
Ara terus saja menggigit bibir bawahnya, berdiam diri cukup lama di dalam mobilnya yg sudah terparkir di depan kantor tempatnya magang. Ia benar-benar merasa sangat malu untuk bertemu dengan Sarah. Sikapnya semalam sangat berlebihan, dan ia baru menyadarinya saat ini.
Hingga jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan tepat, membuatnya mengharuskan dirinya untuk segera keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor itu.
Namun kecemasannya tentang kemungkinan perubahan sikap Sarah padanya menghilang begitu saja, tatkala Sarah lebih dulu menghampirinya dan meminta maaf padanya.
"Kamu nggak usah khawatir, Mas Ibra pria yang setia. Saya bisa melihatnya saat dia masih bersama Mba Viona," tutur Sarah.
"Iya, terima kasih. Mungkin ada baiknya setelah ini kita nggak usah lagi membahas tentang Kak Ibra. Kita bisa membahas tentang pekerjaan, karena saya masih membutuhkan banyak pelajaran dari Mba Sarah," sahut Ara tersenyum.
"Iya, baikah," jawab Sarah, yang juga tersenyum ramah.
***
Saat jam istirahat, Arumi dan Miya berencana untuk makan siang di luar kantor. Miya mengajak Arumi untuk makan siang di restoran yang tidak jauh dari kantor tempat mereka magang, agar mereka tidak telat nantinya.
Saat sedang menikmati hidangan di hadapannya, Miya mengentikan kunyahannya saat melihat Novi yang baru masuk sambil menggandeng tangan Dimas.
"Mi, Arumi, kamu lihat deh," ucap Miya tanpa mengalihkan pandangannya dari Novi.
Arumi menatap Miya, kemudian mengalihkan pandangannya, mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
"Apa yang mereka lakukan? Apa Pak Dimas nggak tahu kalau Nenek Lampir itu udah punya tunangan?" ucap Miya kesal, "Apa nggak seharusnya kita memberi tahu Chef Dion?" sambung Miya.
"Sebaiknya jangan ikut campur, itu bukan urusan kita. Tanpa kita memberi tahunya, dia pasti akan tahu dengan sendirinya suatu saat nanti." Arumi mencoba mengabaikannya, meski sebenarnya ia juga merasa amat kesal melihatnya.
"Tapi, Chef Dion pria yang baik, kasihan dia dipermainkan sama Si Nenek Lampir."
"Dia itu laki-laki. Kalau pun ada yang dirugikan diantara mereka, maka itu adalah si perempuannya. Berhentilah memperhatikan mereka, cepat habiskan makananmu," jelas Arumi, kemudian kembali meneruskan makannya.
Miya mendengus kesal dan kembali menikmati makanannya. Sahabatnya itu benar-benar keras kepala. Apa patah hati membuatnya setidak peduli itu?
Setelah menyelesaikan makan siangnya, keduanya berniat kembali ke kantor. Mereka keluar dari restoran tersebut dengan terburu-buru, tidak ingin jika sampai Novi melihat keberadaannya.
Saat kembali bekerja, Arumi dibuat tidak begitu fokus dengan pekerjaannya. Ia terus saja memikirkan hubungan rumit antara Dion, Novi, dan Dimas. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin Dion salah dalam memilih pasangan hidup. Meski pria itu telah mematahkan hatinya, tapi ia tetap ingin melihat pria itu bahagia meski bukan dengannya.
***
Sore hari saat akan pulang ke rumahnya, mobil Arumi berpapasan dengan mobil Dion. Membuatnya menghentikan laju mobilnya dan dengan cepat memutar balik arah mobilnya mengikuti mobil Dion.
__ADS_1
Jatung Arumi berdegup kencang. Entah mengapa ia merasa begitu gugup mengikuti pria itu. Rasa bimbang mengacaukan pikirannya, saat ia telah memutuskan untuk memberi tahu pria itu tentang hubungan Novi dengan Dimas, namun ia juga begitu ragu dengan itu.
Dion menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai kopi dan masuk ke dalamnya. Arumi yang melihatnya dengan segera memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil pria itu, dan ikut masuk ke dalam kedai tersebut.
Namun langkahnya terhenti saat baru saja masuk ke dalam kedai tersebut. "Astaga, apa yang aku lakukan?" ucapnya tersadar. "Apa aku sudah gila?" Arumi memutar tubuhnya dan kembali keluar, saat menyadari bahwa apa yang ia lakukan saat ini begitu salah.
"Arumi!"
Arumi tersentak saat mendengar suara yang begitu dikenalnya memanggil namanya. Ia perlahan membalikkan tubuhnya. "Ch..Chef?" ucap Arumi gelagapan, seperti orang yang sedang tertangkap basah.
"Sudah saya katakan, jangan memanggilku Chef, saya bukan Chef lagi," ucap Dion tersenyum. "Mau kemana? Saya melihatmu masuk dan kembali keluar tanpa melakukan apapun. Apa kau sedang membuat janji dengan seseorang?" tanyanya.
"Ah, nggak. Tadinya saya berniat untuk minum kopi. Tapi setelah tiba disini, saya berubah pikiran." Arumi tertawa kecil, berusaha menutupi kebohongannya.
