Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 22


__ADS_3

Sudah dua hari Hartono di rawat dan tidak sadarkan diri. Dan seperti malam kemarin, malam ini Ara dan Arumi akan menginap di rumah sakit untuk memantau perkembangan kesehatan pria paruh baya itu.


Berharap sebuah keajaiban terjadi, dan mendapati pria paruh baya itu terbangun dari komanya.


Arumi berbaring di atas sofa yang cukup luas dengan berbantalkan paha Ara. Mereka berdua masih saja membahas tentang restoran ayahnya yang kini jadi milik orang lain.


Ceklek...


"Miya... " ucap Ara dan Arumi bersamaan.


Miya berlari menghampiri kedua sahabatnya, dan memberi pelukan pada keduanya.


"Dimana Ayah? Aku ingin menemui Ayah," ucapnya menangis, sudah tidak dapat membendung air matanya.


Ara dan Arumi dengan segera membawa sahabatnya itu untuk melihat kondisi Hartono.


"Ayah... maaf, Miya baru datang. Miya putri yang jahat." Miya menumpahkan air matanya di depan ruang perawatan Hartono, menatap tubuh pria paruh baya itu dari balik kaca pembatas. Dan berkali-kali menyesali ketidaktahuannya atas apa yang menimpa pria yang ia panggil ayah itu.


Miya terus saja menghapus air matanya yang terus-terusan terjatuh, kemudian berbalik pada kedua sahabatnya yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.


Setelah menyudahi tangisnya, Miya mulai menanyakan tentang apa yang menimpa pria paruh baya itu. Dan Ara pun menceritakan semuanya.


***


"Kenapa nggak bilang sih, kalau mau pulang?" tanya Arumi pada Miya. Setelah mereka kembali ke ruang tempat mereka beristirahat.


"Iya, maaf. Ini tiba-tiba," jawab Miya menyesal.


"Lalu siapa yang memberitahumu kalau ayah kecelakaan? Nomormu bahkan gak pernah aktif." tanya Arumi.


"Tadi aku ke rumah Ara, tapi hanya bertemu dengan Bi Ratih. Trus Bi Ratih memberitahuku kalau Ayah kecelakaan, makanya aku buru-buru kesini."


"Aku pikir kau tiba-tiba pulang karena tau Ayah kecelakaan," ucap Arumi dan di jawab dengan gelengan oleh Miya.


Miya pun kemudian menceritakan tentang kepulangannya yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.


Hari ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya Miya bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya itu.


Dan siang tadi, pria itu menjemputnya di rumahnya, setelah semalam meminta izin pada orang tua Miya, untuk mengajak keluar anak gadisnya. Dengan alasan, agar mereka bisa saling mengenal terlebih dahulu. Dan juga pria itu berniat meminta maaf secara langsung pada Miya, karena telah membuat gadis itu menunggu lama hanya untuk sebuah pertemuan keluarga.


Dan sesaat sebelum Miya dijemput, mamanya memberikan kembali ponsel Miya yang telah disitanya beberapa hari ini. Dengan maksud agar mereka bisa saling bertukar nomor telfon nantinya.


Saat pria itu datang menjemputnya, Miya tidak begitu memperhatikan pria itu. Ia sibuk dengan rencananya untuk kabur. Karena ternyata benar kata Ara, setelah pertemuan keluarga nanti, orang tuanya akan segera menikahkannya, atas dasar permintaan orang tua dari pria itu. Dan jika ingin melanjutkan kuliahnya, ia bisa meminta izin pada suaminya nanti.


Pria itu membawa Miya ke sebuah restoran untuk makan siang. Dan setelah melakukan pemesanan, pria itu beralih menatap gadis yang saat ini duduk di hadapannya dengan tatapan kosong.


