
Ibra menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, ia sangat menyesal telah membiarkan Ara pulang sendiri. Dan saat ini ia akan meminta maaf pada istrinya itu. Ia benar-benar menyesal telah membuat Ara bersedih di hari spesialnya.
Saat membuka pintu kamarnya, Ibra sedikit heran mendapati kamarnya yang gelap gulita. Sebab, saat keluar tadi seingatnya ia tidak mematikan lampu kamarnya.
"Apa dia belum pulang?" gumamnya, yang kemudian menyalakan lampu kamarnya.
"Surprise!!" teriak Rissa dengan nada melemah diakhirnya.
"Ara mana?" tanya Rissa dan Mama Reta bersamaan.
"Jadi dia belum pulang?" tanya Ibra.
"Apa maksud kamu?" tanya mama Reta bingung.
"Sial!" umpat Ibra. Dan dengan segera keluar dari kamarnya, tanpa menanggapi pertanyaan mamanya.
"Ada apa dengannya? Kemana Ara?" Mama Reta menautkan kedua alisnya, merasa sangat bingung.
"Apa mereka nggak pulang bersama?" tanya Rissa.
"Apa mungkin mereka bertengkar lagi?" Kali ini Mama Reta benar-benar yakin kalau keduanya sedang ada masalah.
***
Tok..tok..tok...
"Sepertinya ada orang." Ucapan Arumi membuat ketiganya terdiam dan kembali mendengar suara ketukan.
"Bagaimana kalau itu Kak Ibra?" tanya Miya dengan suara yang di rendahkan. Pasalnya letak kamarnya berada tepat di samping teras rumah yang terhubung dengan ruang tamu.
"Katakan padanya kalau Ara tidak ada disini," ucap Arumi pada Miya.
"Baiklah!" Miya kemudian keluar untuk membuka pintu rumahnya.
"Kak Ibra!" sapanya, setelah melihat sosok Ibra yang benar-benar berdiri di balik pintu rumahnya.
"Ara ada?" tanya Ibra.
"Ara? Maaf dia nggak ada," ucap Miya ragu.
"Saya mohon biarkan saya bertemu dengan Ara, saya ingin meminta maaf padanya." Ibra sangat yakin kalau istrinya berada di dalam, sebab ia tidak punya siapa-siapa lagi selain kedua sahabatnya itu.
Miya menggaruk kepalanya, menyalurkan kebingungannya. Ia benar-benar tidak tega melihat wajah pria di hadapannya. "Tapi dia tidak ingin bertemu dengan Kak Ibra," ucapnya, yang memang tidak pandai berbohong.
__ADS_1
"Saya mohon, saya akui saya salah, biarkan saya bertemu dengannya terlebih dahulu... saya mohon!" pinta Ibra terus memohon.
"Baiklah, Kak Ibra masuk dulu. Saya akan memanggil Ara." Miya menggeser tubuhnya, membiarkan Ibra masuk. Dan setelahnya ia masuk ke dalam kamarnya untuk memanggil Ara.
"Ara!" Ibra berdiri dari duduknya, dan dengan cepat menghampiri Ara yang baru saja keluar dari kamar Miya.
Ibra menarik tubuh Ara dan memeluknya. "Maaf... maafin Kakak ya," pintanya, seraya mencium kepala istrinya. "Maaf telah membentakmu, maaf kakak tidak mengerti dengan perasaanmu," imbuhnya, meski tidak mendapatkan tanggapan dari Ara yang terus saja terdiam, dan tidak juga membalas pelukannya.
Ia melepaskan pelukannya, dan beralih menangkup wajah istrinya. "Kamu maukan memaafkan kakak?" tanyanya menatap lekat wajah istrinya yang sudah menangis lagi.
"Maafkan kakak ya? Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi... hm?" Ibra terus saja mengusap air mata Ara yang terjatuh dengan kedua ibu jarinya. Ia benar-benar telah membuat wanita itu terluka.
Ara perlahan menganggukkan kepalanya, membuat Ibra tersenyum dan kembali memeluknya. "Makasih ya."
"Kita pulang ya?" ajak Ibra, dan Ara kembali menganggukkan kepalanya.
Setelah pamit pada Arumi dan Miya keduanya pun pergi meninggalkan rumah Miya.
"Syukurlah mereka segera berbaikan," ucap Miya tersenyum, melihat kepergian keduanya.
"Iya, dan ternyata kau sangat pandai dalam bersandiwara." Arumi melirikkan matanya dengan sinis.
