
Hari ini Ara sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Setelah semalam dokter mengatakan sudah ada perkembangan dengan kondisi tubuh ayahnya, setelah sebulan lebih terbaring koma.
Dan hari ini juga adalah hari terakhir Ara beserta kedua sahabatnya melaksanakan ujian akhir semester. Awalnya Ara tidak berniat untuk mengikuti ujian tersebut, tapi karena bujukan dari Arumi dan Miya yang terus-menerus, membuatnya akhirnya mau mengikuti ujian tersebut.
Dan saat ke kampus, Ara selalu meminta Bi Ratih untuk menjaga ayahnya di rumah sakit.
Setelah melaksanakan ujian terakhirnya, Ara beserta kedua sahabatnya berjalan menyusuri koridor menuju parkiran.
Saat di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Bima. Namun, sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada sapaan di antara mereka. Ara dan Bima bahkan seperti orang yang tidak saling mengenal.
Namun Ara sudah tidak peduli lagi dengan perubahan sikap dosennya itu. Saat ini ia hanya akan fokus dengan kesembuhan ayahnya. Sekuat hati ia akan mencoba menghilangkan perasaannya pada pria itu. Meski hingga kini ia masih belum tahu penyebab perubahan sikap pria itu padanya.
Bima terus saja menundukkan pandangannya setiap kali berpapasan dengan Ara. Perasaannya pada gadis itu, benar-benar sangat sulit ia hilangkan.
Bahkan saat mengetahui Hartono kecelakaan, ia selalu diam-diam berkunjung ke ruang perawatan pria paruh baya itu. Ia bahkan menyaksikan bagaimana terpukulnya gadis itu. Namun, rasa bimbang akan perasaannya, selalu mengurungkan niatnya untuk menghampiri gadis itu.
Sangat sakit rasanya, saat dua orang saling mencintai, namun bertahan untuk tidak saling memiliki.
***
Ara yang akan membuka pintu mobil Arumi, mengurungkan niatnya saat mendengar deringan ponselnya yang menandakan adanya panggilan telfon.
"Iya, Bi?" sahut Ara cepat saat melihat nomor kontak Bi Ratih.
Tubuh Ara seketika bergetar saat mendengar kabar dari Bi Ratih kalau ayahnya kembali kritis. Tanpa memutuskan panggilan telfonnya, Ara dengan cepat memberitahu kedua sahabatnya yang sudah mematung menunggu penjelasan darinya.
Arumi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, tubuh Ara terus saja bergetar, mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya kacau sekacau-kacaunya memikirkan kondisi ayahnya.
Dan setibanya di rumah sakit, mereka dengan cepat berlari ke ruang ICU, tempat Hartono di rawat.
"Apa yang terjadi dengan Ayah?" tanya Ara pada Bi Ratih yang terlihat menangis di depan ruangan Hartono.
__ADS_1
"Bapak ... Bapak sudah tidak ada, Neng."
Ketiganya tersentak kaget mendengar penuturan Bi Ratih. Ara yang tidak percaya, dengan cepat masuk ke ruangan ayahnya.
Tubuh Ara menjadi kaku seketika. Dunianya serasa runtuh saat melihat perawat mencabut semua alat bantu di tubuh ayahnya. Pupus sudah harapannya melihat kesembuhan ayahnya.
Ara berlari memeluk tubuh ayahnya dan menangis sekencang-kencangnya. Diikuti oleh kedua sahabatnya yang juga ikut menangis melihat kepergian ayah mereka.
Ara mengguncang tubuh ayahnya, "Ayah bangun, Ayah. Bangun .... Jangan tinggalkan Ara. Siapa yang akan menjaga Ara kalau ayah pergi .... Ayaahhhh...." Ara tidak henti-hentinya mengguncang tubuh ayahnya, berharap ada pergerakan dari pria paruh baya itu. Namun sayang, semuanya percuma, ayahnya sudah tidak ada.
