
"Mas Ibra! Ara!" sapa seseorang.
"Hei, Sarah!" sahut Ibra.
"Apa kalian sedang merayakan sesuatu?" tanya Sarah, saat melihat sebuah kue ulang tahun di atas meja.
"Iya, Ara berulang tahun hari ini," ucap Ibra.
"Wah, sungguh! Selamat ulang tahun ya, Ara. Kenapa kau tidak memberitahuku, kita kan bisa merayakannya bersama," ucap Sarah antusias.
"Iya terima kasih. Saya juga nggak begitu suka merayakan ulang tahun saya," tutur Ara tersenyum kaku, merasa tidak begitu senang dengan kehadiran Sarah.
"Kalau begitu boleh saya ikut bergabung?" tawar Sarah.
"Iya boleh, kok. Saya akan meminta pelayan menyiapkan kursi untukmu," sahut Ibra.
"Nggak usah!" cegah Ara. Membuat Ibra dan Sarah berbalik menatap padanya.
"Bukankah Kak Ibra mengatakan kalau kita hanya akan makan malam berdua?" tanya Ara pada Ibra. Bahkan sebelumnya pria itu melarangnya mengajak Mama Reta dan Rissa.
"Iya, tapi___"
"Sekarang Kakak pilih, makan malam denganku atau dengan Mba Sarah?" ucapnya, memberi pilihan. Membuat Ibra membulatkan matanya tidak percaya.
"Maksud kamu apa sih?" ucap Ibra kesal.
"Ara akan pulang." Ara meraih tasnya yang tergeletak di atas meja dan berdiri.
Baru saja Ara melangkah, namun Ibra dengan cepat menarik tangannya.
"Ada apa denganmu? Jangan kekanak-kanakan," bentak Ibra.
"Ara, kalau kau tidak suka saya berada disini, maka saya yang akan pergi. Jangan seperti ini," sahut Sarah menimpali.
"Iya, jangan mempermalukanku seperti ini, duduklah," sergah Ibra.
"Maaf!" Ara menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Ibra, kemudian berlalu dengan cepat keluar dari restoran.
"Sebaiknya Mas Ibra mengejarnya, sepertinya Ara salah paham," ucap Sarah menyesal, yang dengan cepat dituruti oleh Ibra.
"Ara!" Ibra menarik tangan Ara, guna menghentikan langkah wanita itu. Saat mereka sudah berada di luar restoran.
"Ada apa denganmu? kenapa seperti ini? Kau hanya mempermalukanku di depan Sarah," makinya.
"Jadi Kakak malu memiliki Ara?"
"Berhentilah berbicara yang tidak masuk akal. Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau sedang cemburu?" tanya Ibra emosi.
"Iya, Ara cemburu. Apa Ara salah?"
"Astaga, kamu cemburu pada Sarah? Dia itu hanya adikku."
"Tidak! dia bukan adik Kakak. Adik Kakak hanya Rissa," sergah Ara.
"Tapi dia sudah aku anggap seperti adik sendiri, tidak lebih dari itu."
"Itu menurut Kak Ibra, tapi tidak dengan Mba Sarah. Apa Kakak tahu, Mba Sarah terus saja memberi tahu Ara kalau dia menyukai Kakak sejak dulu," sahut Ara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah aku katakan, dia hanya bermain-main denganmu," bela Ibra.
"Tidak, dia serius dengan ucapannya, aku bisa melihatnya."
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Aku lelah berdebat denganmu. Orang-orang bahkan melihat kita seperti ini." Ibra pergi meninggalkan Ara begitu saja, merasa malu saat mereka jadi bahan tontonan orang-orang yang melihatnya.
Ara mengusap air matanya yang sudah terjatuh, lalu berjalan ke sisi jalan raya untuk menyetop taksi. Saat ini ia benar-benar merasa sesak di dadanya. Malu? ia sudah tidak peduli lagi, terserah apa kata orang yang melihatnya.
