Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 2


__ADS_3

"Ada apa ya, Pak?” tanya Ara saat mereka telah berada di ruangan dosen.


“Duduklah dulu,” perintah Bima mempersilahkan Ara duduk di kursi yang ada di depan mejanya. Awalnya Bima ingin membawa Ara ke kantin untuk berbicara, mengingat apa yang akan ia bicarakan tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar. Namun ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin mahasiswa lain berpikiran yang tidak-tidak.


Bima sejenak berdehem sebelum memulai ucapannya. Entah mengapa ia merasa gugup sesaat setelah Ara mendudukkan dirinya di hadapannya. “Akhir pekan besok apa kamu ada kesibukan?” tanyanya dengan wajah datar, mencoba menutupi kegugupannya berhadapan dengan gadis yang disukainya.


Bima memang telah menyukai Ara saat pertama kali mengajar di kampus ini 6 bulan yang lalu. Saat itu kelas Ara adalah kelas pertama yang diisinya untuk mengajar.


Hari itu Ara telat karena ban mobil ayahnya kempes, alhasil dia tidak diperbolehkan mengikuti mata kuliah Bima selama tiga kali pertemuan. Berbeda dengan dosen lainnya yang tidak peduli dengan kehadiran mahasiswanya, Bima lebih disiplin dengan hal itu dan sangat tidak suka dengan mahasiswa yang masuk kelas sesuka hatinya. Meski terkenal ramah, Bima tetap tegas saat sedang mengajar.


Karena tidak terima dengan keputusan Bima yang menurutnya tidak percaya dengan alasannya, Ara terus saja mengikuti Bima dan memohon pada dosen itu untuk dimaafkan dan diizinkan mengikuti mata kuliahnya.


Melihat semangat Ara yang terus saja mengemis bahkan sampai menyanjung kepada fisiknya, membuat Bima merasa lucu, ia bahkan merasa kalau tingkah gadis itu begitu manis.


Dan setelah beberapa hari mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ara, Bima mengakui pada dirinya sendiri kalau ia telah jatuh hati pada gadis itu. Namun Bima tidak pernah berani menyatakan perasaannya. Selain gengsi, ia juga tidak ingin mengganggu proses belajar Ara, ia ingin Ara fokus pada pendidikannya.


“Sepertinya tidak ada deh, Pak,” jawab Ara setelah sesaat terlihat berpikir. “Memangnya ada apa ya, Pak?” tanyanya.


Bima menumpuh kedua tangannya yang saling terpaut di atas meja dan sedikit memajukan tubuhnya, “Boleh saya meminta bantuanmu?”


“Bantuan apa, Pak? Kalau saya sanggup Insya Allah akan saya bantu.”


“Bisa kamu menemani saya berbelanja?” tanyanya ragu.


“Ya?” Ara menautkan kedua alisnya, masih tidak dapat menangkap maksud dari ucapan dosennya itu.


“Saya ingin meminta bantuanmu untuk menemani saya membeli hadiah untuk teman saya yang akan berulang tahun. Kebetulan teman saya seorang wanita, dan saya tidak begitu tau apa yang dibutuhkan seorang wanita, dan saya juga tidak punya teman yang bisa saya ajak untuk menemani saya, jadi saya meminta bantuanmu,” jelasnya.


Ara sedikit terkejut dengan permintaan Bima, dari sekian banyak mahasiswi, bagaimana bisa dosennya itu meminta bantuannya.


Melihat Ara yang hanya terdiam seperti sedang berpikir, membuat Bima merasa tidak enak dengan permintaannya. “Kalau kamu tidak bisa juga tidak apa-apa. Jangan menjadikannya beban, ini bukan permintaan seorang dosen,” ucapnya tersenyum, meski sebenarnya dia akan sangat malu kalau sampai Ara menolak ajakannya.


“Bisa kok, Pak. Insya Allah saya bisa,” jawab Ara. Meski masih sedikit bingung, ia mencoba untuk tidak peduli.


Bima tersenyum kecil meski sebenarnya ia sangat ingin melompat dan berteriak kegirangan mendengar jawaban Ara. Ternyata usahanya berhasil, tidak sia-sia ia menyusun rencana ini semalam penuh. Membuat alasan membeli kado hanya untuk jalan berdua ternyata bukan ide yang buruk. Dan ide itu ia dapatkan dari salah satu temannya.


“Terimakasih sebelumnya. Besok saya akan menjemputmu di rumah kamu, sekalian meminta izin pada orang tua kamu,” ucapnya melebarkan senyumannya. Rasanya ia tidak mampu menutupi rasa bahagianya.

__ADS_1


Ara sedikit terpana melihat wajah tampan Bima yang sedang tersenyum. Untuk pertama kalinya ia menatap lekat dosennya itu, dan pantas saja Miya begitu mengagumi dosennya itu, “Beneran tampan,” bantinnya, dan entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya terasa berpacu lebih cepat.


“I..iya, Pak sama-sama,” jawabnya sedikit gugup. “Kalau sudah tidak ada lagi saya permisi, Pak mau ke kelas,” ucapnya menghindari tatapan mata Bima.