"Baiklah, kalau Ayah tidak mau bangun tidak apa. Tidurlah sesuka hati Ayah, sampai kapan pun yang Ayah mau. Tapi jangan pergi .... Tidurlah, Ara akan terus menjaga Ayah. Ara janji tidak akan memaksa Ayah untuk bangun. Tapi jangan pergi, Ayah jangan pergi, jangan tinggalkan Ara." Ara memeluk erat tubuh ayahnya, menumpahkan semua air matanya di tubuh cinta pertamanya itu.
"Ayah tenang ya disana. Arumi janji akan menjaga Ara untuk Ayah." Arumi menciumi seluruh wajah pria paruh baya itu.
"Ayah jahat, kenapa pergi meninggalkan kami secepat ini." Miya ikut memeluk tubuh Hartono, menumpahkan segala kesedihannya.
***
Proses pemakaman dilakukan keesokan harinya, setelah memulangkan jasad Hartono. Keluarga Arumi dan Miya juga ikut hadir disana. Papa dan mama Arumi sudah datang sejak tadi. Sedangkan mama Miya yang ditemani oleh Abyan baru saja datang, saat proses pemakaman sedang berlangsung.
Sepulangnya dari pemakaman, Ara mengunci dirinya di kamar ayahnya. Tanpa peduli dengan pelayat yang hadir di rumahnya.
Satu persatu pelayat sudah pulang, begitupun dengan kedua orang tua Arumi.
"Apa mama akan pulang juga?" tanya Miya pada mamanya.
"Iya, maaf, Sayang. Mama tidak bisa berlama-lama. Mama harus pulang malam ini, karena besok pagi mama ada pertemuan," ucap mama Fina pada putrinya. Dan Miya hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamanya. "Sampaikan salam mama pada Ara," imbuhnya.
Miya kembali mengangguk, kemudian memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mas..." sapa Miya, pada pria yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Abyan memeluk tubuh Miya, memberi kekuatan pada calon istrinya itu. "Kalian yang sabar ya. Maaf, mas tidak bisa berlama-lama." ucap Abyan mengelus rambut wanita yang ada di pelukannya itu.
Miya mengangguk, seraya melepas pelukan pria itu, "Terimakasih, Mas udah mau datang."
"Jaga diri baik-baik. Saat ada kesempatan, Mas akan datang mengunjungimu," ucap Abyan, berjanji. Sebelum akhirnya keluar dari rumah itu.
***
Sudah dua hari Ara mengurung dirinya di kamar ayahnya. Membuat Bi Ratih dan kedua sahabatnya begitu khawatir padanya.
"Ara buka pintunya, jangan seperti ini. Ayah akan bersedih jika melihatmu seperti ini. Ayah akan marah padaku karena membiarkan putri kesayangannya menyiksa diri seperti ini," teriak Arumi, sambil terus menggedor pintu kamar Hartono.
"Kita dobrak saja. Bagaimana kalau Ara bunuh diri," ucap Miya.
"Jangan gila kamu!" jawab Arumi kesal.
"Iya, Bibi juga khawatir." Bi Ratih ikut cemas, dan berpikir yang tidak-tidak, sama seperti Miya. Dan ucapan Bi Ratih, membuat Arumi semakin ketakutan.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Arumi panik.
Ceklek...
Suara gagang pintu yang di gerakkan dari dalam, menghentikan percakapan ketiganya, dan membuat mereka menoleh dengan cepat.
Dan saat melihat pintu kamar yang perlahan terbuka, membuat ketiganya merasa lega dan bahagia. Arumi dan Miya dengan cepat memeluk tubuh Ara yang muncul dari balik pintu. Keduanya merasa begitu sedih saat melihat kondisi tubuh Ara yang begitu pucat dan berantakan.
"Jangan seperti ini lagi. Jangan menyiksa dirimu. Kau tau kami sangat khawatir padamu," ucap Arumi meneteskan air matanya. Namun, Arumi merasa aneh saat merasa tubuh Ara melemah. Dan ternyata, Ara sudah tidak sadarkan diri.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