Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 41


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan, Ara berpamitan pada Mama Reta, untuk ke kampus.


"Iya, hati-hati. Oh iya, pulang kuliah mama yang jemput ya. Temenin mama berbelanja. Tadi mama ajak Rissa, tapi sepertinya dia sangat sibuk hari ini," tutur Mama Reta.


Saat ini Rissa sedang menjalani koas di salah satu rumah sakit. Hingga membuatnya sangat jarang berada di rumah.


"Iya, baiklah. Ara akan menghubungi Mama kalau Ara sudah pulang."


"Oke. Mama tunggu, ya!"


Setelah mengiyakan ucapan mama mertuanya, Ara kemudian keluar menuju mobil Ibra, yang sudah menunggunya sejak tadi.


Ibra dengan segera melajukan mobilnya, menuju kampus istrinya. Dan menurunkan Ara tepat di depan kampus.


"Hai!" sapa seseorang yang saat ini berjalan di sisi Ara, di koridor kampus.


"Gita! Ada apa?" sahut Ara, melambatkan langkahnya.


"Saya dengar-dengar kamu udah nikah, ya?" tanya Gita.


"Iya, Alhamdulillah udah," jawab Ara tersenyum kecil.


"Saya ikut senang mendengarnya. Ternyata masih ada juga orang yang tulus denganmu dan menerimamu apa adanya. Nggak kayak Pak Bima, yang nggak bisa menerima masa lalumu."


Ara tersentak kaget dan menghentikan langkahnya, mendengar penuturan gadis itu. "Maksud kamu?"


"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" sergah Arumi, menarik bahu Gita. Yang ternyata ikut mendengar pembicaraan keduanya.


"Apaan sih!" Gita menepis kasar tangan Arumi yang ada di bahunya.


"Kamu yang apaan. Kau pikir saya nggak tau, kalau kamu yang memberitahu Pak Bima semuanya," sergah Arumi. "Saya kasihan sama kamu. Kau melakukan itu, biar bisa dekat dengan Pak Bima, kan? Tapi sayang, sepertinya rencana kamu nggak ada kemajuan," imbuhnya dengan nada mengejek.


"Kau jangan asal ngomong ya!" teriaknya, tidak sadar. Gita melebarkan pandangannya. Merasa malu dengan mahasiswa lain yang menatap ke arahnya.


Ara yang mendengar amarah Gita juga ikut melebarkan pandangannya. Lalu dengan segera menarik tangan Arumi. Mengajak sahabatnya itu pergi menjauh dari Gita, agar keduanya tidak membuat keributan.


"Murahan!" bisik Arumi di telinga Gita, sebelum Ara menariknya menjauh dari gadis itu. Dan hal itu berhasil membuat Gita semakin kesal padanya.


"Maksud kamu apaan sih?" tanya Ara, seraya melepaskan genggaman tangannya pada lengan Arumi, saat merasa sudah berada jauh dari Gita.


"Ada apa?" Miya yang baru saja menghampiri keduanya, menautkan kedua alisnya, merasa heran melihat Ara yang terlihat marah pada Arumi.


"Nggak ada apa-apa," jawab Arumi datar.


"Jadi kamu nggak mau cerita?" tanya Ara seraya menghentikan langkahnya.


"Ini ada apa sih?" tanya Miya, semakin penasaran.


Pasalnya, sahabatnya itu sangat jarang marah pada mereka berdua. Jika ada diantara mereka yang berselisih paham, itu pasti dirinya dengan Arumi. Dan Ara selalu jadi penengah diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa. Nggak penting juga," jawab Arumi acuh. Ia bahkan tidak berniat sedikitpun untuk menjelaskan semuanya pada Ara. Sebab menurutnya, itu sudah tidak penting lagi.


Melihat Arumi yang terus terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaannya, membuat Ara pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya.


Saat ini ia benar-benar merasa kecewa pada sahabatnya itu. Meski sebenarnya ia sudah dapat mengerti dengan semuanya, tapi ia tetap berharap kalau Arumi akan menjelaskan semuanya.


***


Bima terlihat masuk ke ruang kelas Ara. Sebab hari ini memang jadwal mengajarnya di kelas wanita itu.


Saat pertama kali masuk ke ruangan tersebut, pandangan Bima mengena tepat pada manik mata Ara, yang saat ini juga tengah menatapnya.


Ara dengan cepat menundukkan pandangannya. Saat ini ia benar-benar sangat malu pada dosennya itu. Setelah mengetahui kebenaran tentang mengapa pria itu menghindarinya, membuatnya benar-benar ingin menghilang dari pandangan pria itu.


Sepanjang jam pelajaran Bima, Ara terus saja menundukkan pandangannya. Tanpa pernah sedetik pun mengalihkan pandangannya dari meja di hadapannya.


