
Saat menatap wajah sendu mama Reta, tiba-tiba saja rasa bersalah menghinggapi perasaan Ara. Tidak seharusnya ia terus menyembunyikan kebenarannya pada mama Reta, biar bagaimanapun Alea adalah darah dagingnya.
Perlahan Ara menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan mama Reta.
"Benarkan?" tanya mama Reta meyakinkan. Dan Ara kembali menganggukkan kepalanya. Melihat itu mama Reta dengan cepat meraih tubuh Alea yang sedari tadi hanya terus terdiam menatap keduanya.
"Cucuku!" Mama Reta menciumi seluruh wajah Alea dan memeluk cucunya itu erat-erat. "Mama sudah sangat yakin, kalau dia cucu mama saat tau kamu ibuya," ucap mama Reta menumpahkan air matanya bahagia.
"Apa kamu hanya sedang ingin membahagiakan mama?" ucap Ibra yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Tidak!" jawab Ara menunduk.
"Lihat aku," ucap Ibra, membuat Ara mendongakkan kepalanya menatap Ibra. Sejenak mata mereka saling menatap, "Jadi itu benar?"
"Iya."
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku saat kita bertemu? Apa kamu berniat untuk menyembunyikannya dariku?"
"Maaf! Tapi saat itu Ara tidak menyangka akan bertemu kakak disana. Melihat kalian yang begitu dekat membuatku merasa takut kakak akan mengambilnya dariku."
"Tapi dia anakku juga."
"Iya maaf!"
Baru saja Ibra ingin kembali bertanya tapi dia urungkan saat mendengar deringan ponsel Ara. Ara kemudian sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan telfonnya yang ternyata dari Abyan yang mengatakan kalau Miya telah melahirkan.
Saat akan kembali menghampiri Ibra, Ara disuguhkan pemandangan yang begitu mengharukan. Memandangi wajah Ibra yang nampak sangat bahagia, senyumnya nampak mengembang dengan mata yang berbinar sambil terus mengelus-elus wajah Alea dan menciuminya. Dan tidak jauh berbeda dengan Ibra, Alea juga terlihat sangat bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ibra.
"Mamaaa!" teriak Alea menghampiri Ara "Apa benar Om Ibra papa Alea?" tanya Alea pada Ara.
"Iya sayang!" jawab Ara tersenyum meraih tangan putrinya, lalu berjalan ke arah Ibra dan mama Reta. "Mungkin mama dan kak Ibra ingin bersama Alea dulu," ucapnya pada mama Reta dan Ibra kemudian berjongkok pada putrinya. "Alea menginap disini dulu malam ini, mau kan?"
"Iya mau ma." jawab Alea girang, " tapi mama menginap juga kan?"
"Tidak sayang, Maya lagi dirumah sakit sekarang, jadi mama menemani Maya dulu ya. Besok mama akan datang menjemput Lea. "
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Alea mengangguk.
"Tapi janji, Alea jangan nakal ya!"
"Iya ma Alea janji."
Ara memeluk Alea sejenak sebelum kembali berdiri sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh.
"Kalau begitu Ara pamit ya ma!" ucapnya pada mama Reta kemudian beralih pada Ibra. "Ara titip Alea ya kak," ucapnya yang kemudian mendapatkan anggukan dari Ibra.
"Ara! terimakasih ya, mama sangat senang," ucap mama Reta.
"Iya ma. Kalau begitu Ara pamit, Assalamualaikum!" ucapnya lalu berbalik meninggalkan ketiganya.
"Waalaikumsalam!"
"Jangan lupa jemput Lea ya ma!" teriak Alea saat Ara sudah menjauh, namun Ara tidak menjawabnya dan semakin mempercepat langkahnya. Ara tidak ingin putrinya tau kalau saat ini ia sedang menangis.
Entah mengapa ia merasa tidak rela meninggalkan Alea disana. Ia takut jika saja Alea akan merasa nyaman dengan mereka dan akan pergi meninggalkannya.