"Mas maafkan Sarah ya, Sarah tidak tau kalau akan seperti ini," ucap Sarah menghampiri Ibra.
"Iya tidak apa. Ara hanya belum dewasa saja," jawab Ibra.
"Oh iya, Sarah. Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tanya apa, Mas?"
"Apa benar kau menyukaiku?" tanya Ibra, namun Sarah hanya terdiam.
"Aku harap ucapanmu pada Ara hanya main-main saja," sambungnya, saat tidak mendapatkan jawaban dari wanita di hadapannya.
"Tidak. Aku memang menyukai Mas Ibra sejak dulu. Sejak Mas Ibra masih bersama dengan Mba Viona," jawab Sarah berterus terang.
"Jadi itu benar?" Ibra terkesiap, tidak menyangka apa yang dituduhkan istrinya itu benar adanya. "Tapi kau tahu kan aku hanya menganggapmu adik, dan tidak akan mungkin lebih dari itu," tutur Ibra.
"Iya aku tahu. Aku juga tidak berharap Mas Ibra membalas perasaanku. Sejak mendengar kabar bahwa Mas Ibra akan menikah, aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku. Tapi sesaat aku merasa cemburu saat mengetahui Ara adalah istri Mas Ibra. Kalian bahkan menikah tanpa cinta.... Tapi Mas jangan khawatir, aku tidak berniat mengganggu hubungan kalian kok," tutur Sarah.
"Terima kasih telah mengerti. Aku juga tidak pernah menyangka akan menikah dengannya. Dia datang begitu saja dihidupku. Tapi, aku bahagia, aku sangat mencintainya saat ini," jawab Ibra.
"Iya, aku mengerti. Kalau begitu aku akan pulang. Sampaikan maafku pada Ara," ucap Sarah, kemudian pergi meninggalkan Ibra.
***
Di dalam taksi, Ara terus saja menangis hingga suara deringan ponselnya menghentikan tangisannya.
Ara dengan cepat mengusap air matanya dan mengangkat panggilan telfon yang ternyata dari Bi Ratih.
"Wa'alaikumsalam, Bi Ratih!" sahutnya, setelah mendengar salam dari wanita paruh baya itu.
"Neng Ara kenapa?" tanya Bi Ratih panik. "Halo, Neng!" panggilnya lagi saat tidak mendapat tanggapan dari Ara.
"Nggak apa, Bi. Ara hanya bahagia mendengar suara Bibi. Ara rindu dengan Bibi, rindu dengan Ayah juga... Ara ingin pulang...." ucap Ara disela isak tangisnya.
"Ada apa, Neng? Apa terjadi sesuatu?" Bi Ratih bertanya setenang mungkin, meski saat ini ia benar-benar khawatir. "Apa kalian sedang bertengkar?" imbuhnya. Namun Ara terus saja terisak, tidak menjawab pertanyaan Bi Ratih.
"Apapun masalah yang kalian hadapi selesaikanlah secara baik-baik. Bibi yakin Den Ibra suami yang baik. Pernikahan kalian masih seumur jagung, dan masalah akan terus ada dalam sebuah rumah tangga.... Dan Bibi harap Neng Ara bisa menyelesaikan masalah Neng Ara dengan baik."
"Iya, Bi. Terima kasih."
"Tapi kalau Neng Ara ingin pulang ke rumah, Bibi bisa datang besok," ucap Bi Ratih.
Ara menggeleng dengan cepat, meski Bi Ratih tidak dapat melihatnya. "Jangan, Bi. Ara hanya akan ke rumah Miya sekarang," jawab Ara.
"Apa Neng Ara pergi dari rumah?" tanya Bi Ratih cemas.
"Nggak kok, Bi. Miya dan Arumi memintaku untuk datang ke rumahnya. Sepertinya mereka sedang membuat pesta kejutan untukku," ucapnya, yang masih sesegukan.
