Sebuah Luka

Sebuah Luka
chapter 4


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan janjinya, Bima datang ke rumah Ara untuk menjemput Ara sekaligus meminta izin pada orang tua Ara untuk membawa keluar putrinya.


Tok..tok..tok..


“Assalamualaikum!” ucap Bima memberi salam setelah seseorang membuka pintu tersebut.


“Waalaikumsalam! cari siapa ya?” tanya Bi Ratih, asisten rumah tangga di rumah Hartono.


“Dara nya ada, Bu?”


“Oh, Neng Ara, iya ada kok. Mari masuk dulu akan saya panggilkan.” Bi Ratih dengan sigap mempersilahkan tamu majikannya untuk masuk dan duduk sebelum bergegas memanggil Ara di kamarnya.


Dan setelah mengetahui kedatangan Bima dari Bi Ratih, Ara dengan segera merapikan penampilannya kemudian turun menghampiri Bima.


“Bapak!” sapa Ara, “tunggu ya, Pak saya panggil ayah saya dulu,” ucapnya kemudian berlalu mencari keberadaan ayahnya setelah mendapat anggukan dari Bima.


Dan setelah beberapa menit, Ara keluar dengan menggandeng tangan ayahnya. Dan Bima yang melihat kedatangan Ara dan ayahnya dengan cepat berdiri dari duduknya, menyambut keduanya.


“Ayah, ini dosen Ara, Pak Bima,” ucap Ara memperkenalkan.


“Bima, Om!” ucapnya memperkenalkan diri dan menjabat tangan Hartono.


Mendengar Bima yang memanggilnya dengan sebutan Om, membuat Hartono bisa mengerti kalau kedatangan pria itu ke rumahnya bukan sebagai dosen putrinya, melainkan sebagai seorang pria, yang mungkin menyukai putrinya.


“Oh iya, silahkan duduk,” ucap Hartono datar. “Ada apa ya, Pak Bima?” tanyanya berbasa-basi, sebab sebenarnya ia sudah tau maksud kedatang pria itu dari putrinya.


“Begini, Om, saya ingin meminta izin mengajak Dara keluar,” ucap Bima gugup, merasa segan pada pria paruh baya di hadapannya. Dan entah mengapa detak jantungnya yang semakin cepat tidak dapat ia kendalikan saat ini.


“Kalau boleh saya tau, kalian mau kemana?”


“Kami hanya akan ke mall kok, Yah! Ara ingin menemani Pak Bima membeli hadiah buat temannya yang akan berulang tahun,” jawab Ara mendahului Bima.


Mata Bima melotot mendengar jawaban Ara, lalu kemudian menundukkan kepalanya. “Astaga, kenapa juga dia harus mengatakan alasan itu!” batin Bima, merasa sangat malu untuk menatap Hartono.


“Benarkah?” tanya Hartono tersenyum kecil. Melihat tingkah Bima yang tidak berani menatapnya, membuatnya merasa yakin kalau itu hanya akal-akalan dosen putrinya saja.


“Kau tau, Ara, ibumu juga dulu selalu menemani ayah membeli hadiah untuk teman ayah yang sedang berulang tahun,” sambung Hartono yang diakhiri dengan tawa karena melihat Bima yang semakin salah tingkah.


“Sungguh, Yah? Apa ayah juga tidak memiliki teman wanita selain ibu?” tanya Ara polos, dan berhasil membuat ayahnya terkekeh.

__ADS_1


“Astaga anak ini, bagaimana bisa dia sepolos itu,” batin Bima merasa gemas pada gadis di hadapannya.


“Kenapa ayah tertawa? Memang ada yang lucu?” tanyanya kemudian mengalihkan pandangannya pada Bima yang nampak biasa saja sama seperti dirinya.


Hartono perlahan menghentikan tawanya dan mengelus kepala putrinya yang terlapisi jilbab. Ia tidak heran lagi dengan kepolosan putrinya, itu semua mungkin karena dirinya yang terlalu membatasi pergaulan putrinya.


“Ya sudaha pergilah! Tapi ingat pulangnya jangan sampai malam.” Hartono menegaskan ucapannya pada pria yang tengah duduk di hadapannya.


“Iya pasti, Om.”


“Ayah ngaco deh, siapa juga yang pergi membeli hadiah dari pagi sampe malam hari.” Jawab Ara ketus. “Ya sudah Ara pamit, Yah,” imbuhnya kemudian meraih tangan ayahnya dan menciumnya. “Ayo, Pak!” ajak Ara pada BIma kemudian berlalu mendahuluinya.


“Kalau begitu saya pamit, Om. Saya janji akan menjaga putri, Om,” ucap Bima kemudian ikut mencium punggung tangan Hartono.


“Iya, kalian hati-hati. Kamu lihatkan dia begitu polos, jadi saya harap kamu memperlakukannya dengan baik,” ucap Hartono penuh penekanan. “Entahlah dia itu polos atau memang bodoh,” imbuhnya tersenyum getir menatap punggung putri kesayangannya yang berjalan keluar.


“Tidak kok, Om. Dara termasuk anak yang cerdas di kampus,” bantah Bima.


“Kalau itu sudah jelas, dia nurunin gen ayahnya,” jawab Hartono di akhiri dengan gelak tawa. “Ya sudah berangkat sana, hati-hati bawa mobilnya. Ingat pulangnya jangan telat, kalau sampai telat saya tidak akan memberi izin yang kedua kalinya."