Pria itu menggaruk keningnya dengan ujung jarinya, saat melihat Miya yang terlihat sangat enggan melihatnya, maupun berbicara dengannya. Apa mungkin gadis itu sedang marah padanya, atau mungkin sikapnya itu adalah bentuk protesnya atas perjodohan ini, pikirnya.


Pria itu berdehem, sesaat sebelum memulai percakapannya. Agar gadis di hadapannya itu tersadar dari lamunannya yang entah apa.


"Maaf ya, sudah membuatmu menunggu begitu lama. Katanya, kamu sampai meninggalkan kuliah kamu beberapa hari ini," ucap pria itu menyesal.


Miya mengalihkan pandangannya pada pria itu, "iya tidak apa," jawabnya datar. Kemudian menatap serius pada pria di hadapannya yang entah siapa namanya. Padahal seingatnya pria itu sempat menyebutkan namanya tadi saat di mobil. Tapi ia tidak begitu perduli.


"Oh iya, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Miya.

__ADS_1


"Iya, silahkan." Pria itu tersenyum.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Miya tanpa basa-basi. Membuat pria itu tertawa mendengarnya.


Miya menautkan kedua alisnya, "apa ada yang lucu?" tanyanya merasa bingung.


"Ah tidak. Maaf!" pria itu menghentikan tawanya dan menatap serius gadis itu. "Iya saya suka. Kamu cantik."


"Kau benar-benar menyukaiku?" tanya Miya lagi, meyakinkan.


Pria itu mengangguk, "iya, memangnya kenapa?"


"Bagaimana bisa kau begitu mudah menyukai seseorang yang baru kau temui?" Miya mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan pria di hadapannya.


Jawaban pria itu membuatnya semakin bingung menemukan cara untuk bisa kabur. Padahal, kalau pria itu tidak menyukainya, mereka bisa bekerja sama untuk membatalkan perjodohan yang dibuat oleh orang tua mereka.


"Apa kamu pernah mendengar kata cinta pada pandangan pertama?" tanya pria itu tersenyum, "sepertinya saya mengalaminya saat ini," imbuhnya, membuat Miya melotot mendengarnya.


Terdengar manis, pikir Miya.


"Sepertinya kamu tidak menyukaiku. Apa mungkin kamu sudah punya kekasih?" tanya pria itu lagi.


"Tidak juga.... Saya hanya ingin melanjutkan kuliah saya," jawab Miya.


"Lalu apa masalahnya? saya tidak akan mengganggu kuliah kamu."


"Tapi kita akan menikah dalam waktu dekat ini," ucap Miya memelas.


"Kita bisa menundanya sampai kuliahmu selesai, jika kamu mau."


"Iya, saya serius. Tapi bisakah kamu duduk kembali, orang-orang melihat ke arah kita." Pria itu tertawa kecil melihat tingkah gadis di hadapannya. Sepertinya benar kata ibu dari gadis itu, kalau putrinya belum begitu dewasa. Tapi ia suka.


Miya mengedarkan pandangannya pada pengunjung lain, kemudian dengan cepat mendudukkan dirinya. Merasa malu, saat menangkap beberapa orang yang melihat ke arahnya.


"Tapi saya tidak yakin mama akan menyetujuinya. Bisakah saya meminta bantuanmu?" tanya Miya penuh harap.


" Bantuan apa?" tanya pria itu.


Namun percakapan mereka harus terhenti karena kehadiran pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


Dan setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan yang telah selesai menghidangkan makanan di hadapannya, Miya kembali menatap serius pria di hadapannya, "bisakah kau membiarkan saya pergi hari ini?"


"Maksud kamu?"


"Biarkan saya kembali ke Jakarta hari ini. Karena kalau saya pulang ke rumah, saya tidak yakin kalau mama akan mengizinkanku balik ke Jakarta lagi," jelas Miya.


Dan saat menyadari pria itu nampak bingung, Miya kembali berucap, "saya janji tidak akan menghianatimu. Saya tidak akan berpacaran dengan siapa pun. Jika nanti ada yang mendekatiku, saya akan mengatakan kalau saya telah bertunangan.... Mau ya ya ya?" pintanya, mengatupkan kedua tangannya.


