendela yang bergaya klasik, serta pencahayaan yang sengaja dibuat temaram menambah kesan romantis pada restoran yang berada di salah satu hotel ternama itu.


Dan Ara sedikit terkesiap saat beberapa pelayan datang menyuguhkan beberapa menu makanan, yang bahkan belum mereka pesan.


Ara tersenyum kecil, menatap pria di hadapannya yang juga sedang tersenyum padanya. Ternyata suaminya itu memang telah merencanakan ini semua, yang awalnya ia pikir hanya sebuah makan malam dadakan.


Dan ia dibuat semakin terkesiap, tatkala pelayan terakhir meletakkan sebuah Black Forest dengan ukuran sedang yang bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Istriku' di atasnya.


Ara tertawa, saat tersadar dengan hari spesial itu. Ia kembali menatap Ibra, merasa cukup terharu. Ia sendiri bahkan lupa kalau hari ini adalah hari jadinya. Sebab sejak dulu ia memang tidak begitu suka merayakan hari ulang tahunnya.


"Terimakasih ya, Kak," ucap Ara tulus.


"Iya... harapannya kamu jangan cengeng-cengeng lagi ya!" tuturnya tertawa.


"Kak Ibra..." ucap Ara manja, membuat Ibra semakin tertawa.


"Pantas saja Arumi memaksaku untuk ke rumah Miya. Aku yakin saat ini mereka sedang menyiapkan sebuah kue dengan lilin bertuliskan angka 22 di atasnya." Ara tersenyum membayangkan usaha yang mungkin sedang direncanakan oleh kedua sahabatnya.


Sedari tadi Arumi dan Miya memang bergantian mengirim pesan padanya, memaksanya untuk datang ke rumah Miya.


"Sepulang dari sini kita kesana ya kak?" pintanya.


"Iya beres... Oh iya ini kado dari Kakak, tapi bukanya di rumah saja ya." Ibra menyodorkan sebuah kado berpita merah pada Ara.


"Terima kasih ya, Kak. Jadi penasaran... emang gak boleh dibuka disini aja ya?"


"Jangan!" ucap Ibra cepat.


"Kalau di bukanya harus di rumah, kenapa nggak di berikan nanti aja kalau udah di rumah," cebik Ara.


"Iya juga ya." Ibra menggaruk pelipisnya, merasa bodoh. "Sudah jangan cemberut lagi, melihatmu seperti itu membuatku ingin merayakannya di kamar saja," ucap Ibra tertawa. Ia memang selalu merasa gemas saat melihat wajah istrinya yang sedang cemberut.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2