
Sama seperti biasanya, Ara ke kampus di antar oleh ayahnya. Setelah ayahnya menurunkannya di depan kampus, Ara berjalan masuk kedalam kampus.
Ara berjalan menundukkan kepalanya, setelah kejadian satu tahun lalu yang menimpanya, ia kehilangan kepercayaan dirinya jika tidak bersama kedua sahabatnya.
“Bagaimana dengan kencannya?” tanya Arumi yang tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher sahabatnya itu.
“Kencan?” tanya Ara.
Arumi menurunkan tangannya yang melingkar di leher sahabatnya itu, “iya, kencanmu dengan Pak Bima,” jawabnya mengedipkan sebelah matanya menggoda Ara.
“Apaan sih, siapa juga yang berkencan. Sudah aku bilang__”
“Ya elah, itu hanya alasan Pak Bima,” ucap Arumi memotong. “Jadi apa kalian hanya sekedar membeli hadiah dan pulang?”
Ara menggeleng, “kami makan dan nonton, tapi tidak kencan kok,” bantahnya.
Ya, mereka memang sempat menonton bioskop sebelum pulang. Meski awalnya Ara menolak, tapi karena bujukan Bima akhirnya ia mengiyakan.
“Kenapa kau begitu naif sih, itu namanya kencan. Sepertinya Pak Bima menyukaimu.”
“Sungguh?” tanya Ara cepat.
“Ceh..” Arumi memutar bola matanya jengah. “Tapi kalau nanti Pak Bima menyatakan perasaannya padamu, sebaiknya jangan langsung kamu terima dulu.”
“Memangnya kenapa?”
“Kenapa kau jadi tidak sabaran? Apa kau sangat menyukai Pak Bima?”
“Apaan sih, siapa juga.”
“Udah, gak usah bohong,” cibirnya. “Kita harus cari tau dulu, jangan sampai Pak Bima punya banyak kekasih diluaran sana. Secara dia kan ganteng, aku sih gak yakin kalau dia itu gak punya pacar,” ucapnya serius.
“Ceh! Kamu sadar nggak sih, kamu itu sudah berpikir terlalu jauh. Baru juga di ajak jalan sekali,” ketusnya.
“Kalau kamu nggak percaya, ya udah kita liat aja nanti.”
Ara sedikit kesal dengan sahabatnya ini, mendengar ucapan Arumi membuatnya jadi berharap kalau apa yang diucapkan sahabatnya itu benar adanya.
Padahal sebelumnya ia tidak pernah berharap banyak, meski ia sadar kalau perasaannya sedikit berbeda pada dosennya itu, sejak semalam bayangan Bima selalu saja memenuhi pikirannya.
“Kalian kok lama?” tanya Miya saat mereka berdua telah masuk ke dalam kelas.
“Kamunya aja yang kepagian.” Arumi mendudukkan bokongnya di bangku depan Miya.
“Eh girls, ada kafe baru loh di pertigaan depan, entar kesana yuk?” ajak Miya.
“Boleh!” jawab Arumi antusias.
“Ra?” ucap Miya pada Ara yang hanya terdiam.
Ara menganggukkan kepalanya mengiyakan, “Iya, boleh!”
***
“Rame banget ya,” ucap Ara melebarkan pandangannya melihat pengunjung yang memadati kafe tersebut.
“Tempat baru memang seperti itu, selalu dipadati pengunjung,” jawab Arumi tampak acuh. "Liat aja nanti sebulan, dua bulan, apa masih seramai ini?”
“Untung kita cepat ya, kalau tidak bisa-bisa kita tidak kebagian tempat.” Miya memilih untuk mengabaikan ucapan Arumi dan lebih memilih untuk memperhatikan secara seksama interior dari kafe itu yang sangat unik dan sangat instagramable menurutnya. Jika saja tidak sedang banyak orang, ia akan mengabadikan banyak foto dirinya disana.
“Kalau tidak kebagian tempat, ya datang besok lagi. Jangan berlebihan, seakan-akan kafenya hanya buka sehari,” ketus Arumi.
“Kalau besok diskonnya udah gak ada, diskon hanya berlaku hari ini,” ucap Miya sedikit berbisik, kemudian terkekeh, merasa malu dengan ucapannya sendiri.
“Astagaa, jangan kayak orang susah deh!”
“Apalah daya hamba yang hanya anak kos,” ucap Miya yang sengaja dibuat memelas, membuat Arumi semakin kesal melihatnya, sedangkan Ara dibuat terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu.
