
" Mamaaaa.... "
Suara tangisan anak kecil menghentikan obrolan dua orang wanita yang sedang sibuk memasukkan kue ke dalam kotak.
" Ada apa sayang?? "
" Mas Rizky memotong rambut boneka Lea " adu seorang gadis kecil yang bernama Alea sambil menunjukkan sebuah boneka barbie berambut pendek yang ada digenggamannya.
" Kok bisa? " tanya salah seorang wanita bernama Widi meraih boneka yang ditunjukkan Alea.
" Lea yang minta kok bu " ucap Rizky kepada Widi yang tidak lain adalah ibunya.
" Tapi Lea mintanya dipotong sedikit saja " ucap Alea yang masih terus menangis.
" Sudah tidak apa, mas Rizkynya tidak sengaja " ucap Ara menenangkan putrinya.
" Ya sudah nanti tante Widi beliin yang baru ya, Alea jangan nangis lagi ya sayang "
" Janji? " tanya Alea menunjukkan jari kelingkingnya.
" Sudah mba tidak usah, jangan dimanjain nanti kebiasaan lagi " ucap Ara.
" Iya tante janji " jawab Widi mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Alea tanpa memperdulikan ucapan Ara. " Sekarang Alea duduk manis disini saja ya, tidak usah bermain sama mas Rizky, mas Rizky jahat " ucapnya memberikan kembali boneka milik Alea.
" Iya tante Widi benar mas Rizky jahat " jawab Alea tertawa, membuat Rizky yang mendengarnya menjadi kesal.
Ara kemudian medudukkan putrinya disebuah kursi " Duduk disini saja ya, tidak usah kemana-mana " ucapnya mengusap-usap rambut Alea, tersenyum melihat putrinya yang begitu mudahnya menjadi riang kembali.
" Iya ma "
Ara kemudian meninggalkan putrinya untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat ini Ara tinggal bersama Widi yang tidak lain adalah anak bi Ratih, membantu Widi menjalankan usaha toko kuenya.
Selama ini Ara tinggal bersama bi Ratih dan anaknya yaitu Widi, namun bi Ratih telah berpulang setahun yang lalu karena sakit. Sepeninggal bi Ratih Ara selalu berniat untuk pergi dari rumah itu, tapi Widi selalu melarangnya dengan alasan dia telah berjanji pada ibunya untuk menjaga Ara dan telah menganggap Ara seperti adiknya sendiri.
***
Hari ini Ibra terbang ke Surabaya, bukan lagi untuk mencari Ara, melainkan akan tinggal disana menjalankan anak perusahaan papanyanya yang ada di kota tersebut.
" Apa apartemennya jauh dari kantor? " tanya Ibra pada Ryan saat mereka sudah berada di mobil menuju apartemen.
Saat ini Ryan telah menjadi asisten pribadi Ibra di kantor barunya atas permintaan Ibra pada papanya. Karena menurutnya dia akan membutuhkan orang seperti Ryan untuk bisa menjalankan sebuah perusahaan.
__ADS_1
" Tidak, kita hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai dikantor " Ryan
" Syukurlah, setidaknya kita tidak akan membuang banyak waktu diperjalanan "
" Bagaimana kalau malam ini kita berjalan-jalan?? " ucap Ryan memberi saran.
" Tidak, kita punya banyak pekerjaan untuk besok, ada baiknya kita mengerjakannya dari pada harus membuang-buang waktu untuk berjalan-jalan "
" Kau saja yang mengerjakannya, saya akan tetap berjalan-jalan, saya akan mengelilingi setiap sudut kota ini "
" Kau... "
" Apa?? Mau memecatku?? Saya bahkan lebih senang bekerja dengan papa kamu dari pada denganmu yang gila kerja " ucap Ryan memotong ucapan Ibra, membuat Ibra harus menelan kembali ucapan akan dikeluarkannya.
" Terserah kau saja " dan kata itulah yang keluar dari mulut Ibra sambil membuka ponselnya untuk bermain game.
" Saya akan mencoba peruntunganku di kota ini, semoga saya bisa bertemu jodohku disini " ucap Ryan tersenyum " Saya sudah lelah menjomblo ya Allaaahhh.... " teriaknya yang berhasil mendapatkan tendangan dikakinya dari Ibra.
