Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 58


__ADS_3

Sembilan bulan telah berlalu...


Sudah setahun pernikahan Ara, dan hari ini adalah hari wisuda Ara. Ara berangkat menggunakan setelan kebaya berwarna biru muda dengan rok batik dan jilbab yang berwarna senada, yang membuatnya tampak anggun.


Ara didampingi oleh Ibra yang menggunakan kemeja batik berlengan panjang yang senada dengan rok yang dikenakan istrinya. Rambut klimis yang disisir ke belakang membuatnya terlihat semakin tampan saja.


Sungguh pasangan yang serasi.


Setelah melewati berbagai prosesi upacara wisuda yang lumayan melelahkan, dengan menahan diri berpanas-panasan dengan make up tebal di wajah, baju kebaya, serta atribut orang wisuda yang terpajang di badan. Akhirnya Ara dan kedua sahabatnya berhasil mendapatkan gelar sarjana yang empat tahun ini mereka perjuangkan.


"Selamat, ya. Kakak bangga padamu" Ibra mencium kening Ara dan mengelus pipi wanita itu. "Ayah pasti tidak kalah bangga padamu," imbuhnya. Membuat Ara kembali teringat akan ayahnya. "Sudah, jangan menangis." Ibra memeluk tubuh istrinya, saat melihat cairan bening yang menumpuk di kedua bola mata wanita itu.


"Hei, mama juga ingin dipeluk," ucap Mama Reta yang baru datang menghampiri mereka.


Ara melepaskan pelukannya pada Ibra, dan beralih pada Mama Reta. "Mama!" ucapnya, yang kemudian memeluk wanita paruh baya itu.


"Selamat ya, Sayang." Mama Reta mengelus-elus punggung Ara, saat menyadari anak menantunya itu tengah menangis di pelukannya. Membuatnya ikut meneteskan air matanya.


Ia sangat tahu apa yang membuat menantunya itu sangat bersedih saat ini. Dan ia akan berusaha memberikan kehangatan keluarganya pada wanita itu.


"Terima kasih, Ma." Ara perlahan melepaskan pelukannya, setelah cukup lama menumpahkan air matanya di pelukan Mama Reta. Ia kemudian berbalik pada Papa Nahar. "Pa, terima kasih sudah mau datang," ucapnya.


Papa Nahar memeluk Ara sejenak, tanpa lupa memberi ucapan selamat, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. "Bagaimana, mau lanjut?" tanyanya.


"Sepertinya nggak, Pa. Ara hanya ingin fokus jadi ibu rumah tangga, dan menjadi istri yang baik seperti Mama," jawab Ara tersenyum.


"Bagus! Ibra pasti sangat beruntung memilikimu. Seperti papa yang beruntung memiliki Mama kamu," ucap Papa Nahar, seraya merangkulkan tangannya di tubuh Mama Reta.


"Gombal!" Mama Reta memukul tangan suaminya, membuat semuanya tertawa.


"Jadi, Mas Abyan benar-benar nggak datang?" tanya Miya cemberut, pada kedua orang tuanya.


"Iya, dia minta maaf karena tidak dapat meninggalkan pekerjaannya. Tapi, setelah pekerjaannya selesai, dia janji akan langsung menemuimu," jawab Mama Fani.


"Aku baru sadar kalau dia pria yang gila kerja." Miya bersungut, merasa kesal dengan tunangannya itu.


"Jangan berbicara seperti itu. Kamu seharusnya bisa lebih mengerti dengan pekerjaannya. Biar bagaimana pun, dia akan menjadi suamimu nanti. Jadi kamu harus terbiasa dengan semuanya," ucap papanya memberi pengertian. Namun tidak mendapat tanggapan dari Miya yang malah pergi karena merasa kesal.


"Ibu Reta?"


"Ibu Dewi!" sahut Mama Reta, membalas sapaan kenalannya. "Wah, lucunya. Ini cucu Ibu Dewi ya?" Mama Reta mencubit gemas pipi anak yang berada di gendongan wanita paruh baya di depannya.


"Iya. Ini mamanya lagi sibuk foto-foto, jadi dia nangis minta digendong," jawab Ibu Dewi.


"Aduduh... anak cantik kok, nangis." Mama Reta mengelus lembut rambut anak perempuan yang berusia sekitar dua tahunan itu. "Saya jadi tidak sabar pengen punya cucu juga," ucapnya tersenyum.


"Menantu Bu Reta bagaimana, sudah hamil?" tanya Ibu Dewi.

__ADS_1


"Belum," jawab Mama Reta tersenyum.


"Anak jaman sekarang memang seperti itu, sangat suka menunda kehamilan," ucap ibu Dewi.


"Nggak kok, Bu. Menantu saya tidak menundanya, hanya belum dikasi saja," jawab Mama Reta tanpa melepaskan senyumannya.


"Oh, ya. Maaf ya, Bu." Ibu Dewi tersenyum kikuk, merasa tidak enak dengan ucapannya. "Masih baru juga kan, ya. Saya doakan semoga secepatnya menantu Bu Reta diberi momongan," imbuhnya.


"Iya. Terima kasih, Bu."


"Kalau begitu saya permisi ya, Bu." ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan Mama Reta.


Ara yang sedari tadi tengah berbincang bersama Miya dan Arumi di belakang mama Reta, ikut mendengar percakapan mama mertuanya.


Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri saat mendengar keinginan Mama Reta untuk memiliki cucu. Rasa khawatir tidak memiliki anak tiba-tiba memenuhi pikirannya.


