Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 68


__ADS_3

Setelah kepergian Ara, Bi Darmi masuk ke dalam kamarnya mencari keberadaan suaminya. Bi Darmi lalu memberitahu suaminya bahwa Ara telah pergi dari rumah. Setelah mendengar ucapan istrinya, dengan cepat Pak Mamat keluar untuk mencari keberadaan Ara, namun sayang ia tidak melihat Ara disekitaran rumahnya.


Pak Mamat lalu kembali untuk mengambil mobil dan mengitari jalan yang kemungkinan dilalui Ara, namun tetap saja hasilnya nihil.


Pak Mamat kembali kerumah dan memberitahu istrinya bahwa ia tidak menemukan Ara dimanapun. Bi Darmi akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ibu Reta dan menceritakan semuanya.


"Ibra dimana?" tanya Mama Reta pada Bi Darmi saat ia baru saja masuk ke dalam rumah putranya.


"Di kamar, Bu," jawab Bi Darmi


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Papa Nahar saat mereka berjalan ke kamar Ibra.


"Saya juga tidak tau, Pak," jawab Bi Darmi


"Ibra..Ibra..." teriak mama Reta saat memasuki kamar putranya.


" Mama!" sahut Ibra yang ternyata sedang duduk bersandar disalah satu sisi ranjangnya, kemudian berdiri menghampiri mamanya.


Mama Reta lalu menanyakan keberadaan Ara pada putranya itu, namun Ibra tidak menjawabnya, dan saat mama Reta kembali menanyakan apa yang terjadi di antara mereka tetap saja Ibra bungkam.


Hingga mendapatkan kemarahan papanya akhirnya Ibra menceritakan pada kedua orangtuanya kalau Ara telah menjalin hubungan dengan Rafael.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Papa Nahar, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan putranya. "Apa kau sudah mengecek sendiri kebenarannya?"


"Ara sendiri yang mengakuinya," jawab Ibra.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" lirih Mama Reta yang juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan putranya, ia merasa telah mengenal baik menantunya dan ia yakin Ara tidak mungkin melakukan itu.


Mama Reta menatap lekat putranya, "lalu dimana Ara sekarang?" tanyanya


"Ibra tidak tau."


Mama Reta mencengkeram kedua bahu Ibra dan mengguncangnya, "kenapa kau mengusirnya? apa kau tau Ara tidak punya siapa-siapa lagi selain kita?" Mama Reta menjatuhkan wajahnya di dada putranya dan menumpahkan air matanya disana, "lalu dimana dia sekarang?"

__ADS_1


"Dia punya Rafael, Ma. Ibra yakin saat ini dia sedang bersamanya."


Plakkk...


"Hentikan omong kosongmu, mama yakin Ara tidak sehina itu, mama kenal menantu mama," ucap Mama Reta merasa geram kemudian pergi dari rumah itu.


Mama Reta kemudian membujuk suaminya untuk mencari Ara, namun Papa Nahar menolak dengan alasan sudah larut malam, dan sebagai gantinya ia telah menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mencari Ara. Ia juga menyuruh seseorang untuk mencari kebenaran tentang masalah putranya.


***


Ara mengerjapkan kedua matanya perlahan, menatap lekat pada langit-langit ruangan yang terasa asing baginya. Meski terasa berat, ia mencoba mendudukkan dirinya dan mengedarkan pandangannya pada ruangan yang ternyata adalah rumah sakit.


Pandangan Ara terhenti pada sesosok pria yang sangat ia kenali, yang sedang tertidur dengan posisi duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.


"Pak Bima..." lirihnya, kemudian menatap jam dinding yang ada di atas pria itu yang menunjukkan pukul 7.15. "Apa ia disini sejak semalam?" imbuhnya.


Dan saat melihat ada pergerakan dari Bima, Ara dengan cepat membaringkan dirinya dan berpura-pura tertidur.


Ara sedikit gugup saat merasa pria itu bergerak mendekat ke arahnya. Dan sentuhan di keningnya membuatnya semakin sulit menahan rasa gugupnya.


Setelah beberapa saat, Ara merasa kembali ada pergerakan dari pria itu yang sepertinya berjalan menjauh darinya. Dan saat mendengar suara pintu terbuka, membuatnya jadi yakin kalau pria itu sedang keluar dari ruangan itu.


Ara perlahan membuka kedua matanya, mengintip ke arah pintu, dan saat merasa tidak ada pergerakan kembali dari pintu itu, Ara dengan cepat mendudukkan dirinya.


Ara menghela napasnya lega, kemudian menyentuh keningnya yang sempat di pegang oleh Bima tadi. Sesaat ia merasa bersalah telah menghindari pria itu, tapi saat ini ia sedang tidak ingin berbicara dengan pria itu. Lebih tepatnya menghindari pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan mantan dosennya itu.


Selanjutnya Ara memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu tanpa memberitahu Bima. Ara melepaskan jarum infus yang melekat di pergelangan tangannya, kemudian turun dari brankar.


