Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 23


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatannya, ketiga gadis itu tidak tidur semalaman. Mereka asyik bertukar cerita. Mereka baru bisa tidur setelah sholat subuh, sebab sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuk yang menyerangnya.


Arumi telah menceritakan pada Miya tentang kisah cintanya yang berakhir tragis dengan Dion. Begitupun dengan Ara, yang menceritakan perubahan sikap Bima padanya.


Miya yang mendengar cerita sahabatnya itu, ikut merasakan patah hati yang dirasakan kedua sahabatnya itu. Namun berbeda halnya dengan Ara dan Arumi yang justru merasa bahagia, karena sahabatnya yang lemot itu telah mendapat pria yang baik.


Begitulah bentuk sebuah persahabatan. Saling berbagi suka dan duka. Ikut tertawa saat yang lainnya bahagia, dan ikut menangis saat yang lainnya bersedih.


***


"Setelah sarapan kalian pulanglah, kalian harus ke kampus." Ara berucap pada kedua sahabatnya, saat mereka menyantap sarapan yang telah mereka beli.


Arumi masih saja menguap sesekali, karena waktu tidurnya yang kurang.


"Tidak, kami ingin disini saja," ucap Miya.


"Jangan, kalian akan membuatku merasa bersalah jika seperti itu. Kalian bisa kesini lagi sepulang kuliah."


"Ya sudah baiklah. Tapi kamu harus janji, kalau terjadi sesuatu, kamu harus cepat menghubungi kami ya?" pinta Arumi.


"Iya pasti. Ya sudah cepat habiskan sarapan kalian."


Arumi yang begitu fokus menyantap sarapannya, melirik ke arah Miya, saat melihat ponsel sahabatnya itu terus saja bergetar, hingga menimbulkan bunyi gesekan di atas meja. Dan itu sangat mengganggunya, "Miya, hapemu dari tadi bergetar, kenapa nggak kamu angkat?"


"Udah biarin aja, itu dari Mama. Mama nelfon mulu dari tadi," jawab Miya acuh.


"Sebaiknya kau angkat dulu, biar mereka nggak khawatir," ucap Ara.


"Aku udah ngirim pesan sama mama. Dan udah jelasin semuanya." jawab Miya.


"Nggak ada namanya. Sepertinya bukan dari mama kamu," ucap Arumi, menatap layar ponsel Miya yang ada di depannya.


"Bagaimana kalau itu dari Abyan?" ucap Ara.


Tanpa menanggapi ucapan Ara, Miya menghentikan makannya, meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


"Halo!" ucap Miya, setelah mengangkat panggilan telfon tersebut.


"Assalamualaikum!"


Miya tersenyum lebar saat menyadari siapa pemilik suara di balik panggilan telfon itu, "Waalaikumsalam!" sahutnya.


"Kenapa nomormu baru aktif?"


"Iya maaf. Saya lupa memberimu kabar. Kemarin saya sangat lelah, sampai lupa mengaktifkan hapeku," jawabnya berbohong.

__ADS_1


"Kau sudah bertemu mama?" imbuhnya.


"Iya, sepulang dari bandara saya langsung kerumah kamu kemarin."


"Makasih ya. Maaf telah merepotkanmu," ucap Miya menyesal.


"Tidak masalah. Kamu tidak ke kampus?"


"Iya mau, tapi entar jam sembilanan. Kamu nggak kerja?" tanya Miya. Meski sebenarnya ia tidak begitu tau tentang pekerjaan pria itu.


"Iya, kerja kok."


"Ya udah kalau gitu. Udah jam tujuh, mungkin kau akan berangkat sekarang," ucap Miya.


"Tapi saya masih ingin mendengar suara kamu. Boleh kita mengobrol beberapa menit lagi?" pinta pria itu.


Miya tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya, meski pria itu tidak dapat melihatnya. "Iya, boleh."


"Miya..."


