Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 19


__ADS_3

Seorang pria tampan, berperawakan tinggi keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan terburu-buru.


"Ibra..." panggilan wanita paruh baya menghentikan langkah pria tersebut, yang bernama Ibrahim Nahar Fachary.


"Iya, Ma?" sahutnya.


"Mau kemana?" tanya Mama Reta yang tidak lain adalah ibu dari Ibra.


"Ibra ada acara dengan teman, Ma."


"Kamu tidak sarapan dulu?"


"Sepertinya tidak, Ma. Ibra akan sarapan di luar."


"Tapi sebelum kamu pergi, kamu jemput adik kamu dulu ya," pinta Mama Reta.


"Kemana mobilnya?" tanya Ibra.


"Masuk ke bengkel," jawab Ryan, asisten ayah Ibra, yang kebetulan berlalu disana.


"Kenapa tidak kau saja yang menjemputnya?" tanya Ibra pada asisten ayahnya itu.


"Kecuali kau ingin melihatnya marah-marah tidak jelas." Ryan tertawa mengingat anak perempuan bosnya itu, yang sangat membencinya.


Ibra berdecak kemudian berbalik pada mamanya, "ya sudah baiklah. Menyusahkan saja!" jawab Ibra kesal, kemudian berlalu keluar dari rumahnya.


***


Ibra menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus bergegas. Jika tidak, teman-temannya akan terus menghubunginya, dan itu sangat mengganggunya.


Marissa, adik Ibra merupakan mahasiswi tingkat akhir jurusan kedokteran. Saat ini ia sedang magang di sebuah rumah sakit besar di ibu kota untuk menyelesaikan pendidikannya.


Dan semalam ia mendapatkan jadwal piket malam. Dan seharusnya pagi ini ia sudah pulang, karena itu Mama Reta menyuruh putranya untuk menjemput adiknya itu.


Setelah berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit, Ibra meraih ponselnya, berniat menghubungi adiknya, untuk memberitahu keberadaannya saat ini.


Namun ia dibuat semakin kesal saat nomor ponsel adiknya sedang tidak aktif.


"Astaga, kemana dia?" makinya, yang kemudian turun dari mobilnya.


Ibra menatap rumah sakit yang ada di hadapannya. Rumah sakit yang setaunya adalah milik keluarga dari temannya.


Ibra membuang napasnya kasar. Ia bahkan tidak tau dimana ruangan adiknya. Sungguh ia sangat malas untuk mencari keberadaan adiknya itu.


Ingin rasanya ia mengabaikan permintaan mamanya itu, namun ia sangat malas jika harus terus-terusan mendengar caci maki wanita paruh baya itu.


Ibra melangkahkan kakinya dengan cepat, tidak ingin membuang-buang waktu lagi.


Dan berbekal petunjuk dari seorang resepsionis, Ibra menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan yang di tempati anak magang, termasuk Rissa, adiknya.


"Kakak..." Panggilan dari seseorang yang amat dikenalnya, membuat Ibra menghentikan langkah kakinya, dan menatap kesal pada seorang gadis yang berlari kecil ke arahnya.


"Kau ini, kenapa hpmu tidak aktif?"


"Hpku lowbatt... Kenapa kakak lama sekali?"


"Jangan banyak bicara, ayo cepat!"

__ADS_1


"Sudah sejak tadi aku menuggu kakak, rasanya aku lelah sekali... Ahhh aku sudah tidak sabar untuk berendam, lalu tidur di tempat tidurku yang empuk." Rissa terus saja berceloteh seraya mengikuti langkah kaki kakaknya.


"Aku akan mengunci pintu kamarku agar tidak ada seorang pun yang mengganggu tidurku, termaksud kakak dan juga mama," imbuhnya.


"Cerewet!" Ibra menggelengkan kepalanya, merasa pusing saat terus mendengar celotehan adiknya.


Saat akan keluar dari rumah sakit, Rissa menghentikan langkahnya, saat matanya menangkap seorang wanita yang dikenalinya tengah menangis sambil berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit.


"Ara... " lirihnya, yang kemudian berniat mengikuti langkah wanita itu.


"Mau kemana?" Ibra dengan cepat menarik tangan adiknya, saat melihat Rissa akan kembali masuk ke dalam rumah sakit.


"Sepertinya Rissa melihat teman Rissa, Kak."


"Lalu?"


"Aku akan memastikannya."


"Tidak! Kau tau, aku sedang terburu-buru saat ini," ucap Ibra kesal.


"Ya sudah pergi saja, kalau Kakak mau," ucapnya menatap kakaknya. Dan saat menyadari pria yang tua enam tahun darinya itu akan memberi tanggapan, ia lebih dulu memberi peringatan, "tapi ingat aku akan melapor pada mama," imbuhnya mengancam, kemudian berlalu meninggalkan kakaknya itu.


"Shitt!" umpat Ibra kesal.


Bagaimana bisa adiknya itu begitu menyebalkan. Namun meski kesal, ia tetap saja mengikuti langkah kaki adiknya.


Setelah bertanya pada resepsionis, Rissa akhirnya tau kalau wanita tadi adalah putri dari korban kecelakaan yang saat ini berada di ruang operasi.


Dari kejauhan, Rissa sudah dapat melihat seorang wanita berhijab yang tertunduk sambil terus menangis di depan ruang operasi.


Rissa semakin mempercepat langkahnya dan menghampiri wanita itu.


Ara mendongakkan kepalanya, saat mendengar seseorang menyebut namanya. Dan ia semakin terisak saat melihat seorang wanita yang amat dikenalinya berdiri di hadapannya.


Dengan cepat Ara berdiri dan memeluk Rissa, yang merupakan teman terdekatnya saat SMA.


