Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 61


__ADS_3

Akhir-akhir ini Ara selalu saja ingin mencium aroma tubuh suaminya. Rasanya itu sudah menjadi candu untuknya.


Malam ini Ibra pulang terlambat, sudah pukul sepuluh, tapi Ibra belum pulang juga. Beberapa kali Ara mencoba menidurkan dirinya, tapi sangat sulit.


Ia tidak dapat tidur, aroma tubuh suaminya terus saja berputar-putar di pikirannya. Ia merasa tidak dapat memejamkan matanya sebelum memeluk suaminya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah.


Ara menuruni anak tangga satu persatu, dan melangkah perlahan menuju dapur. Ara membuka pintu kulkas, mengedarkan pandangannya, guna mengecek sesuatu yang bisa ia makan disana. Hingga matanya tertuju pada buah jeruk, yang dengan melihatnya saja, ia sudah bisa membayangkan asam manisnya buah itu.


Ia meraih beberapa buah jeruk dan menempatkannya di atas meja dapur. Ia mendudukkan dirinya dan mulai menikmati buah tersebut. Hingga tiga buah jeruk habis dilahapnya.


Setelah minum air putih dan membuang kulit jeruk yang dimakannya tadi, ia kemudian memutuskan untuk ke ruang keluarga. Mungkin menonton dapat menghilangkan kejenuhannya menunggu suaminya.


Setelah menyalakan tv di depannya, Ara meraih setoples kerupuk yang ada di atas meja dan mendudukkan dirinya di atas karpet yang tergelar di ruangan itu.


"Ara?"


"Mama!" Ara melebarkan senyumannnya pada Mama Reta yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sedang apa? Kenapa belum tidur?"


"Belum ngantuk, Ma. Ara sedang menunggu Kak Ibra disini. Di kamar rasanya bosan."


"Ya sudah biar mama temenin. Rissa juga belum pulang, sekalian mama menunggunya. Dia selalu saja pulang larut malam," ucap Mama Reta mengomel, membuat Ara tertawa kecil.


"Papa sudah tidur?" tanya Ara, setelah Mama Reta mendudukkan dirinya.


"Iya. Tadi katanya Papa sangat lelah, jadi tidur lebih cepat."


"Rissa pulaaang...." Teriakan Rissa menghentikan obrolan keduanya.


Rissa menghampiri Mama Reta yang tengah duduk di sofa ruang keluarga, dan ikut mendudukkan dirinya disana.


"Assalamu'alaikum!" sahut Ara.


"Iya iya... Wa'alaikumsalam kakak ipar!" jawab Rissa jengah.


"Memang seharusnya seperti itu. Masuk rumah itu, ya beri salam," ucap Mama Reta.


"Iya iya, Mama selalu saja membelanya. Sebenarnya anak Mama itu Rissa atau Ara sih!" jawab Rissa cemberut.

__ADS_1


"Apa kau sedang cemburu?" tanya Ara terkekeh.


"Tentu saja. Mama selalu saja memarahiku. Tapi denganmu, Mama selalu saja bersikap manis," cebik Rissa.


"Dasar bocah. Sini...sini..." Mama Reta menarik tangan Rissa lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Mama menyayangi kalian semua. Tidak ada bedanya. Mama memarahimu karena mama menyayangimu," imbuhnya.


"Iya Rissa tau. Rissa juga sangat sayang sama, Mama." sahut Rissa di pelukan Mama Reta.


Ara tersenyum getir, melihat kedua ibu anak di hadapannya. Tiba-tiba ada perasaan sedih di hatinya, melihat betapa bahagianya Rissa yang selalu mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Sangat berbeda dengan dirinya. Jangankan ibu, ayahnya pun sudah pergi meninggalkannya.


Mama Reta yang menyadari perubahan raut wajah menantunya kemudian merentangkan sebelah tangannya, memanggil Ara agar mendekat padanya.


"Ayo, kemari, Sayang!"


Ara menarik kedua sudut bibirnya. Ia dengan segera meletakkan toples yang ada di pangkuannya, lalu berjalan dengan lututnya menghampiri mertuanya. Ara mendaratkan kepalanya di pangkuan Mama Reta seraya memeluk Mama Reta.


Rissa melepaskan pelukannya, tatkala mendengar suara isakan tertahan dari Ara.