“Iya, Om pasti. Kalau begitu saya pamit, Om, Assalamualaikum!”


Hartono tersenyum melihat kepergian mobil Bima. Tidak ia pungkiri ia menyukai sosok pemuda yang membawa putrinya itu. Jika memang benar Bima menyukai putrinya, ia hanya berharap Bima benar-benar tulus dan dapat menerima segala kekurangan putrinya.


***


Setelah berada di dalam mobil, Bima terus saja tersenyum mengingat ucapan terakhir ayah Ara yang sepertinya telah memberinya lampu hijau. Padahal sejak tadi dia sudah sangat khawatir kalau ayah dari gadis yang disukainya itu tidak menerima kedatangannya.


“Bapak kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Ara memecah kesunyian di dalam mobil. Sedari tadi ia menunggu dosennya itu untuk memulai percakapan, namun sepertinya dosennya itu sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri, membuat Ara merasa aneh dengan tingkahnya yang terus tersenyum tanpa sebab. Hingga membuat dirinya memberanikan diri untuk bertanya.


“Hahaha.. tidak, saya hanya senang bisa keluar dengan kamu,” jawabnya, membuat Ara tersenyum kikuk.


“Kau tau, tadi saya begitu gugup berhadapan dengan ayah kamu, saya pikir ayah kamu menyeramkan seperti yang ada di film-film, tapi ternyata beliau sangat baik," imbuhnya.


“Sungguh?” Ara tersenyum mendengar pujian yang diberikan Bima untuk ayahnya. “Tadinya saya juga tidak yakin akan mendapatkan izin dari ayah saya, sebab ayah selalu melarang saya keluar bersama laki-laki. Tapi entahlah kenapa hari ini ayah mengizinkan, mungkin karena bapak dosen Ara kali ya!” ucapnya mengerutkan keningnya nampak berpikir.


“Mungkin wajah saya terlihat dapat di percaya, makanya ayah kamu mengizinkan,” ucapnya percaya diri.


Ara sejenak menatap dosen di sampingnya, mencari kebenaran atas ucapan yang baru saja ia dengar, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan di depannya. “Iya mungkin saja.” Hanya kata itu yang bisa ia keluarkan sebagai tanggapan.

__ADS_1


Meski sebenarnya ia sedikit kagum dengan wajah tampan dosennya itu, tapi ia tidak mungkin berani berlama-lama menatapnya. Ia juga harus membatasi kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Salah ngomong sedikit bisa-bisa nilainya jadi ancaman, pikirnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di salah satu mall besar yang ada di ibu kota. Setelah Bima berhasil memarkirkan mobilnya, keduanya turun, kemudian masuk ke dalam mall tersebut.


“Jadi kita kemana dulu nih, Pak?” tanya Ara.


“Bukankah itu tugas kamu untuk menentukan?” jawab Bima tersenyum.


“Ah iya ya, Pak. Saya lupa.”


Sebenarnya Ara juga sedikit bingung untuk membeli hadiah apa, ia takut jika nanti pilihannya tidak di sukai oleh teman dosennya itu.


Tapi ia sudah mengatakan pada Bima untuk memberikan pendapatnya jika memang ia tidak suka dengan pilihannya. Dan setelah mendapat anggukan dari dosennya itu, ia mulai memasuki salah satu toko pakaian yang ada disana.


Satu, dua, tiga, hingga beberapa toko pakaian yang mereka kunjungi tidak ada satupun yang disukai oleh Bima, membuat Ara merasa sedikit kesal dengan dosennya itu.


“Ini sebenarnya Pak Bima maunya apa sih, kalau memang hadiahnya untuk kekasihnya kenapa gak sekalian beli berlian aja, atau cincin pernikahan mungkin lebih baik.” Batinnya kesal, melirik pria yang saat ini berjalan di sampingnya.


Ara kemudian mencoba mengajak Bima ke toko sepatu, tapi saat Bima mengatakan tidak mengetahui ukuran kaki teman wanitanya, membuat Ara mengurungkan niatnya dan berbelok ke toko yang menjual berbagai macam tas wanita.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, Bima terus saja menolak apa-apa yang dipilihkan Ara untuknya. Hingga Ara membuang nafasnya kasar merasa sangat lelah dengan tingkah Bima yang terus saja menolak pilihannya.


“Ya sudah itu saja,” ucap Bima cepat menunjuk tas yang ada di genggaman tangan Ara.


Melihat Ara yang sepertinya sudah terlihat lelah, membuat Bima dengan cepat memilih asal tas yang ada di tangan Ara. Ia takut kalau sampai gadis itu kesal dan tidak ingin lagi keluar dengannya.


“Sudah hampir jam 2, Pak, bagaimana kalau kita sholat dulu sebelum pulang,” ucap Ara setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Iya boleh, tapi setelah sholat kita makan dulu ya, sebelum pulang,” ucap Bima menawarkan, mencoba untuk menahan Ara agar bisa lebih lama dengannya. Dan setelah Ara mengiyakan ajakannya, mereka lalu sholat di mushollah yang ada di mall itu.


Setelah melaksanakan sholat duhur, mereka lalu memutuskan untuk makan di area food court yang ada di dalam mall saja.


.


.


.


Jangan lupa bagi Like, Komennya teman-teman 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2