Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 47


__ADS_3

Ara berangkat ke kampus dengan diantarkan oleh Ibra. Meski sebenarnya hari ini ia begitu lelah, namun ia harus mengurus beberapa hal di kampusnya, karena akan melakukan magang.


"Pulang jam brapa?" tanya Ibra, setelah menghentikan laju mobilnya.


"Belum tau." Ara mencium punggung tangan Ibra. Membuatnya mendapatkan kecupan di keningnya dari suaminya itu.


"Pulangnya aku jemput, ya!"


"Iya. Aku akan menghubungi Kakak, jika sudah selesai." Ara turun dari mobil  dan melambaikan tangannya pada suaminya, setelah sebelumnya mengucapkan hati-hati pada pria itu.


Hari senin nanti, Ara dan kedua sahabatnya akan melakukan magang di tempat yang berbeda. Sebenarnya Ibra sedikit kecewa saat tahu istrinya akan magang di sebuah perusahaan kecil. Sebab, Ara tidak pernah memberi tahunya sebelumnya, bahwa ia akan melakukan magang. Jika saja istrinya itu mengatakannya, mungkin ia akan menyarankan untuk magang di perusahaan milik papanya saja.


Setelah menyelesaikan semua urusannya, Ara dan kedua sahabatnya berencana untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama, sebelum mereka magang. Karena jika sudah magang, maka waktu untuk mereka bertemu akan terbatas. Memikirkan perusahaan tempat mereka magang yang berbeda.


Dan Ara tidak lupa memberi kabar pada Ibra sebelumnya. Agar suaminya itu tidak perlu lagi menjemputnya.


Saat ini, ketiganya telah berada di dalam mobil yang dikendarai Arumi. Karena asik berbincang dan tertawa saat akan keluar dari area kampus, Arumi secara tidak sengaja menabrak mobil yang melaju di hadapannya.


"Astagfirullah!" pekik ketiganya, hampir bersamaan.


Arumi dengan segera turun dari mobilnya, guna memeriksa mobil yang di tabraknya. Dan diikuti oleh kedua sahabatnya.


"Maaf, saya nggak sengaja," ucap Arumi pada wanita yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Kamu bisa bawa mobil nggak, sih!" maki wanita itu. "Astaga, kalian lagi?" imbuhnya, saat melihat ketiganya.


Ketiganya pun tidak kalah terkejut, saat menyadari wanita di hadapannya. Yang tidak lain adalah Novi, tunangan Dion.


"Mimpi apa aku semalam, harus berurusan sama nih, nenek lampir," lirih Arumi, yang hanya didengar oleh kedua sahabatnya.


Arumi menggaruk-garuk keningnya, merasa jengah mendengar omelan wanita di hadapannya.


"Iya, maaf. Saya akan tanggung jawab kok," tutur Arumi.


"Emang harus, kan! Kecuali kalau kamu mau saya laporkan ke polisi."


"Masalah begini doang, mau dipolisikan," ketus Miya.


"Ya udah. Mba bawa aja mobilnya ke bengkel, nanti biayanya biar saya yang tanggung," tutur Arumi.


"Kamu menyuruh saya membawa mobil saya sendiri ke bengkel?"


"Lalu? Mba mau saya yang membawanya?" Arumi menautkan kedua alisnya. Tidak mengerti dengan keinginan wanita di hadapannya.


"Tentu saja!" ketusnya.

__ADS_1


"Mba nggak takut mobilnya saya bawa lari?" Arumi menaikkan sebelah alisnya. Berharap wanita itu menaruh kecurigaan padanya.


"Nggak! Kalau KTP kamu ada di saya." Novi menengadahkan tangannya dan menggoyang-goyangkan beberapa jarinya, meminta KTP Arumi.


"Astaga... Mba. Kami nggak akan lari kok," jawab Miya, sewot.


"Bukannya temen kamu tadi bilangnya kayak gitu?"


"Udah kamu kasi aja," ucap Ara pada Arumi.


Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka wanita di hadapannya itu begitu menyebalkan. Ia kemudian berjalan ke mobilnya dan mengambil KTP dari dalam dompetnya.


Novi yang akan meraih KTP milik Arumi, terhenti tatkala Miya dengan cepat menarik tangan Arumi yang memegang KTP tersebut.


"Tapi, Mba bukan penipu kan?" tanyanya curiga. Ya, mungkin saja wanita itu salah satu oknum penipu yang menggunakan identitas orang.


