Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 63


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" ucap Ara memberi salam, saat memasuki rumahnya, sepulangnya dari supermarket.


"Wa'alaikumsalam!" sahut Bi Darmi, salah satu asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumah Mama Reta. Dan saat ini ia bekerja di rumah Ara atas permintaan Mama Reta. "Mari saya bantu,Non." Bi Ratih meraih beberapa kantongan dari tangan Ara.


"Mama belum datang, Bi?" tanya Ara.


"Iya, belum, Non."


"Ya sudah, kalau begitu Bibi bantu Ara menyusun belanjaan ini ya," pintanya.


"Siap, Non," jawab Bi Darmi tersenyum.


"Es krimnya banyak sekali, Non," ucap Bi Darmi, saat membuka salah satu kantong tersebut. Dan dengan segera memasukkan es-es tersebut ke dalam kulkas.


"Iya, tadi Ara begitu ingin makan es krim. Tapi sekarang nggak lagi. Kalau Bi Darmi mau, Bibi makan aja," jawab Ara, seraya mengeluarkan beberapa bahan makanan dan menyusunnya di dalam lemari.


"Tapi kenapa nggak dimakan, Non?"


"Entahlah, Bi. Tiba-tiba saja saya merasa tidak berselera lagi," jawab Ara.


"Apa Non Ara hamil?" Bi Darmi tersenyum, dan menatap majikannya itu.


"Hamil?" ucap Ara lirih, seraya memegang perutnya.


"Iya, suasana hati orang hamil biasanya seperti itu, Non. Sangat cepat untuk berubah-ubah," sahut Bi Darmi. Membuat Ara tertawa kecil mendengarnya.


"Saya nggak hamil, Bi. Tadi saya bertemu dengan orang yang menyebalkan di supermarket. Karena itu mood saya tiba-tiba berubah," cebik Ara. "Kalau begitu saya ke kamar dulu ya, Bi. Mau ganti baju dulu. Kalau Mama datang, cepat panggil saya ya, Bi." pintanya, yang kemudian diiyakan oleh Bi Darmi.


Ara naik ke kamarnya dengan memegang perutnya. Kembali terngiang dengan ucapan Bi Darmi.


Ada secercah harapan di hatinya, sebab bulan kemarin ia tidak datang bulan. Tapi, ia juga tidak pernah sekali pun merasa mual, yang setahunya akan dirasakan oleh ibu hamil pada umumnya. Hingga membuatnya, membuang jauh-jauh harapannya.


***


"Rafael?" Panggil Ibra. "Sedang apa disini?" tanyanya pada Rafael yang saat ini berada di lobi kantornya.


"Oh, hai! aku tadi lewat dan teringat denganmu," jawab Rafael. "Mau makan siang bersama?" ajaknya.

__ADS_1


"Boleh, ayo. Kebetulan aku baru saja akan makan siang," ucap Ibra menyetujui.


Keduanya lalu ke kafe yang tidak jauh dari kantor Ibra. Mereka menikmati makan siang mereka seraya berbincang ringan, membicarakan seputar kesibukan masing-masing.


"Kata anak-anak, kau sudah tidak pernah lagi datang ke klub," ucap Rafael disela percakapan mereka.


"Hahaha iya. Kau tau sendiri, saya tidak akan ke tempatmu hanya untuk sekedar bersenang-senang," jawab Ibra.


"Ya, kau hanya akan datang saat ada masalah saja, menyebalkan!" ucap Rafael, membuat Ibra tertawa. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan istrimu?" tanya Rafael serius.


"Alhamdulillah sangat baik," jawab Ibra tersenyum. "Menikahlah, agar kau juga merasakan bahagianya memiliki istri. Berhentilah bermain- main dengan wanitamu, dan seriuslah pada satu wanita," ucap Ibra menasehati.


"Wah! kau membuatku iri saja.... Baiklah akan ku coba untuk mencari wanita yang cocok," jawab Rafael tertawa kecil. "Oh iya, apa kalian sudah memiliki anak?" tanyanya lagi.


"Sayangnya, belum," jawab Ibra tersenyum getir.


"Syukurlah!" Ucapan Rafael membuat Ibra menautkan kedua alisnya, menatapnya.


"Maksudku, kau akan sangat kerepotan saat memiliki anak. Aku melihatnya dengan jelas pada teman-temanku yang telah memiliki anak. Langkah mereka menjadi terbatas karenanya," imbuhnya.


"Tapi aku sangat menginginkannya. Aku rela menghabiskan seluruh waktuku untuk keluargaku. Dan itu akan sangat membahagiakan tentunya," jawab Ibra tersenyum membayangkan.


"Apa maksudmu?" Rahang Ibra mengeras, tidak terima dengan pertanyaan yang dilontarkan pria itu.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu serius.... Akhir-akhir ini aku sering kali melihat orang yang diselingkuhi oleh istrinya," ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Dan itu tidak akan pernah terjadi pada istriku," ucap Ibra menampik.


"Iya maaf, aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan istrimu."


Ibra mengangkat lengan tangannya, untuk sekedar melihat mesin waktu yang melingkar disana. "Sepertinya waktu istirahatku sudah hampir habis, aku akan kembali ke kantor."


"Baiklah sampai jumpa di lain waktu."


Dengan perasaan yang masih dipenuhi dengan kekesalan, Ibra berdiri dari duduknya, dan berlalu begitu saja tanpa menanggapi ucapan Rafael.


"Pertanyaan aneh!" gumamnya, seraya melangkah cepat menuju kantornya.

__ADS_1


Saat di kantor, Ibra terus saja memikirkan perkataan Rafael yang menurutnya sangat aneh. Namun Ibra menepis semuanya, sebab ia yakin kalau istrinya sangat setia. Ara bukan tipe cewek yang mudah tergoda oleh pria lain. Dan ia sangat yakin akan hal itu.


Karena terus-terusan memikirkan istrinya, membuat Ibra tiba-tiba merasa rindu pada wanita itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi istrinya.


Ara yang berada di rumah, dan sedang serius membuat kue bersama Mama Reta, sedikit bingung saat mendapatkan panggilan telfon dari suaminya. Pasalnya tangannya sedang kotor saat ini.


Hingga akhirnya ia memutuskan mengangkat panggilan tersebut dan mengaktifkan mode pengeras suara.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Lagi apa?" tanya Ibra dari seberang.


"Ini, lagi belajar bikin kue sama Mama."


"Wah, pasti enak."


"Belum tau sih, soalnya belum jadi."


"Sisain buat kakak ya."


"Iya. Ara memang membuatnya khusus buat Kakak."


"Sungguh? aku jadi tidak sabar ingin mencicipinya.... Apa aku ijin pulang saja ya?"


"Jangan! Aku tidak akan menghabiskannya kok. Ara akan menyimpan semuanya untuk Kakak. Kalau Kakak suka, Ara akan membuatkannya lagi nanti."


"Tidak usah. Setelah memakan kuenya, aku hanya ingin memakan pembuatnya saja, pasti tidak kalah manis."


"Kakaakkk... Mama mendengarnya," teriak Ara, menunduk malu.


"Astaga, kenapa tidak bilang." Ibra dengan cepat memutuskan sambungan telfonnya. Merasa malu dengan apa yang dikatakannya.


Ara menggeleng dan terus menunduk, merasa malu pada mama mertuanya, yang terus saja menertawakannya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2