"Maksud kamu?" tanya Miya
"Nggak jadi menginap?" tanya Miya.
"Nggak!" jawab Arumi cepat, dan segera keluar dari rumah Miya tanpa perduli dengan Miya yang terus saja memintanya untuk tinggal.
***
Ibra menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu sedikit memutar tubuhnya menghadap Ara. Ia meraih jemari Ara dan menggenggamnya. Membuat Ara menatapnya bingung.
"Aku benar-benar meminta maaf," ucapnya menyesal. "Kamu benar, Sarah menyukaiku. Tapi aku sudah jelasin ke Sarah kalau aku tidak mungkin menyukainya, karena aku telah memilikimu. Dia mengerti dan dia juga meminta maaf telah membuatmu salah paham.... Mulai saat ini aku harap kamu percaya padaku. Aku tidak mungkin menyukai perempuan lain selain kamu, jadi jangan pernah meragukanku, ya?" pintanya bersungguh-sungguh.
"Iya, maaf!"
"Kakak yang seharusnya meminta maaf karena membuatmu bersedih di hari ulang tahunmu.... Maaf ya?" Ibra mengecup sekilas bibir Ara, setelah mendapat anggukan dari wanita itu.
"Manis," ucap Ibra tersenyum menggoda.
"Ara habis makan kue ulang tahun, makanya rasanya manis," jawab Ara polos.
Ibra tertawa kecil kemudian menarik tengkuk Ara dan kembali menciumi bibir istrinya. Ara yang sudah terbiasa mendapatkan ciuman dari Ibra pun perlahan membalas ciuman suaminya, menikmatinya sesaat sebelum akhirnya tersadar dan mendorong tubuh Ibra.
__ADS_1
"Ntar ada yang liat, dikiranya kita pasangan mesum."
Ibra tertawa kemudian mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya. "Ya sudah kita lanjutin di rumah saja," ucapnya, yang kemudian dengan cepat menjalankan mobilnya. Membuat Ara tertawa melihatnya.
Setibanya dirumah, Mama Reta dan Rissa dengan cepat berlari menghampiri keduanya.
Mama Reta menarik tubuh Ara, dan menatap wajah menantunya yang terlihat sayu. "Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Sayang?" tanyanya khawatir.
"Nggak. Ara baik-baik aja kok, Ma," jawab Ara tersenyum.
"Apa Ibra menyakitimu?" Mama Reta melirik Ibra dengan sinis.
Ara ikut melirik ke arah suaminya, yang terlihat acuh. "Nggak kok, Ma," ucapnya, tidak ingin membuat mama mertuanya jadi khawatir.
"Kamu nggak usah bohong, kamu habis nangis kan? Dan itu ulah Kak Ibra kan?" Bahkan Rissa dapat melihat dengan jelas mata Ara yang sedikit bengkak.
Mama Reta mengangguk membenarkan ucapan putrinya. "Kalau Ibra menyakitimu, kamu beri tahu mama. Meski Ibra anak mama, mama pasti akan memihakmu," ucap Mama Reta mengelus-elus punggung tangan Ara.
"Apaan sih, Ma. Orang istriku tidak kenapa-kenapa.... Iya kan, Sayang?" ucap Ibra mengelus pipi Ara. Membuat Mama Reta dan Rissa semakin menatapnya curiga.
"Ada apa?" tanya Ibra menatap keduanya.
"Cih! sayang. Habis bikin nangis anak orang setelah itu disayang-sayang lagi?!" ucap Rissa mencebik.
"Dari dulu memang sayang kok. Iri banget sih, kamu pengen disayang juga? Noh Si Ryan siap menyayangimu lahir dan batin," tuturnya, membuat Ara tertawa mendengarnya.
"Memang kamu mau sama Ryan?" tanya mama Reta.
"Apaan sih, Ma. Amit-amit amit-amit," ucap Rissa cepat
"Husss, gak boleh gitu. Lagipula mama suka kok sama Ryan, anaknya baik, penurut lagi," ucap mama Reta tersenyum.
"Ya iya penurutlah, dia kan kerja sama Papa, digaji, makanya dia penurut," jawab Rissa ketus.
"Enggak kok. Memang dasarnya anaknya rajin kok. Yang pokoknya mama setuju deh kamu sama Ryan."
"Gak bakalan!" jawab Rissa cepat, membuat yang lainnya ikut tertawa.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