"Kamu pikir ada, penipu yang berpenampilan secantik saya?"


"Jangan salah, Mba. Penipu itu bukan pengemis, karena itu saya mempertanyakannya," ucap Miya tidak mau kalah.


"Kamu ini ya?" Novi mengeraskan rahangnya, merasa kesal dengan Miya.


Arumi yang sejak tadi tersenyum kecil mendengar pertanyaan Miya, menarik tangannya dari genggaman Miya. "Udah, ah!" ucapnya yang kemudian menyerahkan KTP miliknya.


"Jangan lupa catet nomer saya. Nanti kalau mobilnya udah selesai, kamu hubungi saya."


Dan setelah menyerahkan kunci mobilnya, wanita itu pergi dengan menggunakan taksi.


"Kalau bukan tunangan Chef Dion, udah aku jadiin rengginang tuh, nenek lampir," ucap Arumi kesal.


"Udah sini, mobilnya biar aku yang bawa," sahut Ara.


"Jangan, aku aja. Nanti mau aku tabrakin lagi, biar makin hancur sekalian," ucap Miya, yang sejak tadi merasa amat kesal pada wanita itu.


"Enak aja, terus nanti dia minta tanggung jawabnya ke aku lagi." Sewot Arumi.


"Udah, ah. Kita ke bengkel sekarang," ajak Ara.


"Nih, kamu hati-hati bawanya." Arumi menyerahkan kunci mobil milik Novi pada Miya.


Mereka lalu melajukan kedua mobil tersebut menuju sebuah bengkel. Dan setelah menjelaskan kerusakan mobil Novi pada salah seorang montir yang ada disana, Arumi kembali melajukan mobilnya menuju sebuah kafe sesuai rencana mereka di awal.


Meski sebenarnya mobil Arumi sendiri sedikit penyok, tapi dia tidak perduli. Sebab, kerusakan mobilnya, bukan menjadi urusannya, melainkan menjadi urusan orang rumahnya.


***

__ADS_1


"Sampe sekarang aku masih sangat kesal sama tuh nenek lampir. Aku doain ya, semoga aja dia nggak berjodoh sama Chef Dion," ucap Miya kesal.


"Aamiin!" sahut Arumi cepat. Membuat kedua sahabatnya tertawa.


"Sepertinya kau masih sangat berharap dengan Chef Dion," ucap Miya tertawa.


"Nggak juga, aku hanya nggak suka kalau perempuan itu yang jadi istrinya."


"Iya, aku juga nggak begitu suka. Dia terlalu seksi." Ara kembali membayangkan penampilan wanita itu, yang menurutnya terlalu terbuka setiap kali melihatnya.


"Oh iya, jadi sekarang kalian memutuskan untuk menjalin hubungan suami istri beneran?" tanya Arumi, merujuk pada hubungan Ara dan Ibra.


"Iya," jawab Ara tersenyum kecil.


"Syukurlah! Aku bahagia mendengarnya."


"Iya, aku juga sangat bahagia mendengarnya. Jadi kalian telah melakukannya?" tanya Miya mengedip-ngedipkan matanya.


"Apaan sih!"


"Otak kamu tuh, ya!" ucap Arumi menoyor kepala Miya.


"Arumi... emang apa salahnya sih, bertanya seperti itu. Aku kan hanya penasaran." Cebik Miya.


"Kalau kamu kepengen, suruh tuh mas kamu nikahin kamu," tutur Arumi.


"Siapa juga yang mau. Aku kan cuma bertanya dia sudah melakukannya atau belum. Tinggal jawab iya apa nggak! Aku nggak minta dia menjelaskannya kok," ucap Miya kesal.


"Terserah!"


***


Ditempat lain, Novi terlihat masuk ke dalam sebuah kafe. Dan menghampiri seorang pria yang telah lebih dulu berada di dalam kafe tersebut.


"Kenapa sih, datang-datang cemberut begitu?" ucap pria tersebut.


"Sepertinya hari ini aku lagi sial deh. Dion marah lagi sama aku. Terus tadi pas mau kesini mobilku ketabrak," tutur Novi cemberut.


"Ketabrak? Bagaimana bisa? Terus kamu tidak apa-apa kan, sayang?" ucap pria itu khawatir. Sembari memeriksa seluruh bagian tubuh Novi.


"Nggak apa-apa kok, Sayang. Kamu nggak usah khawatir," ucap Novi tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥


__ADS_2