" Kalau kau jomblo, lalu si Susan? " ucap Ibra.
" Kami hanya teman, dia sudah punya pacar "
" Tidak.. Lebih tepatnya teman tapi mesra " jawab Ryan cengengesan.
" Cehh... itu bahasa lain selingkuhan " ucap Ibra kembali menendang Ryan membuat Ryan tertawa terbahak-bahak.
" Saya sudah berusaha menjauhinya tapi dia terus saja mengikutiku, ya sudah dari pada dianggurin kan, minimal ada yang perhatiin. Lagi apa? Sudah makan belum? Mau saya masakin? " ucap Ryan menirukan suara wanita.
" Saya mau istirahat sebentar " ucap Ibra melempar ponselnya pada Ryan yang dengan cepat ditangkap oleh Ryan, kemudian melipat kedua tangannya dan menutup matanya, tanpa peduli ucapan Ryan.
" Dasar... " ucap Ryan yang kemudian melihat ke layar ponsel Ibra. " Cehh..bagaimana kau bisa move on " gumamnya melihat gambar Ara yang jadi wallpaper ponsel Ibra.
***
" Tehnya mba " ucap Ara meletakkan sebuah nampan yang berisi dua cangkir teh di atas meja.
" Kok repot sih Ra " ucap Widi.
" Tidak kok mba " jawab Ara mendudukkan dirinya disamping Widi.
" Ya sudah makasih ya " ucap Widi kemudian mendekati ke Ara. " Ra kita coba bikin ini yuk, sepertinya enak " ucapnya menunjukan sebuah resep kue di sebuah majalah yang dipegangnya.
__ADS_1
" Iya mba " jawab Ara singkat " Oh iya mba, ada yang mau Ara bicarakan " sambungnya ragu-ragu.
" Apa?? "
" Ara mau izin ke Surabaya "
Widi menutup majalahnya, menyimpannya diatas meja kemudian menatap Ara " Kerumah Miya lagi? " tanyanya yang mendapatkan anggukan dari Ara " Berapa hari? " tanyanya tersenyum.
" Ara berencana untuk tinggal disana " ucap Ara menunduk, merasa berat mengucapkan permintaannya.
Widi kemudian menggenggam tangan Ara, " Kenapa? Kamu tidak betah ya tinggal sama mba? " tanya Widi
Dengam cepat Ara mengangkat kepalanya dan menggeleng " Tidak kok mba, Ara malah sangat senang, mba Widi sama mas Yono sangat baik pada Ara dan Lea " ucapnya
" Kalau begitu tidak usah pergi, mba tidak bisa berpisah dengan Lea, Lea sudah seperti putri mba sendiri " ucap Widi.
" Maaf mba... " ucap Ara yang kemudian berganti menggenggam tangan Widi " Sebentar lagi Miya mau lahiran, dia menawarkan Ara untuk menggantikannya bekerja di kantornya. Dan Ara berpikir untuk mengambilnya " ucap Ara menjeda " Tahun depan Lea sudah sekolah, Ara tidak bisa terus-terusan merepotkan kalian " sambungnya.
" Mba tidak pernah merasa direpotkan, kalian itu keluarga mba "
" Kalau menurut mas biarkan saja Ara memilih jalan hidupnya, kita tidak bisa terus-terusan melarangnya " ucap Yono suami Widi yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, kemudian ikut duduk disalah satu kursi.
" Tapi mas... "
" Sudah, biarkan Ara pergi. Menurut mas ini kesempatan Ara untuk menjadi wanita sukses. Benar kata Ars Lea sebentar lagi mau sekolah, Ara butuh pekerjaan itu untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan Lea " ucap Yono memotong.
Setelah mendengar ucapan suaminya Widi berbalik pada Ara yang mengangguk membenarkan ucapan Yono. " Tapi kamu akan sering-sering kesini kan? " tanyanya yang secara tidak langsung telah memberi persetujuan.
" Iya Ara janji, Ara tidak mungkin melupakan kalian "
" Ya sudah " ucap Widi setengah hati.
" Makasih mba " ucap Ara dengan cepat memeluk Widi.
.
.
Makasih ya buat yang sudah memberikan dukungannya dengan like, komen dan juga votenya, Lovyuu 😘😘
Terus berikan like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤
__ADS_1