
Sama seperti hari-hari biasanya, setelah sholat maghrib Ara akan turun untuk makan malam bersama ayahnya.
Ara menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang makan.
"Ayah mana, Bi?" tanyanya saat tidak mendapatkan ayahnya disana.
"Sepertinya di kamar, Neng," jawab Bi Ratih yang sedang menyiapkan makan malam.
"Kok belum turun, Bi?"
"Kurang tau, Neng. Tadi bapak hanya turun untuk memberi tahu bibi agar masakin makan malam untuk Neng Ara."
"Kalau begitu Ara ke kamar ayah dulu ya, Bi."
Setelah mendapat anggukan dari Bi Ratih, Ara beranjak dan kembali menaiki anak tangga menuju kamar ayahnya.
Ara mengetuk pintu kamar ayahnya beberapa kali seraya memanggil ayahnya. Dan saat tidak mendapat sahutan dari dalam, ia perlahan membuka pintu kamar tersebut.
Ara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan cinta pertamanya itu.
"Ayah kemana?" lirihnya saat tidak mendapatkan sosok Hartono disana. Ia kemudian berjalan menuju balkon.
Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat keberadaan ayahnya yang sedang berdiri di pagar pembatas balkon.
"Ayah... " sapa Ara seraya memeluk tubuh pria paruh baya itu.
"Sayang! Kau sudah makan? maaf tidak menemanimu."
Ara menggelengkan kepalanya. "Kenapa? apa ayah ada masalah?" tanyanya saat melihat raut wajah ayahnya yang nampak khawatir.
"Tidak, sayang. Ayah hanya kurang nafsu makan. Makanlah, setelah itu kamu istirahat ya." Hartono mengelus lembut rambut putrinya.
"Tapi Ayah temenin ya?" Ara menarik tangan ayahnya agar ikut turun menemaninya makan malam.
Hartono hanya mengikuti langkah kaki putrinya sambil terus termenung. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ayah, ada apa sih dengan Chef Dion? kenapa tiba-tiba mengundurkan diri?" tanya Ara saat telah memulai makan malamnya.
"Ayah..." panggilnya saat tidak mendapatkan tanggapan dari ayahnya yang terlihat melamun.
Ara kemudian menyentuh lengan ayahnya dengan maksud agar menyadarkan pria paruh baya itu dari lamunannya yang entah apa.
"Ah iya ada apa, Sayang?"
"Ayah kenapa sih? Kalau ada masalah cerita sama Ara. Ara sudah dewasa kok, Ayah bisa menceritakan masalah ayah pada Ara," pintanya.
"Tidak ada apa-apa kok, Sayang. Ayah hanya tiba-tiba rindu pada ibu kamu." Hartono tersenyum getir menatap raut wajah putrinya yang tiba-tiba berubah sendu.
__ADS_1
"Ayah... " Ara berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh ayahnya.
"Ayah baik-baik saja, Sayang. Ya sudah cepat habiskan makananmu... Tadi kamu tanya apa, Sayang?"
"Chef Dion kenapa tiba-tiba mengundurkan diri?" tanyanya, kembali menikmati makan malamnya.
"Entahlah, dia tidak ingin memberi tahu ayah alasan pastinya. Dan ayah juga tidak ingin memaksanya... Tapi sepertinya dia akan menikah."
"Menikah?" pekik Ara terkejut dan menghentikan suapannya.
"Iya, tadi ayah dengar dari salah satu karyawan ayah kalau Dion akan menikah."
"Lalu bagaimana dengan Arumi?"
"Mereka belum berjodoh, Sayang."
Ara membenarkan ucapan ayahnya. Semua masalah jodoh. Mau dipaksakan bagaimana pun kalau mereka tidak ditakdirkan untuk bersama maka semuanya akan sia-sia.
Ara kembali melanjutkan makannya dan dengan cepat menghabiskan makanan yang ada di piringnya, karena setelah makan ia berencana akan menghubungi Arumi.
Setelah berhasil menghabiskan makanannya, Ara meneguk air putih yang ada di depannya dengan terburu-buru, kemudian berdiri dari duduknya. Tidak lupa ia pamit pada ayahnya untuk lebih dulu naik ke kamarnya.
Belum juga Ara melangkahkan kakinya, namun ucapan ayahnya berhasil mengurungkan niatnya untuk beranjak.
"Tadi Bima menemui ayah," ucap Hartono tenang. "Apa benar kamu ingin bertunangan dengannya?" imbuhnya, membuat Ara kembali mendudukkan dirinya.
