
Sepulang kuliah, sesuai rencana awal Ara dan Arumi pergi ke restoran ayahnya. Mereka hanya berdua karena Miya yang pulang ke rumah orang tuanya sudah empat hari belum juga kembali.
"Assalamualaikum, Ayah!" ucap Ara saat memasuki ruangan ayahnya. Diikuti dengan Arumi yang juga tidak lupa memberi salam saat masuk ke dalam ruangan pria paruh baya itu.
"Waalaikumsalam, Sayang."
Arumi menarik kedua sudut bibirnya saat mendapati pria pujaan hatinya berada di ruangan itu.
"Hai, Chef! " sapanya.
"Hai!" sahut Dion tersenyum pada gadis yang saat ini tersenyum lebar kepadanya, kemudian beralih menyapa Ara, sebelum akhirnya kembali berbalik pada Hartono.
"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Dion pada Hartono.
"Dion..." panggilan Hartono membuat Dion mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Iya, Pak?"
"Tidak bisakah kamu membalas perasaan gadis di belakang kamu itu?" ucap Hartono menunjuk Arumi dengan ekor matanya.
"Maksud bapak?"
"Dia memaksa saya menyuruh kamu menerima cintanya. Katanya kalau kamu menolak, saya harus memotong gaji kamu." Hartono berucap begitu saja tanpa perduli perasaan gadis yang saat ini melotot tajam padanya.
Dion berbalik menatap gadis yang dimaksud. Melihat gadis itu menyengir padanya, membuatnya tertawa kecil.
"Kalau itu berhubungan dengan gaji maka akan saya pikirkan," ucapnya bercanda, setelah kembali berbalik pada Hartono. "Kalau begitu saya pamit, Pak."
Dan setelah mendapat anggukan dari Hartono Dion benar-benar beranjak dari tempatnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak di hadapan Arumi, melayangkan senyuman seraya mengacak rambut gadis itu, sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari ruangan itu.
Arumi tidak melepaskan pandangannya dari pria yang saat ini menempati hatinya itu, hingga pria tersebut menghilang dari balik pintu.
"Ucapannya jangan kamu ambil hati," kata Hartono saat melihat Arumi yang terus saja tersenyum menatap kepergian Dion.
"Dia hanya ingin menyenangkan hatimu karena dia akan segera pergi," imbuhnya, saat Arumi berbalik menatapnya.
"Maksud, Ayah?" tanya Ara tidak mengerti.
Hartono meraih sebuah surat yang ada di atas meja kerjanya, menatap deretan huruf yang tertulis disana, "dia baru saja menyerahkan surat pengunduran dirinya," ucapnya memberi tahu kedua gadis yang ada disana.
Tanpa menanggapi ucapan Hartono, Arumi dengan cepat berlari keluar dari ruangan tersebut.
"Chef!" panggilnya, menghampiri Dion yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Arumi..." Dion mengernyit, "ada apa?"
"Apa Chef akan pergi?" tanya Arumi.
Dion tersenyum kecil, "ya, begitulah."
"Tapi kenapa? apa karena saya? apa Chef terganggu dengan keberadaan saya?" tanya Arumi beruntun.
__ADS_1
"Tidak. Saya hanya ingin mencari suasana baru," bantahnya.
"Kemana?"
"Saya belum tau, saya baru memasukkan permohonan saya di beberapa tempat."
Arumi tersenyum getir, merasa aneh dengan pengunduran diri pria itu yang tiba-tiba, "kalau belum tau akan kemana kenapa harus pergi sekarang? kenapa tidak pergi saat sudah mendapatkan tempat baru?"
"Saya hanya ingin beristirahat sebentar sambil menunggu panggilan," jawabnya mencari alasan.
Kekecewaan tercetak jelas di wajah Arumi, ia sangat yakin jika kepergian pria itu karena ingin menghindanya. Sepertinya perjuangannya untuk mendapatkan hati pria itu hanya sampai disini.
"Begitu ya... baiklah terserah Chef saja." Arumi mencoba tersenyum meski terasa sulit, kemudian beranjak untuk kembali masuk ke dalam restoran.
"Arumi..." Panggilan Dion menghentikan langkah kaki Arumi, namun tidak membuat gadis itu berbalik padanya.
Dion melangkahkan kakinya hingga berada tepat di hadapan gadis itu. "Maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu, saya sudah punya tunangan."
Deg!
Arumi terkesiap dan menatap lekat mata pria di hadapannya. Dadanya terasa sesak seperti ada beban berat yang menimpanya saat menyadari tidak ada kebohongan disana. Hingga membuat matanya berkaca-kaca, namun dengan kuat ia menahan agar air matanya tidak jatuh.
Tatapannya kemudian beralih pada jari manis milik Dion, dan benar saja sebuah cincin telah melingkar disana. Pria itu tidak berbohong. Sejak kapan cincin itu berada disana, kenapa dia tidak pernah menyadarinya.
"Maaf karena tidak pernah mengatakannya sebelumnya, saya harap kamu bisa melupakan perasaanmu pada saya," imbuh Dion.
Ingin rasanya Arumi berteriak sekencang-kencangnya, menumpahkan semua air matanya yang sejak tadi ia tahan.
"Apa Chef tau, saat pertama kali bertemu dengan Chef saya tidak pernah berencana untuk menaruh hati pada Chef. Karena menurut saya Chef itu orang yang cuek, tidak akan ada romantisnya saat memiliki kekasih seperti Chef. Tapi perasaan ini muncul dengan sendirinya, semakin Chef mengabaikan saya, semakin besar saja perasaan ini pada Chef."