"Ara!" Panggilan Mama Reta membuyarkan lamunan Ara.


"Iya, Ma?"


"Mama sama Papa pulang dulu ya?"


"Iya, Ma. Mama hati-hati. Ara juga sebentar lagi pulang," jawab Ara.


"Miya, Arumi, tante pulang dulu ya. Main-mainlah ke rumah," pamit Mama Reta pada keduanya.


***


Malam harinya Ibra mengajak seluruh keluarganya untuk makan malam bersama, guna merayakan kelulusan istrinya.


Ara sedikit terkejut saat megetahui Ibra membawa mereka ke restoran milik ayahnya dulu. Ia mengedarkan pandangannya, tidak ada satu pun yang berubah pada restoran itu. Semuanya masih sama seperti saat ayahnya menjadi pemilik restoran itu. Terkecuali pada pekerjanya, yang tidak seorang pun Ara kenali.


"Bukankah ini restoran milik Ayah Ara?" tanya Papa Nahar.


"Iya, sudah sejak tadi aku ingin mengatakannya. Tapi Rissa nggak mau membuat Ara jadi sedih," sahut Rissa.


"Sungguh? Ibra tidak tau. Maaf!" ucap Ibra pada Ara. " Bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain saja?"


"Nggak usah, disini aja. Ara nggak kenapa-kenapa, kok," jawab Ara tersenyum. Sejujurnya ia juga sangat merindukan tempat itu. Tempat dimana banyak kenangan manis yang tercipta disana. Kenangan bersama ayah, kedua sahabatnya, bahkan para pekerja yang semuanya sangat baik padanya.


Semua keluarga Ibra sudah tahu kalau restoran Hartono telah dipindah tangankan pada orang lain. Tapi, Ara hanya mengatakan kalau ayahnya memiliki utang pada pemilik baru restoran tersebut.


***


Di tempat lain, sebuah taksi terparkir tepat di depan kosan Miya. Hingga menampakkan seorang pria turun dari kendaraan tersebut dan membayar ongkos perjalanannya.


Tok..tok..tok...

__ADS_1


"Miya!" teriak Abyan, seraya mengetuk-ngetuk pintu kosan Miya.


Berkali-kali Abyan mengetuk dan memanggil-manggil nama Miya, namun ia tidak mendapatkan sahutan dari dalam.


"Kemana dia? Kata Mama Fina dia pulang ke kosan. Apa dia kerumah temannya?"


Abyan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ponsel wanita itu bahkan tidak dapat ia hubungi sejak tadi. Membuatnya semakin yakin, bahwa calon tunangannya itu sedang marah padanya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Abyan melangkah dengan begitu enggan, memikirkan kesalahannya pada wanita itu. Dan saat telah berada di tepi jalan yang tidak jauh dari tempat tinggal Miya, ia kembali berbalik menatap kosan tersebut, masih berharap bahwa wanita itu ada disana.


Ia sangat terkejut, tatkala melihat lampu kamar Miya yang tiba-tiba mati. "Apa dia berada di dalam?" gumamnya, dan dengan cepat kembali ke rumah itu.


"Miya, mas tau kamu di dalam. Buka pintunya, maafkan mas," teriaknya sambil terus mengetuk pintu rumah tersebut. "Miya, biarkan mas jelasin semuanya. Sekarang buka pintunya dulu ya. Kalau tidak kamu buka, mas dobrak nih. Satu...dua..."


Ceklek..


"Jangan aneh-aneh! Mas mau Miya diomeli sama pemilik rumah ini," makinya, yang kemudian berjalan masuk tanpa peduli pada pria itu.


Abyan menahan senyumnya, dan dengan cepat meraih pergelangan tangan Miya. "Maafkan mas, ya. Mas benar-benar tidak bisa meninggalkan rapat tadi, sebab mas yang bertanggung jawab dengan proyek itu." jelasnya, namun tidak mendapatkan tanggapan dari Miya.


"Miya, ayolah. Maafkan mas ya... Kamu tau, Mas paling tidak bisa melihat kamu marah. Rasanya mas tidak punya semangat hidup bila kamu terus-terusan marah seperti ini," rayunya.


"Lebay! Kalau tidak pandai merayu, jangan mencobanya. Itu terdengar sangat aneh."


"Kalau begitu maafkan mas, ya. Asal kamu tau saja, sepanjang perjalanan kesini, mas terus memikirkan bagaimana caranya membuat kamu tidak marah sama mas. Tapi percuma saja, otak mas sangat buntu saat ini. Mas sangat lelah."


"Ya udah Miya maafkan. Kalau begitu mas pergilah, aku lelah ingin istirahat," ucapnya, yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Mas juga sangat lelah, kalau begitu kita istirahat bersama." Abyan tersenyum jahil seraya mengikuti langkah Miya.


"Mas udah gila?" sergahnya, memukul tubuh pria itu. Membuat Abyan terkekeh melihatnya.


"Mas hanya bercanda. Kalau begitu, untuk menebus kesalahan, Mas. Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan, merayakan kelulusan kamu," ajak Abyan.


"Nggak!" jawab Miya cepat. Kemudian mendorong tubuh Abyan keluar dari kamarnya. Ia menutup dan mengunci pintu kamarnya. Membuat Abyan kembali berteriak dan mengetuk-ngetuk pintu itu.


"Istirahat disitu, atau pulang sana!" teriak Miya dari balik pintu.


"Miya...."


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2