
Sudah sebulan lebih Ara magang dikantor tempatnya berada sekarang ini. Dan sore ini Ara bersiap-siap untuk pulang.
Setelah merapikan meja kerjanya, Ara mengalihkan pandangannya pada Sarah yang baru saja keluar dari ruangan manajer dengan wajah yang ditekuk.
"Mba kenapa?" tanyanya.
Sarah menghembus kasar napasnya, seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi miliknya. "Saya harus lembur, ada yang salah dengan laporan yang saya buat," ucapnya tidak bersemangat.
"Emang nggak bisa di kerjakan di rumah saja ya, Mba?" tanya Ara lagi.
"Iya nggak bisa. Pak Tama meminta saya menyelesaikannya malam ini juga. Beliau akan menunggu saya disini hingga jam tujuh."
"Ini pertama kalinya saya lembur sendiri," imbuhnya cemberut.
"Mau saya temani?" ucap Ara menawarkan diri.
"Apa tidak merepotkan?"
"Nggak kok, Mba. Saya minta izin suami saya dulu ya."
"Iya, terima kasih ya!" jawab Sarah berbinar.
Ara merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya, kemudian berjalan sedikit menjauh dari Sarah. Khawatir jika saja Ibra tidak mengizinkannya, setidaknya Sarah tidak perlu melihatnya.
"Kenapa?" tanya Ibra dari seberang, setelah Ara menyampaikan pada suaminya, bahwa ia akan pulang terlambat.
"Ara mau menemani teman Ara yang lagi lembur," jawabnya berterus terang.
"Kalau kamu sendiri sudah tidak punya pekerjaan lagi, dan hanya ingin menemani teman kamu, sebaiknya pulang saja."
"Tapi kasihan, dia sendirian dan tidak punya teman... boleh ya? hanya sampai jam tujuh kok," rayu Ara.
"Ya sudah, tapi temannya perempuan kan?" tanya Ibra menyelidik.
"Iya, perempuan kok."
"Oke. Tapi pulangnya aku jemput," ucap Ibra, yang tidak ingin istrinya berkendara sendiri di malam hari.
"Tapi kan, Ara bawa mobil," sahut Ara.
"Tidak apa, kamu bisa menyimpannya di kantor kamu."
"Ya sudah terserah Kakak saja."
"Ya sudah, telfon kakak saat kamu sudah selesai," ucap Ibra.
"Iya baiklah, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" sahut Ibra, yang kemudian mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Setelah menyampaikan pada Sarah perihal izin yang diberikan oleh suaminya, keduanya lalu mengerjakan perbaikan data pada dokumen yang telah dibuat oleh Sarah sebelumnya.
Dan tepat pukul tujuh malam, mereka berhasil menyelesaikan laporan tersebut. Setelah Sarah menyerahkan dokumen tersebut pada sang manajer, keduanya dengan segera merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
Saat ini keduanya berada di depan kantor menunggu jemputan Ara. Meski harus menunggu sedikit lama, tapi Sarah tetap setia menunggu jemputan Ara, meski Ara sudah memintanya untuk pulang lebih dulu. Sebab, karena dirinyalah wanita itu harus pulang terlambat.
Dan setelah beberapa saat akhirnya sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Ibra turun dari mobilnya dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya. Ara yang hendak menghampiri Ibra, menghentikan langkahnya, tatkala Sarah sudah lebih dulu berlari menghampiri suaminya.
"Mas Ibra... Apa yang Mas lakukan disini?" tanya Sarah seraya mengalungkan tangannya di lengan Ibra. Membuat Ara terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Menjemput istriku." Ibra melempar senyuman pada Ara, yang masih saja menatapnya bingung.
"Istri?" Sarah melepaskan rangkulannya, lalu beralih menatap Ara yang sedang tersenyum kaku padanya. "Jadi, Ara istri Mas Ibra?"
"Iya." Ibra mengulurkan tangannya, dengan maksud meminta Ara mendekat.
Ara melempar senyum canggung dan berjalan mendekati keduanya. "Apa kalian saling mengenal?" tanyanya.
"Iya, dia adik temanku," jawab Ibra.
"Aku tidak menyangka Ara ini istri Mas Ibra, kalau tau begitu aku akan memberitahu semua kejelekan Mas Ibra padanya," tutur Sarah tertawa. Yang entah mengapa tidak Ara temukan sesuatu yang lucu disana.
"Ara anak yang polos. Apa pun yang kau katakan padanya dia akan percaya. Jadi jangan coba-coba membodohinya," jawab Ibra, seraya mengacak rambut Sarah.
"Iya akan aku usahakan," ucap Sarah terkekeh.
"Kalau begitu pulanglah, aku dan Ara juga akan pulang," ucap Ibra.