Bima yang menyadari keanehan wanita itu terus saja melempar pandang pada Ara. Meski biasanya Ara selalu bersikap datar padanya, tapi setidaknya wanita itu masih memperhatikannya saat ia sedang menerangkan pelajaran yang ia bawakan. Tapi tidak kali ini. Membuat Bima bertanya-tanya tentang apa yang membuat wanita itu bersikap seperti itu.


Arumi yang melihat sikap Ara, menghela napasnya. Ia dapat mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini.


***


"Maaf!" ucap Arumi, yang saat ini berdiri di sisi Ara. Setelah Bima keluar dari ruangan mereka.


Ara mendongak dan tersenyum, "iya nggak apa. Lagi pula semuanya udah berlalu."


"Sumpah ya, aku bener-bener nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi sama kalian," sahut Miya.


"Nggak usah, kalau nggak ngerti... ke kantin yuk!" ajak Arumi. Yang kemudian diiyakan oleh keduanya.


***


Siang hari sesuai janjinya, Ara menghubungi Mama Reta. Memberitahu bahwa jam kuliahnya telah selesai.


Tidak lama setelah itu, Mama Reta yang diantarkan oleh sopirnya, telah berada di depan kampus Ara.


Setelah mendapat pesan dari Ara yang memintanya untuk menunggunya sebentar saja, Mama Reta terus saja menyelidik keluar, memperhatikan satu persatu mahasiswa yang berlalu lalang. Berharap salah satu diantara mereka ada menantu kesayangannya.


Karena sudah tidak begitu sabar menunggu, akhirnya Mama Reta memutuskan untuk turun dari mobil dan berniat untuk mencari sendiri keberadaan Ara.


"Tante Reta!" sapa seseorang, saat Mama Reta berjalan di koridor.


"Ya?" Mama Reta memicingkan kedua matanya, saat merasa pemuda yang berdiri tepat di hadapannya saat ini nampak begitu asing.


"Tante lupa ya? Ini saya, Bima," ucap Bima tersenyum.


"Bima? Anaknya Jeng Marni?" tebak Mama Reta, yang kemudian diiyakan oleh Bima.


"Ya Allah... maaf tante tidak mengenalimu. Kamu sedang apa disini?"

__ADS_1


"Saya ngajar disini, Tante. Tante sendiri sedang apa disini?"


"Tante mau jemput menantu tante."


"Menantu?"


"Iya, itu dia sudah datang." Mama Reta menununjuk kemunculan menantunya. "Ara!" panggilnya. Membuat Bima tersentak kaget mendengarnya.


Ara yang melihat keberadaan Mama Reta dengan segera menghampiri mertuanya itu.


"Maaf ya, Ma. Tadi tiba-tiba saja dosen manggil Ara," tuturnya menyesal.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Bima, yang saat ini juga tengah menatapnya penuh selidik.


"Iya tidak apa kok, Sayang.... Oh iya, Bima. Ini Ara istri Ibra," ucapnya pada Bima. "Apa kalian sudah saling kenal?"


Bima menyudahi pandangannya pada Ara dan beralih pada Mama Reta. "Iya, kebetulan Ara salah satu mahasiswa saya."


"Wah, bagus itu. Kalau begitu kamu jagain menantu tante ya. Jangan sampai digangguin sama mahasiswa lain," pintanya.


"Iya, tante tidak usah khawatir." Bima tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ara.


Ia benar-benar tidak menyangka kalau wanita itu telah menikah. Apa sebegitu saja perasaan wanita itu padanya. Bahkan perasaannya sendiri masih sangat sulit untuk ia hilangkan. Kali ini ia benar-benar kehilangan wanita itu. Wanita yang sampai saat ini masih memenuhi hatinya.


Mama Reta kemudian pamit pada Bima. Dan tidak lupa menitip salam untuk keluarga Bima. Setelah akhirnya pergi meninggalkan pria itu.


"Bima... anak itu semakin tampan saja," tutur Mama Reta, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Ara. "Oh iya, Ara. Apa Bima sudah menikah?" tanyanya antusias.


"Sepertinya belum, Ma."


"Kalau mama menjodohkannya dengan Rissa, kira-kira Rissa mau, tidak ya?" tanyanya membayangkan.


Ara yang tidak tau harus menjawab apa, memilih untuk diam saja. Hingga akhirnya Mama Reta kembali berucap, "apa kau tau, waktu kecil anak itu begitu manis."


"Mama sudah lama kenal sama Pak Bima?" tanya Ara.


"Dulu kami tetanggaan, tapi setelah mama pindah. Kami sudah tidak pernah lagi berhubungan," jelasnya, yang kemudian mendapat anggukan dari Ara.


Sepanjang pejalanan, Mama Reta terus saja membahas tentang Bima. Membuat Ara merasa sedikit tidak nyaman karenanya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥

__ADS_1


__ADS_2