"Rissa, Ayah..." Ara terus saja terisak di pelukan sahabatnya itu.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Rissa sambil terus mengusap punggung Ara.


"Ayah kecelakaan."


"Bagaimana bisa?"


Ara melepaskan pelukannya, seraya menggeleng, "aku juga tidak tau, aku baru tau Ayah kecelakaan saat mendapat telfon dari pihak rumah sakit." Ara terus saja menghapus air matanya yang tidak henti-hentinya terjatuh.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja, kita doakan semoga ayah kamu baik-baik saja." Rissa menggenggam kedua tangan Ara, bermaksud memberi kekuatan pada sahabatnya itu.


Ara hanya mengangguk mendengar ucapan Rissa, ia memang sangat berharap kalau ayahnya baik-baik saja.


Rissa kemudian menuntun Ara untuk duduk di bangku yang ada di depan ruang operasi. Dan tidak lupa mengucapkan kalimat-kalimat yang mungkin dapat menguatkan sahabatnya itu.


Sebenarnya Rissa adalah kakak kelas Ara waktu SMA, mereka mulai akrab saat pertama Ara masuk sekolah. Karena Rissa yang begitu baik pada Ara saat masa orientas, membuat mereka berdua menjadi dekat dan bersahabat hingga dua tahun lamanya. Hingga Rissa tamat sekolah.


Karena perbedaan usia yang hanya setahun membuat keduanya terlihat seumuran saat jalan bersama. Ditambah Rissa yang tidak pernah mau dipanggil kakak oleh Ara, karena membuat dirinya terdengar sangat tua.


Ara menatap kosong lantai yang ia pijaki saat ini. Sejak tadi ia merasa amat gelisah saat operasi ayahnya terasa sangat lama, membuat segala hal buruk terlintas di pikirannya.

__ADS_1


Sentuhan dari Rissa membuat Ara tersadar. Ia tersenyum menatap Rissa yang masih setia menemaninya sejak tadi. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang sudah sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


Ia sangat tau pria itu adalah kakak dari wanita yang saat ini duduk di sebelahnya.


Setelah beberapa saat akhirnya operasinya selesai. Dan Ara dengan cepat beranjak dari duduknya, menunggu pintu ruang operasi terbuka.


"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanya Ara tidak sabar, saat melihat seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut.


"Untuk sementara pasien belum sadar, tapi dia sudah melewati masa kritisnya."


"Tapi dia baik-baik saja kan, Dok?" tanya Rissa.


"Anda bisa ikut ke ruangan saya, saya akan menjelaskan kondisi pasien di ruangan saya."


Setelah mengiyakan ajakan dokter tersebut, Ara dan Rissa saat ini telah berada di ruangan dokter tersebut.


Dokter tersebut mulai menjelaskan kondisi Hartono yang mengalami kematian otak, yang disebabkan oleh cedera otak yang parah.


Dan kemungkinan besar Hartono akan mengalami koma karena terjadi pembengkakan atau pendarahan jaringan otak yang membuat otak dalam tengkoraknya menjadi terhimpit dan otaknya mengalami tekanan yang cukup kuat, sehingga menyebabkan oksigen yang mengalir menuju otaknya pun menjadi terhambat.


Kekurangan oksigen pada otaknya membuat kinerja otaknya terganggu. Menyebabkan otaknya tidak dapat mengeluarkan cairan ataupun zat beracun keluar dari tubuhnya. Hal ini menyebabkan penggenangan cairan pada otak Hartono. Dan kondisi inilah yang membuat Hartono kemungkinan mengalami koma.


Ara yang mendengar penjelasan dokter terus saja menangis dipelukan Rissa.


"Tapi masih ada kemungkinan untuk sembuh kan, Dok?" tanya Rissa.


"Iya, anda tidak perlu khawatir, kami akan melakukan yang terbaik untuk penyembuhan Pak Hartono." ujar dokter tersebut.


"Baiklah, terimakasih, Dok. Kalau begitu kami permisi," ucap Rissa membawa Ara keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu yang sabar ya, aku yakin ayah kamu akan baik-baik saja. Aku tau Om Hartono akan kuat," ucap Rissa menenangkan.


"Berhentilah menangis, ada aku disini, oke?" imbuhnya yang kemudian kembali memeluk Ara yang tidak henti-hentinya terisak.


"Ara..." panggil Arumi yang berlari menghampiri sahabatnya itu.


"Dimana Ayah? Bagaimana keadaannya?" tanya Arumi panik, seraya mengatur napasnya yang terengah-engah.


Tanpa menjawab pertanyaan Arumi, Ara memeluk sahabatnya itu. Dan kembali menumpahkan air matanya disana.


Arumi mendorong perlahan tubuh Ara, "ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Arumi yang semakin tidak sabar. "Jawab Ara!" Arumi mengguncang tubuh Ara, berharap agar sahabatnya itu mau memberinya penjelasan.


"Kemungkinan besar Om Hartono akan mengalami koma," jawab Rissa.


"Maksud kamu?" Arumi menatap lekat wanita yang ia tau adalah sahabat Ara saat SMA.


Rissa kemudian menjelaskan secara garis besar kondisi tubuh Hartono. Dan hal itu membuat Arumi tertegun.


Ia tidak pernah menyangka kondisi pria paruh baya yang ia panggil ayah itu, bisa separah itu.


Arumi mengalihkan pandangannya pada Ara, "bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya, namun Ara hanya menjawabnya dengan gelengan.


Sampai saat ini, ia juga belum tau pasti penyebab kecelakaan ayahnya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komennya ya kakakk 🤗❤


__ADS_2