"Hei, ada apa denganmu? kenapa kau menangis?" tanyanya keheranan. Namun hanya di jawab dengan gelengan oleh Ara.


Mama Reta mengusap-usap kepala menantunya. "Ada apa, Sayang?" tanya Mama Reta.


"Iya, Sayang. Mama juga sangat bahagia mendapatkan putri sepertimu. Kamu bisa meminta mama memelukmu setiap hari jika kamu mau," tutur Mama Reta. Dan dijawab dengan anggukan oleh Ara yang masih saja setia memeluknya.


"Kamu juga bisa memintaku memelukmu jika kamu ingin merasakan kehangatan seorang adik." Rissa menundukkan tubuhnya dan memeluk Ara.


Ara melepaskan pelukannya, dan mengusap air matanya. "Mana bisa, bukannya kau lebih tua setahun dariku?"


"Ceh! Setahun itu gak berarti. Biar bagaimanapun kamu kakak iparku sekarang," jawab Rissa kekeh.


"Ada apa ini?" Ibra yang baru saja datang, menautkan kedua alisnya melihat pemandangan di hadapannya.


"Untung Kakak datang," sahut Rissa. "Sudah sana pergi ke suamimu. Sekarang Mama milikku seorang," ucap Rissa pada Ara, yang kemudian kembali memeluk Mama Reta.


Ara yang melihat kedatangan Ibra, dengan segera berdiri dan berlari memeluk tubuh suaminya. Ini yang sejak tadi ia tunggu. Mencium aroma tubuh suaminya, rasanya sangat menenangkan untuknya.


Ibra yang merasa tidak mengerti dengan apa yang terjadi, mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan pada mamanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Naiklah beristirahat, Ara pasti sudah lelah menunggumu sejak tadi," ucap Mama Reta.


"Baiklah, kalau begitu kami naik dulu. Mama juga istirahatlah, ini sudah larut." Setelah mendapat anggukan dari Mama Reta, Ibra naik ke kamarnya dengan merangkul istrinya.


"Ada apa?" tanya Ibra saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Ara.


"Lalu kenapa menangis?"


"Nggak kenapa-kenapa. Ara hanya bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Ara mendapatkan banyak cinta disini," ucap Ara, seraya membantu Ibra melepaskan kancing kemejanya.


Ibra tersenyum kecil, seraya mengusap pipi istrinya. "Kamu tau, akhir-akhir ini kamu semakin cengeng saja.... Setiap kali melihatmu menangis aku jadi merasa takut. Apa mungkin aku gagal menjadi suami yang membahagiakanmu?"


"Nggak, kok. Ara sangat bahagia dengan Kakak," sahut Ara, seraya memeluk tubuh Ibra. "Aku juga bingung kenapa jadi se-melow ini. Aku selalu saja ingin menangis bahkan saat merasa bahagia. Kakak pasti merasa bosan denganku."


"Iya, sangat membosankan," jawab Ibra tersenyum kecil.


Ara dengan cepat melepas pelukannya. "Sungguh?"


Ibra terkekeh, lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Tidak, aku hanya bercanda, Sayang. Aku tidak akan pernah merasa bosan denganmu... tapi kamu harus janji, mulai saat ini kamu tidak akan menangis lagi," pintanya.


"Iya, Ara janji."


"Ya sudah, kalau begitu aku bersih-bersih dulu ya." Ibra mencubit gemas kedua pipi Ara, dan mengecup sekilas bibir istrinya itu.


"Jangan lama-lama ya," jawab Ara tersenyum, seraya mengedip-ngedipkan matanya.


"Ada apa denganmu? kenapa jadi genit begini? Membuatku ingin langsung ke tempat tidur saja."


"Ya udah, nggak usah mandi aja," jawab Ara cepat. Membuat Ibra terkekeh mendengarnya.


"Astaga, ada apa denganmu? kalau begitu kamu tunggu ya, aku mandinya cepat kok." Ibra kembali mengecup sekilas bibir Ara, dan dengan cepat berlari ke kamar mandi. "Jangan lupa ganti baju kamu ya, malam ini aku maunya yang berwarna putih," teriaknya sebelum menutup pintu kamar mandi. Membuat Ara tertawa melihat tingkah suaminya itu.


Ibra bahkan telah benar-benar membelikannya banyak lingerie dengan berbagai macam warna, untuk Ara gunakan saat tidur.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2