Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 59


__ADS_3

"Ibrahim!" panggil seseorang, saat Ibra dan Ara hendak keluar dari restoran.


Ibra dan Ara hanya pulang berdua, sebab kedua orang tuanya dan Rissa sudah pulang terlebih dahulu, beberapa saat yang lalu.


"Hei, Rafael! Kamu kapan baliknya?"


"Seminggu yang lalu." jawab Rafael.


Rafael memang telah tinggal di luar negeri setahun belakangan ini.


"Saya pikir kamu tidak akan kembali. Bukankah kehidupan di sana sangat menyenangkan?" kata Ibra tertawa.


"Iya, benar kata kamu disana sangat menyenangkan. Tapi entahlah, rasanya sangat hampa. Lebih nyaman di negeri sendiri." Rafael tertawa kecil, dan beralih menatap Ara. "Mungkin karena kebahagiaanku yang sesungguhnya berada disini," ucapnya tersenyum pada wanita itu.


"Ara?" sapa Rafael, tersenyum. Membuat Ara mengernyit keheranan. Sebab, ia merasa sangat asing pada pria di hadapannya.


"Apa kalian saling mengenal?" Ibra menatap Ara dan Rafael secara bergantian.


"Sepertinya tidak. Mungkin hanya saya yang mengenalnya," jawab Rafael tersenyum kecil.


"Benarkah? Apakah istriku sepopuler itu?" ucap Ibra tertawa. "Oh iya saya baru ingat. Saya pernah melihat Papa kamu di rumah istri saya." Ibra berbalik menatap Ara, yang juga sedang menatapnya bingung.


"Papanya? Rafael? Apa dia anak Om Jordan?"


"Iya, kebetulan orang tua kami berteman. Karena itu saya mengenalnya. Papa sering menceritakan tentang anak temannya yang katanya begitu cantik." Rafael kembali melemparkan senyumannya pada Ara. Membuat Ara merasa risih melihatnya.


Ibra tertawa dan mengangguk. "Ya, Papa kamu tidak salah lagi. Istriku memang wanita yang sangat cantik." Ibra merangkul tubuh istrinya, merasa bangga saat seseorang memuji kecantikan istrinya.


"Kalau begitu kami balik dulu ya, sepertinya istri saya sudah lelah," pamit Ibra, yang memang melihat Ara yang nampak tidak bersemangat.


"Baiklah! Kapan-kapan datanglah ke tempatku," jawab Rafael.


"Akan aku pikirkan!" Ibra terkekeh seraya menepuk pundak Rafael, kemudian beranjak meninggalkan pria itu.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenal Rafael?" tanya Ibra, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ah iya, iya nggak! Ara hanya sekedar tau namanya aja," jawab Ara gelagapan.


Sejak tadi, ia terus saja memikirkan pria itu. Pria yang katanya pernah dijodohkan dengannya, pria yang dengan tega mengambil seluruh restoran ayahnya, dan mungkin saja pria itu jugalah yang menyebabkan ayahnya mengalami kecelakaan.


"Apa Ayah berteman baik dengan Pak Jordan?" tanya Ibra lagi.


"Entahlah. Tapi seingatku, dulu Om Jordan sangat sering datang ke rumah." Ara menatap Ibra yang nampak mengangguk. "Lalu bagaimana dengan Kakak. Apa Kakak sangat dekat dengannya?" tanyanya menyelidik.


"Dengan Rafael?" tanya Ibra, yang kemudian mendapat anggukan dari Ara. "Tidak begitu dekat, tapi cukup akrab. Dia pemilik klub tempatku biasa nongkrong," jawab Ibra santai.


Ara membulatkan kedua matanya mendengar jawaban suaminya. "Ternyata Kakak emang sangat suka ke klub malam ya!"

__ADS_1


"Itu dulu, sekarang tidak lagi, kok." jawab Ibra.


"Mana Ara tau!" cebiknya.


"Astaga! Memangnya kamu pernah mendapati kakak pulang mabuk-mabukan atau sekedar berbau alkohol?" tutur Ibra membela diri.


"Selain malam itu, tentunya!" imbuhnya cepat, sebelum Ara membuka suara.


"Terserah!" Ara memalingkan wajahnya, menatap jalanan di depannya.


"Astaga, Sayang. Kakak serius!"


"Terserah!" ucapnya lagi. Membuatnya mendapatkan kecupan di bibirnya dari Ibra.


"Kak Ibraa..." teriaknya, seraya memukul bahu suaminya. "Kakak mau kita kecelakaan ya!" makinya.


"Kamu sih!"


"Kok aku?"


"Siapa suruh menggemaskan begitu kalau sedang cemberut," gombalnya.


"Lebay! Bilang aja gak mau disalahin." jengah Ara. Membuat Ibra tertawa.


"Oh iya, Kak. Besok Ara mau jalan-jalan sama Arumi dan Miya, ya?" pintanya. "Seminggu lagi Arumi berangkat. Miya juga udah mau balik ke Surabaya. Jadi, selama seminggu ini kami berencana menghabiskan waktu bersama," jelasnya.