“Pertahanin, Miya. Anak kos emang harus irit,” ucap Ara membuat Arumi berdecak, kemudian ikut tertawa juga.
“Takutnya kalau uang bulanannya habis dia bakalan nyusahin kita,” imbuh Ara yang membuat Arumi semakin tertawa, namun tidak dengan Miya yang menatap sinis sahabatnya itu, sambil mencebikkan bibirnya.
Miya memang hanya tinggal di kosan karena orang tuanya yang tinggal di Surabaya. Bukan karena tidak mampu, tapi Miya memilih berkuliah di ibu kota dengan tujuan agar bisa hidup mandiri.
Kedua sahabatnya sudah sering mengajaknya tinggal di rumahnya, tapi Miya menolak dengan alasan kalau dia memang ingin hidup mandiri.
Kedatangan seorang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, membuat Ara dan Arumi menghentikan tawanya, begitu pun dengan Miya yang tadinya cemberut dengan cepat menampakkan wajah manisnya saat melihat pelayannya yang seorang pria muda yang kira-kira berusia tidak jauh dari mereka.
Miya menatap satu persatu pelayan yang ada di kafe itu, dan saat menyadari kalau pelayan di kafe itu tampan-tampan, ia berjanji pada kedua sahabatnya akan sering-sering datang kesana. Membuatnya harus menerima beberapa makian dari Arumi, tapi ia tidak peduli karena ia sudah terbiasa dengan itu.
“Dara?”
“Bapak!” sapa Ara pada Bima yang sudah berdiri di hadapannya.
“Boleh gabung?”
“Eh, Pak Bima! Boleh kok, Pak, silahkan,” jawab Miya cepat. Sedangkan Arumi hanya berbalik sekilas menatap Bima, kemudian kembali menyeruput minumannya sambil melirikkan matanya pada Ara.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Miya, Bima kemudian mendudukkan dirinya di kursi kosong yang berada tepat di samping Ara.
__ADS_1
“Ehm.. Bapak sendirian?” tanya Arumi berbasa-basi.
“Tidak, saya dengan teman-teman saya.” Bima mengarahkan pandangannya pada sekelompok pria yang duduk tidak jauh dari mereka.
“Temennya rame ya, Pak, kayak orang mau demonstrasi,” ucap Miya terkekeh.
“Hahaha iya yah! Saya juga baru nyadar,” jawabnya ikut tertawa kecil. “Kebetulan kafe ini milik teman kami, makanya pada ngumpul disini semua,” imbuhnya.
“Seriusan, Pak?” tanya Miya.
“Iya serius.”
“Yang punya kafe ganteng nggak, Pak?” tanya Miya antusias.
“Kamu nilai saja sendiri. Tuh orangnya yang pake kemeja kotak-kotak.” Bima menunjuk salah seorang yang ada di antara teman-temannya. “Emm sedikit dibawah saya lah,” imbuhnya percaya diri, membuat Ara tertawa kecil mendengarnya.
Bima mengalihkan pendangannya saat mendengar gadis di sampingnya itu tertawa, “cantik,” batinnya, ikut tersenyum.
“Boleh dong, Pak dikenalin ke kita-kita, aww…” pekik Miya pelan saat mendapatkan tendangan dari Arumi di kakinya. Dan Bima yang masih betah memandangi Ara tidak sadar akan hal itu.
“Boleh, tunggu saya panggilkan ya,” jawab Bima.
“Tidak usah, Pak, Miya hanya bercanda,” sahut Arumi cepat, merasa geram dengan tingkah sahabatnya yang begitu pecicilan menurutnya.
“Sudah tidak apa kok, kali aja kalian bisa dapat diskon kalau kesini,” candanya, kemudian beranjak menuju meja teman-temannya.
“Kamu apa-apaan sih! Malu-maluin tau nggak!” ucap Arumi emosi.
“Udah jangan berantem disini, malu diliat orang,” sahut Ara menenangkan.
Setelah beberapa saat akhirnya Bima datang bersama dengan temannya yang tidak lain adalah pemilik kafe tempat mereka nongkrong saat ini.
“Nah, kenalin ini pemilik kafe ini, tidak lebih tampan dari saya kan?” ucap Bima memperkenalkan temannya itu.
“Iya deh, Pak, Bapak tetap yang tertampan,” jawab Miya memuji, kemudian melirik ke arah Arumi yang sedang menatapnya penuh ancaman.
