Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 60


__ADS_3

Dinginnya angin malam yang menusuk hingga ke tulang, tidak membuat Ara beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


Di balkon kamarnya, ia menumpahkan segala kesedihannya atas kepergian kedua sahabatnya.


Baru saja pagi tadi Arumi dan Miya pergi, Ara sudah sangat merindukan kedua sahabatnya itu. Rasanya ada yang hilang dari dirinya, memikirkan keduanya yang selalu mengisi hari-harinya selama ini. Menjadi penyemangat hidupnya setelah ayahnya.


Tidak ada yang paling mengerti dirinya selain keduanya, satu-satunya keluarga yang ia miliki meski tanpa hubungan darah.


"Sedang apa disini?" Sebuah pertanyaan yang disertai dengan kecupan di kepala, yang dilayangkan Ibra, membuat Ara dengan cepat menghapus air matanya sebelum berbalik pada pria itu.


"Udah pulang?" Tanpa menatap wajah suaminya, Ara meraih tangan Ibra dan menciumnya.


Ibra menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, saat punggung tangannya terasa basah. "Ada apa?" tanyanya, menatap lekat kedua bola mata istrinya yang nampak berkaca-kaca. "Hem?" gumamnya, mengharap jawaban.


Ara memeluk tubuh Ibra dan kembali menumpahkan air matanya. " Ara rindu dengan mereka...." ucapnya di sela tangisnya. "Satu persatu orang yang Ara punya pergi meninggalkan Ara, Ara tidak punya siapa-siapa lagi."


"Bukankah masih ada kakak? Masih ada Rissa, Mama, Papa. Kami semua juga keluarga kamu," ucap Ibra menenangkan.


Ara menganggukkan kepalanya dan perlahan melepaskan pelukannya. "Kakak berjanjilah, untuk tidak akan meninggalkanku," pintanya.


"Iya, Kakak janji. Tidak ada alasan untukku meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Jadikan aku pengganti mereka. Kamu bisa mencurahkan seluruh isi hatimu padaku, aku juga bisa menyimpan rahasia." Ibra tersenyum kecil seraya menghapus air mata istrinya yang masih berjatuhan. "Berhentilah menangisi mereka. Mereka juga punya kehidupan mereka masing-masing. Doakan mereka sehat selalu, agar kalian bisa bertemu lagi nantinya," imbuhnya. Yang mendapat anggukan dari Ara yang kembali memeluknya.


"Kita masuk ya, disini sangat dingin," kata Ibra, yang ingin melepas pelukan istrinya.


Bukannya melepaskannya, Ara justru semakin mengeratkan pelukannya. "Biarkan seperti ini, biarkan aku memeluk kakak dulu. Kakak sangat wangi," pintanya yang terus menghirup aroma tubuh suaminya.


"Tapi, aku belum mandi," ucap Ibra

__ADS_1


"Nggak apa, wangi kok!"


"Lakukanlah sesuka hatimu," ucap Ibra tertawa, seraya mengelus-elus kepala istrinya.


***


Pagi hari seperti biasanya, sebelum memulai aktifitas, seluruh keluarga di kediaman Nahar Fachary akan sarapan bersama.


Tidak seperti biasanya, hari ini Ara makan dengan sangat lahap. Bahkan seperti orang kelaparan saja.


"Nasi goreng Mama sangat enak. Boleh Ara menambah?" tanya Ara pada Mama Reta.


"Iya, tambahlah. Kalau perlu kamu habiskan semuanya," jawab Mama Reta tertawa.


"Sayang, tapi kan di piring kamu masih banyak. Kamu habiskan dulu." Ibra memicing, menatap nasi goreng di piring istrinya yang masih banyak. Khawatir jika saja wanita itu tidak akan menghabiskannya.


"Tapi Ara takut kehabisan," jawab Ara.


"Astaga! Apa kau begitu lapar?" tanya Rissa bergidik.


"Sayang, sepertinya kamu sangat kelaparan setelah menangis semalaman," sahut Ibra tertawa kecil.


"Menangis kenapa?" tanya Mama Reta khawatir.


"Nggak kenapa-kenapa kok, Ma. Ara hanya rindu dengan Miya dan Arumi," jawab Ara tersenyum.


"Iya, Mama mengerti. Kalau begitu cepat habiskan makanan kamu, kalau tidak cukup mama akan membuatkanmu lagi," ucap Mama Reta tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Ma. Terima kasih."


"Ara, apa benar kau hanya akan tinggal di rumah saja?" tanya Rissa.


"Iya, Kak Ibra juga mengizinkannya, kok," jawab Ara.


"Tapi, itu kan sangat membosankan. Kenapa nggak kerja aja?" tanya Rissa.


"Nggak apa, kan ada Mama di rumah. Aku ingin seperti Mama, selalu ada di rumah saat kak Ibra pulang kerja."


"Manisnya!" Ibra tersenyum, seraya mengelus kepala Ara.


"Pemikiran yang bagus. Tidak salah kamu mengikuti jejak mama," sahut Mama Reta menunjukkan jempolnya.


"Ceh, aku yakin sebentar lagi kau akan jadi ibu-ibu arisan yang kerjanya gosipin orang, kayak Mama" ucap Rissa jengah.


"Maksud kamu apa? Kamu pikir Mama itu pergi arisan hanya untuk bergosip?" ucap Mama Reta menampik.


"Terus apa lagi?" tanya Rissa.


"Ya... kami hanya sekedar cerita-cerita, tapi___"


"Sudah-sudah lanjutkan sarapan kalian. Kenapa jadi cerita arisan sih!" sahut Papa Nahar memotong. Menyisahkan rasa kesal Mama Reta pada Rissa, tapi tidak dengan Rissa yang nampak biasa saja.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2