Pria itu tertawa kecil mendengar ucapan Miya. Tatapannya beralih pada tangan Miya yang masih terkatup di depan dadanya. "Orang tidak akan percaya kalau kamu telah bertunangan, jika kamu tidak memiliki cincin di jarimu."


Miya melebarkan kedua telapak tangannya, dan menatap keseluruh jari-jarinya yang memang kosong. Tidak ada apa-apa disana, "tidak masalah, saya akan membelinya saat di Jakarta nanti."


"Lalu apa yang harus saya katakan saat Tante Fani menanyakanmu?" tanya pria itu.


"Kau tinggal bilang saja kalau saya memaksamu. Selebihnya, biar saya yang akan menjelaskannya pada mama."

__ADS_1


Pria itu perlahan menganggukkan kepalanya, "ya sudah, baiklah!"


"Terimakasih, ya." ucap Miya berbinar.


Pria itu melebarkan senyumannya dan kembali mengangguk, menatap lekat gadis yang saat ini juga tengah menatapnya. Membuat pandangan mereka saling beradu.


"Tampan juga, kok aku baru nyadar sih.... Pasti sangat geli saat menyentuhnya," batin Miya, tersenyum, menatap brewok tipis yang tumbuh di rahang pria dihadapannya.


"Astagfirullah!" lirih Miya, yang dengan cepat menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran mesumnya.


"Ada apa?" tanya pria itu mengernyit.


"Ah, nggak apa-apa... setelah ini saya langsung ke bandara ya?" pinta Miya.


"Saya akan mengantarkanmu."


"Tidak usah, saya bisa pergi sendiri," ucap Miya menolak.


"Saya akan mengantarkanmu. Saya tidak mungkin membiarkan calon istri saya pergi sendiri," ucap pria itu tersenyum.


Miya sedikit terkesiap, merasa geli mendengar kata calon istri yang di tujukan padanya.


***


"Aku sangat senang mendengarnya," ucap Ara menggenggam tangan Miya, setelah mendengar cerita sahabatnya itu.


"Jadi kau benar-benar menyempatkan diri pergi membeli cincin sebelum kesini?" tanya Arumi, menatap sebuah cincin yang telah melingkar di jari sahabatnya itu.


Miya menggelengkan kepalanya, "tidak. Sebelum mengantarku ke bandara, dia membawaku ke toko perhiasan dan kami bertukar cincin disana. Dia mengajakku berfoto, katanya agar bisa diperlihatkan kepada orang tua kami. Setidaknya, supaya mama nggak akan begitu marah padaku," jelas Miya.


"Wahh manis sekali. Lalu mana fotonya? perlihatkan padaku." Arumi mengulurkan tangannya meminta ponsel Miya.


"Ada di hapenya."


Arumi membuang nafasnya, merasa jengah.


"Aku belum meng-aktifkan hapeku. Aku nggak mau mama mengganggu waktu kita." Miya bisa membayangkan, bagaimana mamanya yang akan memarahinya seharian jika dia sampai menghidupkan ponselnya.


"Lalu siapa nama tunanganmu?" tanya Ara.


"Abyan..." ucap Miya tersenyum, membayangkan wajah pria yang bersama dengannya beberapa waktu lalu.


Miya kemudian berdiri dari duduknya, "aku akan ke ruangan Ayah, kalau kalian ingin istirahat, istirahat saja. Biar aku saja yang menjaga Ayah."


"Kamu yang seharusnya beristirahat, kamu pasti lelah setelah dari perjalanan," ucap Ara.


"Sudah. Tidak ada yang boleh istirahat, kita akan menjaga Ayah bersama-sama. Gak ada yang boleh tidur ya?" ancam Arumi dan di iyakan oleh kedua sahabatnya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2