“Hai! Rangga,” ucap pria tersebut mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
“Arumi.”
“Miya.”
“Yang ini tidak boleh, bukan muhrim.” Bima menurunkan tangan Rangga yang ia sodorkan pada Ara.
“Iya, gue tau,” jawabnya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Rangga pamit untuk kembali pada teman-temannya. “Ingat ya, saya tunggu kedatangan kalian lagi,” ucap Rangga pada ketiga gadis di hadapannya. Ia kemudian tersenyum pada Arumi dan menepuk pelan pundak Bima sebelum benar-benar beranjak dari sana.
“Ya?” tanya Ara bingung.
“Tunggu disini ya.” tanpa menunggu persetujuan Ara, Bima beranjak menuju panggung kecil yang ada di dalam kafe tersebut.
“Wahhh Pak Bima sweet banget,” ucap Miya merasa kagum.
Bima mulai memetik gitar, membuat ketiga gadis itu menatap fokus ke arahnya.
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Sepanjang menyanyikan lagunya Bima terus menatap ke arah Ara, membuat Ara terus menundukkan kepalanya, merasa malu ditatap seperti itu.
Hari-hari berganti
__ADS_1
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Setelah bernyanyi Bima kembali menghampiri Ara dan teman-temannya.
"Waahhh.. Bapak keren banget," salut Miya bertepuk tangan dan mengangkat kedua jempolnya pada Bima.
"Sungguh?"
"Iya, Pak, Bapak sangat keren."
"Terimakasih!" ucap Bima tersenyum.
"Apa lagu itu untuk Ara? Awww.." ringis Miya saat Arumi kembali menendang kakinya, membuatnya melototkan matanya pada Arumi.
"Ehm.. Pak kami sudah selesai, jadi kami pamit pulang dulu," ucap Arumi mengubah topik pembicaraan.
"Oh begitu ya! Dara nya boleh saya pinjam?" ucap Bima menatap Miya dan Arumi bergantian.
Arumi mendelikkan kedua bahunya, "Terserah Ara saja," ucapnya, membuat Bima menatap ke arah Ara meminta jawaban.
"Tapi, Pak__" Ara sedikit ragu menjawabnya.
"Hanya sebentar," ucap Bima meyakinkan Ara.
"Apa kami perlu menunggu?" tanya Arumi.
"Tidak usah, nanti biar saya yang mengantarkan Ara pulang."
"Apa hanya sebentar?" tanya Ara ragu.
"Ya, saya janji!"
"Bagaimana kalau saya meminta izin ayah saya dulu? Saya takut saat Bapak mengantar saya pulang ayah saya sudah di rumah, dia akan bertanya yang macam-macam nanti."
"Ya silahkan!"
Ara kemudian mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi kontak ayahnya. Sebelum Ara menempelkan ponselnya ke telinganya, Bima meminta ponsel tersebut dengan maksud agar dirinyalah yang akan meminta izin pada ayah gadis itu.
Setelah mendapatkan ponsel Ara, Bima berjalan sedikit menjauh dari ketiga gadis itu.
"Wahh, Pak Bima emang gentle ya!" ucap Miya yang terus saja kagum melihat segala perlakuan Bima pada Ara.
"Wah.wah.wah.wah..dari tadi hanya itu yang kau ucapkan. Aku jadi yakin meskipun itu seorang tukang parkir kalau dia merayumu dengan sebuah puisi kau pasti akan langsung menerimanya," ucap Arumi yang sedari tadi sudah sangat kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
"Kalau dia masih muda dan tampan akan aku pertimbangkan," jawab Miya santai dan mendapat toyoran dari Arumi, membuatnya meringis memegang kepalanya.
"Ara, kamu ingat yah kata-kataku di kampus tadi," ucap Arumi cepat saat melihat Bima kembali berjalan mendekati mereka.
"Kata-kata yang mana?" tanya Miya penasaran tapi tidak mendapatkan jawaban karena Bima sudah berada didepan mereka.
"Sudah!" ucap Bima menyerahkan ponsel Ara. "Ayah kamu mengizinkan, dengan syarat tidak boleh sampe malam," sambungnya.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu," ucap Arumi menggandeng tangan Miya.
"Iya, kalian hati-hati ya!" ucap Ara.
"Langsung pulang jangan keluyuran," ucap Bima menimpali saat Arumi dan Miya telah berjalan menjauh dari mereka. Arumi hanya mengangkat tangannya membentuk tanda oke tanpa berbalik.
.
.
.
__ADS_1
Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