
Sepanjang perjalanan tidak ada lagi percakapan yang terjadi diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga mobil Ibra memasuki pekarangan rumah Ara.
"Maaf!" ucap Ibra setelah mematikan mesin mobilnya.
"Maafkan perkataan saya tadi. Kamu benar, saya memang egois hanya memikirkan diri sendiri. Kamu gadis yang baik, sangat tidak pantas mendapatkan lelaki pengecut seperti saya. Saya harap kamu bisa melupakan semua ucapanku tadi," tutur Ibra menyesal.
"Saya bukan gadis yang sebaik itu, saya juga punya banyak kekurangan. Tidak ada yang tidak pantas untuk Kakak, sebab kakak juga pria yang sangat baik. Saya tau kakak melakukan itu karena keadaan yang mendesak kakak. Tapi maaf, saya tidak bisa membantu Kakak. Carilah wanita yang baik untuk Kakak, dan menikahlah karena ingin menyempurnakan ibadah Kakak. Bukan semata-mata hanya untuk menghindari perjodohan yang dibuat orang tua Kakak."
Ibra tersenyum mendengar ucapan Ara. Gadis itu ternyata sebijak itu.
"Iya, terimakasih. Sekali lagi maafkan saya." ucap Ibra bersungguh-sungguh.
"Iya, tidak masalah, Ara mengerti. Kalau begitu Ara turun, Kakak hati-hati pulangnya."
Ara yang hendak turun dari mobil Ibra, menghentikan niatnya, saat matanya menangkap seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dari rumahnya dan berjalan mendekat ke arah mobil Ibra.
"Om Jordan." batin Ara.
"Ada apa?" tanya Ibra, saat melihat Ara hanya terdiam dan tidak keluar dari mobilnya.
Ara berbalik pada Ibra, menatap pria itu sesaat sebelum berucap, "Baiklah, saya setuju. Ara akan membantu Kakak." ucapnya tegas.
Ibra menautkan kedua alisnya. Merasa aneh degan sikap gadis di hadapannya. Bukankah baru saja gadis itu memberinya nasehat panjang lebar karena permintaan anehnya itu. Lalu bagimana bisa gadis itu menyetujuinya.
"Kau bersungguh-sungguh?" tanyanya saat melihat raut wajah gadis itu yang nampak serius.
"Iya. Tapi, bisakah kak Ibra membantuku terlebih dahulu?"
"Maksud kamu?"
"Bisakah Kak Ibra mengatakan pada pria itu, kalau Kakak adalah calon suamiku, dan kita akan segera menikah." ucap Ara mengalihkan pandangannya pada Jordan.
"Pak Jordan?" ucap Ibra.
"Apa Kak Ibra mengenalnya?"
"Hanya sekedar tau saja. Ya sudah ayo, aku akan membantumu."
Tanpa menanggapi lagi ucapan Ibra, Ara segera keluar dari mobil dan menghampiri Jordan.
"Ara? Kamu benar Ara kan?" tanya Jordan sedikit terkesima. Memang sudah sangat lama ia tidak berjumpa dengan gadis itu.
"Iya, Om."
"Wah, kamu semakin cantik saja." Jordan tertawa kecil. Pantas saja putranya begitu tergila-gila dengan gadis itu, pikirnya.
"Kamu masih mengingatku kan?" tanyanya.
"Iya, Om. Ara ingat kok," ucap Ara memaksakan senyumannya.
__ADS_1
Jordan tersenyum, mengangguk. "Om minta maaf, baru bisa mengunjungimu sekarang. Om juga tidak hadir saat pemakaman ayahmu. Om tidak mengetahuinya," tuturnya menyesal.
"Iya, tidak apa, Om," jawab Ara singkat.
"Om sudah beberapa kali datang kesini, tapi kamu selalu saja tidak di rumah."
"Iya, maaf, om."
Ara mengalihkan pandangannya pada Ibra yang masih saja berdiri disamping mobilnya. Berharap agar pria itu segera memperkenalkan dirinya. Dan Jordan yang melihatnya, mengikuti arah pandang gadis itu.
"Siapa?" tanya Jordan melihat Ibra yang berjalan ke arah mereka.
Ara kemudian menatap Ibra yang sudah berdiri di sampingnya.
"Saya Ibrahim, Om. Calon suami Ara." ucap Ibra memperkenalkan diri. Membuat raut wajah Jordan berubah seketika.