“Mmm satu lagi,” ucap Bima, membuat Ara kembali menatap dosennya itu. “Saya tidak tau alamat rumah kamu.”


“Ah iya, Pak.” Ara dengan cepat menuliskan alamat rumahnya, kemudian berpamitan pada Bima.


“Sekali lagi, terimakasih ya…Dara.”


“Sipp, Pak!” Ara mengangkat jarinya yang membentuk simbol oke dan segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda saat terakhir kali Bima menyebutkan namanya. Mungkin karena suara Bima yang sedikit dilembutkan, entahlah, yang jelas mampu membuat wajahnya merona dan detak jantungnya semakin tidak karuan.


***


Setelah menemui Pak Bima, Ara masuk ke dalam kelas dan mendudukkan dirinya di salah satu bangku.


“Ada urusan apa Pak Bima memanggilmu? Dia menyatakan perasaannya padamu kan? Kau jawab apa? Apa kau menerimanya? dan mmm…” Arumi berhasil membungkam mulut Miya yang terus saja bertanya tanpa jeda.


“Bisa tidak kau bertanya satu-satu?” ucap Arumi kesal. “Awwww…kenapa kau menggigitku?” teriak Arumi yang dengan cepat menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya karena kesakitan.


“Kau terlalu cerewet,” ucap Arumi yang masih meringis merasakan sakit di tangannya, lalu beralih menatap Ara yang sedari tadi terus terdiam tanpa merasa terusik dengan perdebatannya dengan Miya. “Ada apa dengannya?”


“Sudah ku duga, Pak Bima pasti benar-benar menyatakan perasaannya. Liat aja tingkahnya, aneh kan. Dia pasti sedang bimbang tuh,” tebak Miya.


Prakkk..


“Astagfirullah!” pekik Ara, saat Miya memukul dengan keras meja di depannya. “Apa yang kau lakukan? Kau mengagetkanku.” Kesalnya.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau bahkan tidak peduli dengan kami. Apa kau tidak menyadari keberadaan kami?” tanya Arumi.


“Siapa juga yang tidak menyadari keberadaan kalian? Memangnya kalian hantu apa,” jawab Ara asal.


“Kalau begitu, ada urusan apa Pak Bima mencarimu?” tanyanya penasaran.


“Iya, Pak Bima menyatakan perasaannya padamu, kan?” sambung Miya yang tidak kalah penasaran.


“Ha! Ngaco kamu,” jawab Ara cepat.

__ADS_1


“Siapa yang ngaco, kau saja yang tidak pernah sadar kalau selama ini Pak Bima selalu saja memperhatikanmu,” bantah Miya.


“Lalu apa?” tanya Arumi lagi.


Awalnya Ara tidak berniat menceritakan tentang permintaan Pak Bima pada kedua sahabatnya, karena tidak ingin keduanya salah paham. Tapi melihat keduanya yang sepertinya tidak akan berhenti menanyakan hal itu membuatnya mau tidak mau menceritakan semuanya.


“Kenapa dia meminta bantuanmu? Apa kalian sudah begitu dekat?” tanya Arumi menyelidik. Menurutnya sangat aneh saja tiba-tiba Pak Bima meminta bantuan Ara untuk hal pribadi sedangkan mereka tidak begitu dekat. Ya, kecuali jika memang keduanya sedang dekat tanpa sepengetahuannya. Atau mungkin Pak Bima benar-benar menyukai sahabatnya itu, dan sedang mencoba melakukan pendekatan.


“Tidak kok. Aku juga tidak tau, katanya sih dia tidak punya teman wanita yang bisa dia mintai bantuan, makanya dia meminta bantuanku.”


“Ooh, mungkin saja yang berulang tahun itu kekasihnya,” tebak Miya.


“Sungguh?” tanya Ara cepat.


“Aku hanya menebak, karena tidak mungkin pria setampan Pak Bima tidak mempunyai kekasih.”


“Iya juga ya,” jawab Ara tidak bersemangat, kemudian menjatuhkan kepalanya di lipatan tangannya di atas meja. Entah mengapa ia merasa tidak senang dengan ucapan Miya, mungkin karena ia mulai menaruh hati pada Bima. “Bodoh!” Batinnya.


Arumi memicingkan matanya melihat tingkah Ara, “Kenapa kau jadi tidak bersemangat seperti itu? apa jangan-jangan kau suka ya sama Pak Bima?”


“Apa!”


Ara tersentak mendengar ucapan Arumi dan dengan cepat menegapkan duduknya. Namun belum sempat ia menjawab pertanyaan sahabatnya itu, masuknya seorang dosen ke dalam ruangan tersebut membuat semuanya mengambil posisi duduk di bangku masing-masing.


“Huffff,” lega Ara. Setidaknya dia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan Arumi.


Namun Arumi yang duduk di seberang Ara terus saja menatap sahabatnya itu, seakan meminta jawaban. Melihat itu, Ara dengan cepat membuang pandangannya ke arah dosen yang mulai membuka pertemuan hari itu.


“Apa iya aku menyukai Pak Bima? Tidak, ini tidak boleh,” batinnya sambil menggelengkan kepalanya.


.


.


.


Jangan lupa berbagi Like, Komen dan Vote nya ya teman-teman 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2