"Kalau begitu ngopi bareng, mau? Saya juga kebetulan tidak punya teman," ajak Dion.
"Mmm... boleh!" jawab Arumi mengangguk.
Mereka lalu minum kopi bersama sambil mengobrol seadanya, menanyakan tentang kegiatan masing-masing.
"Kak Dion, boleh saya bertanya sesuatu?" Arumi telah memutuskan untuk memanggil Dion dengan sebutan kakak. Setelah sebelumnya meminta persetujuan pria itu.
"Mmm... bagaimana hubungan Kak Dion dengan tunangan Kak Dion?" tanya Arumi ragu.
"Sampai saat ini baik-baik saja," jawab Dion seadanya.
"Kapan rencana pernikahan kalian?"
"Papa Novi sedang sakit, kami akan menikah saat kondisi papanya sudah membaik," jelasnya. Membuat Arumi mengangguk.
"Apa Kak Dion begitu mencintai Mba Novi?"
"Entahlah!" jawab Dion pendek.
Arumi menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan jawaban pria itu. Jika ia tidak mencintainya, lalu untuk apa mereka menikah. Novi bahkan telah memiliki pria lain.
"Kenapa? Apa kalian dijodohkan?"
"Tidak juga. Saya sendiri yang memilihnya." Jawaban Dion membuat Arumi terdiam sejenak.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan perasaan Mba Novi?" tanya Arumi lagi. Namun Dion hanya terdiam.
"Kalau saya mengatakan Mba Novi punya pacar selain Kak Dion, apa Kak Dion akan percaya?" imbuhnya.
"Maksud kamu?" ucap Dion menatap Arumi.
"Maaf kalau harus mengatakan ini, tapi sepertinya Mba Novi menjalin hubungan dengan salah satu pagawai di kantor tempatku magang," tuturnya memberanikan diri.
"Iya, saya tahu." Arumi membulatkan kedua matanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di hadapannya. "Mereka tidak salah, sayalah yang telah menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka," sambung Dion.
"Tapi kenapa? Apa Kak Dion begitu menyukai Mba Novi?" tanya Arumi. Sebab menurutnya itulah alasan terkuat mengapa pria itu begitu mengejar wanita yang telah memiliki kekasih.
Dion tersenyum, kemudian bercerita, "saat remaja, saya kehilangan kedua orang tua saya. Saya diasuh dan diangkat jadi anak oleh orang tua Novita. Mereka begitu menyayangiku seperti anak mereka sendiri. Dan saat ini, Papa sedang sakit. Beliau terus saja mengkhawatirkan Novi. Papa sangat tidak menyukai Dimas, yang menurut Papa hanya menyukai harta Papa. Karena itu saya menawarkan diri untuk menjadi suami Novi, agar bisa menjaga Novi dari Dimas. Saya hanya berpikir, ini saatnya saya membalas kebaikan mereka."
"Awalnya, saya pikir Novi pasti akan setuju karena dia begitu menyayangiku. Tapi saya salah, ternyata dia begitu mencintai Dimas. Sangat sulit untuk memisahkan mereka berdua. Meskipun dia menerima pertunangan ini, tapi semua itu hanya untuk melihat kesembuhan Papa saja," jelas Dion.
"Tapi kamu tidak usah khawatir, saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Terima kasih sudah mau memberitahu saya. Tapi Novi anak yang baik kok," imbuhnya tersenyum pada Arumi.
"Iya, maaf!" ucap Arumi menyesal, ia bahkan merutuki keberaniannya. Ia kemudian menatap jam di pergelangan tangannya. "Kalau begitu saya pamit ya, sudah sangat sore," tuturnya.
"Tunggu, ada yang ingin saya sampaikan padamu," ucap Dion.
"Apa?"
"Saya menyukaimu!" ucap Dion. Membuat Arumi melotot tidak percaya. Kalimat yang telah lama ia tunggu akhirnya ia mendengarnya. Jantung Arumi tiba-tiba berdetak sangat cepat. Meski ia sangat senang, tapi ia juga bingung maksud dari ucapan pria itu.
"Sudah sejak lama saya menyukaimu. Tapi saya tidak berani menyatakannya, sebab saya tahu kita tidak mungkin bisa bersama," ungkap Dion. "Maaf harus mengatakan ini ... maaf karena harus menyatakan perasaanku tanpa bisa menerima perasaanmu. Saat ini saya benar-benar tidak berdaya. Saya hanya ingin kamu tau, kalau selama ini apa yang kamu rasakan, saya juga merasakannya. Saya mencintaimu, Arumi... Tapi saya akan berusaha untuk melupakanmu, dan saya juga berharap kamu bisa melupakan perasaanmu padaku."
Arumi terus saja terdiam, mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
"Mungkin sebaiknya kamu segera pulang, sudah hampir maghrib," ucap Dion mencairkan suasana.
Arumi menatap Dion sejenak dan tersenyum. "Iya, baiklah. Terima kasih atas kejujurannya, meski pun itu tidak berarti apa-apa. Dan saya pastikan perasaanku akan hilang secepatnya," ucapnya penuh penekanan, yang kemudian berdiri dan berlalu dengan cepat.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