Ara meraih tas selempangnya yang ada di atas meja dan juga tas berisi pakaiannya yang tergeletak di lantai, kemudian berjalan keluar. Saat ini ia benar-benar ingin menghindar dari Bima.


Ara membuka pintu perlahan, menengok ke kanan dan kiri, khawatir jika sampai bertemu Bima disana. Dan saat merasa aman, Ara dengan cepat berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Dan ia merasa sangat lega setelah berhasil masuk ke dalam taksi yang membawanya pergi menjauh dari rumah sakit itu.

__ADS_1


***


Dua minggu telah berlalu dan sampai saat ini tidak ada seorangpun yang tau keberadaan Ara. Papa Nahar telah menyuruh orang suruhannya untuk menemui kedua teman Ara namun tetap saja Ara tidak ada disana.


Seminggu yang lalu orang suruhan papa Nahar telah menemukan kebenarannya bahwa menantunya adalah korban pemerkosaan beberapa tahun lalu yang dilakukan oleh Rafael hanya karena sebuah obsesi untuk memiliki menantunya. Dan ternyata saat melakukan aksi bejatnya Rafael merekamnya untuk dia jadikan bukti untuk dia tunjukan pada Hartono waktu itu.


Papa Nahar juga telah mendapatkan informasi lain yang mengatakan bahwa ternyata restoran Hartono telah Hartono berikan kepada Rafael untuk menukarnya dengan sebuah file yang berisi rekaman tersebut. Dan akhirnya papa Nahar menyuruh orang suruhannya mencari tau jika sampai rekaman itu masih disimpan Rafael, dan benar saja Rafael menyalinnya untuk dirinya, tapi sekarang semua rekaman tersebut sudah dilenyapkan tanpa sisa oleh orang suruhan papa Nahar.


Dan Ibra yang mengetahui kejadian tersebut mendatangi Rafael dan memukulnya secara brutal hingga Rafael masuk rumah sakit. Ibra sampai harus menginap di sel tahanan selama sehari karena tindakannya.


Ibra yang merasa sangat menyesal atas perlakuannya terhadap Ara, merutuki kebodohannya. Setiap hari Ibra mengurung dirinya dikamar, mabuk-mabukan hingga ia menghancurkan segala barang yang ada dikamarnya. Setiap pagi bi Darmi harus membersihkan muntah yang selalu berserakan dilantai kamar Ibra. Hingga papa Nahar merasa geram dibuatnya.


Papa Nahar masuk ke dalam kamar Ibra yang terlihat berantakan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi putranya yang sangat memprihatinkan, terduduk dilantai bersandar pada tembok dengan memegang botol minuman.


Papa Nahar menghampiri Ibra dan merampas botol minuman tersebut "Berhentilah bersikap bodoh seperti ini," ucapnya lalu membuang botol minuman tersebut ke dalam tempat sampah. "Minggu depan pesta pernikahan Miya, papa yakin Ara tidak akan melewatkan pesta pernikahan sahabatnya."


Mendengar ucapan papanya, Ibra yang semula menunduk dengan cepat menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya menatap papanya.


"Pergilah ke pesta Miya, papa yakin Ara ada disana," ucap papa Nahar lagi.


"Apa Ara akan memaafkanku?" tanya Ibra pada papanya.


"Ara anak yang baik, dia juga sangat mencintaimu, papa yakin seribu persen akan hal itu," ucap papa Nahar menyemangati putranya. "Sekarang bangunlah dan bersihkan dirimu. Berhentilah mabuk-mabukan, Ara akan semakin marah padamu jika tau kamu mabuk-mabukan seperti ini," sambungnya menarik lengan putranya membantunya berdiri.


"Datanglah ke kantor besok, kau harus bekerja untuk menghidupi istrimu," ucap papa Nahar menepuk bahu putranya, memberikannya kepercayaan diri.


Keesokan harinya Ibra benar-benar datang ke kantor dengan wajah yang tampak segar, sangat berbeda dengan beberapa hari kemarin. Senyum merekah dibibirnya menambah nilai plus diwajah tampannya setiap kali mengingat akan bertemu dengan istrinya minggu depan.


Sehari sebelum hari pernikahan Miya, Ibra terbang ke Surabaya dengan harapan akan bertemu dengan Ara disana, Ibra sengaja menginap di hotel tempat diadakannya pesta pernikahan Miya.


Hari H pun tiba, Ibra menampilkan penampilan terbaiknya malam ini untuk bertemu Ara, menggunakan setelan jas hitam dengan dalaman kemeja putih, rambut klimis disisir ke belakang membuatnya terlihat semakin tampan. Dia juga telah menyusun kalimat yang akan diucapkannya nanti saat akan meminta maaf pada istrinya dan jika diperlukan Ibra akan berlutut di hadapan Ara agar Ara memaafkannya.


.

__ADS_1


.


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤


__ADS_2