Arumi berhenti sejenak menarik nafasnya dan menghapus air mata yang sudah terjatuh tanpa seizinnya.
"Tapi saya tidak pernah menyesal dengan perasaan bodoh ini, saya bahagia telah merasakannya," imbuhnya yang sudah tidak perduli dengan air matanya yang terus terjatuh.
Melihat gadis di hadapannya itu menangis, membuat Dion merasa bersalah, dia tidak pernah menyangka akan membuat gadis itu terluka.
"Maaf, Arumi... kau gadis yang baik,jika saja saya belum___"
"Tidak." Arumi menghapus air matanya dengan kedua tangannya, "Chef tidak salah, saya saja yang terlalu berharap." Arumi menyunggingkan senyumnya, mencoba terlihat tegar, "saya terlalu bahagia dengan perasaan ini, hingga saya lupa dengan satu hal, bahwa mungkin perasaan ini akan berbalik menyakiti saya," pungkasnya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan pria itu tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Namun kali ini ia tidak kembali masuk ke dalam restoran, melainkan pergi mengendarai mobilnya meninggalkan restoran itu.
Dion memijat tengkuknya, merasa amat bersalah pada Arumi. Rasanya ia seperti pecundang sudah begitu tega menyakiti perasaan gadis itu.
***
Arumi mengemudikan kendaraannya tanpa tujuan. Saat ini ia hanya ingin menumpahkan semua kesedihannya, menangis sepuas-puasnya tanpa ada yang melihatnya.
Semua kata-kata Dion terus saja terngiang di telinganya, membuatnya tidak memperhatikan jalan di hadapannya, dan....
Ciitttttt...
__ADS_1
Arumi terkaget dan dengan cepat menginjak pedal rem saat menyadari seseorang menyebrang tepat di depan kendaraanya.
Dan untung saja ia tidak sampai menabrak orang itu. Dengan segera Arumi menghapus air matanya lalu turun dari mobilnya.
"Maaf... maaf... saya tidak memperhatikan anda." Arumi terus saja melontarkan permintaan maafnya pada penyebrang tersebut.
"Kalau bawa kendaraan itu hati-hati, Mba. Untung saya tidak sampai ketabrak," maki penyebrang itu.
"Iya maaf... maafkan saya..." ucapnya memohon, kemudian berjongkok, menjatuhkan kepalanya di lipatan tangannya di atas lututnya, seraya menumpahkan air matanya disana.
Penyebrang yang melihat Arumi menangis begitu sedih merasa heran. Apa perkataannya begitu kasar? Padahal baru satu kalimat yang ia ucapkan, dan masih ada banyak kalimat makian yang sudah tercekat di tenggorokannya, yang batal ia keluarkan setelah melihat isak tangis gadis itu.
"Kenapa anda menangis? saya tidak bermaksud memarahi anda, saya sudah memaafkan anda kok, saya hanya ingin anda berhati-hati saat berkendara."
Melihat Arumi yang terus saja menangis dan tidak memperdulikan perkataannya, penyebrang tersebut hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Arumi.
Tidak jauh dari tempat Arumi berada saat ini, ternyata Dion sedari tadi memperhatikannya. Ia memang sengaja mengikuti Arumi karena ia tau suasana hati gadis itu sedang tidak baik saat ini, ia takut sesuatu terjadi pada gadis itu.
Dan benar saja, seandainya saja Arumi sampai menabrak orang itu maka semua itu adalah kesalahannya, karena dialah Arumi sampai seperti itu.
"Apa sebegitunya kau menyukaiku? maaf membuatmu terluka," batin Dion terenyuh.
Dion melangkahkan kakinya perlahan, ingin rasanya ia menghampiri gadis itu dan memeluknya, berharap hal itu bisa menenangkannya.
Namun niatnya ia urungkan. Ia sudah berhasil menahan perasaannya sejak tadi, ia juga sudah berhasil mematahkan hati gadis itu. Jika ia sampai melakukan hal itu, maka ia kembali memberi harapan pada gadis itu.
Arumi yang terus terisak, menghentikan tangisannya saat mendengar dering ponsel yang berada dalam sling bag-nya.
Dengan cepat Arumi menghapus air matanya yang masih sesekali terjatuh, berdehem sejenak sebelum mengangkat panggilan telfon yang ternyata dari sahabatnya.
"Iya, Ara?"
"Kau dimana? Aku mencarimu."
"Maaf aku pulang tanpa memberi tahumu terlebih dahulu, mama tiba-tiba nelfon menyuruhku pulang, sekarang aku diperjalanan," ucapnya berbohong.
"Tapi kau baik-baik saja kan? bagaimana dengan Chef Dion?"
"Ah iya aku baik-baik saja kok. Kata Chef Dion dia hanya ingin mencari suasana baru, makanya dia keluar dari restoran ayah dan bekerja di tempat lain... mungkin ayah memberinya gaji kecil, makanya dia pergi." Arumi mencoba tertawa meski terdengar sumbang.
"Begitu ya... sebenarnya aku hanya mengkhawatirkanmu, aku pikir terjadi sesuatu padamu. Ya sudah kalau begitu, hati-hati bawa kendaraannya, Assalamualaikum..."
"Iya pasti, Waalaikumsalam."
Setelah mangakhiri panggilannya Arumi kembali masuk ke dalam mobilnya, berdiam diri sejenak, menata hatinya, sebelum kembali melajukan kendaraannya untuk pulang.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya pembaca yang budiman 🤗❤