"Iya?"


"Apa kamu ikhlas dengan perjodohan ini?" tanya Abyan.


"Mmm iya, ikhlas kok." jawab Miya ragu.


"Iya, nggak kok .... Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak punya kekasih?" tanya Miya.


"Tidak. Jika saya punya kekasih, saya tidak akan mau mengikuti perjodohan ini."


"Sungguh? Saya nggak yakin pria setampan kamu tidak memiliki kekasih."


"Apa saya begitu tampan?" tanya pria itu menggoda.


"Astaga keceplosan!" lirih Miya, namun masih dapat di dengar oleh Abyan, yang tertawa kecil mendengarnya.


"Tidak. Ah iya, bukankah semua laki-laki itu tampan? Nggak mungkin kan, laki-laki itu cantik?" jawab Miya asal, membuat Abyan semakin tertawa mendengarnya.


Dan satu ancaman dari Miya yang mengatakan akan mengakhiri panggilannya, berhasil membuat pria itu menghentikan tawanya.


"Ya sudah. Iya, saya tidak memiliki kekasih, saya hanya punya calon istri. Dan itu kamu, Miya."


Mendengar namanya disebut sebagai calon istri, membuat wajah Miya merona, dan jantungnya berpacu lebih cepat. Sungguh, ia telah jatuh cinta secepat ini.


Ternyata benar kata Arumi, sangat mudah bagi dirinya untuk jatuh hati pada seseorang. Tapi apa salahnya jatuh hati pada calon suami sendiri, pikirnya.

__ADS_1


"Oh iya, boleh saya tahu berapa usiamu?" tanya Miya. Ia jadi penasaran dengan usia pria itu, setelah semalam Arumi menanyakan hal yang sama padanya.


"Kenapa?"


"Aku hanya sedang memikirkan panggilan yang pas untukmu," jawab Miya beralasan.


"Panggil saya senyamanmu saja."


"Mmm kalau begitu, bagaimana kalau om? Melihat dari wajahmu, sepertinya panggilan itu cocok untukmu." jawab Miya terkekeh.


"Apa aku setua itu?"


Mendengar pertanyaan pria itu, membuat Miya semakin tertawa. Namun dengan cepat ia menghentikan tawanya, saat menyadari dimana keberadaannya saat ini.


"Saya hanya bercanda."


"Ya sudah, kalau begitu panggil mas saja. Saya tua enam tahun darimu."


"Iya baiklah, Mas Abyan." Miya tersenyum mendengar panggilan itu. Meski pasaran, tapi terdengar romantis di pendengarannya. Ingin rasanya ia terus mengulang mengucapkan nama itu.


"Panggil sayang juga boleh," ucap Abyan menggoda. Membuat Miya melototkan matanya mendengar gombalan pria itu.


"Ya udah beberapa menitnya telah berlalu, aku mau sarapan dulu," ucap Miya, mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik ya. Dan jangan lupakan janji kamu," ucap Abyan.


"Janji apaan?"


"Pikir sendiri saja, Assalamualaikum!" jawab Abyan memutuskan sambungan telfon.


"Waalaikumsalam!" sahut Miya. "Janji apaan ya?" gumamnya.


"Cieee yang habis telfonan sama Mas Abyannya." Ledek Arumi.


"Kau menguping?" tanya Miya sewot.


"Nggak. Aku hanya mengawasimu jangan sampai kau kegenitan. Dan benar saja, apa kamu nggak bisa sedikit jaim? Kenapa harus mengatakan kalau dia tampan? Aku jadi geli mendengarnya, padahal kan kalian baru saja bertemu." Arumi berdecak, menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi kamu mendengar semuanya?" tanya Miya kesal. "Lagi pula apa salahnya genit dengan calon suami sendiri," sambung Miya mengejek. Kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya itu.


"Cihh, sombong!" jawab Arumi ketus.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤


__ADS_2