"Mana bisa kalau saat keluar Kakak terus saja menghubungiku," cebik Ara. Membuat Ibra tertawa, menyadari sikapnya yang memang berlebihan. Ia selalu saja mengubungi wanita itu saat istrinya itu sedang keluar bersama kedua sahabatnya.


"Baiklah, kali ini Kakak tidak akan mengganggu kalian."


"Beneran?"


"Iya, kakak janji."


***


Selama seminggu, Ara benar-benar menghabiskan waktunya bersama kedua sahabatnya.


Memikirkan Arumi yang akan melanjutkan study nya di Australia, dan Miya yang akan pulang ke rumah mamanya di Surabaya. Ara tidak ingin melewatkan waktunya bersama kedua sahabatnya itu. Karena setelah itu, Ara yakin akan sangat sulit untuk berkumpul bersama keduanya lagi.


"Aku masih tidak menyangka, kalau besok kalian berdua akan benar-benar pergi meninggalkanku." Ara menundukkan kepalanya saat tidak dapat lagi menahan air matanya.


Saat ini mereka bertiga barada di kamar Miya, setelah seharian tadi mereka berjalan-jalan bersama.


"Kita kan masih bisa telfon-telfonan," ucap Arumi.


"Tapi tetap aja akan sangat berbeda rasanya," ucap Ara sesenggukan.

__ADS_1


Miya mengusap air matanya yang sudah terjatuh dan memeluk sahabatnya itu. "Aku janji akan selalu datang mengunjungimu."


Arumi ikut memeluk kedua sahabatnya itu, dan menumpahkan air matanya disana. Sebenarnya ia sangat berat untuk berpisah dengan keduanya. Tapi ia juga ingin mengejar impiannya. Dan terlebih, itu salah satu cara agar ia bisa melupakan perasaannya pada pria pemilik hatinya.


"Terima kasih untuk semua waktu yang telah kalian berikan untukku. Terima kasih juga untuk tetap memelukku dan mengakuiku sebagai sahabat saat dunia pun turut memberi hujatan padaku," tutur Ara di sela isak tangisnya.


Arumi dan Miya semakin terisak dan ikut mengungkapkan rasa terima kasihnya serta ungkapan maafnya karena terkadang ikut menyakiti perasaan sahabatnya itu.


Ikatan saudara meski tak sedarah yang terajut diantara ketiganya, membuatnya saling mengisi kekosongan masing-masing.


"Berjanjilah untuk tidak akan melupakanku," pinta Ara, saat mulai meredakan tangisnya.


"Jangan berbicara yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kami melupakanmu. Aku bahkan akan menelfonmu setiap saat," sahut Arumi.


"Aku nggak yakin. Panggilan luar itu mahal loh," sahut Miya, yang masih sesekali menyeka air matanya.


"Kan, Papa yang bayar," jawab Arumi. "Lagi pula menurutku, diantara kita mungkin aku lah yang akan terlupakan. Sebentar lagi Miya akan menikah, kalian berdua akan sibuk dengan suami kalian masing-masing. Dan pasti akan mengabaikanku," imbuhnya.


"Entah mengapa aku jadi ragu untuk menikah," sahut Miya.


"Kenapa?" tanya Ara dan Arumi bersamaan.


"Entahlah! Tapi sepertinya aku belum siap. Aku takut nggak bisa menjadi istri yang baik," tutur Miya.


"Tapi kasihan dengan Mas Abyan. Dia sudah menunggumu selama ini. Jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan, kamu pasti bisa menjalani semuanya," ucap Ara.


"Bukankah Mas Abyan juga sudah membebaskanmu kalau kamu ingin bekerja?" tanya Arumi, yang kemudian mendapat anggukan dari Miya. "Lalu apa lagi? Bukankah itu yang selama ini kamu cemaskan? Mas Abyan pria yang sangat baik. Dia juga sangat pengertian kepadamu selama ini," imbuhnya.


"Tapi akhir-akhir kami sering kali bertengkar," ucap Miya tidak bersemangat.


"Itu karena kamu aja yang belum dewasa menyikapi setiap permasalahan yang kalian hadapi. Berhentilah bersikap egois!" ucap Arumi.


"Iya, jangan pernah mengambil keputusan disaat marah. Mungkin saat ini kalian sedang bertengkar, karena itu kamu berpikir untuk mengakhirinya... Pikirkan semua kemungkinannya sebelum kamu mengambil keputusan. Jangan sampai kamu akan menyesali nantinya," ucap Ara menasehati.


"Benar! kamu akan benar-benar menyesal saat Mas Abyan pergi meninggalkanmu. Mas Abyan kan tampan, akan sangat mudah untuknya mendapatkan penggantimu," ucap Arumi menggoda.


"Apa kamu sedang mendoakanku?" ucap Miya kesal.


"Nggak, aku hanya mencoba membuka pikiranmu," jawab Arumi tertawa kecil.


"Cih!" desis Miya jengah.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2