Hartono tersenyum kecil menatap wajah putrinya, kemudian mengelus pipi putri kesayangannya itu. Ia sangat tau apa yang menjadi kekhawatirkan putrinya itu.
"Ya sudah kamu pikirkan saja dulu. Sebenarnya ayah sangat suka dengannya, tapi semuanya terserah kamu, karena kamu yang akan menjalaninya. Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik buat putri ayah."
Ara meraih tangan ayahnya yang masih menempel di pipinya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Iya, Ayah. Terimakasih."
"Ya sudah naiklah," ucap Hartono mengelus bahu putrinya, yang kemudian mengangguk mengiyakan.
Ara naik ke kamarnya sambil terus melamun, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Bima. Tapi jujur mungkin lebih baik, karena biar bagaimanapun suatu saat Bima pasti akan mengetahui semua tentangnya. Dan akan lebih baik jika pria itu mengetahui dari dirinya dari pada mendengarnya dari orang lain.
Setelah lama bergulat dengan rasa bimbangnya, akhirnya Ara memutuskan untuk mengajak Bima bertemu dan berterus terang tentang semuanya.
Ara meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya, berniat untuk mengirim pesan pada Bima. Namun saat melihat layar ponselnya yang menampakkan gambar dirinya bersama kedua sahabatnya, membuatnya teringat dengan niatnya untuk menghubungi Arumi.
"Astaga! aku sampai lupa menghubungi Arumi," ucapnya yang kemudian menghubungi sahabatnya itu, yang berada di panggilan cepat nomor tiga di ponselnya.
"Halo! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, Ra. Ada apa? " jawab Arumi lemas.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ara, mendengar suara Arumi yang seperti tidak bersemangat.
__ADS_1
"Iya, memangnya ada apa?"
"Emmm... apa kau sudah tahu tentang Chef Dion?" tanya Ara ragu.
"Arumi... " panggil Ara lagi, saat tidak mendapat sahutan dari sahabatnya itu. Membuatnya sedikit yakin kalau Arumi sudah tahu semuanya.
"Iya sudah, Ra. Tadi Chef Dion sudah memberi tahuku." jawab Arumi lirih.
"Sungguh? Lalu bagaimana denganmu?" tanya Ara khawatir. Dan seketika itu tangis Arumi pecah.
"Kanapa tidak memberi tahuku?" tanya Ara lirih.
"Aku malu, Ra." Arumi semakin terisak, sudah tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. "Aku malu dengan perasaan bodoh ini. Aku pikir aku bisa menerimanya, tapi ternyata tidak. Padahal kami tidak memiliki hubungan apa-apa tapi kenapa rasanya sakit sekali."
"Iya, sabar ya, Mi. Mungkin dia bukan yang terbaik untukmu," ucap Ara menenangkan.
"Kau tau, selama ini aku terlalu bahagia memiliki perasaan padanya, tanpa pernah berpikir akan sesakit ini jika hanya merasakannya seorang diri."
"Iya, aku sangat mengerti dengan perasaan kamu, aku juga tahu ini pasti sangat sulit untukmu. Tapi cobalah untuk menerimanya. Aku yakin Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu, jika bukan dia, mungkin seseorang yang mungkin saat ini sedang Allah tuntun untuk bertemu denganmu," ucap Ara bijak.
Arumi semakin terisak mendengar ucapan Ara. Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu, tapi ia hanya ingin menangisi kenyataan bodoh paling menyakitkan yang ia rasakan. Kebodohan saat jatuh cinta hingga begitu tergila-gila pada seseorang yang entah bagaimana ceritanya akan jadi milik orang lain.
Dan untuk sejenak Ara terdiam, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan segala kesedihannya.
"Aku tidak menyangka Arumiku akan secengeng ini," canda Ara, saat mendengar tangis Arumi mulai melemah.
"Iya aku juga tidak menyangka akan menangis seperti ini.... Dasar bodoh!" Arumi tertawa, mengumpat dirinya sendiri.
Ada sedikit kelegaan yang ia rasakan setelah menumpahkan segala kesedihannya pada sahabatnya.
"Kalau saja Miya melihatku seperti ini, dia pasti akan menertawakanku," imbuhnya tertawa.
"Hei, Miya tidak sejahat itu."
"Iya aku tahu," jawab Arumi. "Aku sangat merindukan anak itu."
"Iya, sama. Bagaimana kalau kita video call-an dengannya?"
"Jangan! Mataku sangat bengkak." Arumi menolak dengan cepat, hingga mendapat cibiran dari Ara.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen nya ya kakak 🤗❤
__ADS_1