"Baiklah. Tapi setelah itu langsung pulang ya, Neng. Sebesar apapun masalah yang kalian hadapi jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah, karena itu hanya akan memperumit keadaan," ucap Bi Ratih menasehati.
"Iya, Bi. Ara mengerti. Terima kasih, Bi.... Ara sangat merindukan Bi Ratih."
"Iya, Bibi juga sangat merindukan Neng Ara. Sudah jangan menangis lagi, kalau Neng Ara terus-terusan bersedih, Neng Ara akan membuat Bibi merasa bersalah meninggalkan Neng Ara."
"Iya, Bi. Ara udah nggak menangis kok." Ara menghapus air matanya yang masih terjatuh.
"Anak yang pintar. Ya sudah Neng Ara hati-hati di jalan. Sampaikan salam Bibi pada mereka."
__ADS_1
"Iya, Bi. Akan Ara sampaikan, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Setelah mengakhiri sambungan telfonnya dengan Bi Ratih, Ara menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dan kembali memikirkan pertengkarannya dengan Ibra, hingga ia tiba di depan kosan Miya. Sebelum masuk, Ara terlebih dahulu menghapus sisa-sisa air matanya yang yang masih jatuh sesekali.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya, seraya mengetuk pintu kosan Miya. Hingga sebuah pergerakan pada gagang pintu, membuatnya menghentikan ketukannya.
"Happy birthday!" teriak Arumi dan Miya heboh.
Namun kehebohannya terhenti tatkala melihat wajah Ara yang sembab, dengan mata merah yang masih berkaca-kaca.
"Ada apa denganmu?" tanya Miya yang sedang memegang sebuah kue ulang tahun dengan lilin bertuliskan angka 22 di atasnya.
"Kamu kenapa?" tanya Arumi, yang juga penasaran.
"Nggak kenapa-kenapa kok. Ayo masuk." Ara meniup lilin kue yang di pegang Miya dan masuk mendahului kedua sahabatnya.
"Ada apa?" tanya Miya berbisik pada Arumi. Namun Arumi hanya mendelikkan kedua bahunya tidak mengerti.
Setelah masuk ke dalam kamar Miya dan mendapatkan pertanyaan beruntun dari kedua sahabatnya, Ara perlahan menceritakan masalahnya kepada keduanya.
"Apa aku salah? Apa benar aku masih kekanak-kanakan?" tanya Ara pada keduanya.
"Nggak kok, itu wajar aja," jawab Arumi.
"Aku nggak habis pikir, bagaimana bisa ada wanita sepertinya. Apa dia berencana merebut Kak Ibra darimu?" ucap Miya kesal.
"Sebaiknya kamu disini aja dulu sampai Kak Ibra menyadari kesalahannya. Bagaimana bisa dia begitu tidak peka," ucap Arumi.
"Iya kamu menginap disini aja. Arumi juga akan menginap kok," kata Miya bersemangat.
"Kata siapa?" sahut Arumi.
"Kataku barusan," jawab Miya menyengir.
"Seenaknya aja," ucap Arumi ketus.
"Tapi, mau kan?" tanya Miya.
"Iya!" ketus Arumi. Membuatnya mendapatkan pelukan dari sahabatnya itu.
"Jangan lebay!" Arumi mendorong tubuh Miya, membuat Ara tertawa melihat tingkah keduanya.
Tingkah keduanya memang selalu saja menjadi hiburan tersendiri untuknya. Membuatnya benar-benar bersyukur memiliki keduanya. Hingga mendorongnya untuk memeluk keduanya.
"Aku bahagia memiliki kalian."
"Iya aku juga sangat sangat bahagia." Miya dengan cepat membalas pelukan Ara.
"Berarti hanya aku yang tidak bahagia," sahut Arumi.
Miya melepaskan pelukannya, dan menatap tajam Arumi. "Sungguh?"
"Becanda doang!" jawab Arumi terkekeh. Membuat keduannya ikut tertawa.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