"Oh, jadi kalian akan menikah?" tanyanya.
"Iya. Kami akan menikah bulan depan," jawab Ibra asal.
"Om! Bagaimana kalau kita masuk dulu," ucap Ara menawarkan.
"Maaf, tapi om lagi ada urusan. Om akan mampir lain kali. Kalau begitu, om pergi dulu ya."
"Iya, Om. Hati-hati," ucap Ara. Namun tidak dipedulikan oleh Jordan yang sudah berjalan menjauh ke arah mobilnya.
Ara menghela napas panjangnya, saat mobil milik Jordan sudah tidak nampak oleh pandangan matanya.
"Iya. Tapi kalau boleh tau kenapa kamu memintaku memperkenalkan diri sebagai calon suamimu padanya?" tanya Ibra, yang sedari tadi sudah sangat penasaran.
"Nggak kenapa-kenapa. Kak Ibra ingin masuk dulu?" tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya saya langsung pulang saja."
"Baiklah! Oh iya, Kak. Apa kakak serius dengan perkataan Kakak yang mengatakan kita akan menikah bulan depan?" tanya Ara.
"Tidak masalahkan?"
"Iya, terserah Kak Ibra aja," jawab Ara putus asa.
"Jangan di paksa kalau memang kamu tidak bisa."
"Tidak masalah. Insya Allah Ara bisa. Lagi pula Ara sudah berjanji dengan, Kakak."
"Terimakasih!" ucap Ibra tersenyum, kemudian pamit pada gadis itu.
Setelah kepergian Ibra, Ara masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang begitu berat. Memikirkan keputusannya yang ingin menikah dengan pria itu. Rasanya ia sudah pasrah dengan jalan hidupnya.
Ia memang harus membuat keputusan. Ia harus memilih, untuk melanjutkan hidupnya.
__ADS_1
Karena hidup adalah pilihan yang berkelanjutan. Dimana kita harus mengikuti kata hati dan tidak pernah ragu untuk mengambil keputusan.
Dan terkadang, keputusan yang di ambil secara tiba-tiba dalam keadaan terdesak, akan mengantarkan kita pada keadaan yang lebih baik.
***
"Habis makan malam dengan siapa?" tanya Miya, saat Ara baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Dengan Kak Ibra," jawab Ara tidak bersemangat, seraya mendudukkan dirinya di meja riasnya.
"Kau ada hubungan apa dengan Kak Ibra?" tanya Miya menyelidik.
"Nggak ada. Mas Abyan mana?" Ara mencoba mengalihkan pembicaraan, dan bersikap biasa saja.
"Udah pulang."
"Kok cepet? Nggak nginap?"
"Dia hanya datang untuk pamit padaku. Besok dia akan keluar negeri. Dia diutus perusahaannya selama tiga bulan." jawab Miya cemberut.
"LDR-an dong!" Ara tertawa kecil melihat nasib sahabatnya.
"Iya," jawab Miya, tersenyum getir.
"Nggak usah lebay. Bukankah selama ini kalian emang LDR-an?" ucap Ara tertawa.
"Tapi, inikan beda. Jarak kami semakin jauh saja. Aku hanya takut, kalau Mas Abyan akan berbuat macam-macam."
Ara tersenyum kecil melihat kekhawatiran sahabatnya. Ara berdiri dari duduknya, dan berjalan menghampiri Miya yang duduk di atas tempat tidur.
"Kekhawatiran itu wajar, asal nggak berlebihan aja. Banyak pejuang LDR yang berakhir dengan kata putus, hanya karena tidak saling percaya. Karena itu, kamu harus percaya padanya. Ingat, jarak itu hanya memisahkan tempat kalian, bukan hati kalian."
"Iya, terimakasih." Miya memeluk Ara dan menangis.
"Kok nangis?" tanya Ara merasa bersalah.
Miya menarik tubuhnya, dan menghapus air matanya.
"Kau tau, saat ini aku sedang marah padanya. Karena memberi tahuku kabar ini secara tiba-tiba. Dia bahkan pulang dengan suasana hati yang tidak baik. Aku jadi khawatir dengannya," ucap Miya menyesal.
"Ya udah, sekarang kamu hubungi Mas Abyan dan minta maaf padanya. Aku ganti baju dulu."
Miya mengangguk dan dengan segera meraih ponselnya yang ia simpan di dalam laci, kemudian menghidupkannya. Sebab, sebelumnya ia memang sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari tunangannya itu.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