Setelah keluar dari apartemen Ibra, Ara mempercepat langkah kakinya.Namun semakin ia mempercepat langkahnya, air matanya juga jatuh semakin deras, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya dan berjongkok, menjatuhkan kepalanya di lipatan tangannya, menumpahkan semua kesedihannya.
"Ambillah!" ucap Ibra memberikan sapu tangannya.
"Terimakasih," ucapnya meraih sapu tangan tersebut.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mengambilnya darimu. Dia tetap milikmu, aku hanya ingin bersamanya untuk beberapa saat," ucap Ibra tau kekhawatiran yang Ara rasakan.
"Ara tidak akan melarangnya saat kakak ingin bersamanya." ucap Ara sambil sesekali menghapus air matanya.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Ibra menawarkan.
"Tidak usah, Ara bisa pulang sendiri."
"Ayo!" Ibra melangkah mendahului Ara, tanpa peduli dengan penolakannya.
__ADS_1
Saat ini keduanya telah berada di dalam mobil. Ara terus saja terdiam menutupi gejolak hatinya yang saat ini sedang membuncah. Kerinduannya pada sosok pria di sampingnya sedikit terobati dengan berada di sampingnya meski tanpa menyentuhnya.
"Mungkin kau pikir aku seorang peramal," ucap Ibra membuka percakapan.
"Maksudnya?" jawab Ara tidak mengerti.
"Meski aku tau saat ini kau sedang memikirkanku,tapi tetap saja aku tidak tau harus mengantarmu kemana?" jawabnya sedikit tersenyum, membuat Ara melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ma..af... kakak bisa mengantarku kerumah sakit saja." Ara menjawab dengan terbata-bata membuat Ibra tertawa kecil.
"Kau tau, saat kau pergi Alea mengatakan Mama pasti sedang menangis lagi dan dia terlihat bersedih saat mengatakan itu," ucap Ibra menjeda "Apa kau sering menangis di hadapannya?" tanyanya.
"Tidak!" jawab Ara cepat. "Aku juga tidak tau, bagaimana Alea bisa berpikir seperti itu." sambungnya menyangkal membuat Ibra tertawa, seingatnya ia pernah mendengar Alea mengatakan kalau mamanya sangat sering menangisi papanya. "Ternyata kau tidak berubah sama sekali." batin Ibra.
"Tapi Alea tidak salah kan!" ucap Ibra membuat Ara terdiam. "Oh iya, kamu punya hubungan apa dengan Abyan?"
"Dia suami Miya."
"Miya? Sungguh? Bagaimana aku tidak menyadarinya, padahal saat itu aku hadir di pernikahannya."
"Kakak ke pesta Miya?"
"Iya, aku datang untuk mencarimu." jawab Ibra membuat Ara berbalik menatapnya.
"Mencariku? Kenapa?" tanya Ara tidak mengerti.
"Apa salah kalau aku mencari istriku yang pergi dan tidak pulang-pulang?" jawab Ibra membuat Ara tidak percaya mendengarnya, bagaimana bisa dia mengatakan itu, sedangkan dia sendiri yang menyuruh Ara pergi.
"Maaf! Aku mencarimu untuk mengatakan itu. Maaf telah salah paham padamu, aku terlalu terbawa emosi saat itu dan..."
"Tidak apa. Itu sudah lama, aku juga sudah melupakannya, mungkin sebaiknya kita tidak mengingatnya lagi, " ucap Ara memotong ucapan Ibra, ia hanya tidak ingin mengenang kembali kesakitannya saat itu. Ibra pun menjadi bungkam setelahnya, mungkin Ara tidak ingin memaafkannya,pikirnya. Dan tidak ada lagi percakapan setelahnya hingga mereka tiba di rumah sakit.
.
.
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah memberikan dukungannya dengan Like, Komen dan Votenya. Loveyuu 😘😘
Tetap berikan Like, Komen dan Votenya yaa teman-teman 🤗❤