"Baiklah, sampai jumpa nanti.... Dah Ara!" Sarah tersenyum pada Ara seraya melambaikan tangannya sesaat sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Tapi entah mengapa Ara tidak begitu senang dengan senyuman yang diberikan wanita itu padanya. Dan ini untuk pertama kalinya ia tidak begitu menyukai wanita itu. Padahal selama ia magang di kantor itu, ia terus saja mengagumi sosok wanita yang punya semangat tinggi dalam bekerja itu.
Di perjalanan, Ara terus saja terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Meski Ibra berkali-kali mengajaknya berbicara, tapi tidak ada sahutan dari wanita itu.
Ibra meraih tangan Ara dan menggenggamnya. "Ada apa?" tanyanya, setelah Ara tersadar dari lamunannya, dan menatap ke arahnya.
"Apanya?" tanya Ara bingung.
"Dari tadi kau terus saja melamun, sampai tidak mendengar ucapanku. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada. Aku hanya lelah saja," jawabnya berbohong.
"Apa kau sudah makan?" tanya Ibra lagi.
"Iya. sudah tadi," jawabnya berbohong lagi.
Sejujurnya ia sangat lapar tadi. Mereka bahkan tidak sempat untuk makan karena mengejar waktu untuk menyelesaikan laporan Sarah. Dan saat ini rasa lapar itu sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
"Jadi kita langsung pulang saja? Atau jalan-jalan sebentar?" tawar Ibra.
"Tidak usah, kita langsung pulang saja. Ara lelah, ingin beristirahat," ucapnya, yang kemudian mendapat anggukan dari Ibra.
Ara menyandarkan tubuhnya dengan sempurna pada sandaran kursi, memalingkan wajahnya pada kaca jendela mobil, dan menatap kosong pada bangunan- bangunan yang di lewatinya.
Ia kembali bergelut dengan lamunannya, yang terus saja mengingat perlakuan Ibra pada Sarah. Begitu pun dengan Sarah yang sepertinya tidak punya batasan pada Ibra. Dan Ara tidak menyukainya. Ia benar-benar tidak suka saat wanita lain menyentuh suaminya. Ia sedang cemburu saat ini, dan itu hal yang wajar menurutnya.
Setibanya di rumah, Ara dengan cepat membersihkan diri dan melakukan sholat isya sebelum beristirahat. Ia teramat lelah, tapi bukan pada raganya, melainkan hati dan pikirannya.
"Kenapa tidak menugguku untuk sholat berjamaah?" tanya Ibra yang sedari tadi duduk di sisi ranjang, menunggu Ara selesai dengan kewajibannya.
"Maaf, Ara sangat lelah jadi tidak bisa menunggu Kakak." Ara meletakkan mukenah yang telah dilipatnya di atas meja, dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Padahal kakak hanya turun untuk membuatkanmu susu." Ibra mengambil segelas susu yang tadinya ia simpan di atas nakas, dan memberinya pada Ara. "Minumlah, lalu istirahat."
"Dihabiskan, aku sholat dulu," imbuhnya, mengusap-usap kepala Ara.
Jika biasanya Ara menyukai perlakuan suaminya itu padanya, tapi kali ini tidak. Ara kesal karena Ibra melakukan itu tidak hanya padanya, mungkin saja dia melakukannya pada semua teman perempuannya.
Setelah menghabiskan susu yang dibuatkan Ibra untuknya, Ara membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan kembali bergulat dengan pemikirannya yang sedang dikuasai oleh rasa cemburu.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Ibra kemudian ikut naik ke tempat tidur. Ara yang merasakan keberadaan suaminya, dengan cepat menutup matanya berpura-pura tertidur.
Ibra mendudukkan dirinya di sisi Ara dan memandangi wajah istrinya itu, sebelum akhirnya melayangkan kecupan di pucuk kepala wanita itu.
"Apa dia begitu lelah? Baru lembur beberapa jam saja sudah mengabaikanku seperti ini." Ibra tertawa kecil, kemudian ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Ara, hingga akhirnya mereka benar-benar terlelap.
***
Keesokan harinya, Ara ke kantor seperti biasanya. Dan saat telah berada di depan kantor, Ara bertemu dengan Sarah yang juga baru tiba.
"Ara!" Sarah berlari kecil, mensejajarkan langkahnya dengan Ara. "Ara, apa kau tau, semalaman saya terus memikirkanmu," ucap Sarah saat mereka berjalan masuk ke dalam kantor.
"Memikirkanku?" Ara menautkan kedua alisnya.
"Iya. Saya masih tidak percaya kalau kamu itu istri Mas Ibra," tuturnya tertawa kecil. "Apa kau ingin mengetahui sesuatu tentang Mas Ibra?" tanyanya, dengan suara yang sengaja direndahkan.
"Kalau itu rahasia, sebaiknya tidak usah." Ara mengerutkan wajahnya, merasa tidak begitu menyukai arah pembicaraan Sarah. Kenapa juga dia harus membicarakan tentang suaminya dengan wanita lain.
"Bukan rahasia kok! Tapi ceritanya nanti ya saat makan siang," tutur Sarah tersenyum lebar, tapi tidak dengan Ara.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤
__ADS_1